Dukacarita – Ambang Pesisir – Kepala Batu

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Dukacarita

depan beranda timur matahari
api dipantik membakar sampah
sendiri mekar kuning seruni
condong ke barat hati tumpah
api dipantik membakar sampah
asap bergelung perih di mata
condong ke barat hati tumpah
mengepak pagi dihalau senja
asap bergelung perih di mata
telaga kaca berpendar-pendar
mengepak pagi dihalau senja
helai wajah lepas menggelepar
telaga kaca berpendar-pendar
telunjuk lentik di garis kelopak
helai wajah lepas menggelepar
beku rahang menahan koyak
2016

Ambang Pesisir

dara laut melempar lengking
ikan-ikan sunyi terlepas dari apit paruh
meluncur ke palung jantung, menggelabur jiwa
kampul sebentar, terselam lebih dari separuh
di batas tampak, bola api menjelang padam
ke geliut lautan. bintang-bintang mati telantar
dampar di pantai, bangkai ganggang berpilin
cangkang kerang kosong terserak;
dupa yang terbakar tanpa kepul asap
larut di udara, larat mengalirkan anyir.
lambung sampan telah pecah. badai, tanpa arah
dalam gelap, menyeretnya ke area di mana
menunggu kawanan karang pemangsa
kini, lengkung ranum pipi horizon: gorden gaib,
tampil bugil terpantau pandang, selalu tak terjangkau
siapakah menyodorkan jemari, Sang Maulan?
di dada berdebur sehempas ombak, buihnya menepi
ke pesisir mata, sehelai saputangan tak tersibak
menghapusnya
berlutut, berkaca pada basah pasir
sisa ombak, selapis wajah nan memar
tergenang samar, dijilati air.
2015

Kepala Batu

batu berjemur di sehampar rumput.
ada putri malu tersentuh merunduk dan bunga perdu mata tombak hitam
berkilap. buah bersayap mengepak menyusur udara, berayun landai
sampai cangkang menemu kemungkinan mendaratkan bakal akar,
atau tidak.
semut abu-abu berarak, yang hitam-besar berpencar-berputar-berlarian,
berhenti, berlarian-berputar-berpencar, tampak bakal pulang tanpa gagal.
ada nyaris kupu menjadi si mati dalam damai sehabis geliat, diusung oleh
karnaval.
mereka dalam karnaval yang panjang dan sepanjang tahun, ada yang tak 
kembali dalam barisna, di riuh derap hujan dan deras percakapan angin,
lenyap di lekuk lain. bulu-bulu terik matahari melentik. kapuk langit
mengembang, merupa sisik memanjang:
lambung ular yang kenyang.
batu terendam rerumput bergelombang pelan.
kepik menyaru ranting, bunga, atau daunan. daun lain merambat mendekati
sebagian lolos, sempurna menjadi ranting dan daunan, sebagian terhisap
genap menjadi mata, sayap, perut, atau dada si daun lain. si daun lain
yang gemar menyembah menyerahkan kepala bagi betina, bagi gairah getah,
bagi sepatah naluri. pun di dahan sebelah, si tetangga delapan tungkai usai
berbakti, bersarung jaring betina yang telurnya ia buahi.
tidur puas kini….
batu tenggelam di rimbun rumputan.
sisa sayap burung dan dada dan paruhnya koyak terbakar, dikerubungi
semut-semut api. peselancar udara yang pakar, penerbang terkapar
memasuki udara lain
batu bertahun-tahun diketuk
hujan di pangkal matanya, tangkas menghapus, bukan mengutuk. temali air
tak kenal habis bergulung-gulung: kasih terulur melewati tujuh petala.
perlahan dan santun mulut lumut turut berkerubut membantu melumat
kepala getasnya, yang kini setengah terkubur di tanah lembab.
2010-2015
Arya Winanda lahir di KOtabumi, Lampung Utara, 14 Juli 1980. Kumpulan puisinya bertajuk Desis Ular (2010).
Rujukan:
[1] Dislain dari karya Arya Winanda
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 3 Desember 2016