Dream Catcher

Karya . Dikliping tanggal 27 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
DIMAS termenung sendirian di ruang tamu rumahnya. Hujan deras yang tiba-tiba turun mengingatkan   pada peristiwa kelam dua tahun lalu. Ia harus kehilangan orang yang disayangi: ayahnya. Saat itu hujan turun deras seperti sore ini. Ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas yang disebabkan pengendara motor ugal-ugalan. Kesedihan Dimas tiada terkira saat mengetahui pengendara motor yang menabrak ayahnya belum diketemukan. Polisi sudah mencari pelakunya namun hasilnya nihil. Padahal satu hari setelah ayahnya meninggal, Dimas akan wisuda S1-nya. Itu yang membuat Dimas sangat sedih, karena ayahnya tak bisa menyaksikan dirinya saat diwisuda.
***
SEJAK ayahnya meninggal, Dimas menggantikan ayahnya menjadi lang punggung keluarga. Alhamdulillah, setelah lulus perguruan tinggi Dimas mendapat pekerjaan. Walaupun hanya sebagai pelayan kafe, Dimas tetap mensyukuri. Satu minggu setelah Dimas bekerja, kafe tersebut bangkrut. Pengunjung yang datang tidak seramai hari-hari biasanya. Kenaikan harga BBM mempengaruhi harga bahan makanan. Pemilik kafe harus rela menaikkan harga makanan serta mengurangi jumlah karyawannya. Dimas harus menerima saat namanya tertera di daftar orang yang dipecat pemilik kafe.
Setelah dipecat dari kafe, Dimas membantu ibunya menjual barang-barang kerajinan tangan dari bahan kain perca yang dibuat sendiri oleh ibunya. Dimas yang memiliki bekal ilmu ekonomi, bisa memasarkan barang-barang tersebut. Hasilnya sangat memuaskan. Seminggu berjualan, uang yang terkumpul lumayan banyak.
***

SETAHUN menggeluti usaha kerajinan tangan, Dimas dan ibunya sudah memiliki tempat produksi sendiri yang diberi nama Dream Catcher Handicraft. Uangnya digunakan Dimas membiayai adiknya yang masih sekolah. Selain itu, Dimas juga membeli rumah serta emndirikan studio foto yang sudah lama diimpikan. Studio foto tersebut diberi nama seperti tempat produksi kerajiann tangan: Dream Catcher Studio.


Dimas memberi nama kedua tempat usahanya Dream Catcher untuk mengenang almarhum ayahnya. Dulu ayahnya pernah berkata: “Dimas, kamu tahu penangkap mimpi paling baik dan hebat? Yaitu doa dan usaha. Jika kamu memiliki mimpi dan keinginan, maka berdoa dan berusahalah kepada Allah. Dengan berdoa dan berusaha, segala mimpi dan keinginanmu akan tercapai.”  Kata-kata itu selalu diingat Dimas saat menjalankan bisnisnya. Bahkan sampai sekarang –setelah sukses berbisnis– Dimas tidak pernah lupa selalu berdoa dan berusaha dalam melakukan apapun.
***
MEMERINGATI dua tahun meninggalnya ayahnya, Dimas, Ibu dan adiknya berziarah ke makam ayah. Di tengah perjalanan, ia teringat pernyataan polisi yang menangani peristiwa tabrak lari dua tahun lalu. Polisi tersebut menjelaskan, korban kecelakaan meninggal di tempat kejadian dan pelaku melarikan diri setelah mengetahui si korban meninggal. Di lokasi kejadian ada saksi mata bernama Rio. Selama dua tahun Dimas baru sekali melihat wajah Rio di kantor polisi. Setelah ayahnya meninggal, Dimas merasa tidak kuat bila mendengar apapun tentang kematian ayahnya. Sehingga Dimas selalu menghindar bila ada yang bertanya atau membicarakan peristiwa tersebut. Sekarang Dimas baru menguatkan hati untuk mengetahui kronologi peristiwa tabrak lari itu. Ia berencana mengunjungi rumah Rio. Dimas segera mencari kertas di dompetnya, berisi alamat Rio. Kertas itu sudah bertahan cukup lama di dompetnya.
***
RIO menyapa Dims. Dimas menyapa balik. Setelah itu, keheningan menghinggapi ruangan tersebut. Tidak ada satupun yang berbicara. Selang lima menit dalam keheningan, Dimas mengatakan ingin mendengar kronologis peristiwa tabrak lari dua tahun lalu. Rio memandnag sejenak ke arah Dimas, dan mulai bercerita.
“Saat aku pulang dari membeli makanandi warteg langgananku, aku jalan kaki menuju rumah. Saat itu jalanan sedang lengang, tidka banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sehingga aku dpaat melihat jelas ada sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah kanan. Kemudian aku melihat juga seorang Bapak pengendara sepeda motor juga yang hendak menyeberang jalan. Aku sudah berteriak pada Bapak itu, ada sepeda motor lain melaju melaju dari arah kanan. Namun sayang posisi aku dna Bapak itu berseberangan jalan, jadi beliau tidak mendengar yang kukatakan. Kemudian tabrakan itu tidak terhindarkan….”
Rio terdiam sebentar. Setelah memastikan Dimas sudah agak mendingan, Rio melanjutkan kembali ceritanya.
“Aku ingat kalau pengendara motor itu sempat melepas helmnya saat turun dari sepeda motornya untuk mengecek kondisi Bapak itu. Aku melihat sekilas wajah orang itu. 
Pengendara motor itu pemuda. Memakai jaket kulit hitam polos. Telinga kanannnya ditindik dan ada tato naga di tangan kirinya.Saat aku mau menghampiri Bapak dan pemuda itu, tiba-tiba pemuda itu berlari menuju sepeda motornya dan emlarikan diri. Setelah pemuda itu pergi, aku mengecek kondisi Bapak itu, sayang beliau sudah meninggal.”
Setelah mengetahui kronologis kecelakaan tabrak lari dua tahun lalu, Dimas dan Rio mengajukan kembali ke kepolisian untuk mengusut peristiwa tabrak lari dua tahun lalu yang menewaskan ayah Dimas. Ikhtiar dan doa selalu dilakukan DImas, Rio dan pihak kepolisian. Seminggu kemudian, saat Dimas di Dream Catcher Studio, dia mendapat telepon dari pihak kepolisian. Pihak kepolisian menyatakan, pelaku tabrak larisudah ditemukan. Saat itu juga Dimas memacu mobilnya, menjemput Rio, ke kantor polisi. Sampai di kantor polisi, Rio, sebagai saksi mata tabrak lari, membenarkan kalau orang itu yang telah menabrak ayah Dimas. Pelaku tabrak lari juga telah mengaku, dirinya yang telah menabrak ayah Dimas. Dimas terharu. Kembali teringat ayahnya…. []

Suswarina Andri Aswari, Koripan 04 Poncosari Srandakan Bantul Yogyakarta





Rujukan:
[1] Disalin dari karya Suswarina Andri Aswari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 25 Januari 2015