Empat Aku

Karya . Dikliping tanggal 30 November 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Aku yang Pertama

JADI, keputusan ini akhirnya kuambil: aku harus membunuh aku yang ketiga. Kupikir ia sudah menjadi bedebah sejati yang memang layak untuk mati. Mulutnya busuk, sebusuk otaknya. Aku sampai berpikir bahwa saat sang pencipta menciptakannya, iblis diam-diam menjatuhkan kotoran di bibirnya, sehingga sekarang hanya ungkapan kotor yang dapat didengar dari mulutnya.
Ia ahu sekali cara melukai siapa pun dengan baik. Bukan dengan belati, bukan juga dengan sianida. Ia hanya perlu mengungkapkan dengan kata-katanya:
”Berapa umurmu? Tiga puluh tahun? Dan kau masih tak mengerti hal seperti ini? Bila aku jadi kau, aku pasti akan memilih terjun ke jurang!“
”Hanya satu jam kita berdebat, apa kau tak bisa memaksa otakmu untuk berpikir sedikit saja lebih cerdas?“
”Kau harus berkaca pada lumpur! Hanya ia yang bisa melukiskanmu dengan tepat!“
Dengar, ia benar0benar mengerti cara memakai kata-kata. Ia tak peduli sudah begitu banyak orang yang menatapnya dengan penuh kebencian, beberapanya bahkan telah memaki-makinya langsung dengan lantang. Tapi saat orang bereaksi seperti itu, sebenarnya semua tahu, ialah yang menang.
Walau telah sekian lama bersamanya, aku tak mau terus seperti ini. Ia dapat mencelakakan diriku. Toh selama ini aku telah nyaman berada di sini. Walau aku sadar hidupku sebenarnya telah tertepikan, tapi aku masih ada di jeda-jeda yang sempit. Ia masih memberikan selembar uang untuk pengemis, masih menyumbang untuk bencana, dan masih mengirimi cukup uang untuk istri dan anak yang sudah meninggalkannya. Jadi, kupikir ini cukup bagiku.
Maka itulah aku tak mau ada sosok – kalau boleh kukatakan begitu – seperti aku yang ketiga, yang mengacaukan semuanya. Jadi, ia memang harus dibunuh!
Tapi tentu aku tak akan melakukannya sendiri. Aku terlalu cerdas untuk melakukan hal seperti itu dengan tanganku sendiri. Aku merasa itu cara yang barbar, dan aku tak mau terlihat barbar. Aku akan bermain cantik. Toh, aku tetap harus menjaga diri. Bagaimana pun selama ini semua orang memandangku dengan rasa kagum. Tanpa mereka perlu tahu; selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan.
Jadi setelah kupertimbangkan dalam-dalam, aku akan memakai tangan aku yang kedua, atau tangan aku yang keempat. Tapi setelah kupertimbangkan lebih dalam-dalam lagi, tampaknya akut ak bisa berharap pada aku yang kedua. Ia terlalu pengecut. Kerjanya hanya membaca doa. Tanpa ia sadar bahwa doa tak lagi manjur di saat sekarang ini. Dengan banyaknya manusia di bumi itu, peluang terkabulnya doa menjadi semakin kecil. Konon, orang-orang bilang, lebih baik ikut lotere saja. kesemaptan menang jauh lebih besar.
Kesimpulan akhirnya: hanya aku yang keempat yang bisa melakukannya. Kupikir ia memang bisa. Walau nampak lemah dengan semua kenangan-kenangan masa lalu yang disimpannya, ia sebenarnya orang yang nekad dan pemarah. Satu lagi: ia selalu menuruti semua kata-kataku. Jadi kupikir ia bisa melakukan apa saja!

