Duel Kedua

Karya . Dikliping tanggal 23 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi

MALAM itu, seusai menandaskan isi gelas, lorong-lorong ususku yang memanas hendak kubawa keluar mencari angin. Saat mau berdiri, di belakang cuping telingaku ada embus uap napas berbisik, “Sudah berkali-kali kutanyakan di mana kamu sembunyikan putriku. Malam ini, bila kamu tidak juga mau mengatakannya, maka….”

Urung kutolehkan kepala. Kurasakan ada benda dingin menekan tengkukku, dengan sahut, “Dia ada di mana?”

“Di tempat yang tidak perlu kau tahu,” kucoba mengelak. “Lebih baik kau berhenti mencarinya. Nadya toh tidak menganggap kau bapaknya.”

“Oo, jadi kamu telah mencuci otaknya?” Seiring tekanan logam dingin di tengkukku, golak amarahku melumer oleh rasa takut.

“Kamu pasti tidak menyembunyikan di apartemenmu,” ujarnya. Aku memang tidak sebodoh itu, karena ia pernah ke situ berteriak-teriak mencari istrinya yang tidak mau pulang.

“Kita tidak perlu lagi meributkan soal Nadya,” saat menyahut, lidahku kuduga mulai kelu. “Coba kau tanya istrimu….”

Sejak ia menempelkan moncong pistol di tengkukku, terus kureka-reka pada menit ke berapa benda itu akan menyalak, dan pelurunya meremukkan batang leherku. Rekaanku ternyata kemudian meleset: ia memilih menghantam tengkukku, entah dengan benda apa, membuatku tersungkur. Cahaya di dalam bar sontak kulihat buram.

Entah berapa jam kemudian, kudapati tubuhku telentang di dalam istal. Kutahu itu istal karena ketukan-ketukan di lantai. Awalnya sayup di pendengaranku kusangka orang sedang memaku, ternyata itu gerak mengetuk ladam kaki-kaki kuda. Suara dengus yang sesekali menyertai gerak mengetuk itu, membuatku sadar di mana aku berada.

Tubuhku ditelentangkan di atas hampar jerami. Tengkukku tidak lagi sesakit sebelumnya, dan aku bersyukur napasku masih bisa kuhela-lepas dengan lancar. Terpujilah orang yang membawaku ke tempat ini, kuanggap saja ia telah menghidupkan aku kembali.

“Sudah mau menjawab pertanyaanku?”

“Harusnya tadi kamu sudah mati di dalam bar,” ujarnya lagi.

Bila kupaksakan bangkit, bisa jadi baru bergerak telapak sepatunya sudah melesak ke wajahku. Kuurungkan keinginan itu, seraya mengawasinya meraih sekop dari sudut ruang. Ia kemudian menjadikan sekop itu sebagai penyanggah tangan, dan berdiri di sisi tubuhku.

“Kalau kamu tidak mau memahami betapa aku mencintai anakku, maka di tempat ini nyawamu benar-benar akan tercerabut dari tubuhmu.”

Aku bergidik. Kubayangkan bagaimana sekop itu nanti mencacah wajahku, seluruh tubuhku, dan mungkin akan serupa cacahan pakan kuda.

“Bila tidak memikirkan putriku,” katanya lagi, “sudah kulubangi batok kepalamu.”

Semangatku tumbuh. Tentu ia ingin aku terus hidup, agar bisa mengorek keterangan di mana kusembunyikan Nadya.

Entah apa kemudian yang menghantam bagian samping kepalaku. Kulihat sekop yang tadi hendak kuraih malah seperti menjauh, dan ruang istal perlahan menghitam.

Saat itu, sempat kusangka diriku telah mati. Namun, entah berapa lama setelahnya, kutemukan kembali tubuhku, masih tergeletak di atas hampar jerami. Dadaku masih bisa naik-turun dengan teratur. Kuhimpun semangat, yakin bisa hidup dan menuntut balas, lalu coba merangkak keluar dari istal.

Beberapa malam setelah kejadian itu, dalam persembunyian, terus kupiara emosi yang meletupkan buncah dendam padanya. Dan malam ini, walau kepalaku masih pening dan agak oleng, kutekadkan ada duel kedua yang membuatnya terkapar. Demi menyudahi recokannya.

Tanganku mencengkeram pintu bar. Saat kulihat punggungnya di depan meja bar, kuingat kembali dengan pedih bagaimana perjuanganku keluar dari istal malam itu. Untung alam berbaik hati, temaram cahaya bulan menuntunku menyisir ladang gandum, sebelum berhasil mencapai tepi jalan raya. Tidak sepenuhnya berjalan cepat, lebih kerap terseok-seok, kubawa tubuhku yang terasa remuk menjauh dari istal. Kuduga ia tidak menginap di sana, dan penjaga rumah ladangnya pasti sedang mendengkur pulas.

