Episode 4; Daun Gugur – Gandrung Dasamuka – Kecubung Air

Karya . Dikliping tanggal 4 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Solo Pos

Episode 4; Daun Gugur

bulan apa dan musim ke berapa ini?
entahlah-hanya angin. sedikit kabut serta pusaran hujan dengan pagut liar.

daun-daun itu gemetar dengan puncak gigil
tak kuasa menolak cemas yang tiba-tiba jadi ular
mendesis-desis julur di batangnya
putik-putik dibetot ke tanah.disedot dalam lahat
 liang labirin penuh sarang laba-laba dan kalajengking
segenap daun memekik jerit menguap bersama debu
: bacalah! baca usia:cermin lahir dan mati.
terowongan waktu tempat nostalgia berlari-lari
memburu jarak dan catatan-catatan, petilasan yang kelak jadi tanda

segala bunga rontok sempurna. tak sempat bunting
tak ada yang sanggup menolak cemas
saat bilangan-bilangan dihitung kembali
dari nol ke sembilan.dari sembilan balik ke nol
-ini bukan sekedar laba dan rugi namun hitungan hutang

segenap daun. segenap bunga.rontok sempurna
rebah bertekuk lutut pasrah pada musim
tinggal batang meranggas kering menuding langit
bergumam: inilah fana!
ngawi-ketintang

Gandrung Dasamuka

Tidak pernahkah engkau rasakan kangen berbiak  luka.
saat rindu jeritkan bayang-bayang risau serupa hantu
gentanyangan di pucuk-pucuk bambu yang tiba-tiba layu

Siapa  bisa melupa cinta?
Cinta barangkali keindahan sekaligus kutukan
 aku lelaki yang terkutuk itu!
Dasamuka yang tak sanggup abaikan takdir
tak mampu berkelit dari tenung pesona
 tak bisa lari dari sayap-sayap cinta yang halus
serupa lalat gelepar dalam jaring  benang
laba-laba rentan namun membinasakan

sungguh tak sanggup
sembunyi dari gandrung dan rindu
maka biarkan aku jadi dasamuka
walau kelak segala perih dan sakit
 jadi karib yang setia.
-Selokan wareng-

Kecubung Air

kristal ini  tetesan air mata para putri duyung membelah karang
terbayang dalam kemilau sunyi  alirkan samadi sabar yang sunyi
air tak pernah bisa ungu tapi selalu berkilau, senantiasa mengalir seperti cinta
memutih kekal jadi kabut di bukit-bukit meredam segala bunyi

putih ini telah kupilih, sebab hidup tak selalu ungu namun kadang pilu
seperti kunti ratapi jejak-jejak cinta yang menghablur ke langit

aku pilih warnaku putih.sempurna bagai kabut.

2014

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Solo Pos” Minggu 4 Oktober 2015