Dua Pergelaran

Karya . Dikliping tanggal 19 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
DUA truk bak terbuka diparkir di depan kantor gubernur. Berloncatan turun orang-orang lereng Gunung Bokong, berbusana penari barongan.Diturunkan pula seperangkat gamelan. Tarian barongan diawali dengan gamelan pembuka.Muncul dua penari bertopeng jenaka. Gamelan dan hentakan gendang membangkitkan irama bahagia. Beberapa orang membentangkan spanduk-spanduk berisi dukungan terhadap pendirian pabrik semen yang bakal mengeruk lahan batu gamping di sepanjang lereng Gunung Bokong.
Dengan kamera di tangan, Aryo memotret penari bertopeng jenaka lereng Gunung Bokong.Wajah lelaki muda itu merah jambu tersengat matahari pantai. Sepasang lelaki bertopeng jenaka menari dengan gerakan-gerakan kocak.Penonton tertawa. Mereka turun dari lereng Gunung Bokong dengan truk bak terbuka, memasuki ibu kota provinsi yang panas. Di depan kantor gubernur itu mereka seperti menemukan tanah lapang, sementara matahari kota pesisir garang memanggang.
Yang mencengangkan Aryo, ia melihat Lurah Ngarso sangat ceria di antara para penari dan penabuh gamelan. Lurah Ngarso berada di tengah-tengah rombongan barongan. Tampak begitu berkuasa. Di tengah keriuhan itu Aryo berjumpa Kodrat, tetua adat, yang menolak pendirian pabrik di lereng Gunung Bokong. Ia datang bersama rombongan kuda lumping. Dua truk penari kuda lumping diparkir agak jauh dari tempat pergelaran barongan. Para penari kuda lumping dan penabuh gamelan belum lagi turun ke trotoar. Mereka menanti perintah Kodrat.
“Lihat, Lurah Ngarso bersama para penari barongan,“ bisik Kodrat. “Kau harus ingat, saat meliput berita penolakan pabrik di lembah Gunung Bokong sempat diculik Lurah Ngarso. Ia mengenakan topeng kepala anjing, menyeret dan menganiayamu hingga pingsan.Tubuhmu kutemukan di sendang lereng gunung.“ “Di sini dia tak berani melakukan itu,“ balas Aryo, santai.
“Tontonlah pergelaran kami,“ kata Lurah Ngarso, seperti meledek Aryo, wartawan yang banyak meliput peristiwa pendirian pabrik yang ditolak warga lereng Gunung Bokong.Kini Aryo bertugas meliput berita di ibu kota provinsi. Tiap kali ia berkesempatan meliput kegiatan warga desa Gunung Bokong, selalu dilakukannya dengan senang hati.
Kodrat menarik Aryo menepi dari kerumunan orang yang berdatangan membentuk lingkaran di depan kantor gubernur itu. Wajahnya tampak mencemaskan Aryo. Kodrat melihat tubuh Lurah Ngarso yang kekar tenggelam dalam kain barongan. Lurah Ngarso berperan di bagian kepala barongan, dan seorang lelaki lain berperan sebagai kaki belakang dan ekor.
Gamelan dan hentakan gendang masih terdengar dalam irama jenaka. Di sisi kiri dan kanan barongan dua orang lelaki dengan topeng jenaka, yang membangkitkan tawa. Dua lelaki bertopeng jenaka itu menggoda barongan dengan gerakan-gerakan yang memancing amarah. Aryo berkali-kali membidik adegan itu.
*** 
Berloncatan turun para penari kuda lumping dan penabuh gamelan dari dua truk bak terbuka. Mereka warga desa lembah Gunung Bokong yang menolak pendirian pabrik. Mereka cemas bila pabrik itu bakal mengeruk habis batu gamping di sepanjang lembah gunung. Di depan kantor gubernur itu mereka mempergelarkan tarian kuda lumping, di tempat yang berdekatan dengan pergelaran barongan.Tak ada orang menghampiri pergelaran kuda lumping itu.
Tapi begitu Kodrat memasuki lingkaran pergelaran kuda lumping, irama gamelan dan gendang mulai menghentak-hentak. Tarian kuda lumping kian lincah Orang-orang mulai berkerumun.Kini kerumunan terbelah dua.Mereka yang menyukai tarian barongan mendekat ke arah lingkaran Lurah Ngarso.Yang gemar pergelaran kuda lumping mengerumuni Kodrat dan orang-orang yang setia padanya.
Para penari kuda lumping berpipi merah menyala.Mengenakan ikat kepala, pakaian merah gemerlap, bercelana hitam sedikit di bawah lutut, tanpa alas kaki, mereka menginjak trotoar di depan kantor gubernur.Menari dalam sengatan matahari.Kodrat berada di tepi lingkaran, bersama tetua rombongan, tak jauh dari penabuh gendang.
Orang-orang kini terpikat memasuki lingkaran penonton kuda lumping, yang menari dengan gerakan-gerakan lentur. Sesekali cambuk tetua rombongan menggelegar, menuding langit, dan membelah bumi. Seseorang penari kuda lumping yang kesurupan menari tanpa irama, sepasang mata membelalak, tubuh mengejang, menghirup air kembang dalam ember, mengunyah pecahan kaca. Banyak pengendara motor yang lalu lalang di depan kantor gubernur berhenti sejenak. Sebagian menonton pergelaran kuda lumping dan barongan.Pegawai gubernur pun menghambur, menonton dua pergelaran dari dalam pagar besi. Aparat keamanan berdatangan. Membuat pagar betis, memisahkan dua pergelaran yang berseteru.
