Estatua de la Santa Muerte – Paus Biru – Nun – Desember – Lembah Pujian

Karya . Dikliping tanggal 9 April 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Estatua de la Santa Muerte

Kami kenakan topengmu sepanjang jalan ini 
dalam arakan nyanyian dan pujian bagi si mati 
Bukankah hidup begitu menjemukan 
Siang malam bergegas
         siang malam menderas 
selalu seperti sungai sungai 
berakhir begitu saja di lautan 
Maka biarkan si mati 
menari riang tak henti hingga dini 
bersama maut terkasih yang merindu dirimu 
Si mati yang kini berdiam dalam diri kami 
berdendang beriringan 
         bersulang memuja petang 
terbang melayang seringan burung enggang 
melintasi hutan pualam malammu yang hilang 
berseru pada pohonan 
         agar rindang meninggi 
berseru pada bunga liar agar mekar mewangi 
Sebab tak ada yang sesenyap tatap gaibmu 
kami rayakan dirimu sepanjang jalan 
tanpa kias kata dan ucapan selamat pagi 
tanpa kilau cermin pelipur umur yang percuma 
Kepada anak yang terisak dilupakan ibunya 
kami kekalkan dentang lonceng tua di tikungan 
berulang bertepuk tangan berbagi salam 
mengusap linang muram di pipinya yang ranum 
Kepada dara jelita yang tertawa manja 
kami kuyupkan tubuh wangi mereka 
         dengan rahasia pujian mawar mati 
bertanya berkali kenapa dada indah ini 
tak dibiarkan terbuka 
segalanya akan lebih sederhana 
         tak ada lagi selubung bayang 
         yang mengelabui pandang 
tak ada lagi mata tergoda 
menduga sesuatu yang tak nyata 
Sebab tak ada yang segaib wajah kudusmu 
Kami rayakan dirimu sepanjang hidup 
aham akan hari, berserah dalam diam 
Seperti batu penyendiri 
         di dasar danau gunung tinggi 
bersama maut terkasih yang selalu merindu 
2016

Paus Biru

Seekor paus biru terdampar dini hari 
Masih sempat kusaksikan dari kejauhan 
linang terakhir cahaya matanya 
memudar samar lalu meredup lenyap 
Tubuhnya yang anggun bergetar perlahan 
seketika terdiam terayun ombak tanpa gerak 
Apa yang dibayangkannya sebelum mati 
sahabat sahabat tercinta yang ingkar janji 
kawan senasib yang begitu saja meninggalkannya 
Ataukah ia sengaja mendamparkan diri 
kecewa putus asa entah oleh apa dan mengapa 
tergoda mengakhiri hidup yang dirasa percuma? 
Bersama genang bayangnya yang surut menghilang 
anganku terhanyut gelombang berkelana di dasar lautan 
terbawa secercah cahaya yang entah berasal dari mana 
mungkin terlahir dari denyar terakhir sebutir bintang 
Barangkali demikian pula hidup bermula 
di sini di kedalaman yang tak terbayangkan ini 
tercipta segalanya dari makhluk makhluk kecil 
hewan tumbuhan yang tak bermata tak bernama 
Kusaksikan mereka di sela karang dan ganggang 
melayang perlahan di tengah runtuhan candi 
undakan batu meninggi juga ruang semadi 
di sini di kedalaman yang tak terpahami ini 
Tapi di palung mana ia dilahirkan? Berapa umur sebenarnya? 
Mungkin saja ibunya masih menunggu di teluk seberang 
Berulang mengirim suara rahasia, memanggil nama kecilnya
2016

