Dongeng Penebusan

Karya . Dikliping tanggal 30 Desember 2013 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
LAKI-LAKI itu menoleh. Pucuk-pucuk daun kopi dan coklat bergunduk. Daun-daunnya bertaut. Menyiluet. Ranting-rantingnya bergesekan. Menyembilu. Samsu mendorong pintu setengah badan. Engselnya tidak berbunyi. Dia berhenti sejenak. Senyap di luar terberai suara televisi yang menggantung di sisi atas ruangan. Hampir semua orang bicara di warung kopi itu. Saling sahut mengomentari acara debat di televisi.
Dongeng Penebusan

Kalau saja bukan di tengah musim pancaroba setelah kemarau panjang, tidak akan ada yang tahu kedatangan Samsu. Tapi begitu lelaki itu masuk angin turut menyerbu. Daun-daun kering dan dingin pun menyerobot masuk. Beberapa laki-laki serentak menoleh.

Samsu tersenyum, sekadar bersikap ramah. Dia cepat mengarah ke pojokan yang menghadap ke pintu kamar mandi. Ditariknya kursi pelahan. Dia buka syal, kupluk, dan jaket tebal. Meletakkan semuanya, bersama, di atas meja.
Sebelum Samsu menarik kursi, seseorang berkaos merah setengah berteriak, “Pesanlah kopi dulu, Pak. Nanti kami gabung. Kita lanjut cerita kemarin.”
Kembali Samsu tersenyum. Kepalanya bergerak, seolah anggukan. Samsu meluruskan kaki kanannya. Bungkus rokok dan korek api dikeluarkan dari kantong kemeja. Tak sampai tiga isapan rokok, segelas kopi hitam mengepul ada di depannya. Seperti empat hari sebelumnya perempuan penunggu warung itu langsung berbalik. Sebelum duduk menunduk di balik rak, ia melap kaca yang terkena percik adukan kopi dan uap air.
Laki-laki yang berkaos merah menarik kursi di samping Samsu.
“Bagaimana, Pak?”
“Hai, Buton. Tak kaulihat Bapak kita itu belum rampung merokok. Ke sinilah dulu. Jangan kau lari. Belum selesai kita tadi.”
“Ah, sudahlah. Mana benar kalau kita bicara dengan televisi itu.”
“Ya. Ya. Bosan sudah kita, Bang,” sahut seseorang yang menutup pundaknya dengan sarung sambil menarik kursi di depan Samsu.
“Ah, kalian. Macam apa itu? Tidak bisa cerdas kita kalau terima saja omongan pejabat di televisi. Iya tidak, Pak?”
“Ah, saya sudah lama tidak nonton televisi,” sahut Samsu sambil menjentikkan abu rokok di lantai.
Perempuan di belakang rak berdiri. Mengantarkan piring seng sebagai asbak dan kembali duduk.
“Kalau begitu, pindahlah, Pak. Duduk di tengah sini.”
“Iya, Pak. Biar semua dengar lanjut cerita kemarin.”
“Sebenarnya saya tak pandai bercerita. Kemarin itu hanya kebetulan…”
“Kemarin itu gara-gara si Munik ini bubar kita.”
“Ayo, Pak.” Laki-laki bersarung membawakan kopi Samsu dan asbak ke meja tengah. Seseorang mengecilkan suara televisi.
“Ah. Ah. Kenapa jadi begini? Kalian kan sedang ngobrol tadi.”
“Tidak penting yang tadi, Pak. Kami sudah sejak tadi magrib ribut dengan televisi.”
“Ya. Dan mana menang kita dengan televisi…”
“Iya, Pak. Siapa tahu kita kalau Bapak nak balik ke sini lagi. Bisa mati penasaran awak tak dengar sambungan ceritanya.”
“Hush! Jangan asal kau omong.”
“Yalah. Maksudnya supaya Bapak kita ini mau cerita…”
Akhirnya Samsu membawa bungkus rokoknya pindah ke meja tengah. Delapan orang laki-laki melingkar di sekitarnya.
“Hmm, sampai mana? Oh, setelah laki-laki itu keluar dari penjara Wirogunan…”
“Belum. Belum itu, Pak. Kemarin hampir sampai bagian yang itu.”
“Apa itu bagian yang itu? Jorok sekali kau.”
Suara tawa memenuhi warung. Tak ada yang melihat perempuan dari balik rak mematikan televisi.
“Ya, mana saya tahu. Kalau sudah hampir sampai kamar. Berdua. Ya, apa bisa dibuat?”
