dung kayangan – gua jepang

Karya . Dikliping tanggal 18 Februari 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

dung kayangan

di kedalaman itu, ia meneruskan hidup dalam 
diri seekor gabus tua, gabus hitam dengan 
sedikit bintik coklat, gabus bergigi tajam yang 
mengorek serta menelan kedua biji matanya
ia melihat dunia, dari diri yang baru, sebagai 
semesta keruh, pada waktu-waktu tertentu 
ia terkenang hari lalu, cita-cita yang terkabul 
lambat: akhirnya, akhirnya, tak ada lagi kelas, 
semua gabus sama belaka
namun suatu kali, seekor ular kali, yang berkilau 
sisiknya, yang lebih gesit lebih buas ketimbang 
diri barunya, menyergapnya di sebuah liang, 
dan sekali lagi, ia mengira dirinya mati
namun tidak, 
dalam diri ular kali itu kembali ia meneruskan 
hidup, dalam diri yang lebih muda, diri yang mampu 
memudakan diri setiap kali usia tua tiba, hanya 
dengan mengelupas kulit luarnya
kadang, dari balik batu, ia melihat dua pemancing 
tua, yang kerap bernostalgia: di sini, bertahun-tahun 
lampau, kita menjaga republik dan membantu tuhan 
dengan menjagal kaum-kaum kiri
ia tahu, salah satu dari mereka pernah membenamkan 
sabit di punggungnya yang telanjang, 
ia tak pernah mengerti apa di dirinya yang mereka 
anggap keliru
dan pada suatu sore, pemancing itu pulalah 
yang menimpuknya dengan sebongkah batu, 
ketika ia melata di tepi, demi sedikit cahaya 
matahari
tak ada yang memakan bangkainya, namun 
seorang penyair telah menyadap kisahnya, 
dan dalam puisi itu, ia kekal, meski ia tak 
pernah menyadarinya

gua jepang

di sana, dalam selubung mantra orang kate, 
waktu adalah danau 
yang kadang beriak, kadang terkecipak, 
namun tak beranjak ke mana-mana
maka di sanalah, dalam alur semu, 
tujuh puluh satu lelaki kurus, menggali 
tanpa membuat liang itu bertambah dalam 
atau panjang, dan sekilas, seakan dalam 
gambar hologram, sebelas serdadu 
memenggali kepala kaum romusha itu 
dan suara yang mengambang
: sebab tak boleh ada yang mengetahui tempat 
ini, sebab seton emas adalah milik kaisar, 
hanya milik kaisar
dan mantra yang terus memperbarui diri itu 
juga mengalirkan ruang, dalam sebentuk 
sungai kecil, terus bergerak,
maka begitulah 
ia kadang terlihat di satu tempat, 
namun segera menghilang, selalu luput 
dari pindai, selalu lepas dari beku peta
dan karenanya, para ahli waris 
senantiasa hanya sanggup berziarah ke 
dalam kenangan
kenangan berwarna abu-abu
Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Sabtu 17 Februari 2018