Eros

Karya . Dikliping tanggal 13 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

PERNAHKAH kau tersesat dalam cinta perempuan? Seperti kau masuki halaman dunia, mimpi, dan tubuhnya layaknya menapaki jalan setapak di hutan sunyi. Jalanan yang penuh dengan tanah cokelat, berlumpur sehabis hujan turun dengan lebat. Aku pernah melakoninya. Aku pun mabuk. Terhuyung-huyung sekadar ingin bertamu, mengemas percakapan, bersentuhan dengan lembut lumut dirinya lalu kembali pergi.

MULA, aku seperti menelusup masku. Kepincut. Tetapi itu tak lama. Perempuan itu terlalu memabukkan. Terkadang bikin jengkel. Mula, aku memang selalu terjebak. Luruh dan lumpuh, terlebih lagi saat ia membisikkan kata, “…sayang…” , getar vibrasi suara yang basah menembus lorong keterjagaan di pembuluh telinga. Mula, aku mengira ia serupa rumah, tempat singgah pada saat lelah. Ya, itulah kali pertama pada saat aku takluk, tunduk, dan bertekuk. Suatu hal yang membuat diriku tiba-tiba ganjil, menggigil, pada saat ia memanggil terlebih lagi saat aku tergetar penuh denyar dan terkapar. Mula, yang membuat lupa. Mula, yang mengisapku dalam kutukan yang penuh hujan. Hujan yang menyebabkanku dilanda kangen penuh gebyar.
Mula itulah agaknya yang membuatku terus berkhayal sekadar berharap untuk tetap bertemu dengannya. Melulu dipenuhi perasaan yang janggal, kepingin seluruh dunia tahu tentang kekuatan cinta kami berdua.
Ah, apakah aku orangnya? Yang acap tersesat dalam hutan asmara? Suara perempuan yang begitu memabukkan kerap dinanti dan melulu ingin berdua dengannya. Tetapi, itu memang tak lama. Percakapan terkadang mudah sekali basi. Sentuhan terkadang tak selamanya menjadi arti. Maka yang ada tinggal penyesalan, semua silam yang kemudian tenggelam menjelma jadi malam. Dalam hal rindu, itu pun tak kekal. Waktu kemudian bergegas, menarik busur pegas, menjalani hari-hari yang keras.
Aku pun lelah. Cinta nyatanya tak lagi cukup.
“Akhirnya kau memilih untuk pergi? Setelah yang kita lakukan sejauh ini? Hanya sebatas itu pengorbananmu?”
“Ehm.”

“Lucu, tak tahu diuntung. Apa sebenarnya yang kau cari?”
“Rumah.”
“Rumah?”
“Ya, rumah. Setelah letih, aku hanya ingin mengobati lelah dan berbenah.”
“Kau tak mendapatkannya dariku?”
“Ehm.”

“Kau tak sayang padaku?”
Ah, lagi-lagi kata sayang. Begitu banyak sayang yang menggelandang. Begitu cepat kalimat itu tersekat dalam mulutnya. Hal yang membuatku lemah, hilang kesadaran. Limbung. Lalu ciumannya datang. Alu menolak. Tapi bibirnya begitu ranum dan penuh tenung. Bibir yang basah. Pertengkaran yang basah. Basah yang tak disebabkan oleh hujan. Aku tersengat, terjerat dalam pita-pita ingatan. Lenguh yang betul-betul basah. Padahal, aku masih juga memikirkan sebuah rumah.
Apakah yang menyebabkan aku tahan lama-lama dengannya? Mungkinkah karena dandanannya yang trendi dipenuhi gincu atau bedak?
“Aku harus pergi.”
“Tak mau lagi kembali?”
“Setelah ini.”
“Setelah apa?”
“Setelah pengembaraan ini tuntas.”
Lantas, aku pun berkemas. Tak kuingat dengan jelas apa yang kumasukkan pada ranselku. Barangkali ada barangku yang tertinggal. Mungkin saja buku-buku, foto-foto yang dipenuhi senyum kami berdua, atau ciuman. Mungkin beberapa stel pakaian yang masih terlipat dengan rapi di dalam lemari. Aku tak tahu. Yang jelas, aku akan pergi, singgah di perempuan yang lain. Dan memang aku harus segera pergi. Kemudian kembali tersesat di cinta perempuan yang lain. Perempuan lain yang mula kupikir sebuah rumah. Ah,  begitu akrab goda itu menyerang. Aku harus menepikannya. Semestinya kusingkirkan hal-hal semacam itu. Atau mungkinkah aku seorang Eros?
**
PERNAHKAH kau tersesat dalam cinta perempuan? Seperti kau masuki halaman dunia, mimpi, dan tubuhnya layaknya menapaki jalan setapak di hutan sunyi. Jalanan yang penuh dengan tanah coklat, berlumpur sehabis hujan turun dengan lebat. Aku pernah melakoninya. Aku pun mabuk. Terhuyung-huyung sekadar ingin bertamu, mengemas percakapan, bersentuhan dengan lembut lumut dirinya lalu kembali pergi. 
Barangkali akulah orangnya. Seseorang yang tak pernah percaya dengan ketulusan sebuah cinta. Seseorang yang merasa cepat terpikat di hatiperempuan lain.
“Sebenarnya apa yang kau suka setiap pertama kali berhadapan dengan perempuan?”
“Maksudnya?”
“Apa yang pertama kali kau lihat dari perempuan? Body-nya atau isi kepalanya?”
“Entahlah.”
Kok, entah?”
“Bingung.”
Kok, bingung?”
“Ada yang kulihat tubuhnya, ada pula isi kepalanya. Dengan bercakap saja aku tahu dengan sekejap kepintarannya.”
Ya, semuanya memang serbaaneh. begitu banyak yang sesungguhnya tak membutuhkan penjelasan sama sekali. Bukankah jatuh cinta dalam pandangan pertama merupakan hal-hal yang tak pernah bisa diduga? Tak pernah bisa dijelaskan dengan akal sehat? Sebagaimana aku yang tengah terpikat dengan perempuan lain, berharap menemukan sebuah tempat singgah. Sembari melepaskan lelah yang tengah mendera.
Apakah aku memang seorang Eros?
Pertanyaan itu kerap berdengung. Dan kenangan-kenangan lain dengan perempuan lain kembali hadir mengalir serupa alir sungai. Sebuah alir sungai yang kukira melulu aku masuki dengan merendam tubuh lama-lama di sana.
Tapi aku selalu ingin pergi. acap aku tergoda untuk tidak lama-lama di suatu tempat. Aku kembali mengembara. Apakah aku memang dikutuk serupa Eros?
**
AKU baru saja menyelesaikan cerita ini. Membayangkan suatu hari nanti, aku akan bertemu dengan perempuan lain. Bertemu dengan rumah lain. Tapi, tiba-tiba aku tersentak–mendengar sesegukan tangis dari belakang. Rupanya, diam-diam ia, Rina istriku, turut membacanya dari belakang layar saat aku menuliskan kisah ini.
Ia meronta. Terjebak dalam tangis yang miris.
“Kau betul-betul akan meninggalkan diriku?”
Aku tatap matanya yang berkaca-kaca. Aku linglung. Tak sanggup berkata.***
Alex R Nainggolan, dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. Bekerja di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alex R Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 11 Oktober 2015