“Aih, mana enak cerita tanpa rokok. Liat. Rokok Bapak sudah habis. Mak, coba antar satu untuk Bapak kita ini. Aku yang bayar.”
“Wah, menang lotre kau ya…”
“Bukan. Kata orang tua kita harus melayani tamu.”
Perempuan di balik rak menoleh. Membuka bungkus rokok.
“Jangan kasih Bapak kita satu batang, Mak. Malu aku. Kemarikan saja satu bungkus itu.”
Perempuan itu mengantar satu bungkus rokok. Kembali duduk. Terdengar samar-samar musik dari radio yang mungkin ada di kolong meja.
Hari itu saya merasa sudah berjalan jauh. Sangat jauh. Mungkin hanya perasaan saya. Sedari lepas hari gelap saya mulai. Ketika saya mengendap masuk halaman rumah itu terdengar azan dari langgar. Saya sudah berjalan semalaman.
Sebentar lagi hari terang. Sebentar lagi orang-orang akan ke sumur di belakang rumah.
Lutut kaku sudah dibengkokkan. Bebatan kaos di betis kanan mulai terasa berdenyut. Nyeri. Saya terduduk di bawah jendela.
Sebelum muazin yang berteriak karena pengeras suara sepertinya mati, seperti juga penerang di seluruh desa, saya ketuk jendela kayu itu. Pelan. Sangat pelan. Saya takut ada yang mendengarnya. Demikian pelan hingga saya pun takut ia tidak mendengar.
Pinggiran jendela berdenyit. Terbuka. Sedikit.
Saya melihat matanya. Bersinar seperti kucing.
“Abang?” Suara Laksmi bertahan.
Bibir saya pecah-pecah dan rapat. Darah kering di pelipis membuat saya sulit untuk hanya mengerjapkan mata. Saya gerakkan kepala. Mudah-mudahan tempias cahaya dari dalam kamar mengantar semacam anggukan itu padanya.
Mata Laksmi mengerjap. Ia terlihat kaget. Mungkin karena seluruh muka saya lengket oleh warna coklat dan merah. Perempuan itu membuka lebar daun jendela. Saya mendorong dada melewati muka jendela. Tangan Laksmi menarik ketiak saya. Dengkul dan tulang kering terasa ngilu. Cermin di meja dekat tempat tidurnya tak sengaja terkait jari kaki.
“Laksmi, kenapa kau?” terdengar suara tua dari sumur belakang rumah.
“Tak apa, Wak Min. Hanya cermin. Tak sengaja tersenggol,” Laksmi cepat menjawab.
Saya menahan napas. Jongkok di kaki tempat tidur.
Laksmi keluar kamar. Perempuan itu membawa segelas air. Ia mengunci pintu. Mematikan cempor yang menggantung dekat pintu kamar.
“Saya tidak tahu haru ke mana, Las…”
“Mamak dan Abah antar Bi Sis ke kota, Bang.”
“Saya tidak tahu harus ke mana, Las…”
Terasa panas mengaliri pipi. Mata saya tak berhenti mengucurkan air. Desakan bonggol pisang yang semalaman mengganjal tenggorokan saya melesak. Saya sesenggukan. Laksmi menarik kain dari tempat tidur. Membersihkan muka saya. Mengeringkan air mata di seluruh muka.
“Truk itu datang, Las. Mereka tembak Pak Munir di halaman sekolah politik. Kami bersepuluh dilempar seperti karung ke truk. Banyak orang. Saya bertumpuk dengan orang-orang mati. Saya tidak tahu harus ke mana, Las…”
Laksmi mengangguk. Rambut panjangnya menyentuh lantai, belum sempat ia sanggul. Saya baru kali ini melihatnya tanpa kerudung.
“Abang tidak bisa di sini. Setiap hari mereka masih keluar masuk desa.”
Leher saya terasa berat. Baru terasa tidak bisa digerakkan.
Asap cempor menguar di seluruh kamar.
Tiba-tiba pintu depan digedor. Kami berdua menahan napas.
“Buka!”
Lagi pintu digedor.
“Saya buka pintu. Abang sembunyi dulu di kandang.”
“Jangan dibuka, Las…”
“Percuma, Bang. Nanti mereka yang akan buka paksa. Abang cepat sembunyi.”
Saya mengangguk.
“Buka!”
“Ya.” Laksmi menyahut. Ia sengaja menyentak dan menyeret kakinya ke ruang depan agar terdengar.
