Durian yang Bulat-Bulat Menerobos Kerongkongan

Karya . Dikliping tanggal 28 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
Durian memang raja buah yang statusnya masih aman karena belum ada buah tandingan yang bernyali mendongkel takhtanya. Cuma, raja yang satu ini mesti rela dikuliti cangkang berdurinya, agar daging buahnya yang harum legit menyengat dapat tuntas dinikmati penggemar hingga tinggal menyisakan biji-biji kesepian yang tandas dikulumi. Namun, ada saja raja yang nekat bulat-bulat menerobos masuk tenggorokan sebelum sempat dikuliti cangkang berdurinya….
DAN itu kerongkongan ibu! Enam tahun lalu….
”Nin, kayaknya hanya kematian yang akan membebaskan Bunda,” desah ibu waktu itu sungguh mengagetkan tatkala menelepon. Aku yang kebetulan tidak bekerja mesti lekas pesan tiket bis malam, pulang kampung, meninggalkan suami dan anak tunggal di rumah kami di pinggiran Ibu Kota.
Tiba di rumah ibu, Sinem pembantu ibu yang setia tergopoh membukakan pintu. Rupanya ibu masih tiduran di kamarnya. Ya ampun…, pagi itu wajah ibu pias. Pucat pasi.
”Aku mimpi itu lagi, itu lagi,” rintihnya, memelas.
”Ya, Bunda?”
”Menelan durian utuh dengan duri-duri tajamnya.”
Astaga…!
Ya, selain beberapa pohon kelapa, mendiang ayah meninggalkan warisan pohon buah-buahan di kebun pekarangan rumah. Ada rambutan, duku, kueni, srikaya, kedondong, jambu biji, sawo, dan durian. Tapi memang pohon durianlah yang paling sensasional. Ditambah lagi itulah satu-satunya pohon durian yang masih tersisa di kampung kami waktu itu. Apalagi saat musim berbuah, buahnya selalu lebat pula, hasil kerja pasukan malam regu kelelawar dan bala tentara siang koloni lebah yang giat melakukan penyerbukan di medan hamparan bunga durian dengan bau harum yang khas. Pohon-pohon durian lain milik tetangga sudah tewas duluan, tampaknya tak tahan disambar hawa panas yang makin menyengat dan dizalimi polusi udara yang mulai gentayangan masuk desa. Memang, paling tidak kayu pohon dan cabang-cabangnya masih sempat kasih pemasukan tambahan ke pemiliknya setelah dijual ke tobong gamping, tempat pembakaran batu kapur di kampung sebelah.
Ada yang berubah setelah ayah wafat. Menurut ibu, begitu pohon durian tunggal itu memasuki musim berbuah dan buahnya mulai masak, suasana kampung pun jadi heboh. Maklum, sikap terhadap buah durian konon cuma dua: disukai atau dibenci! Tak ada wilayah abu-abu dan celah buat mendua. Sepanjang pengetahuan ibu pun, tak ada warga kampung yang benci durian. Maka malam hari para pemuda dan bapak-bapak kompak meningkatkan kerajinan mereka meronda kampung, tentu saja dengan fokus pantauan pekarangan rumah kami. Ada saja yang berlagak kasih alasan, demi menjaga keamanan ibu yang telah ditinggal suami menghadap Sang Pencipta. Padahal bunyi ”buk” durian jatuhlah yang mereka jaga dan tunggu-tunggu. Apalagi mereka tahu benar ibu pantang keluar rumah bila bunyi itu memecah kesunyian malam. Saat ayah masih hidup, ayahlah yang selalu keluar bila malam hari ada panggilan bunyi khas itu. Ayah sudah punya daftar di luar kepala siapa-siapa saja yang akan dapat jatah durian, baik para tetangga maupun kerabat. Para pemuda dan bapak-bapak di kampung kami tidak perlu meronda dan tinggal tidur pulas sembari menunggu kiriman. Kondisi tersebut rupanya juga membuat buah durian aman dari pencurian. Yah, warga kampung meski doyan durian tetapi pantang beli karena mahal. Uangnya mendingan buat beli beras dan lauk. Sebetulnya saat musim durian tiba ada juga pedagang durian yang menggelar dagangannya di pasar kecamatan. Langsung dapat dipastikan bahwa pembelinya bukan dari kampung kami. Bahkan beredar info kalau di kota kabupaten sudah ada pasar swalayan yang menjual durian impor, info yang mubazir bagi warga kampung kami.
