Dongeng yang Selalu DIkenang – Kredo Hampir Hilang – Kecewa yang Terlampiaskan – Pagi adalah Harapan – Sajak Teruji – Terkenang Galileo Gelilei – Kepedihan Kertabhumi – Dalang Wayang Kulit – Premis Abadi

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Dongeng yang Selalu Dikenang 

Mestikah rasa sembunyi saat emmutuskan mendaki
menaiki sebuah altar impian penjamin masa depan
seperti raden Wijaya yang harus memerdayai pasukan Kubilai Khan
atau Pembayun yang menjerat Ki Ageng Mangir Wanabaya
dengan selendang ledheknya?
Mestikah dongeng yang akan terkenang
selalu bermonolog tentang sebuah percundangan?
Sleman, Januari 2016

Kredo Hampir Hilang 

ikuti saja
jangan dibantah
bila tapakkan itu bisa menunjuk arah masa depan
juga era setelah kematian
seperti sebuah orkestra
bila mampu menenggelam makna meresap di ranah logika
menebar berpuluh bianglala
layaklah dinikmati bersama, dipuja sepanjang masa
tiada habis-habisnya
Januari 2016

Kecewa yang Terlampiaskan 

Lemparan apel emas menghentak kahyangan
Sebuah perang pun tergelar
Kesengsaraan panjang menimbun keluh
“Akulah Dewi eris
yang selalu disisihkan kalangan dewa dewi Olympus.
Benarkah aku selalu terbuang?
Tidak mampu menumpuk prestasi segudang?”
Zeus kebingungan
Tergolaklah Aphrodite, Hera, pun Pallas Athena
Dan Paris dipaksa mengucap kata putus
yang bermuara di padang Perang Troy.
Apa yang harus terbanggakan dari perjalanan penuh sayatan?
Menengok kanan kiri, menepikan sebuah privasi.
Hidangan tersaji bersama tanpa pandang siapa
Bukan saatnya berakus ria menutup dua mata
menyantap segala tanpa logika
Ingatlah seekor cacing yang selalu menggeliat
saat terpanggang terik.
Apel yang terebutkan lalu mengundang bencana
… amsal nyatra potret melata!

Pagi adalah Harapan 

     – Gunung Kawi
Mantra terkabulkan di pagi buta
Memampang keinginan masa tua.
Apa jadinya bila semua meyakini
kemudian berbondong ke sini?
Memasrahkan nasib lewat ritual
di depan dua nisan, disemburi doa penghulu
mengharap terbuangnya sengkala
Malang. 7-8-2015

Sajak Teruji

Enggan menegak apalagi kembali menyisir liukan darah yang
menetes
di tebing-tebing, bibir laut, akar pepohonan
Tak ada rumus yang mesti dibela.
Kredo tenggelam di akar tunggang, menguatkan mimpi membelalak
keterjagaan.
Beratus decak meruya, meniti lingkar pelangi, siang hari
13 Feb 2016

Terkenang Galileo Gelilei 

Teka-teki yang mencuat di sbeuah misa
membebani benakk, menggema sepanjang hari
Lampu altar terayun dari ujung ke ujung
mencemaskan, mengolah pikir
: waktunya sama

Kepedihan Kertabhumi 

Maaf bila kecewa merajalela
menyusup istana, menimbulkan luka, juga perkabungan panjang
berakhir di mata pedang
Telah kujerat dengan ketulusan luar biasa agar kedamaian
betah menghinggapi bumi ini
sebisa mungkin kewajaran itu tetap abadi
Barangkali takdir menggariskan secuil duka
seperti air yang terkoyak angin
menggelinjang mengikuti arus menghantam bebatuan
menggelinjang mengikuti arus menghantam bebatuan
saat kelelahan, teronggok di sudut pasir tanpa daya.
Maaf bila sepeninggalanku tahta jadi rebutan
aku tak berniat menyisakan buihberpotensi menjadi ombak
menghantam sana sini
memecah berkeping-keping
mematri Majapahit dalam sebuah ingatan.
Sleman, 12 Feb 2016
*) Kertabhumi: raja Majapahit (1429-1478)

Dalang Wayang Kulit 

Hidup digenggam tiada letih
dari sore hingga dini hari
Segala watak terwakili: keluh, ancaman, dendang, pun canda
mengalir dalam satu rongga: tertepislah segala lenguh
dan keputusasaan yang sering melipat di tengah kegaduhan.
Sebuah kisah purba dilempar
tersemangati anak cucu yang makin permisif
13 Feb 2016

Premis Abadi

Pemberontakan lahir 
dari kecewa yang terendap senja tak wajar
Feb 2016
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Latef Noor Rochmans
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 10 APril 2016
Beri Nilai-Bintang!