Dua Tamu di Hari Pernikahan Kaf

Karya . Dikliping tanggal 11 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

1. Kaf dan Nun

ADA tiga senja, katanya. Senja pertama adalah senja yang membuat manusia berpikir untuk menyudahi kegiatan siang hari mereka. Senja sipil.
“Kau yakin?” aku bertanya. “Senja tidak membuat orang-orang berhenti dari kesibukan. Malah senja seperti pintu masuk dunia baru yang lebih gemerlapan.”
Ia tertawa, menunjukkan gigi gingsulnya di kanan atas. “Tentunya senja sipil ini ditetapkan sebelum Thomas Alva Edison menemukan bola lampu. Mungkin pada masa sebelum itu sekumpulan orang merumuskan perbedaan senja. Begitu senja tiba, seluruh makhluk hidup akan kembali ke sarang masing-masing, kecuali yang nokturnal. Manusia akan berkumpul di rumah bersama keluarga. Di luar tidak lagi ada kehidupan. Kegelapan belaka yang tersisa di sana. Suasana senja yang berbeda ibarat langit dan bumi dengan sekarang, seperti kau bilang barusan.”
“Kalau begitu, sekarang ini senja sipil sudah tidak berlaku lagi. Atau senja sipil masih berlaku semata-mata untuk membedakan pergantian dari siang ke malam, tapi tidak lagi memiliki pengaruh terhadap pola hidup manusia.”
Ia mengangguk setuju. “Senja yang sangat teknis ya,” ujarnya menambahkan.
“Lalu senja kedua?” aku bertanya kemudian. 
Ia membalikkan badan, melompat mengangkat badannya sedemikian ringan dengan bertumpu pada tangan kirinya, lalu mendudukkan diri di atas pagar tembok. Aku masih dalam posisi sama. Berdiri menyandar, kedua tanganku menyiku di atas tembok. Siku kiriku menyentuh bagian ujung luar lutut kanannya.
“Senja kedua milik para pelaut. Nautical twilight. Saat senja itu tiba, bintang-bintang yang paling terang sudah mulai tampak bermunculan di langit dan menjadi panduan perjalanan para pelaut yang berlayar mengarungi samudera. Contohnya bintang-bintang yang membentuk Rasi Gubuk Penceng menjadi petunjuk arah di Bumi Selatan. Kamu tahu, buatku nama yang tepat untuk itu adalah Rasi Layang-Layang. Bentuknya persis layang-layang yang selalu kumainkan sepanjang musim kemarau.”
“Kau sering mengadu layang-layang juga?”
Ilustrasi oleh Munzir Fadly
Ia menggeleng. “Tidak, mengadu layang-layang itu permainan anak laki-laki. Aku hanya menerbangkannya, merasakan tarikan angin pada tanganku dan mengendalikannya supaya tetap mengangkasa. Saat kekuatan angin bermain-main dalam liukan layangan, aku selalu merasa seperti sedang mengendarai angin.”
“Imajinasimu sudah sedalam itu semenjak kecil ya?”
Ia tertawa kecil. “Begitukah menurutmu? Anak-anak kecil di seluruh dunia pasti imajinatif.”
Lalu ia meloncat turun dari duduknya dan berdiri di sampingku. Ia pandangi wajahku dari arah samping.
“Sebelum kuceritakan tentang senja ketiga, aku ingin memberitahumu senja yang lain.”
Aku menoleh. Tepat ketika ia memalingkan wajah kembali ke depan, menatap langit yang kemerahan.
“Senja yang hanya hadir ketika ada sesuatu yang meliputi emosimu.”
“Misalnya?”
Ia terkekeh. “Ketika jatuh cinta,” katanya.
“Oh ya? Hmmm… kapan itu?”
“Sekarang.”
“Sekarang? Bersamaku?”
“Sekarang. Bersamamu.”
“Terima kasih,” kataku manis.
“Ya, kembali. Tidak masalah,” katanya tidak kalah manis. Ia melanjutkan, “Senja ketiga adalah senja astronomis, senja paling larut. Ketika orang-orang yang bekerja meneliti bintang mendapati langit sudah cukup gelap untuk direkam mata teleskop mereka.”
“Bukankah itu senja keempat?”
“Kau menghitungnya?”
Aku mengangguk, “Senja sipil, senja nautikal, senja astronomis, dan senja….” Aku berhenti memikirkan nama senja keempat, “Senja yang membuatmu merasa emosional!”
Ia tertawa. “Oh ya benar, jadi semuanya ada empat jenis senja. Senja mana yang paling kamu sukai?”
Aku sejenak berpikir. “Mungkin senja nautikal.”
“Kamu pasti membayangkan sebagai pengembara berada di samudera luas dan tersesat kehilangan arah? Apakah kamu lupa membawa kompas?”
“Aku tidak membawa kompas. Aku punya GPS.”
Ia tertawa terbahak. “Jadi, lagi-lagi senja nautikal gugur tak berguna karena satelit sudah mengganti peranan bintang penunjuk arah. Juga senja astronomis, karena sekarang para astronom banyak yang melakukan riset pada gelombang radio, yang jelas-jelas tidak dipengaruhi keadaan terang atau gelap.”
