Dua Hati

Karya . Dikliping tanggal 23 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
RANIA menghirup napas panjang. Ia merasa mual. Bukan mual karena makanan atau tidak sarapan. Rere. Dialah tersangka utama yang membuat Rania mual dan nyaris kesal. Rasanya, perutnya seperti gunung anak Krakatau yang siap memuntahkan laharnya kapan saja.
Bayangkan saja. Hari ini ada ulangan sejarah. Tapi pagi-pagi Rere mengajak Rania mengajak Rania nangkring di balkon depan kelas. Untuk apa lagi kalau bukan memandang kakak kelas yang ganteng. Dari balkon lantai dua itu, mereka bisa melihat jelas para cowok yang sering duduk-duduk di taman sambil  menunggu bel. The Perfect Twins, begitu Rere memanggil mereka. Rafa dan Rafi. Cowok kembar yang menjadi idola di sekolah.
“Re, masuk yuk. Aku belum belajar,” ajak Rania. Tangannya mengapit lengan Rere.

Rere menggeleng cepat. Matanya masih tertuju ke taman di bawah.

“Itu lihat! Rafa lagi ganteng banget,” kata Rere dengan genitnya.

Rania mendengus. Ia membayangkan wajah garang Bu Pawit seperti singa yang siap menerkam jika ia tak bisa menghapal tahun, nama dan segala hal tentang kedatangan VOC ke Indonesia.

“Ran, semalem kamu nonton Piala Thomas nggak? Itu Rafa Rafi mirip banget sama Jonatan Christie. Gantengnya bikin meleleh. Udah ganteng, mereka itu pinter. Kurang apa lagi coba?” tukas Rere panjang lebar dengan mata bulat yang mengerjap-ngerjap.

“Ah, sok imut!” gumam Rania dalam hati.

Bosan. Penjelasan itu sudah ribuan kali Rania dengar.

“Aduh, Re. Masih banyak cowok yang bisa kamu kagumi. Nggak cuma Rafa Rafi. Tuh, itu lihat!” Rania menunjuk seseorang di bawah sana. Tak jauh dari tempat Rafa Rafi duduk.

“Fajar?” Rere melotot. “Ampun deh. Kamu lihat Ran rambutnya. Klimis gitu. Lalat aja kepleset kalau lewat. Manusia antik gitu mah mending ditaruh di zaman purba buat makanan tirex,” jawab Rere sewot.

“Sadis kamu Re! Klimis kan sekarang lagi jadi tren. Pomadic gitu.”

“Rania, mana ada pomadic belah tengah!” Rere semakin gemas.

“Pomadic garis keras, Re! Tengahnya bergaris, hahaha…” Rania terbatuk. Ia berlari masuk kelas. Kabur sebelum menjadi bulan-bulanan Rere yang semakin kesal.

***

“LIHAT, Re!” Rania menyodorkan beberapa lembar foto cowok yang lumayan kece. Lagi-lagi, Rere tak melirik sedikitpun. Jari manisnya masih asyik menggeser-geser foto Rafa Rafi di smartphone kesayangannya. Rania nampaknya tak menyerah. Diambilnya smartphone Rere dan digantinya dengan lembaran foto itu. Berhasil, Rere menoleh. Pandangan Rere kini terpancang pada Rania. Memandangnya dengan wajah ketus.

“Apaan sih, Ran? Sudah kubilang, nggak akan ada cowok lain yang menggantikan Rafa dan Rafi di hatiku,” gertak Rere.

Seketika itu juga, Rere berdiri dan meninggalkan Rania duduk sendiri di bangku di bawah pohon kresen. Pada istirahat siang ini, berteduh di bawah pohon kresen terasa meneduhkan. Setidaknya, sedikit mengurangi hawa panas di hati Rania.

“Ah, bagaimana caranya meyakinkan Rere. Masih banyak cowok ganteng selain Rafa dan Rafi,” gumam Rania dalam hati.

Rania mengedarkan pandangannya ke sekeliling sekolah. Rere nampak asyik berdiri di depan mading. Senyumnya nampak jelas meski dari kejauhan. Ada sesosok makhluk di samping Rere. Makhluk berbadan tinggi tegap dengan blazer coklat yang membuatnya menawan. Harus Rania akui, Rafa memang menawan.

Setelah istirahat pertama usai, hasil ujian matematikan dibagikan. Bu Aris yang lemah lembut sontak berubah jadi monster mengerikan ketika membacakan nilai. Rasanya, ingin sekali Rania menangis. Nilai ujiannya sukses membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Begitupun dengan Rere. Sampai malam hari, ia tak hentinya menangis tersedu. Bukan, bukan karena nilai ujiannya hancur dibanding Rania. Tapi karena hari ini. Ia melihat Rafi berboncengan dengan Fiya. Teman sekelas mereka.

“Sepertinya, aku lebih cocok sama Rafa daripada Rafi deh, Ran.” Rere menggenggam tangan Rania, seolah meminta dukungan. Rnaia menggeleng cepat. Dengan panjang lebar, Rania berusaha menjelaskan. Masih ada banyak pangeran tampan di luar sana. Tak tega rasanya membiarkan Rere berada dalam harapannya, sementara Rania tahu benar, Rafa juga sudah memiliki kekasih.

***

“SUDAH pesan?” tanya seorang cowok berkaos biru yang tiba-tiba duduk di hadapan Rania.

“Sudah,” jawab Rania oendek.

Jarinya mengaduk-aduk secangkir caffe latte yang menemaninya sejak lima belas menit yang lalu.

“Moccacino satu.” Cowok berkaos biru itu melambai pada waitres yang berdiri tak jauh dari meja mereka.

Cowok berkaos biru itu melempar senyum. Dan kau tahu, ia adalah cowok yang sama yang ditemui Rere di depan mading sekolah.Ya, di sini, di OWK coffe shop, Rafa melempar senyum pada Rania.

Tak perlu menunggu lama, secangkir moccacino sudah terasji. Rafa menyeruput secangkir moccacino hangat sambil memandang laptop merah kesayangannya. Namun sayangnya, cowok tampan idola sekolah itu, tak tahu betapa galaunya Rania.

“Bagaimana menjelaskan pada Rere bahwa Rafa pacarku?” gumam Rania dalam hati. 


Aris Hartanti. Bangon RT 01 RW 07 Sojokerto Leksono Wonosobo 56362.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aris Hartanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 22 Mei 2016