Emak Pergi

Karya . Dikliping tanggal 30 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika
BAGI seorang lelaki, adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat anak-anaknya bersenda gurau dengan ibunda tercinta?
Paling tidak itulah yang kurasakan. Aku selalu berdoa agar emak dan anak-anakku bisa bermain, tertawa, dan bercanda-gurau bersama. Tapi itulah, tak ada kebahagiaan yang sempurna. Istriku terlihat tak sedap hati jika emak datang ke rumah kami. Sebagai seorang suami, tentulah itu amat merisaukanku. Jujur saja, bukan hanya mengharap surga yang bakal terbentang di bawah telapak kaki emak suatu hari kelak, tapi surga dunia pasti kudapatkan jika emak tinggal beberapa hari di rumah kami.
Setiap ia datang, ada-ada saja sumber uang yang kudapatkan. Kalau tak ada panggilan ceramah, tentulah dari berbagai undangan ikut penataran dan pelatihan di tempatku bekerja. Tapi, itulah, setiap kali kebahagiaan menyapa hatiku bila emak datang ke rumah kami, setiap itu pula istriku terlihat tak secerah biasanya. Pulang dari kantor ia langsung masuk kamar, tidur. Terlebih bila emak di rumah sudah lewat satu pekan.
Apalagi, kami tak punya pembantu. Maka terkadang terpaksalah emak mencuci piring dan menyapu rumah. Jika aku datang membantu emak, ia akan marah padaku. “Pergi sana, kerjamu bukan di dapur. Kerjamu di kantor,” katanya padaku.
Walaupun begitu, kadang-kadang kalau tengah malam, sehabis Tahajud, secara diam-diam aku pergi ke dapur. Aku cuci piring tanpa sepengetahuan ibu dan istriku. Kalau sempat, aku sapu juga mana yang bisa kusapu di dalam rumah. Aku inginselalu bahagia karena tak ada kebahagiaan hakiki kutemui dalam hidup ini kecuali ketika melihat emak tertawa Diwan dan Linan, kedua anakku.
Begitulah istriku, semakin lama emak di rumah, semakin malas saja dia. Dalam kamar sering aku nasihati ia supaya jangan begitu kepada emak. Paling tidak, kita suatu saat akan menjadi tua juga. Jika sudah seumur emak nanti, bagaiamana perasaanmu jika diperlakukan istri Diwan atau Linan? Tanyaku padanya. Tapi, istriku tetap tak peduli.
Biasanya kalau semakin tak peduli saja kerja istriku, maka emak secara halus memintaku mengantarkannya ke kampung. “Ji, kalau tak sibuk, Sabtu esok antar emak ke kampung ya. Entah bagaimana pula nasib kebun lada kita yang emak tanam dalam pot di tepi sungai,” katanya.
Bila sudah begitu, aku ebrusaha untuk menahannya. “Kalau pekan depan saja bagaimana, Mak?” kataku.
“Sabtu ini sajalah. Besok-besok kalau sudah sebulan atau dua bulan lagi, jemput lagi emak,” katanya.
Aku pun mengantar emak ke kampung. Biasanya aku pergi dengan Diwan, anakku yang paling besar, yang duduk kelas satu SD.
Diwan memang suka pulang kampung. Di kampung banyak taman alami yang disukai anakku, seperti bisa mancing di sungai, di tepian kami mandi atau melihat kera, cigak dan cingkuk yang berkeliaran di jalan kampung. KAdang-kadang DIwan malah memaksaku membeli pisang untuk ia lemparkan kepada binatang-binatang itu jika kami melewati jalanan kampung.
***
Beberapa hari yang lalu emak jatuh sakit. Keluargaku di kampung membawanya berobat ke kota/kabupaten. Setelah diobati dokter, alhamdulillah ia sehat. Tapi, setelah itu emak tampak kurus. Ketika aku tanya apakah ia masih merasa sakit, ia menggeleng. Aku khawatir. Karena itu, ia aku bawa ke Pekanbaru, berobat di dokter spesialis. Setelah diadakan MCU (medical check up), ternyata emak mengidap penyakit gula. Dokter menyarankan agar emak berhati-hati mengonsumsi makanan. Makan, minum obat, dan olah raga harus teraktur. Selain itu, dokter menyarankan agar emak tidak boleh risau. Dan kalau bisa, harus ada orang yang mengontrol makanannya, kata dokter.
Mendengar itu aku agak risau sebab yang bisa mengontrol emak hanya aku. Karena anak emak yang tinggal hanya aku satu-satunya. Itu artinya ia harus tinggal denganku. Sementara istriku?
Beberapa saat aku merasa pusing memikirkan itu. Walaupun begitu, aku harus menyampaikannya kepada istriku. 
Istriku diam saja sambil memeluk bantal gulingnya. Raut mukanya gelap sekali.
“Sebagaimana awak tahu, penyakit gula itu penyakit orang kaya. Ia harus dikontrol.”
“Maksud Ayah?”
“Ya, yang bisa mengontrol emak hanya aku.”
“JAdi?”
“Kalau awak tak keberatan, minimal sebulan ini emak tinggal di rumah kita. Karena dokter akan memeriksa kadar gulanya bulan depan.”
“Ah Ayah. Payah kalau emak di sini.”
“Apanya yang payah?” hatiku panas.
“Nanti dia ngomel-ngomel terus kalau aku tak mau memandikan Diwan atau tak menyapu rumah. Malas aku mendengarnya.”
“Jangan dengarkan omelannya itu,” kataku dengan suara merendah.
“Mana bisa.”