“Artinya?” ia mengerlingkan mata.
Aku menggeleng lekas.
“Cobalah,” suaranya membujuk. 
“Senja interlude yang tidak berubah.”
“Interlude?”
“Senja yang kamu sebut emosiobal, buatku adalah seperti merasakan interlude dalam musik,” kataku sambil menarik napas panjang. Aku merindukan seseorang.
“Kutebak, kamu pasti teringat kepadanya.” Aku mengangguk.
“Senja seperti itu abadi ya? Seperti perasaan yang kamu simpan untuknya.”
Aku tiba-tiba merasakan sebuah nyeri yang menusuk. Kupegang tangannya. Ia balik menggenggam tanganku erat. Aku pandangi wajahnya dengan sedih.
“Ah, ayo, sudahi sedihmu itu. Dia mungkin juga mengingatmu, sesekali. Mustahil melupakanmu sepenuhnya. Tentu saja dia mengingatmu juga. Meskipun tidak pernah ada kabar, bukan berarti tidak pernah mengingat.” Matanya melebar seketika, lalu menyipit. Ia tertawa kecil sambil menarik napas.
“Senja interlude kita indah, ya. Rugi kita kalau tetap sedih. Lihat, warna magenta di langit. Magis bukan?”
Ia sudah kusakiti, tetapi masih tetap mencintai.
2. Kaf dan Zeth
“AKU tidak ingn bertele-tele. Kita bisa berbagi hasrat, jika kau tidak keberatan.”
“Baiklah. Bahkan dalam khayalanku, tak cuma hasrat.”
“Heh? Coba ceritakan kepadaku,” dan matanya yang bulat membelalak penasaran. Tapi aku tersenyum mengelak. “Berbagi khayalan tidak termasuk dalam perjanjian, bukan?”
Setelah percintaan pertama berakhir, kami melanjutkan dengan berpelukan. “Kamu menarik, kamu menarik. Aku mulai jatuh cinta kepadamu.” Ia bergumam pelan, tapi jelas di pendengaranku.
Jawabanku mestinya. “Aku jatuh cinta kepadamu, sejak awal”, tapi hanya terhenti di pangkal tenggorokan.
Kali ini percintaan kesekian. Setelah menonton film dan berciuman di setiap adegan yang membosankan, setelah bermain squash, setelah makan sate kambing di Pancoran, setelah melihat pentas pantomim. Malam tua dan birahi yang ranum kawin-mawin disaksikan seiris bulan di jendela aparteman dengan tirai yang disibak sebagian dengan sengaja. Ia suka memandangi warna kulitku yang telanjang dalam terang bulan yang temaram.
“Kamu laksana pualam,” ia membisikkan.
Ia kerap memuji meski tidak bisa kumiliki. Setetes air mata yang terperas dari jantung cinta nyaris menitik. Tidak, ia tidak ingkar akan sesuatu yang tidak mampu diberikan. Aku bahagia, bisikku pasti.
Ciumannya sedang mampir di telinga, namun telinga yang sama mendengar nada yang kukenal dari telepon genggam miliknya. Aku mendorong tubuhnya menjauh.
“Terima dulu. Telepon di malam hari tentu penting.” 
Ia berguling, tubuh kami berjarak.  Matanya menatap langit-langit dan tidak juga beranjak. Nada itu terus menjerit-jerit datang dari meja di ujung ranjang.
3. Zeth dan Nun
HARI ini Kaf menjadi pengantin tercantik di dunia. Bagi Zeth, Kaf berkilau seperti pualam yang memantulkan cahaya senja. Bagi Nun, mata Kaf yang belok itu seperti sepasang matahari sendu di sebuah planet yang tidak memiliki pergantian waktu. Kesenduan Kaf seakan abadi setelah ia setuju menerima lamaran laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.
Kaf sudah menangis berkali-kali dalam pelukan Nun.mengeringkan sumur air matanya sampai tidak tersisa setetespun. Nun tersenyum ketika menyalami Kaf di pelaminan, hanya ada selapis genangan yang tertahan berlinangan seperti tirai halus di depan lensa matanya yang indah itu.
Dari gubuk penyaji laksa Betawi, Nun memperhatikan pengantin sendunya menyalami tamu-tamu undangan, tersenyum atau tertawa amat wajar, menyambut ucapan selamat sambil mengaminkannya. Di kedua sisi mereka, sepasang orang tua kedua pengantin juga tertawa atau tersenyum lebar. Pengantin sendu dan suaminya dijodohkan secara main-main sejak kanak-anak oleh kedua keluarga yang akrab dan rapat satu sama lain. Kaf selalu menganggap laki-laki itu kakak yang baik. Sejak Kaf remaja hingga letih mengembara mencari hati yang didambanya, laki-laki itu seperti seorang pangeran idaman dalam dongeng cinta. 
Akhir yang menggembirakan bagi seluruh dunia, kecuali bagi Kaf sendiri. Tapi Kaf berusaha berbahagia bersama dunia. Kaf yang sendu. 
