Ecclesia Penitens – O – Oceans – Always in My Head

Karya . Dikliping tanggal 27 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Ecclesia Penitens

Dope Ga akhirnya tiba di tempatnya mesti berada.
Ia membetulkan letak destarnya,
Menyingkirkan kerang dari dudukannya,
Menanggalkan kayu yang menopang kedua tangannya.
Masih ada sisa tanah yang masuk dari celah anyaman
Tikar pandan yang menutup kepalanya.
Di surga ada para malaikat agung. Kerubim dan serafim.
Para kudus. Para bahagia.
Mengapa engkau memilih menolak kedatanganku dan enggan
Menyerahkan diri di bawah bejana suciku?
Di atas sini batang-batang mayang lontar menjuntai lebih panjang
Dari tangkai daunnya, dan ia dapat mengiris, menjepit,
Menyadap mereka tanpa perlu takut
Pada kesibukan lain;
Memindahkan kambing, membersihkan benda pusaka,
Mengganti tali tangkai siwalan yang telah lapuk meliliti batu,
Mencari kayu api, membakar ladang,
Membantu istrinya menumpahkan tuak
Ke dalam belanga di atas tungku.
Setangkai suara yang terulur dari dalam sangkakala
Telah jatuh ke bumi. Ia dipatahkan angin yang riang
Dan sabda yang tangkas menceritakan dirinya.
Seorang tua mendekatinya, menyentuhkan telunjuknya
Berlumur liur sirih-pinang ke sepasang pipinya.
Itu ayahnya, orang yang pertama kali meletakkan
Nama-nama tumbuhan di mulutnya jauh sebelum ia
Mengenal dewa kesuburan dan manusia pertama yang
Menyentuh tempat berpijaknya kini dan seorang dewi
Yang memilih menjatuhkan diri dan sejenak melayang-layang
Di atas permukaan air ketika yang terpisah dari laut
Hanya sepotong kecil daratan.
Ada dua puluh kelopak mawar yang gugur di hadapan
Pastor itu. Dua batang lilin yang sepertiga bagiannya telah habis
Dirayu api. Sebuah salib di atas kepalanya. Kristus yang melekatkan
Dirinya pada salib dan tersenyum kepadanya.
Ia lihat sungai kecil mengalir di sampingnya,
Seekor anjing menghampirinya,
Keluar dari dalam rakit penuh sesajen yang tersangkut
Sebuah batu besar di sungai itu.
“Kau yang dulu kulabuhkan,” katanya kepada si anjing.
“Iya, Ama, dan aku mengingatmu,” kata si anjing tenang
Kemudian menjilat sepasang tumitnya yang kasar dan pecah
Dan menyentuhkan bulu-bulu ekornya pada ruas-ruas
Jari tangannya yang begitu tebal.
“Apa yang akan terjadi, Tuhan, pada orang-orang mati?”
(Naimata, 2015)

O

Aku berdiri di sini, Kakek, menunggu di bagian luar sisi
Selatan pagar tanaman rumahmu. Jatuhkan bahasa, rupa
Dari segala semesta yang pernah melingkupimu dengan
Kuasa dan tanda. “Laut adalah lingkaran surga, bagian doa
Semesta yang terlupa ketika manusia belajar mengucap.”
Seorang diri ia menunggu kita, Ama Peke, ketika tenung
Dan dengki mengepung kampung, mengancam dengan
Pisau runcing teracung ke arah padang-padang kudamu.
Ia setia menjaga mata airmu, segumpal tanahmu, awal
Mula duniamu, latar dan bidang datar bagi terwujudnya
Peranmu, desir dan gemercik yang mengisi kesunyianmu.
“Ia adalah rumah dewasa yang menyambutmu dengan
Kenangan masa kanak-kanak yang selalu penuh, dengan
Irisan panjang lemak babi terbaik yang memang dipelihara
Hanya untuk dikorbankan, dengan bagian terbaik dari
Cinta yang menolak untuk diberi nama, dengan tetes
Pertama air susu ibumu.” Angin yang baik itu menolak
Pelan perahu bercadik sebelum disambut laut yang
Menadahkan tangannya dan menunggu di tengah,
Di rumah tempat gravitasi pertama kali berkompromi
Untuk menyampaikan alasan-alasan kecil bagi anak-anak
Anjing dan ayam ketika mereka belajar untuk melihat.
Tapi, Kakek, tak takutkah engkau jika suatu saat setan
Laut yang selalu memusuhimu menjerat kaki-kakimu
Dengan tongkat dari bagian perahu yang tak kembali
Ke pantai ketika mereka menyentuh permukaan laut untuk
Membawamu menolong istri tuan tanah di pulau seberang?
Tidak, Ama Peke, tak ada yang perlu ditakuti dari laut
Yang bersahabat. Ia dulu menolong ibumu dan menjadi
Bagian paling berjasa ketika cerita membutuhkan latar
Lebih luas untuk sebuah dunia yang tampak sederhana.
(Naimata, 2015)