Aku yang Kedua

DI antara kami, aku adalah yang paling waspada. Aku tahu sekarang ini waktuku seperti telah usai. Aku terlalu usang dan nyaris tamat. Orang-orang bilang, aku ini hanya tinggal menunggu waktu saja. Tapi dulu, aku pernah menguasai tubuh ini. Aku menjadi patron. Aku ingat ia tumbuh karena diriku. Ayah dan ibunya adalah pemeluk agama yang baik, dan itu dicoba diturunkan padanya. Upaya itu cukup berhasil, setidaknya sampai ia menjelang dewasa ia masih teratur berdoa. Bahkan di saat-saat tertentu, ia akan menghabiskan malam dalam doa di sudut-sudut ruangan paling sepi. Kadang di saat seperti itu, aku bisa membuatnya menangis tersedu-sedu.
Tapi itu dulu. Sekarang semuanya berbeda. Waktu memang telah dipenuhi zat-zat untuk melupakan. Yang baik akan tergerus. Yang buruk akan menggerus. Makin lama ia berubah. Ia tak lagi pergi berdoa di sudut-sudut ruangan paling sepi. Makin lama pula ia mulai berpikir bila doa tak lagi bisa diharapkan. Sungguh, ini membuatku takut. Aku mulai berpikir, bisa saja ia akan menganggap sang pencipta ala mini adalah mitos. 
Untungnya ketakutanku tak beralasan. Walau tak seperti dulu, ia tetap berdoa. Kali ini di depan orang-orang lainnya, pengikutnya atau siapalah, aku tak mengenal mereka semua. Tapi yang pasti, ia bisa berteriak-teriak di depan orang-orang itu sambil memotong-motong doa yang biasa dipanjatkannya.
Aku hanya bisa menerima nasibku. Aku memang semakin ditepikan. Mungkin bisa jadi aku akan lenyap darinya. Walau aku akan terus mencoba bertahan.

Aku yang Ketiga

Aku nyari menguasainya seratus persen.
Aku adalah impian terdalamnya. Ia menemukanku sejak pertemuannya dengan beberapa tokoh politik itu. Ia yang saat itu masih begitu hijau, begitu terpana pada orang-orang itu. Jas mahal mereka, jam tangan emas mereka, dan mobil mewah mereka.
Tiba-tiba ia ingin menjadi seperti itu semua. Aku tentu setuju dengannya. Bukankah impian harus ditempatkan setinggi langit? Sekian lama aku lelah menjadi bagian dirinya yang lemah. Dirinya yang buta akan tujuan hidup. Aku bahkan nyaris mengutuk diriku karena telah terperangkap bersamanya.
Tapi kemudian aku melihat secercah harapan. Para tokoh politik itu benar-benar telah mempengaruhinya. Di saat-sat seperti itulah, aku kemudian bergerak. Kadang saat ia tertidur pulas, aku mencoba memompa keyakinan alam bawah sadarnya.
”Kau bisa menjadi siapa pun,“ bisikku.
”Ya, aku bisa menjadi siapa pun,“ igaunya.
”Kau bisa menaklukkan siapa pun.“
”Ya, aku bisa menaklukkan siapa pun.“
”Kau bisa melakukan semuanya.“
”Ya, aku bisa melakukan semuanya.“
”Kau bisa mendapatkan apa pun.“
”Ya, kau bisa mendapatkan apa pun.“
Aku tahu upayaku mendapat cibiran dari yang lain. Tapi apa peduliku? Toh kita ada dalam tujuan masing-masing untuk mempengaruhinya? Kalau aku melakukan hal seperti ini, mereka juga bisa melakukan hal yang mereka inginkan?
Tak lama berselang, upayaku ini mulai membuahkan hasil. Kini, mereka semua mulai menjadi bagian kecil dari dirinya. Kupikir kali ini aku bisa tertawa gembira, dan menganggap mereka semua mengakui kekalahannya. Tapi rupanya persoalan tak sesederhana itu. Aku bisa mengabaikan aku yang ketiga atau pun aku yang keempat, mereka hanyalah aku-aku yang lemah. Tapi kupikir aku harus tetap waspada dengan aku yang pertama. Sejak dulu ia yang selalu menantangku. Kami kerap bergesekan secara langsung. Tapi selalu, saat kami bertatapan begitu dekat dengan penuh amarah, ia akan tersenyum dan mengalah. Mungkin semua akan menganggap bila ia tak berani padaku. Tapi aku yakin, ia menumpuk semua kebencianny apadaku.

