Elegi Koper Tua – Epilog – Asal Waktu – Satire III

Karya . Dikliping tanggal 1 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Elegi Koper Tua 

Mungkin inilah saat mengemasi hati masing-masing.
Memasukkannya dalam koper lusuh yang lapar.
Hanya bisa mengunyah sepi sendiri. Sementara 
sudah terlalu sesak kamar yang kita tinggali.
Kamar sempit di antara kesal terjepit. Pikiran 
melompat ke luar jendela. Percakapan tersesat.
Ditambah para Tuhan yang keramat. Tengah sengit 
berdebat. Menjadikan cinta kita kian berjarak.
Semua telah terlipat rapi dalam kotak persegi.
Laba-laba tua kehilangan sarang. Tak mampu lagi 
buat menyulam benang sendiri. Hanya bisa pasrah.
Larut perlahan bersama apak koper. Memudarkan 
diri. Mengekalkan perpisahan hati. 

Epilog 

Inikah rasanya, berada di rahim bumi 
Kembali menjadi benih yang tak pasti 
Lahir disambut cium bibir matahari 
Atau membiarkan diri gugur 
          terkikis bisu tanah 
Jika sekarang waktunya memilih, 
Akan kupilih hidup bagi anakku 
Sebab telah kesekian kali 
diri lahir kembali 
Namun tak pernah sanggup 
         menanggalkan cemberut 
pada bibir anak sendiri 
Apalah yang beda dari kematian saat ini 
Sedang rumah tinggal berada 
        di antara palung dan tebing gunung 
Hari-hari adalah menanggalkan ketakutan 
Buat hidup sampai esok pagi 
Nak, 
Jika nanti, namaku ada dalam pencarian 
Jangan biarkan orang-orang itu 
Menggali tanah kita.
Relakan saja tubuh ini terkubur 
Menjadi pupuk buat bekal hidupmu kelak 
Lupakan saja aku, 
Seperti kau melupakan tangis kemarin 
Saat menginginkan mainan baru 

Asal Waktu 

Seperti mekar bunga 
yang berserah pada cuaca entah 
Ia pun tetap menghitung 
         angka-angka mati ditiap detiknya 
Namun selalu saja, ada yang terlupa 
Saat matahari melangkah igau 
Membentur ubun pohonan 
Seketika segala terkesiap 
          Mengejar pepat kereta waktu 
Begitu cepatnya! Jam-jam berdetak gagu 
Angka-angka yang bisu mulai terbata
Dan perhitungan pun kembali pada detik pertama 

Satire III 

:Melankolia 

Belum genap sehari kita berpisah 
Waktu sudah terasa begitu purba 
Kenangan kita adalah karat-karat besi 
yang meredam panas matahari 
–hingga jadi tua dan linglung-
           membuat macet jalanan kota.
Masihkah ada cinta di antaranya?
Ah, mengapa hati mesti bertanya 
Sedang pikiran terus melaju 
          menjelma roda yang selip 
menggiring mobil ringsek ke taman 
membentur tembok-tembok kusam.
Larilah denting jam yang pincang! 
Bawa renta matahari menuju kubur laut 
tempat meniriskan duka-duka ombak 
Sambutlah tawa nelayan 
Memanggul ikan-ikan yang kelak 
lahir dari rahim tempayan 
I Wayan Sumahardika, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Undiksha, Singaraja, Bali. Ia aktif berteater di Teater Tebu Tuh, dan menekuni dunia kepenulisan di Komunitas Mahima.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya I Wayan Sumahardika
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 1 Maret 2015