Oceans

Setelah membebaskan diri dari belenggu
Udara yang mengangkatnya
Ia meringkuk kedinginan
Di sudut kiri atas ruang beratap langit itu.
Sirene ambulans, suara pecah buih pantai dan tiktok
Sepasang bandul di jendela bergantian
Menerjang kepalanya ketika laut
Pelan menyodorkan
Tangga-tangga air untuk menjangkau
Ruang di luar dirinya.
Terdengar juga, selain itu semua,
Lengking sopran seorang
Perempuan yang melemparkan Kyrie dan harum
Pulang.
Ia bukan anak yang hilang.
Ia tak pernah
Memilih ke mana-mana.
Tak ada selimut, tetapi, yang terbentang
Dari dua ikat langit yang jatuh
Menimpa dirinya.
Sebuah masa kecil memanggilnya
Untuk menjadi setitik air yang meleburkan
Diri bagi laut.
Ia sekejap ingin merasakan
Sesuatu yang dulu pernah berharga
Di dalam dirinya.
(Bandung, 2015)

Always in My Head

“Mengapa kau mencariku, Ama Peke?”
Ada sebongkah dunia, seorang lelaki dan sesosok dewi. Ada perang kecil ketika segumpal tanah dibentangkan menjadi sebuah daratan luas. Doa pertama mengambang ketika seekor ikan gagal terpancing. Sebuah jalan memanjangkan dirinya di atas datar lautan. Berkilau dan menyilaukan. Aku memikirkanmu. Telah kukenal semesta yang lain, yang mengapungkan angin gelap dan mencurahkan hujan yang anomali. Di dalam kepalaku sepasang dunia melingkupimu. Telah tersesat aku dalam ceritamu, ketika para leluhur mengajakmu terbang ke berbagai belahan dunia dengan sayap-sayap yang terbuat dari anyaman lontar yang dilapisi serat-serat tembakau, daun sirih dan kulit pinang. Langit sudah tak membutuhkan warna. Mimpi sudah tak perlu menjadi tanda. Ke mana jalan itu membawamu? Ada airmata yang jatuh dari sepasang sudut matamu ketika tangan kakumu dijepit tiang penyangga. Ada mutiara di dalam kerang yang kaududuki di dalam kubur di sudut kiri depan rumah itu.
“Mengapa kau mencariku, Ama Peke?”
Seorang sahabat yang kausentuh tangannya ketika sekarat telah melupakanmu. Duniamu belum selesai bekerja dan menunjukkan hukumnya. Ia selamat dan kembali menjadi manusia. Mata air yang kautunjukkan pernah fasih menyemburkan ceritamu. Tiga orang anak kecil pernah muncul dari dalam situ ketika kepala seorang lelaki tiga puluhan tahun berdarah terkena batu. Ia dilempari seorang sahabat. Sebuah lagu dimainkan berulang-ulang hanya untuk menggali kembali mata air yang kini tertutup daun- daun kering, setelah kaususuri pantai untuk menemukan jiwa seorang perempuan yang anaknya kelak melupakanku dalam sebuah cerita yang belum selesai ditulis. Ada kesedihan aneh yang mengusikku, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, setelah bumi yang terbelah kembali menutup dirinya.
“Mengapa kau mencariku, Ama Peke?”
Hitam. Kering. Pinang. Tanah. Merah. Rumah. Belanga. Kayu. Pagar. Batu. Batu. Batu. Lurus. Sirih. Keriput. Bayi. Rakit. Laut. Panen. Kuda. Ilalang. Garis. Garis. Garis. Aspal. Hangat. Botol. Perempuan. Gigi. Celah. Timba. Lemari. Asap. Langit. Kau. Kau. Kau.
(Naimata, 2015)
Mario F Lawi bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Kumpulan puisi terbarunya adalah Lelaki Bukan Malaikat (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mario F Lawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 27 Desember 2015