Aku yang Keempat

AKU pikir, aku telah mati. Aku sebenarnya telah siap selesai. Toh, pada kenyataannya dulu, ada beberapa aku yang lain bersama kami semua. Tapi pelan-pelan, satu demi satu dari mereka lenyap entah ke mana. Kini tinggal kami berempat, dan aku adalah yang terlemah di antara semuanya.
Aku bahkan telah sekian lama menganggap diriku tak ada. Aku ingat, dulu aku adalah kenangan indah darinya. Ia selalu meluangkan diri untuk bersamaku. Ia akan menelefon kawan lamanya dan bercengkerama dengan akrab. Ia bahkan menelefon saudara-saudaranya serta keponakan-keponakannya untuk sekadar menanyakan kabar.
Tapi sudah sejak lama ia tak melakukan itu lagi. Kupikir ia mulai menganggap kenangan hanya membuang waktu. Tujuan besar di depan lebih penting untuk diraih, dan membuang waktu adalah satu hal yang perlu dihindari.
Dan aku maklum. Bisa menerima. Aku hanya tak suka, saat aku yang ketiga begitu mendominasi hidupnya. Ia seperti menjadi sosok yang berbeda dari ia yang selama ini kukenal. Tapi bisa apa aku? Itu takdirnya. Gilirannya. Toh pada akhirnya, itu juga menjadi keinginannya?
Sampai kemudian, aku yang pertama datang padaku. Tentu secara diam-diam saat semua tengah tertidur. 
”Kita tak bisa seperti ini terus-terusan,“ bisiknya.
Aku hanya diam. Sejak dulu, ia adalah aku yang paling kukagumi, dan sampai sekarang kekaguman itu belum juga luntur.
”Kita akan lenyap satu demi satu. Kau, lalu aku yang kedua, dan akhirnya aku….”
Aku tetap diam. Namun aku membenarkan semua ucapannya.
”Hanya kau yang bisa menghalanginya,“ desisnya kemudian.
”Bagaimana bisa?“ suaraku tak percaya.
”Yang pasti hanya denganmu aku yang ketiga masih mau berdekatan. Ia telah menjaga jarak denganku.“
Aku menunggu.
”Jadi sebelum ia melangkah terlalu jauh. Ia harus dihentikan. Dan saat kau berdekatan dengannya itulah waktu yang paling tepat menghentikannya.“
”Waktu yang paling tepat?“
”Ya, waktu paling tepat menusuk dirinya, tepat di dadanya!“
Aku terdiam. Tubuhku terasa menggigil, tapi aku bisa memahami akan ketakutan aku yang pertama. Ia yang selama ini membuat hidup dirinya menjadi baik, sebelum aku yang ketiga menguasai dirinya. Jadi, aku benar-benar tak punya alasan menolak permintaannya.
Keesokan paginya, aku mendekati aku yang ketiga dengan ragu. Kuyakini apa yang akan kulakukan adalah sesuatu yang mudah. Sesuatu yang mudah.
”Aku ingin membiarkan dirinya bersamamu,” aku yang ketiga tersenyum padaku. ”Tapi hari ini ada hal yang lebih penting dari mengenang kenangan. Jadi aku tak bisa membiarkannya bersamamu.”
Aku membalas senyumnya. Saat itulah dengan gerakan cepat, aku sudah mengeluarkan belati yang kubawa. Belati milik aku yang pertama. Lalu dengan secepat kilat, menusukkan padanya. 
Belati itu tembus begitu saja di dada aku yang ketiga.
Ia berteriak kesakitan. Di sudut yang lain, aku yang kedua tertunduk menangis dan memanjatkan doa, sedang aku yang pertama menengadahkan tangan seakan berucap terima kasih.
”Kau gila!“ teriak aku yang ketiga dengan mata nanar. ”Apa kau tak tahu? Bila aku mati, kita semua mati. Kita adalah satu….“
Aku tertegun. Ucapan itu seperti baru kusadari. Membuatku tanpa sadar melangkah mundur beberapa langkah sambil menoleh pada aku yang pertama.
Tapi di situ, aku yang pertama hanya tersenyum lebar. Aku merasa ia telah tahu bahwa kita semua akan mati hari ini!
Yudhi Herwibowo, bergiat di buletin sastra Pawon, Solo.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 26-27 November 2016