Emilia

Karya . Dikliping tanggal 16 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
Kembali ke peleburan 
Baja kembali menjadi besi dan karbon 
Kembali menjadi karat 
Kembali menjadi udara 
(Doa Kematian para Robot) 
EMILIA menggumamkan doa itu perlahan ketika Bu Sam mulai memotong-motong dan melepaskan baut dari mur milik Mogul. Bunyi desing besi beradu dengan besi segera memenuhi ruangan ketika satu per satu dari rangkaian badan Modul diurai. Kaki belakang, kaki depan, bokong mulai berlepasan dan ketika Bu Sam mulai mendekati bagian tengah badan Mogul, bunyi desing itu mulai tersendat-sendat. Bu Sam berhati-hati menggunakan pemotong logam dan bor di tangannya.

Di bawah sinar neon tampak keringat satudua membutir di dahi Bu Sam. Wajahnya tegang. Sampai kemudian matanya melihat sesuatu. Sebuah kanister kecil.Jika menuruti anatomi anjing, kanister itu ada di jantung. Ya, Mogul adalah robot berbentuk anjing.
Bu Sam tersenyum sekilas. Kini ia bekerja dengan bor saja melepas mur dan baut dari jalinan kerangka logam yang membalut kanister tersebut. Dan ketika mur terakhir dilonggarkan, senyum Bu Sam melebar, menghiasi wajahnya. Dengan ketergesaan seorang anak kecil membuka hadiah ulang tahun, ia menarik kanister itu. Ia tertawa dan melihat ke arah Emilia.“Semoga tidak rusak selama perjalanan,“ katanya, separuh berkata kepada Emilia, separuh lagi berkata pada dirinya sendiri.
Di dalam kanister pelindung itu tersimpan sebuah botol ampul terbuat dari kaca, berukuran sebesar ibu jari. Seperti putri tidur dalam kotak kaca, ampul itu aman dari guncangan-guncangan dan suhu luar.Dengan hati-hati Bu Sam mengambil ampul kecil tersebut dan mengarahkannya ke sinar neon, ia mendongak, dan membaca tulisan kecil-kecil di ampul tersebut. Senyumnya makin melebar. Ia mengepalkan tangannya, menggenggam ampul tersebut kemudian berlalu begitu saja ke ruangan yang lain, meninggalkan Emilia. Tapi kemudian kepalanya tampak muncul kembali di pintu.“Kau bereskan saja, ambil yang masih bisa kita pakai.“
Ilustrasi karya Pata Areadi

Emilia mengangguk. Ia tak tahu lagi apa isi ampul itu. Barangkali obat untuk Tedi, anak Bu Sam yang terbaring sakit, barangkali juga berisi koloni-koloni bakteri yang akan dibiakkan untuk dijadikan senjata pemusnah massal, atau suatu senyawa kimia yang jika diteteskan di air dan diminum, bisa membunuh seluruh penduduk kota.