Nun

Sudah lama tak mendengar kabarmu, Vrisaba 
Maka kubaca lagi ceritamu 
dengan sepeda dayung mengayuh waktu 
menuju lampau yang tak kunjung lalu 
walau harimu bergegas dari bui hingga nun 
Berkelok perlahan di jalan setapak 
         menikung kencang di lereng gunung 
menyusuri kisah yang tak bersudah 
dari tawa hingga hampa, melepas tanya ke udara 
kenapa hidup indah ini kelak berakhir begitu saja 
Sepanjang waktu tak bertuju, kupacu laju sepedamu 
dari lamunan ke angan, tercium wangi angin pedusunan 
         segar sayur mayur harum buah ranum 
berayun melambai dari kebun kebun di tepian jalan 
walau petang lekas datang sebelum kering hujan di badan 
Maka kubaca lagi hidupmu, dirundung tanya yang tak terselami 
dari ubung ke kumbasari dari komang pirang hingga dayu rahmi 
terpilin pengharapan seturut suratan tangan senihil nasib ini 
Kuingat ujarmu, singgahlah sejenak melipur umur 
menentramkan batin, sedini malam pergi memancing 
bukan ingin memahami gaibnya kail dan umpan 
bukan pula terbawa godaan mengulur peruntungan 
semata merenungi ikan ikan yang pasrah menghampiri 
Semata mengelak bujukan bunuh diri 
seperti kawabata di kamar sendirian 
teracuni gas yang meluap semalaman 
Sambil sebisanya melupakan 
bayang tubuh terkasih 
         yang mengambang tenang 
dengan tato sepasang kuda 
dan lubang peluru menganga 
Bayangan yang terus membayangi 
dari mula kata hingga akhir cerita 
dari masa muda hingga hampa usia 
Terus kupacu laju sepedamu 
menuju waktu tak bertuju 
mengiang sepanjang tikungan 
sungguhkah kita 
ikan besar dalam dongeng 
Selalu aku terkenang pada lusuh kaos dalammu 
mengintip riang dari celah lengan baju yang pudar
2017

Desember

Desember adalah kancing baju yang lepas 
Tarian sepasang laba laba 
berayun siang malam 
meraba dinding hari 
        yang bukan lagi milikku 
Atau semut di genangan madu sendirian 
berulang ditinggalkan kawanannya 
Juga seorang gadis penyendiri
melompati jendela kamarnya dini hari
menyelinap dalam gelap
        menemui lelaki
yang baru saja dikenalnya petang tadi
Maka waktu adalah patung kayu
yang lapuk karena menunggu 
Setiap detik lewat, seperti pesan pesan
yang tak tercatat tak terbalas
di hari sabtu
        mungkin juga minggu
Setiap detik seseorang mengenalku
        atau tak mengenaliku
menyapamu dari seberang jalan
melupakanmu di sembarang tikungan
Seluruh dinding pun kini putih
seluruh kota hanyut jadi putih
        oleh gaun pengantinmu yang sedih
Lalu tidur dengan apel dalam diriku
aku temukan bagian dirimu yang lain
aku temukan akar menjalar dalam diriku
Ya, desember adalah kancing baju yang lepas
Sebatang pohonkah aku
atau laba laba
        di dinding hari
    yang bukan algi milikmu
2016

Lembah Pujian

Tak terkubur, duniamu tak terkubur, penyair
Di malam raya yang bukan lagi milikmu
kereta kereta mati
                 mengiring hari 
                                  ke makam tua 
mengantar penyair mengusap nisan 
dalam isak sajak yang paling rahasia 
Bukan di mana
                 bukan ke mana
tapi di sini di lembah pujian ini
padang pun lapang terbuka
                 begitu lengang dipandang
kubur nganga begitu senyap ditatap
Di sini dalam iringan nyanyian si mati
ada ibu muda duduk tertunduk
                 tanpa suara
ada bayi terdiam di pangkuan
mengulum jari merah jambu
Tangan haus menulis, tangan dirimu
yang tak mau henti mengembara
                 kini lunglai melintasi
malam piatu bagi semua yang tersedu
Begitu pucat
                 rumput tercerabut
membelah sisa dunia yang kau pijak
Namun kertas putih hampa
                 pena sebatang kara
tak akan percuma menagih nyawa kata
Tak terkubur penyair, namamu tak terkubur.
2016
Warih Wisatsana tinggal di Denpasar, Bali. Setelah Ikan Terbang Tak Berkawan (2003), kumpulan puisi perdananya, kini sedang ia persiapkan buku puisinya yang terbaru: Pualam Malam.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Warih Wisatsana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” 8 April 2017