Bersamaan dengan tangan Laksmi sengaja membanting daun pintu depan, saya membuka palang pintu dapur. Nyelinap ke lubang kandang setinggi pinggang tak jauh dari pintu dapur. Meringkuk di sudut. Mulut kambing memamah daun nangka menyentuh kepala. Kaki tertutup lumpur dan kotoran kambing. Bau pesing membekap. Nyamuk seliweran. Berdenging.
Di depan pintu belakang Wak Min ada sandal. Tercecer. Mungkin perempuan tua itu berlari ke langgar ketika truk tadi berhenti. Semua pintu tetangga di belakang dan samping tertutup. Gambar mati seperti gerak awan.
Terdengar pintu, mungkin pintu kamar Laksmi, dihempas. Terdengar gelas pecah. Ah, kami lupa menyembunyikan gelas itu. Badan saya semakin menciut ketika mereka mendekat. Mereka masuk dapur. Panci jatuh. Tempat beras digeser.
“Benar kamu liat, Jaman?”
“Iya. Iya, Pak.”
“Di mana?”
“Saya lihat ada yang masuk lewat jendela…”
“Kamu sembunyikan komunis ya?”
Tidak ada suara. Terdengar pecahan beling. Suara kaleng jatuh. Suara berdebam. Suara Laksmi menahan tangis. Dekat. Mungkin ia didorong, terduduk dekat pintu dapur. Seseorang melongok dari pintu dapur. Kambing mengembik. Seseorang itu kembali masuk.
“Bersih, Komandan.”
“Ayo jawab. Atau mau dibawa?”
“Dia anak Kiai Munaf, Pak.”
Saya tahan gigi saya yang bergemeletuk.
“Heh! Jangan diam. Oh mau dirayu dulu biar bersuara.”
“Jaman… Bilang. Tidak ada siapa…”
Lirih sekali suara Laksmi.
“Diam kamu!”
Seorang laki-laki, Jaman, keluar. Menyalakan rokok tak jauh dari tempat saya meringkuk. Matanya tampak berkaca-kaca.
Suara kain sobek. Tangis Laksmi makin samar.
Warung itu hening. Hanya suara samar musik dari radio.
“Laki-laki itu hanya diam di kandang kambing?”
“Sst…”
Saya menutup dua lubang telinga. Tapi suara isak Laksmi masih terdengar. Lumat.
“Ayo, Jaman.”
Suara tajam seseorang memanggil Jaman menginjak batang rokok dengan telapak kaki. Laki-laki satu kelas dengan Laksmi itu berbalik masuk dapur. Suara sepatu lars terdengar memudar. Suara truk menghilang.
Saya mengendap keluar kandang.
Di luar masih kelabu. Langit sembunyi di rimbun hutan bambu. Matahari belum nampak, masih ingin sepi, tak mau diganggu. Dengan betis yang terkena sabetan parang, saya tertatih menjauh. Berlari.
Tak lagi terdengar Isak Laksmi.
“Bajingan sekali. Tak dilihatnya sebentar saja keadaan Laksmi?”
Samsu mengisap rokok hingga memenuhi ronga paru-parunya terdalam.
“Benar-benar bajingan laki-laki itu.”
“Aku jadi mau ketemu istriku. Aku pulang dululah.”
“Sama-samalah kita pulang. Besok pagi benar awak ‘nak jemur coklat.”
“Terima kasih cerita Bapak. Besok ke sini lagi?”
Samsu tidak menjawab. Laki-laki itu menekan batang rokok di asbak. Berkali-kali.
“Datanglah, Pak. Kalau tidak, kami membusuk dengar cakap koruptor di televisi itu.”
“Ya, Pak. Tapi besok janganlah cerita sedih…”
“Mari, Pak.”
Delapan laki-laki itu menghampiri meja dekat pintu keluar. Mereka membayar kopi. Pintu setengah badan terbuka dan tertutup. Angin masuk dan terhenti. Samsu merapatkan kedua tangannya di dada.
Perempuan di balik rak mematikan radio. Samsu memakai kupluk, jaket, dan syalnya. Memberikan selembar uang. Sambil membereskan gelas-gelas kopi, perempuan itu bergumam, “Tak usahlah kau datang lagi, Bang…”
“Saya mau minta maaf, Las.”
Perempuan itu memberikan kembalian. Ia menutup mulutnya dengan jari tangan kirinya. Menutupi delapan gigi depannya yang tanggal dihantam ujung bedil.(*)
2013
Mona Sylviana giat di Institut Nalar Jatinangor, Sumedang. Buku cerita pendeknya adalah Wajah Terakhir (2011).
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Mona Sylviana
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo”