Elena

Karya . Dikliping tanggal 15 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Sejak kecil aku tahu ada yang tak beres dengan saudara perempuanku itu. Elena senang berlama-lama mendekam di sudut gelap, mengasingkan diri seperti binatang yang terluka, tenggelam dalam dunianya sendiri. Sering kupergoki dia bicara sendiri atau berdiri diam sambil memandang jauh ke depan, seakan-akan menatap sesuatu yang kasatmata.

Elena tidak sekolah. Aku rasa tak ada yang mau menerima anak perempuan setengah sinting sebagai murid. Sebagai gantinya, Ibu mendatangkan guru privat. Itu pun tak bertahan lama. Setelah tiga kali gagal, Ibu menyerah. Beliau turun tangan sendiri, paling tidak agar anak itu bisa baca-tulis. Pernah kulihat Ibu mengajar Elena dan aku tak heran si guru privat berhenti hanya beberapa minggu setelah bekerja.

Suatu hari Elena menghilang. Ayah dan Ibu langsung sibuk mencari. Tak pernah kukatakan yang sebenarnya bahwa aku pelakunya, bahkan sampai keduanya meninggal. Kubujuk dia membuka pagar dengan iming-iming penjual permen di ujung jalan. Lebih baik dia tak ada. Aku tak bisa dan tak mungkin membenci Elena, bagaimanapun dia adikku, yang jelas aku tidak menyukainya. Karena anak itu, masa kecil kulalui dengan olok-olok sebagai kakak si gila.

Harapanku tak terkabul. Satu jam kemudian Ayah kembali bersama Elena yang ditemukan beberapa ratus meter dari rumah. Tak berani kuulangi lagi, meski kecewa. Kembalinya Elena kuanggap sebagai pertanda bahwa ia tak akan pernah lepas dari keluarga ini. Selain itu, aku khawatir bila kulakukan lagi, Ayah dan Ibu akan curiga dan mulai bertanya-tanya.

Aku mulai takut kepada Elena ketika dia dipergoki membakar boneka di halaman belakang rumah. Bayangan ia akan jadi tanggung jawabku setelah orang tua kami tak ada membebaniku bertahun-tahun. Atas persetujuanku, Elena dirawat di rumah sakit jiwa setelah dia membuat onar di tempat umum. Kukira akhirnya aku terbebas darinya. Ternyata aku salah.

  

“Pak, ada tamu untuk Anda,” kata pengurus rumahku suatu pagi sambil membereskan piring-piring bekas sarapan.

“Siapa?”

“Majikanmu mengenalku, hanya itu yang dia katakan waktu saya tanya.”

“Di mana dia sekarang?”

“Menunggu di teras.”

Penasaran dengan sikap tamu yang misterius, kopi yang tersisa di cangkir kutandaskan sebelum menemuinya. Sosok yang semula duduk seketika bangkit mendengar pintu terbuka di belakangnya. Kami bertatapan. Meski tak bertemu bertahun-tahun, aku masih mengenal sahabat masa kecilku.

“Apa kabar?” seruku gembira, “Kenapa tidak memberi tahu akan datang?”

“Ini tidak direncanakan. Aku ke sini karena ada urusan.”

“Oh ya, ada apa?” tanyaku sambil mengajaknya duduk di ruang tamu.

Dua menit kemudian pengurus rumahku datang dengan segelas minuman di atas nampan. Ditaruhnya di depan lelaki tersebut dan berlalu pergi. Lengan si tamu terulur, lalu meraih dan menyesap minuman yang dihidangkan sebelum mengutarakan alasan kedatangannya.

“Ini tentang Elena.”

Untuk sesaat aku tak mengerti maksudnya. Latihan bertahun-tahun menghilangkan ingatan tentang Elena ternyata cukup berhasil.

“Ada apa dengannya?”

“Sebagai keluarga terdekat kau harus turun tangan, meskipun selama ini tak pernah menjenguknya.”

Kubalas tatapan tajamnya dengan sorot mata tak peduli. Kau tidak mengalami yang aku alami, batinku.

“Katakan saja, ada apa dengannya?” ulangku.

Sang tamu menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

“Entah bagaimana caranya, Elena berhasil kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat. Tadi pagi dia mengetuk pintu rumahku dalam keadaan berantakan. Lutut dan sikunya biru lebam, sepertinya terjatuh. Telapak kakinya yang telanjang, terluka. Istriku sudah menyuruhnya mandi, memberi pakaian bersih dan mengobati lukanya.”

Di matanya terbaca kalimat tak terucapkan, kami sudah menolongnya sebagai tetangga yang baik. Sekarang tugasmu.

Elena kudapati duduk di kursi besi. Diamatinya sosok istri pemilik rumah yang sedang bekerja tanpa berkedip. Ia mengenakan baju terusan putih longgar. Saudara perempuanku terlihat tenggelam dalam pakaian yang terlalu besar di tubuh kecilnya. Melihatnya lagi setelah bertahun-tahun membuat perasaanku campur aduk. Aku gembira sekaligus kesal oleh kenyataan bahwa ia lebih memilih datang ke rumah orang lain daripada ke tempatku.

Mataku bertemu dengan mata sang nyonya rumah. Kuisyaratkan kepadanya untuk diam kemudian menghampiri Elena dan menunggu sampai dia menyadari kehadiranku.