Setelah ayah wafat pula, siang hari di musim buah durian mulai masak adalah saat ibu jadi kembang desa, dikerumuni lebah-lebah yang kemecer dapat jatah durian. Ada-ada saja ikhtiar para ibu warga kampung agar tak terlupa masuk nominasi daftar antrean calon penerima si raja buah. Maklum, ibu meneruskan tradisi almarhum ayah untuk mengonsumsi sendiri buah hasil kebun termasuk durian secukupnya saja, dan membagi-bagi sebagian besar sisanya ke tetangga dan sanak saudara. Ibu sendiri hanya menikmati satu dua buah durian bersama Sinem. Ibu bilang, tiap kali menikmati buah durian, kenangan akan mendiang ayah selalu terbayang. ”Ayahmu itu seperti buah durian. Kata-katanya setajam duri-durinya—saat mengungkapkan kebenaran, dan justru karena itu namanya harum seperti daging buahnya,” kata ibu. Jadi hanya buah kelapa saja yang dipanen untuk dijual mengingat para tetangga rata-rata juga punya pohonnya di samping buat menambah pemasukan. Lihat saja, pagi hari saat ibu pergi belanja ke pasar kecamatan, ibu-ibu pemilik kios langganan dan para sahabat yang kebetulan ketemu ibu langsung buru-buru mendaftar agar dapat jatah durian. Pokoknya mereka sukses membuat ibu stres. Dan mulailah serentetan mimpi-mimpi mengerikan itu….
”Buk!”
Bunyi yang merdu di telinga para peronda itu melontarkan durian bulat-bulat menembus kabut mimpi menerobos kerongkongan ibu. Sungguh kurang ajar! Duri-duri tajamnya langsung menggores dinding tempat makanan dan minuman lewat menuju lambung. Pedihnya tak terbayangkan.
”Buk, buk!”
Stres siang hari membuat serangan malam durian menerobos kerongkongan di tubir mimpi ibu terasa berlipat-lipat nyerinya. Sadis betul modus si raja buah menjajal ketajaman duri-duri andalannya.
”Buk, buk, buk!”
Tak kenal ampun, serangan makin runcing membabi buta. Lengkap sudah penderitaan ibu….
”Mauku, Nin, biar pohon durian yang bikin stres itu mati saja!” rutuk ibu. Ibu sadar bahwa tidak mungkin menyuruh orang untuk menebang habis pohon durian tunggal itu. Pasti bakal heboh seisi kampung dibuatnya. Bagaimanapun setelah tuntas memuntahkan curahan hati padaku, muncul sebersit kelegaan di wajah ibu. Peranku memang sebatas menjadi pendengar yang baik. Setelah seminggu menemani ibu, aku pun pamit pulang.
Dua tahun kemudian semenjak mimpi-mimpi durian yang bulat-bulat menerobos kerongkongan ibu itu, rupanya ada kejadian penting. Kali ini seolah terdengar gemericik air susup-menyusup di antara suara ibu yang renyah menelepon.
”Nin, akhirnya pohon durian itu mati juga. Kemarin ibu pun dapat tambahan uang belanja dari menjual kayunya ke tobong gamping.” Aku lega mendengarnya.
Hasrat kuat ibu rupanya diam-diam menyusup masuk ke dalam tanah pekarangan. Tak bertepuk sebelah tangan, hasrat itu pun disambut gembira oleh ratusan uret tanah yang lantas bancakan menggerek akar durian. Pelan namun pasti daun rimbun mulai layu dan luruh. Pohon si raja buah pun gering dan akhirnya mengering. Kematian pohon durian otomatis membebaskan ibu dari stres menghadapi order durian gratis dari para tetangga dan saudara, serta terlebih dari mimpi-mimpi pedihnya. Telepon ibu beberapa waktu kemudian, kegiatan meronda kampung pun langsung surut.
Setelah itu aku absen mengunjungi ibu. Maklum, suami dapat tugas baru dari kantornya untuk membuka kantor cabang di salah satu pulau besar arah matahari terbit. Kami sekeluarga jadi ikut pindah juga. Untunglah ada keluarga kenalan suami yang berminat mengontrak rumah kami untuk saudaranya saat kami pindah.