“Mana bisa?”
Hatiku sakit sekali. Masa ibuku tak bisa tinggal di rumahku. Anak macam apa aku ini? Istri macam apa istriku ini?
“Istri seperti apa engkau ini?” Kataku dengan nada tinggi.
Niken membalik badan dan menutup mukanya dengan bantal guling.
Aku pun keluar meninggalkan istriku di kamar sendirian.
Di ruang tengah kulihat emak dan dua anakku masih menonton TV. Linan, anakku yang paling kecil, berbantal di paha emak. Sementara, Diwan duduk di sampingnya sambil makan kacang.
“Ji, kalau dapat, esok pagi antar emak pulang kampung ya.”
Aku diam sejenak.
“Mengapa emak cepat betul nak balik?”
“Emak rindu pada Bela, kucing di kampung. Mungkin sekarang ia sakit. Sebab tak ada yang memberi makan.”
“Ah emak. Pandailah kucing ‘tu mencari makan sendiri.” Aku tertawa.
“Nenek nak balik?” tanya Diwan.
“Ya. Antar nenek sama Ayah besok pagi ya.”
Diwan melihat ke arahku,
“Mak sekarang masih sakit. Kalau nanti sudah sembuh baru kami antar. Ya kan, Bang?” kataku sambil menilik pada Diwan. Diwan hanya diam.
“Sakit Mak tak kuat sangat do. Jadi antar sajalah,” kata emak.
Aku kemudian diam dan pergi keluar rumah. Menikmati udara malam. Menumpahkan risau dan galau yang bergelayut di hati.
Aku akhirnya dapat membujuk emak untuk tinggal selama dua pekan di rumah kami. Memasuki pekan ketiga ia memaksaku untuk mengantarnya pulang ke kampung. Aku tahu, ia sudah tak senang tinggal di rumah kami karena ulah istriku yang semakin mengambil jarak darinya. Aku tahu sesungguhnya ia tersinggung karena sikap istriku. Tapi, karena rasa sayang pada anak-anak dan padaku, dengan alasan kucing atau lada atau pisang di samping rumah yang sudah  harus dipetik, ia utarakan padaku.
Dengan hati kesal, pada hari Sabtu, emak aku antar pulang ke kampung. Selama di jalan emak tak banyak bicara. Ia tampak selalu berpejam. Berkali-kali diajak Diwan bergurau, ia hanya senyum kecil. Tak seperti biasa yang ribut dalam mobil.
“Mak jangan lupa teratur makan obat ya,” pesanku setelah kami mau meninggalkannya di kampung.
“Ya. Tapi ingatkan juga emak ya. Maklumlah,” katanya tersenyum. Kulihat saat itu senyum emak manis sekali. Senyum ketika aku masih kecil dahulu, ketika aku dan emak pergi ke danau menjaring ikan saat matahari baru timbul dari atas pokok kayu di sekitar danau.
“Kalau bisa, emak jangan tidur bertandang ke rumah orang ya,” pesanku lagi.
Emak hanya diam. Seolah tak memedulikan ucapanku. Ia rogoh saku. Ia keluarkan duit Ro 10 ribu dan diulurkannya pada Diwan.
Di jalan menuju pulang, aku risau betul. Wajah emak teringat terus. Beberapa kali konsentrasiku buyar. Hampir saja mobilku bertabrak dengan mobil lain.
Sampai di rumah, aku telepon emak lagi, aku tanyakan kabarnya. Emak tertawa-tawa. Ia tanya apa kabar Diwan dan Linan.
Walaupun suaranya seperti biasa, entah mengapa aku teringat emak terus. Pada esok harinya emak aku telepon lagi , menanyakan kabarnya. Jawabnya tetap sama. Tak ada yang semestinya aku risaukan. Begitulah terus. Tapi, tetap tak ada yang berubah. Emak menjawabnnya seperti biasa setiap kali aku menanyakan kabarnya. Anehnya, saban malam aku bermimpi bertemu dengan emak, tapi rasanya ada ayah bersama kami. Kejadian itu seperti kejadian saat aku masih kecil dahulu, saat kami pergi bersama membuka ladang di seebrang kampung, saat kami menjenguk jaring di danau kala matahari hampir bermalam di pucuk-pucuk kayu.
Sepekan ini aku seolah melupakan istriku. Kadang aku sempat makan pagi di rumah, kadang langsung  mengantar Diwan dan Linan sekolah lalu berangkat ke kantor. Aku disibukkan pikiran pada emak. Menunggu datangnya Sabtu depan bagai menunggu setahun. Aku tahu istriku makin tak sedap hati padaku karena aku tak acuh padanya. Dan memang, setelah perbincangan kami saat emak berobat dahulu, rasa peduliku pada Niken mulai luntur. Hati lelaki mana yang tak hancur kalau istrinya membenci ibunya?
***
Telepon genggamku berdering.
“Emak sudah pergi, Ngah,” kudengar suara adik sepupuku serak. Ia terisak.
“Apa? Emak?”
Aku tak mendengar jawaban dari seberang. Tapi, aku mahfum kalau salah satu manusia keramat dalam hidupku telah pergi untuk selamanya. Aku measa gelap. Tak ingat apa-apa lagi, yang kukenang hanya emak. 
Pekanbaru, 2014 – 2016


Griven H Putera meraih Raja Ali Haji Award dari GMDI (Gerakan Masa Depan Indonesia) Provinsi Riau tahun 2016 atas kiprah dan dedikasinya di bidang sastra.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Griven H Putera
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 28 Agustus 2016