“Siapa?” tanyanya.

“Roy. Aku saudaramu.”

“Saudara?” ulangnya bingung, “Aku punya saudara?”

“Ikut aku. Di sini bukan tempatmu.”

Perempuan itu ikut tanpa membantah. Hal ini yang aku suka darinya, dia begitu penurut.

Begitu sampai di rumah, kusuruh si pengurus rumah merapikan kamar belakang kemudian membeli beberapa baju wanita. Elena yang semula membuntutiku, beranjak ke kursi lalu duduk menghadap dinding. Aku tinggalkan dia di sana dengan tangan terlipat di pangkuan dan wajah tanpa ekspresi.

Ternyata itu kesalahan. Kekacauan terjadi setelah minggu tanpa gejolak. Entah apa dulu yang membuatku membawanya ke rumah. Kini tak henti-henti kusesali tak segera mengirimnya kembali ke rumah sakit jiwa. Perempuan itu pembawa masalah, sejak dulu sampai sekarang. Seharusnya aku tahu apa yang terbaik untuknya dan untukku.

Bunyi berdebam serta jeritan dari kamar belakang membuatku bergegas ke sana. Mataku terbelalak. Daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan isi kamar yang berantakan. Kursi terguling di lantai. Elena baru saja menarik lepas seprai alas kasur dan mencampakkannya penuh amarah. Dari sudut mata, kulihat si pengurus rumah datang menyusul. Kehadirannya disambut hancurnya gelas yang beradu dengan dinding, membuat wanita tersebut balik kanan sambil terpekik ngeri.

“Apa yang kau lakukan?!” seruku marah, “Jangan mengacau di rumahku!”

Kutahan tangannya yang hendak melempar benda lain. Licin. Seluruh tubuh Elena banjir keringat. Napasnya tersengal-sengal. Ditatapnya aku dengan wajah merah padam dan sorot mata nyalang.

“Kembalikan anakku!” pekiknya.

Aku tercengang.

“Anak apa? Kau tak punya anak.”

Mata Elena berkaca-kaca.

“Mereka mengambilnya…, mereka merampasnya dariku…,” sedunya.

“Mereka siapa?”

“Api…,” Mata Elena membulat. “Aku lihat api.…”

Aku mendengus.

“Entah apa yang kau ocehkan. Diam atau kuusir dari sini.”

Elena merosot ke lantai. Dia gemetar, isaknya berubah jadi tangis. Perempuan dewasa itu menangis seperti anak kecil. Kupandang sebal dia sebelum keluar dari kamar lalu memberi tahu si pengurus rumah yang mengintip takut-takut agar membiarkannya.

Menjelang senja, saat kukira keadaan telah normal kembali, tercium bau asap. Perasaanku tidak enak. Setengah berlari, aku menuju kamar Elena dan membuka pintunya. Isi kamar sama persis seperti beberapa menit lalu. Yang kucari tak ada. Kuikuti bau asap yang membawaku ke halaman belakang. Firasatku terbukti. Elena menandak-nandak di dekat api yang makin besar berkobar. Entah apa yang dibakar.

“Hentikan!” bentakku.

Tangan kananku terulur, berusaha merebut benda di tangannya sambil mendorong dengan tangan kiri. Elena membalas. Perih menyengat. Ada bercak darah di ujung jari yang kugunakan mengusap leher. Elena mencakarku, tapi bukan itu yang membuatku tersentak. Di hadapanku tak ada lagi sosok wanita bertubuh kecil yang setengah sinting dan rapuh. Matanya menatap tajam, bibir menyunggingkan senyum sinis. Ia tampak kejam dan penuh tekad. Rasa dingin menjalari tulang belakangku. Aku takut.

  

Ruangan itu tak terlalu luas. Udara yang berembus dari AC mampu mengusir hawa panas siang hari itu. Berlatar belakang beberapa lukisan abstrak yang tergantung di dinding, seorang pria berpakaian putih duduk di belakang meja. Tangannya membalik-balik lembaran berkas yang dipegang. Ia berhenti membaca ketika terdengar ketukan di pintu.

“Masuk.”

“Dokter,” ujar yang membuka pintu sambil mengangguk hormat, “Kami membawanya.”

Yang disapa menunjuk kursi di depan meja dengan pulpen di tangannya.

“Dudukkan dia di sana.”

Pintu terbuka lebih lebar. Tiga orang masuk, dua laki-laki mengapit seorang wanita yang terlihat lemas. Setelah melaksanakan perintah, dua lelaki tersebut keluar dan menutup pintu. Sang dokter memperhatikan perempuan yang duduk menunduk di hadapannya.

“Angkat muka Anda. Tatap saya,” perintahnya.

Wanita itu menurut. Kepalanya terangkat, tapi tidak memandang. Sinar matanya sayu dan tak fokus. Pria berbaju putih bangkit, menghampiri si wanita. Dijentikkannya jari berulang kali di depan paras yang pucat sampai pemiliknya benar-benar menatap sebelum bertanya.

“Siapa Anda sekarang? Elena atau Roy?”

________________________________________
Daisy Rahmi, kelahiran Manado, 30 April 1976. Karya-karyanya dimuat di sejumlah media massa. Kini tinggal di Jakarta.


[1] Disalin dari karya Daisy Rahmi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 13-14 April 2019.