Saran ibu, karena jarak kami berjauhan, aku dan keluarga tidak perlu mengunjungi ibu saat anak kami libur sekolah. Cukup lewat telepon saja. Kalau ada dana ekstra, lebih baik digunakan untuk acara liburan keluarga ke mana kalian ingin, pesannya. Pesan yang memang kami jalankan.
Akhirnya kesempatan berkunjung kembali ke rumah ibu pun tiba setelah belum lama ini suami ditarik kembali ke kantor pusat dipromosikan untuk menangani unit usaha baru di kantornya. Otomatis kami kembali ke rumah kami di pinggiran Ibu Kota, yang kini makin sumpek lingkungannya dengan banyak bangunan baru yang berdesak-desakan. Ya hari-hari ini aku menikmati kampung ibu yang meskipun sudah terkena polusi toh terasa lebih lapang dan ramah. Namun, yang pertama-tama membuatku kaget saat tiba di rumah ibu adalah kehadiran pohon durian di kebun. Dari tingginya, kutafsir pohon itu sudah berumur sekitar tiga tahun.
”Bunda, kok menanam pohon durian lagi?”
”Oalah, Nin, aku dulu merasa stres karena permintaan bertubi-tubi dari tetangga dan saudara saat buah durian mulai masak. Belum lagi serangan mimpi-mimpi menyakitkan yang terakhir kualami, yang telah kuceritakan padamu waktu itu. Namun, begitu pohonnya mati, ternyata kelegaanku cuma berlangsung sementara saja. Muncul perasaan aneh saat musim durian tiba dan tak ada lagi durian untuk dibagi-bagi. Suasana jadi sepi, suwung! Kurasakan orang-orang tak lagi antusias saat ketemu aku, terutama saat belanja di pasar. Kurangnya perhatian ini rupanya justru lebih terasa nyeri di hati. Rasanya aku tak dibutuhkan lagi…! Mestinya lebih baik aku bersikap ikhlas menerima permintaan jatah durian dari tetangga dan kerabat, dan aku yakin keikhlasan itu akan menjauhkanku dari mimpi-mimpi buruk. Ibaratnya aku rela melakukannya bila si raja buah bertitah, ’Langkahi dulu duri-duriku!’” senyum ibu. Ya, dalam hati aku pun tidak mengingkari bahwa menjadi kembang desa bertabur perhatian melimpah memang terasa manis dan membanggakan.
Ibu kemudian mencari info ke adikku yang tinggal di pulau arah matahari terbenam, tentang kemungkinan mengirim bibit unggul durian lokal yang terutama tahan cuaca panas. Adik bilang ada, dan menenteng bibit pesanan ibu itu sendiri saat mengunjungi ibu dan sekaligus menanamnya di kebun. Diperkirakan umur empat tahun nanti pohon durian mulai berbunga, pesan adik pula.
Pagi ini aku berkunjung ke rumah Tina sahabat karibku di masa kecil. Ibu bilang kalau Tina baru saja melahirkan anak ketiganya, yang usianya terpaut jauh dari anak sulung dan anak keduanya. Rumahnya di ujung kampung, berjarak beberapa rumah dari rumah ibu. Tina yang tidak menduga kedatanganku begitu gembira dan langsung menarikku untuk melihat bayinya. Setelah kulontarkan pujian betapa cakep buah hatinya, Tina mengajakku minum teh hangat di beranda belakang, menghadap kebun yang lumayan luas yang dipagari rumpun bambu yang rapat. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada pohon durian yang tingginya kira-kira sama dengan pohon durian umur tiga tahunan di rumah ibu. Otomatis benakku langsung bereaksi: wah, ibu punya kandidat pesaing!
Ah, tidak juga bila Tina memutuskan untuk tidak berbagi….
Atau jangan-jangan ibu justru senang dapat teman berbagi….
Huh, apa-apaan ini, kedua pohon durian belum juga berbuah malah benakku sudah memanen rasa khawatir duluan….
Aduh…, mendadak sosok buah durian raksasa yang memamerkan keruncingan durinya berkelebat mengoyak benakku!
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Thomas Nung Atasana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 27 September 2015