Fatma dan Lidahnya

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

KETIKA mendengar kabar kematian Nenek Nahadim, tak ada yang cukup membekas dalam ingatan Fatma tentang neneknya itu. Ingatannya tentang Musi Rawas Utara, atau sering disingkat Muratara, hanyalah samar-samar. Seperti sebuah adegan dalam sebuah film lama. Hitam-putih dan dipenuhi bercak hitam di sana-sini.

Belum genap empat tahun umur Fatma ketika ayahnya dipindahtugaskan ke Bengkulu. Lalu, hari ini Bibi Witri datang berkunjung mengabarkan pesta pernikahan Edison, putra keduanya, sekaligus membawa kabar Nenek Nahadim telah berpulang tujuh hari lalu.

Fatma sebenarnya tidak begitu dekat dengan keluarga Lubuklinggau. Namun sebagai satusatunya putri Wenti, dia wajib hadir pada pesta pernikahan Edison bulan depan sekaligus selamatan empat puluh hari meninggalnya Nenek. Mewakili indungnya yang telah lewat selamatan seribu hari itu.

Wenti dan Witri adalah dua putri Nenek Nahadim. Bila Wenti hanya memiliki Fatma sebagai putri tunggal, Bik Wit, demikian Fatma memanggil, dikarunia dua putra dan tiga putri. Edison, yang akan menikah bulan depan, adalah adik Amirudin yang telah lebih dulu menikah dan menetap bersama istrinya di Sarolangun, Jambi.

Setelah Wenti meninggal, hubungan Fatma dan keluarga Lubuklinggau agak renggang. Meski tidak pernah ada selisih paham di antara mereka. Perbedaan bahasa mungkin salah satunya. Fatma yang besar di Bengkulu kurang mengerti bahasa Lembak yang digunakan sebagian besar keluarga Lubuklinggau. Juga Fatma yang berkarier tentu sibuk membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangganya bersama Jaudi. Mungkin kesibukan pulalah yang menyebabkan Fatma keguguran pada kehamilan pertama dulu.

Fatma tinggal di Bengkulu Kota, bersama ayah dan suaminya. Juga seekor kucing oddeye cantik yang dia beri nama Alena. Ayahnya sudah setengah pikun, sering salah menuang sampo ke sikat gigi, atau mengenakan sandal kanan di kaki kiri.

Fatma sedang menyiangi kubis untuk memasak sop sebagai menu makan malam di teras samping rumah ketika Bik Wit datang membawa kabar itu. Fatma tak tahu, apa perlu marah pada Bik Wit atas keabaian mengabarkan kematian Nenek. Bik Wit berkilah susah mencari waktu yang tepat untuk mengabari Fatma tentang meninggalnya Nenek, sebab pada hari Nenenk meninggal, jalur Lubuklinggau-Bengkulu ditutup akibat ada kerusuhan warga.1) Fatma ingin marah, tapi kemarahan tak mengubah apa-apa. Fatma pun memilih diam.

Lalu hari ini, Fatma berangkat ke Linggau sendirian, menggunakan mobil travel. Jaudi akan tetap di rumah, menjaga Ayah. Fatma memilih travel, meski perjalanan Bengkulu- Lubuklinggau bisa ia tempuh dengan sepeda motor hanya kurang dari empat jam. Fatma masih trauma atas kejadian semasa kuliah dulu.

Waktu itu musim liburan. Fatma dan kelima temannya sepakat main ke rumah Puspita di Rupit. Sedang musim duku di sana. Duku rupit terkenal lezat. Buah itu besar lonjong sebesar rambutan dengan daging buah tebal dan manis. Puspita girang bukan kepalang akan dikunjungi teman-temannya. Dia lupa berpesan, jika mengendarai sepeda motor di jalur Bengkulu- Lubuklinggau hendaknya melepas helm ketika memasuki wilayah Palak Curup. Palak Curup yang berbukit-bukit dengan jalan berliku dan banyak perkebunan tanpa permukiman di kanan-kiri jalan membuat wilayah itu rawan kejahatan. Namun ada rahasia sebenarnya, supaya aman jika sudah memasuki daerah perkebunan yang sepi itu. Melepas helm dan menyembunyikannya dari pandangan. Sebab, jika tidak menggunakan helm, para begal berpikir pengendara adalah orang daerah situ saja. Mereka akan berpikir dua kali untuk berbuat jahat.

Rombongan Fatma dan kawan-kawan, yang lupa dipesani supaya melepas helm, dikuntit dua pengendara sepeda motor. Dalam sekejap mata, tas tangan Santris dan Rayola telah berpindah tangan ke penguntit. Bukan tas dan isinya yang raib yang membuat mereka trauma. Namun betapa teror akan sesuatu yang lebih mengerikan yang bisa menimpa keenam gadis di tengah hutan jauh dari permukiman jika berhadapan dengan empat pria yang entah masih manusia atau bukan. Nurmala yang paling histeris di antara mereka berenam bahkan nekat menghentikan setiap pengendara yang lewat supaya mau serempak dengan mereka memasuki wilayah permukiman lagi.

Berbulan lamanya Fatma dicekam trauma. Dia juga ingat ucapan Betri, kawan yang dia bonceng kala itu, bahwa dia akan memilih terjun ke jurang dan mati daripada harus diapa-apain keempat begal itu.