Oh, Nun terkesiap melihat seseorang menaiki tangga pelaminan dengan percaya diri. Dari jauh Nun bisa mengenali aroma parfum mahal yang lembut. Juga Nun melihat seluruh otot wajah Kaf sedang bekerja sama sekompak mungkin untuk menahan linangan air matanya agar tidak runtuh. Tubuh Kaf sendiri bergetar sangat dalam frekuensi ultra sehingga tidak tertangkap manusia. Nun mendengar seekor anak kelelawar yang bersembunyi di bubungan atap gedung berdecit ngeri. Mungkin bumi juga sedang menghentikan rotasinya demi seorang anak manusia yang sedang memantrai diri sendiri saat detik mematikan itu tiba juga.
Mata sendu Kaf berkeliling mencari Nun. Nun mengangguk pelan. Kaf mengedip sesaat sebelum dirinya dan Zeth persis berhadapan. Nun menahan napas. Rupanya Kaf sudah berhasil menjadi pesulap hebat. Kaf tidak mati atau berubah menjadi samudra air mata ketika menghadapi kedatangan Zeth tercinta. Sepasang matanya yang besar kini berkilat-kilat memancarkan cahaya paling menakjubkan yang pernah Nun lihat. Melebihi ketakjuban Nun akan warna magenta ketika senja sipi berganti senja nautikal.
Sedetik peristiwa itu mengubah Kaf selamanya. Kaf baru telah lahir, kepompong Kaf terburai bersama udara tak kasat mata. Kaf berhasil melewati puncak yang harus ditaklukkannya. Pengantin sendu dalam balutan kebaya hijaunya yang sangat cantik itu kembali mencari Nun. Mereka sama-sama berbagi senyum tak kasatmata.
Zeth, tanpa Nun sadari, memperhatikan mereka dengan kecemburuan luar biasa. Zeth menghampiri Nun dan menjabat tangan lalu saling menempelkan pipi. Mereka bertiga sering bersama dalam perjumpaan pendek. Peristiwanya selalu berulang seperti ini: Kaf keluar dari pintu lift bersama Zeth, menemui Nun yang sudah agak lama menunggu di lobi., kemudian mereka bertiga pergi dengan mobil yang disetiri Nun. Arah perjalanan selalu sama, menuju pantai di utara dan berhenti di bawah pohon ketapang yang paling ujung dan sepi pengunjung. Saat Kaf sedang sedih-sedihnya seperti demikian, Nun menghibur dengan apa saja. Kadang mendongeng, kadang menjelaskan sesuatu seperti seorang guru, kadang sama-sama terdiam memandangi permukaan laut yang halus bergelombang.
Kaf suka mengeluh bahwa ia tidak bisa melupakan Zeth. Zeth yang mencintai dua orang sekaligus. Yang kerap membisikkan baris-baris puisi:
Kau mungkin hafal rasanya dikhianati.

tapi tak pernah tahu pedihya membagi.*
Di bahu Nun, Kaf tersedu-sedu dan benci dirinya sendiri yang tersentuh oleh puisi itu. 
Zeth berkata betapa cantiknya Kaf, si pengantin pualam. Nun mengangguk, dan berkata, semoga pengantin sendu itu berbahagia selamanya. Zeth menimpali, bahagia selamanya itu ilusi. Nun tertawa kecil. Mereka melihat Kaf tengah memandangi mereka dengan sepasang matanya yang bercahaya.
Nun bertanya, mengapa Zeth datang sendiri tanpa kekasihnya. Zeth bilang ia ingin datang menemui Kaf tanpa berbagi. Sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukannya saat Kaf berusaha keras mendapatkan cinta Zeth. Zeth berpisah dengan kekasihnya, jelas Zeth kepada Nun, bersamaan dengan tibanya kabar dari Kaf tentang hari pernikahannya.
Apakah Zeth juga terinspirasi Kaf untuk menikah dengan laki-laki, tanya Nun. Zeth tertawa, sambil mengulangi perkataan ibunya yang mengingatkan bahwa umurnya sudah hampir kepala empat. Lalu Zeth berkata, ia iri kepada Nun yang berani jujur menjadi diri sendiri tanpa perlu tunduk pada konsensus normatif bahwa perempuan tidak pantas selamana melajang. Juga Nun berani mencintai Kaf tanpa syarat sedemikian rupa.
Nun berkata, dengan caranya sendiri Zeth juga melakukan hal yang sama. Zeth menggeleng, ia membenci dirinya yang keras hati dan mementingkan diri sendiri. Nun menepuk bahu Zeth, mari kita bersulang agar Kaf, sang pengantin pualam, pengantin sendu, berbahagia dengan kehidupan barunya.
Zeth yang memegang segelas air putih, mendentingkan bibir gelas ke bibir mangkuk laksa betawi di tangan Nun. Untuk Kaf kita, mereka berkata bersamaan.
Depok, 12 Desember 2014
*dari puisi “Ciuman Judas”, karya Dina Oktaviani
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aulia Hanan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 11 Januari 2015