Filosofi Bubur – Filosofi Bibir – Agar Bibir Tak Jontor – Sarapan Bubur di Neraka

Karya . Dikliping tanggal 23 Oktober 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Filosofi Bubur

tidak perlu disesalkan, semua
proses tak perlu ditandai sesal.
semua sengaja dihancurkan, terlebur
menjadi lumpur. inti untuk mengada
yang cair akan mengental, meski
remasan krupuk serta kacang itu
menyerap air. tak perlu disesalkan
ketika nanti dihiasi kecap. hitam
akan cocok untuk orangtua
bergigi angin, atau geraham
lesu orang sakit – dengan telur
protein tambahan untuk gelut

Filosofi Bibir

kampanye itu menambahkan air,
dan lebih banyaj lagi: lidah api
sehingga adonan cair dan amat mudah
ditelan – tak lagi perlu lagi mengunyah
tak ada yang perlu diperjuangkan
setelah memilih. terpilih – selain residu
wangi salam. sisa pemanis kata-kata
langsung meresap ke usus, sisanya
segera hilang di sungai. apa lagi
yang ditakdirkan dilupakan
            sebab mereka sangat pelupa

Agar Bibir Tak Jontor

jangan dimakan selagi panas –
sebab membuat bibir melepuh
tapi jangan terlambat, sehingga
 bubur jadi berselaput, berkerak
makanlah selagi hangat, sebagai
deal politk dalm menyulap sisa
anggaran. pembangunan sampingan

Sarapan Bubur di Neraka

di neraka dihidangkan bubur
yang direbus dengan lauk
tubuh dan tulang koruptor hidup
semua serentak dijerang
dan didihkan pada kuali
dengan dicampur nanah dan belatung
itu jatah si miskin
yang banyak dosa, yang
suka berteriak setiap berak
lantas tubuh dan tulang koruptor
utuh lagi, lantas menyemplung
ke dalam kuali. langsung dijerang lagi
berulang-ulang merasakan disantap 
2016 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 23 Oktober 2016