Seraya berjalan, ingatanku pada Nadya. Tak akan kuserahkan anak itu. Toh dia anakku. Berkali-kali mamanya membawa ke apartemenku, membuatku merasa kian dekat. Sebajingan-bajingannya aku, tetap tidak sudi bila bangsat itu yang mengasuhnya.

Sudah takdirku malam itu masih bisa hidup. Walau truk keempat yang kutahan baru mau memberi tumpangan, kebaikan hati supirnya mengantar sampai ke kota kuanggap cara Tuhan mengirim malaikat untuk memanjangkan hidupku.

Kusisihkan ingatan pedih pada duel pertama itu, lalu berjalan ke arah punggungnya. Ia sedang menenggak minuman langsung dari botolnya. Kulihat ada botol lain di atas meja bar dan mungkin isinya sedang mengalir pula di lorong-lorong ususnya. Kepalanya agak doyong, nyaris menyentuh permukaan meja bar. Aku berdecak penuh kemenangan.

“Kamu sudah mau mengatakan di mana putriku?”

Sempat kusangka tengkuknya memiliki mata, sebelum kusadari kebodohanku: kaca pada rak minuman di belakang bartender ternyata memantulkan bayanganku, memberitahu kedatanganku.

“Nadya kupindahkan ke kota lain. Tahun depan akan kumasukkan ke TK.” Aku berusaha tertawa riang. “Sekaligus menjauhkan darimu.”

“Tidak kupersoalkan bila kamu ingin hidup dengan sundal itu, tapi kembalikan putriku.” Parau suaranya coba kuanggap saja igau, mungkin api di dalam minuman yang ia tenggak telah menghanguskan tenggorokannya. “Aku tidak ingin anakku tumbuh di bawah bayang-bayang perempuan jalang itu!”

“Kamu membuatku frustrasi,” ia terus mengoceh. “Kamu keras kepala! Dan sangat mujur. Harusnya kamu sudah mati di dalam kandang kuda itu!”

Kuenyahkan rasa gentar, memepet punggungnya, kemudian menyentuhkan moncong pistol pada tengkuknya. Jariku lekas menggerayangi selipan pinggangnya. Tidak kutemukan ada benda yang dapat membunuhku.

“Tidak usah menoleh,” bisikku, melihat lehernya bergerak.

“Tadi kupikir kamu ke sini untuk mengatakan di mana putriku.”

“Aku ke sini untuk memintamu berhenti menanyakannya,” kataku tegas. “Kau pikir aku juga senang hidup dengan perempuan itu? Aku cuma ingin anakku.”

“Nadya putriku!”

Ia menyentak ingin meraih, segera kubalas dengan tekanan moncong pistol di tengkuknya. Ujarku, “Aku heran, apakah kau pura-pura dungu, atau memang tidak pernah kau tanya istrimu, siapa yang lebih dulu menyimpan benih di rahimnya.”

Kuduga ia mulai takut. Ia bergeming. Moncong pistolku pun sudah siap menyalak. “Istrimu memang liar … uh, dan sangat sempurna sebagai wanita ketika bersamaku,” kekehku. “Dan dia mengaku, kau tidak ada apa-apanya sebagai laki-laki.”

Mendadak ia meraih botol di atas meja bar. Kupikir tak perlu mengelak. Botol itu tidak akan sampai di kepalaku, karena kokang pelatuk pada pistolku kemudian, kuyakin hanya butuh sedetik untuk meremukkan pembuluh darah di batang lehernya. Aku tertawa keras saat pelatuk pada pistol di genggamanku telah berbunyi ‘klik’….

Entah apa kemudian yang terjadi. Aku mendengar suara berderak, dan botol minuman pecah berhamburan membentur bagian samping kepalaku. Kurasakan kepalaku seakan melayang. Seluruh ruang bar mendadak kulihat sangat putih, mungkin baru saja ada kilat menyambar masuk dan menabrak kedua bola mataku.

Tubuhku tersentak ke samping, jatuh menimpa kursi. Saat tengkurap di lantai, kurasakan ada semacam biji kacang mengganjal di dalam saku kemejaku, menekan dadaku. Dalam kedut sekarat, aku merutuk: Uhh, kenapa peluru satu-satunya yang kupunyai itu, lupa kuiisikan pada pistolku? ❑ – (e)

Parepare, April 2017-April 2019

* Pangerang P Muda: Kompleks Perumnas Wekkeie Blok E No: 82 Parepare 91125


[1] Disalin dari karya Pangerang P Muda
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu 21 April 2019