Matahari menyengat ubun-ubun. Hentakan gendang dan suara gamelan ditabuh dengan irama yang tinggi, cepat, menegangkan. Tercium aroma ciu, minuman keras, dihisap penabuh gamelan dari sudut kantong plastik. Para penari barongan kesurupan. Leher barongan meliukliuk, mulutnya menghentak-hentak: terbukaterkatup, terbuka-terkatup. Penonton pun menghambur serupa laron meninggalkan liang, menjauh dari lingkaran pergelaran.
Aryo yang sedang membidikkan kamera ke arah barongan yang kesurupan, terjebak di tengah pergelaran. Mulut barongan itu terbuka, terkatup, merenggut kamera Aryo.Kembali mulut barongan terbuka, terkatup, mematuk kepala Aryo. Mulut itu terus terkatup, kukuh, rapat, dengan kepala Aryo terhimpit di dalamnya. Kepala Aryo yang ditelan mulut barongan itu seperti hendak diremuk. Berkali-kali diterkam, dimuntahkan, diterkam, dimuntahkan. Aryo tersungkur. Terkulai di trotoar. Kepalanya mengucurkan darah. Lurah Ngarso yang kesurupan menginjak-injak tubuh Aryo di trotoar.
Kodrat berlari menerjang barisan aparat keamanan yang berjaga membatasi dua lingkaran pergelaran. Tubuh-tubuh kekar bersenapan itu terpental menahan terobosan tubuh Kodrat.
Para penari kuda lumping pun berloncatan meninggalkan irama gamelan dan gendang, menyerang para penari barongan. Terdengar teriakan-teriakan kesakitan. Teriakan-teriakan ketakutan.Tembakan peringatan meletus. Terdengar lagi suara letusan tembakan di udara. Terik matahari telah membakar amarah para penari kuda lumping.
Terjadi kegaduhan. Amuk para penari kuda lumping menyerbu penari barongan tak terkendali. Berlarian penari barongan, dan penari topeng jenaka. Tinggal Lurah Ngarso yang menari tanpa barongan di tengah lingkaran. Ia dihajar para penari kuda lumping bertubi-tubi. Terdengar jerit penonton perempuan yang berlarian menjauh dari pertikaian.
***
Alangkah senyap, langit-langit kamar berputar. Tercium aroma daun-daun jati mengering dari hutan. Ketika Aryo membuka matanya, ia memang sudah terbiasa memandang ruang kamar yang berdinding kayu berlantai kayu. Kamar senyap. Matanya masih berkunang-kunang. Pandangannya berputar.Ia menahan perut agar tak muntah. Berkalikali perutnya mual. Tiap kali ia merasa ruang kamarnya berputar dalam gelap. Ia mendengar suara orang-orang desa lereng Gunung Bokong.Ia merasakan tubuh seorang lelaki tua di sisinya.Kepalanya berdenyut pedih. Ia sangat mengenali suara yang tenang itu: Pak Suar, ayah kandung Kodrat.
Kembali Aryo memejamkan matanya.Muka barongan mengepungnya. Beribu-ribu muka barongan dengan mulut menganga menyergapnya. Ia tak bisa menghindar dari mulut-mulut barongan yang menganga ingin menelannya.
“Mana Kodrat! Mengapa ia tak pernah menjengukku?“ tanya Aryo. Ia sadar ketika kepalanya penuh dengan luka jahit, diperban dokter, pedih, dan tubuhnya terasa remuk. Tidak lagi di depan kantor gubernur. Orang-orang lereng Gunung Bokong, pemain kuda lumping, menaikkannya ke dalam truk. Meninggalkan rumah sakit. Duduk di sisi sopir. Ia memerlukan perawatan. Tak peduli dibawa ke mana pun. Ia ingin ketenangan yang jauh dari amuk pergelaran barongan. Ia diangkut truk bak terbuka ke desa di lereng Gunung Bokong. Tapi ia tak melihat Kodrat bersamanya.Ia tak melihat kebahagiaan di wajah sopir.Sepertinya sopir menyembunyikan banyak hal selepas pergelaran barongan dan kuda lumping di tepi jalan di depan kantor gubernur. Kodrat tak pulang bersamanya. Beberapa penari kuda lumping juga tak pulang bersamanya ke lereng Gunung Bokong. Aryo bertanya pada Pak Suar, ke manakah Kodrat? Lelaki tua itu, sambil menghisap rokok, berkata pelan, “Dia belum boleh pulang.“
“Kenapa belum boleh pulang?“ Lelaki tua itu menggeleng. “Belum ada kabar dari kota.“
Aroma tembakau dari ujung rokok yang tak pernah putus dari mulut Pak Suar memenuhi kamar yang ditempati Aryo. Ini rumah sonokeling milik Kodrat. Ia sudah terbiasa bersua Kodrat di joglo sonokeling. Berbincang, minum teh gula batu, makan singkong goreng, Kodrat tak pernah sanggup membebaskan diri dari kebiasaan menikmati rokok berbatangbatang, sama seperti ayahnya. ***
Pandana Merdeka, 2015 
S Prasetyo Utomo, sastrawan kelahiran 1961. Bekerja sebagai dosen IKIP PGRI Semarang. Pada 2007, ia menerima Anugerah Kebudayaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen Cermin Jiwa. Buku fiksinya Bidadari Meniti Pelangi (2005)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya S Prasetyo Utomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 18 Oktober 2015