Di layar monitor kecil, di sudut ruangan, berita tentang perang kota masih disiarkan.Sekutu Utama yang merupakan tentara ibu kota mengepung pemberontak yang ingin mendirikan Republik Rakyat Bandung. Selangseling antara tentara yang bersembunyi di antara runtuhan tembok dan pembawa berita yang mengenakan rompi antipeluru dan helm, berita itu seolah tempelan sembarangan dari berbagai perca. Emilia tak tahu lagi berita mana yang benar, dan bukan urusannya lagi.Setidaknya begitulah ia diajarkan.
Kemudian ia mendesah pelan. Ia melihat potongan-potongan tubuh Mogul yang berserakan dan menggumamkan sekali lagi doa kematian para robot. Setidaknya itulah doa yang diajarkan padanya jika ia melihat robot lain mati. Entah sudah berapa banyak Emilia melihat kematian.
Menurut Pak Sam, setelah robot mati, mereka akan pergi ke surga para robot, di sana tidak ada mesin pemotong dan bor, juga air tidak menciptakan karat di sendi-sendi mereka, tidak ada kelebihan muatan listrik yang menyebabkan para robot korslet. Tak ada kematian bagi para robot. Yang ada hanya baterai yang tak perlu diisi ulang dan suara perlahan kipas pendingin, yang bisa bekerja terus-terusan mendinginkan mesin-mesin mereka.
Ia mengenal Mogul sekilas saja. Beberapa jam yang lalu seekor robot anjing berdiam di tempat persembunyian ini. Ia tidak menyalak, tidak membuat suara apapun. Setelah mereka memeriksa keamanan, barulah Emilia keluar. Di dekat kakinya seekor robot anjing yang penampilannya sudah mengerikan memandanginya. Mengendus-endus keenam kakinya. Siapa pun pembuat robot anjing ini pastilah masih ada sedikit sisa humor tersisa di benaknya karena kemudian anjing itu mengangkat satu kaki belakangnya, membuat gerakan seolah ia mengencingi kaki-kaki Emilia. Robot anjing ini nyaris hancur lebur.Kulit di satu sisi badannya sudah koyak menampakkan rangka dan kabel di bagian dalam. Satu matanya sudah mati menatap kosong dan satu mata lagi sudah redup.Mogul, begitu nama robot anjing itu. Emilia membacanya ketika ia mengangkat Mogul dan memeriksa kalung di lehernya. Inilah kurir yang ditunggu Bu Sam.
Bantalan di kaki Mogul sudah mengelupas.Entah berapa jauh Mogul sudah berjalan tapi kali ini ia bisa berhenti. Emilia menggendongnya. Ya, keenam kaki Emilia akan lebih cepat menapaki reruntuhan tembok yang jalin-menjalin dengan belukar di tempat persembunyian ini daripada kaki Mogul yang sudah penyok-penyok.
Tiba di dalam tempat persembunyian, seperti biasa, semua yang baru datang harus melewati pemindai, takut ada yang menyelundupkan pemancar atau bom yang dilekatkan di bagian dalam barang kiriman ini. Demikian juga Mogul, ia diperiksa dulu.Mogul bersih, dalam arti tidak ada bagianbagian dari dirinya yang menunjukkan bahwa ia telah diberi pemancar atau bom. Segera Bu Sam menyeruak dari kerumunan dan meraih Mogul dari tangan Emilia seolah Mogul adalah seekor anak anjing yang telah lama hilang dan kini sudah kembali lagi. “Kemari,“ kata Bu Sam seolah menegaskan pada beberapa orang di sana bahwa Mogul memang miliknya.
Dan kemudian Bu Sam segera merabaraba bagian perut Mogul mencari saklar manual untuk mematikan dan menghidupkan Mogul, dan sesegara itu pula Emilia bergumam sesaat sebelum Mogul dimutilasi.
Emilia mengambil satu nampan dan menaruh semua bagian-bagian Mogul di sana dan satu bola mata yang sebenarnya tidak ada gunanya diambilnya. Dengan jemari logam yang berupa tiga kait, Emilia mengambil bola mata Mogul. Sebuah katup di perut Emilia terbuka dan ia memasukkan bola mata itu ke dalamnya.
Tubuh Emilia memang seperti gasing. Secara keseluruhan ia seperti eekor laba-laba dengan wajah manusia dan enam kaki serangga.
Ia seorang robot pengasuh, robot pembantu, dan juga robot kronikel. Robot pencatat. Ia sudah mengenal Bu Sam semenjak Bu Sam masih dikenal dengan nama Mira Satia. Dan, Pak Sam adalah seorang pemuda yang datang di kala senja ke rumah orangtua Mira dan suka mengobrol sampai larut malam, atau sebaliknya. Emilia menyediakan teh atau camilan untuk mereka berdua. Sebelum perang terjadi. Lalu perang pun pecah.
Rentang waktu, rentang kenangan, semua tersimpan baik di memori Emilia; Pernikahan Mira-Samsuddin. Pembuatan Robot Kurir Bernama Kamones Oleh Mira. Kelahiran Tedi.Penyakit Tedi. Pengiriman Kamones Mencari Obat. Kematian Pak Sam. Berita Kamones Terkena Bom. Pindah kota. Informasi Tempat Persembunyian Pemberontak. Penerimaan Obat. Eksperimen Obat Pertama. Informasi Senjata Biologis. Informasi Senjata kimia.Begitu nama-nama file dalam memori Emilia. Sebagian dimasukkan oleh Bu Sam, sebagian disimpan secara otomatis dari beberapa berita di televisi atau orang-orang yang datang ke tempat persembunyian itu.Emilia mengeset penyimpanan memori otomatis begitu kata `Kamones’ terdengar oleh sensornya.
Bu Sam bukanlah Bu Sam yang dulu. Secara fisik, beberapa luka perang membekas di kaki dan wajahnya, dan perang juga menghasilkan karat di hatinya, hanya Bu Sam yang tahu berapa tebal kerak itu, dan Emilia tidak berniat mengetahuinya. Ia hanya tahu, untuk mendatangkan obat bagi Tedi, Bu Sam akan berbuat apa saja, ia tak memihak mana pun, ia akan menjual apa pun, demi Tedi. Emilia merasa sendi-sendinya seperti berderit kurang pelumas setiap kali ia mengingat hal tersebut.
Setelah ia mengantarkan potonganpotongan Mogul, Emilia kembali ke dalam gua. Di sebuah bilik kecil, ia punya tempat tersendiri, tempat ia biasa terdiam. Sangtuari miliknya.
Derit perlahan terdengar ketika ia membuka katup penutup di perutnya untuk mengambil bola mata Mogul, ia memperhatikannya dengan saksama. Emilia menekuk keenam kakinya sehingga ia lebih rendah, dan ia membuka tutup terpal yang menyelimuti sebuah kotak. Kotak logam masif berwarna abu-abu yang sudah bocel di sana-sini. Di bagian penutup kotak tersebut ada tulisan-tulisan yang dibuat dengan huruf kapital. Dulu kotak itu dipakai untuk mengirimkan senapan-senapan laras panjang.Emilia meraba gembok yang mengunci kotak tersebut. Ia mengulurkan tangan logamnya dan memutar-mutar kombinasi angka di gembok itu. Betapa mudahnya sebenarnya ketiga jarinya meremas gembok tersebut dan merenggutnya, tapi ia menyukai ritual membuka kunci gembok itu.
Emilia memandangi isi kotak. Ada sepotong jari logam. Ada seekor burung kenari yang kini dinyatakan punah, yang ia simpan dalam botol bekas selai berisi formalin. Ada sebuah kipas yang satu bilahnya hilang. Sepotong telapak kaki logam. Sebuah boneka yang dibuat dari tanah liat. Seruas bulu ekor elang bondol. Sepotong tanduk rusa. Sebuah kacamata yang kacanya sudah hilang. Emilia mengambil sepotong telapak kaki logam itu. Lalu pencari datanya secara otomatis mencari file dengan nama: Kenangan Bersama Kamones.

Dinar Rahayu. Lahir di Bandung, 9 Oktober 1971. Menyelesaikan studi di Jurusan Kimia ITB. Novelnya Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (2002). Kumpulan cerpennya Lacrimosa (2009). Karya-karya ramai diperbincangkan di kalangan peneliti sastra.
Januari 2015, Dinar menghadiri Festival Sastra Winternachten, Belanda. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dinar Rahayu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 15 Februari 2015