Puspita menyambut mereka tak kalah histeris. Memeluk keenam sahabatnya satu per satu dan tak henti meminta maaf atas kecerobohannya. Sambil masih bergandengan, Puspita mengajak mereka masuk ke rumah yang bergaya panggung. Ibu Puspita menyambut dengan senyum ramah dan ucapan permintaan maaf sekali lagi atas kecerobohan putrinya.

Menambahkan, ayah Puspita belum pulang dari menakil karet di kebun. Keramahan dan kehangatan rumah Puspita mampu sedikit meredakan kepanikan Fatma dan kawan-kawan.

Di lantai rumah dari papan, Puspita menggelar tikar untuk mereka. Lalu tanpa basa-basi Puspita dan ibunya menyiapkan makan bersama.

“Kalian pasti lapar,” celetuk ibu Puspita.

Ibu Puspita menyajikan ikan masak pindang. “Pindang rupit,” ujar Puspita bangga. “Ayahku yang menangkap ikan-ikan ini di Sungai Rupit kemarin sore.”

Kenangan beberapa tahun silam itu masih teringat jelas di benak Fatma. Lalu hari ini, Fatma akan melalui kembali jalur horor itu.Rencananya, Fatma akan menginap di salah satu penginapan di Jalan Yos Sudarso, karena resepsi pesta Edison akan dilangsungkan di rumah mempelai wanita. Calon mertua Edison pemilik rumah makan yang menyediakan pindang rupit sebagai menu andalan, di samping kantor Bupati Lubuk Linggau. Di sanalah besok pagi digelar acara persedekahan atau duduk pengantin, dilanjutkan mandi kasai2) sore hari.

Fatma sampai di penginapan sebelum azan zuhur. Setelah merapikan barang bawaan di penginapan, Fatma menyempatkan diri berjalan kaki menyusuri Jalan Yos Sudarso yang terik siang itu. Fatma melihat sebuah rumah makan yang khusus menjual martabak. Fatma ingat, di Palembang ada martabak ala India yang sangat terkenal. Itulah martabak HAR. Dikenal juga sebagai martabak India karena yang menjual keturunan India.

Fatma penasaran ingin mencoba. Ternyata bahan dan cara membuatnya sama dengan martabak HAR, tetapi bumbunya sama sekali berbeda. Martabak HAR menggunakan bumbu kari kentang, di sini Fatma menjumpai saus bumbu agak asam. Ketika Fatma tanyakan pada ibu yang menjual, ibu itu mengatakan bumbunya dari ketan dan kentang. Ketika Fatma menanyakan alasannya, secara sederhana ibu itu mengatakan tidak tahu cara membuat saus bumbu kari seperti martabak HAR. Sangat polos dan jujur.

Sehabis menyantap martabak, Fatma berjalan kaki sedikit lagi ke arah kanan, dan sampailah di warung model 3) yang sejak awal adalah tujuan utama dia berjalan kaki dari penginapan. Model gandum. Perbedaan model gandum di Palembang dan Lubuklinggau pada ukuran. Di Palembang, ukuran model gandum bisa satu setengah kali bola tenis lapangan. Di Lubuklinggau, ukurannya lebih-kurang sebesar bola tenis meja. Cara penyajian sama saja, dipotong-potong kecil, disirami kuah bening beraroma rempah yang sangat kuat, khususnya biji cengkih serta irisan kecil daging sapi.

Setelah menambahkan sambal ke mangkuk model, Fatma memeriksa gawai. “Aku sudah di warung model gandum,” pesan yang dia kirim belum terbalas. Pesan itu terkirim untuk Tarsin Agani, mantan pacarnya semasa kuliah dulu. Tarsin adalah alasan sesungguhnya bagi Fatma berkeras menginap di penginapan, selain tak mau merepotkan keluarga Bik Wit yang ia jawabkan pada semua orang. Termasuk Jaudi, sang suami. (28)

Catatan:
1) Jalan lintas Bengkulu-Lubuklinggau rawan kejahatan dari perampokan, pembunuhan, sampai penjarahan hasil bumi. Kerusuhan bersamaan dengan meninggalnya Nenek Nahadim terjadi di Desa Blitar, Kecamatan Binduriang. Warga memblokade jalan lintas yang menghubungkan Bengkulu dan Sumatera Selatan setelah penembakan seorang warga hingga tewas oleh polisi. Penembakan berawal saat mobil patroli Kepolisian Resor Rejang Lebong mengawal truk bermuatan barang pada pukul 02.00. Saat melintasi Desa Blitar, sejumlah orang melempari mobil polisi. Polisi langsung mengejar pelaku dan menembak salah seorang pelempar hingga tewas.
2) Upacara adat mandi kasai di Lubuklinggau telah berlangsung sejak abad ke-14. Mandi kasai adalah mandi pengantin pada sore hari seusai persedekahan atau duduk pengantin. Kedua mempelai dimandikan seorang tetua di alam terbuka, diiringi pemberian nasihat dari keluarga kedua mempelai. Seusai dimandikan, orang-orang yang hadir simburmenyimbur air hingga semua basah kuyup.
3) Model adalah makanan khas Sumatra Selatan. Mirip pempek, tetapi disajikan dengan kuah bening seperti bakso.

– Majenis Panggar Besi menulis buku kumpulan cerita pendek termutakhir Tentang Seseorang yang Gemar Meminta Ciuman (2018).


[1]Disalin dari karya Majenis Panggar Besi 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 21 Oktober 2018