Fokus

Karya . Dikliping tanggal 11 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
”Kasus pembegalan yang diungkap tv, seperti mengembalikan kita ke zaman cerita-cerita yang sering digelar oleh teater rakyat,” kata seorang tetangga, membuka percakapan, di pertemuan rutin tahunan warga.
”Kita dibawa kembali ke masa ketika jalan-jalan yang sepi dan gelap, menjadi angker. Karena bromocorah gentayangan. Tidak ada polisi yang menjaga kenyamanan hidup warga. Adanya hanya prajurit untuk berperang demi membela negara,” sambut tetangga yang lain.
”Jadi keselamatan negara memang terjaga, tapi keamanan rakyat tidak!”
Ilustrasi karyaZusfa Roihan
”Itu berarti kita sudah melangkah mundur,” sambut tetangga lain lagi.
”Dan ironisnya, itu terjadi di tepi Jakarta! Ibukota negara dan jendela ke mancanegara! Bagaimana nanti pandangan dunia kepada kita? Pasti minat untuk invest di Indonesia berkurang drastis! Yang sudah ada pun bisa kabur!”
”Betul! Banyak orang tidak ngeh, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Akan kemana kita dibawa oleh globalisasi?”
”Menurut paranormal, penasihat spiritual saya, yang baru pulang dari Afrika, dia bilang….”
”Pak Jenggot?”
”Betul.”
”Wah paranormal berbobot itu! Ngapain beliau ke Afrika?”
”Katanya akhir tahun lalu, yang namanya ’kebenaran’ ada di situ. Pak Jenggot mau mencegatnya, karena tidak ada skejulnya ke Jakarta. Jadi, Pak Jenggot mau mengkonfirmasikan praduganya pada tahun 2015 ini.”
”Sudah?”
”Belum sempat, karena ada satu dan lain hal yang memerlukan prioritas. Mendengar ada gesekan antara KPK dengan Polri, ia cepat-cepat pulang.”
”Terkait masalah prioritas, apa eksekusi terpidana mati yang dihimbau beberapa suara, agar diberikan grasi, tidak dianggap prioritas?”
”O, ya, itu juga sudah pasti termasuk dalam agendanya!”
”Betul! Tapi kita sudah kebanyakan prioritas. Saya heran juga, gunung meletus, banjir, pesawat jatuh, gesek-gesekan, semua prioritas. Apalagi yang akan menyusul besok, ya? Segalanya datang beruntun, sambung-menyambung. Baru selesai pemilu yang menegangkan, ada lagi, ada lagi yang lain. Yang untung tv dapat berita panas terus. Iklan mengucur, kita hancur!”
”O ya, maaf, rumah Pak Alit denger-denger kena banjir?! Itu juga prioritas buat kita, sebab bisa merembet ke rumah kita!”
”Jelas! Rumah saya kan juga sudah mulai digerayangi. Itu gara-gara sungai yang di belakang kita itu, ditutup, jadi airnya meluap ke kita.”
”Kita harus protes itu!”
”Siapa yang berani? Ada rumah jenderal di situ! Mau dikarungin apa?”
”Nanti dulu! Yang begal itu sebenarnya sudah ditangkap habis belum? Ada yang ditembak mati kan?!”
”Tembak mati saja kalau ketangkap, kata ibu dari anak yang mati ketika pembegalan itu. Muka ibu itu tenang tapi usulnya sadis!”
”Itu lumrah-lumrah saja. Kata orang, perempuan memang bisa lebih sadis dari lelaki!”
”Ya, itu perempuan yang Bapak kenal. Istri saya tidak!”
Semua ketawa berderai.
”Ah sama saja! Cuma ada yang kelihatan, ada yang tidak. Kata orang wanita kan sebuah buku yang tidak pernah habis dibaca!”
”Betul, tidak, Pak Amat?”
Amat tersenyum, lalu tertawa, tapi tidak menjawab. Malahan kemudian berdiri dan berjalan pulang. Meninggalkan pertemuan.
”Semua ngaco. Tidak ada yang bener,” gerutu Amat setelah sampai di rumah. ”Ngomong seenak perut saja. Asu tenan! Semua! Apa yang ada di perut, langsung disemburkan. Ngumpul-ngumpul memang lebih banyak negatifnya! Pembicaraan ngalor-ngidul tidak pernah fokus! Hanya tambah mengacaukan, mengapungkan persoalan. Itulah wajah kita sekarang!”
”Kita?” potong Bu Amat keluar dari kamar sambil menyodorkan lis sumbangan warga untuk perbaikan saluran air agar rumah Pak Alit bebas banjir.
Amat melirik lis itu sinis.
”Dia yang kebanjiran, karena bandel tidak mau meninggikan lantai rumahnya, kenapa kita yang ditodong menyumbang?”
”Karena banjir itu kalau dipelihara, bisa menular ke rumah kita. Ini bukan masalah Pak Alit saja, tapi upaya demi kepentingan kita!”
”Itu kata Pak Alit, kan!”
”Bukan! Itu keputusan rapat warga yang tidak mau Bapak hadiri!”
”Karena tahu hasilnya begini!”
”Salah! Kalau Bapak datang, hasilnya akan lain! Akan lain! Akan lain! Akan lain!!!”
Amat tercengang.
”Akan lain?”
”Ya! Karena, jangan salah! Mereka sebetulnya sangat segan, hormat, menghargai Bapak, yang terhitung paling senior di hunian kita ini! Mereka yakin apa yang Bapak katakan pasti adil, waras dan betul. Tadi, apa yang Bapak katakan, tadi?”
”Apa ya, di pertemuan tadi, semua orang ngomong, ngomong, ngomong terus, ngalor-ngidul, ngalor-ngidul, tidak ada fokus, sampai pertemuan selesai. Tidak ada keputusan mau apa komunitas kita ke depan ini. Habis waktu untuk menggunjingkan politik!!”
”Lho itu kan berarti semua orang mau memberikan masukan pada Bapak. Semua warga percaya Bapak akan memilihkan mereka fokus. Ada kan yang bertanya tadi bagaimana pendapat Bapak? Ada, tidak?”
”Ya, ada.”
”Nah itu, mereka pasti minta fokus! Mereka menunggu fokus dari Bapak! Itu tandanya Bapak punya wibawa pemimpin. Makanya awas, jangan suka membegal diri-sendiri. Jiwa kepemimpinanmu itu kelebihan, karunia dari Yang Maha Kuasa di atas situ! Harus dijunjung tinggi! Paham?”
Amat bengong.
Di kesempatan berikutnya, Amat hadir lagi dengan kiat baru.
Seperti sebelumnya, percakapan terlempar ke sana kemari. Dari soal turunnya harga bahan bakar, sampai fenomena ISIS.
Amat siap untuk memberikan fokus. Menjawab kalau ada pertanyaan. Agar pertemuan itu bermakna. Tidak hanya sekadar menguruk sumur yang tanpa dasar.
Lima jam Amat terpental-pental oleh berbagai usul, opini, curhat, kabar-kabur dan segala macam berita panas kutipan dari tv dan media massa lainnya.
Tengah malam Amat kembali ke rumah. Mukanya seperti penjudi yang terkuras habis. Wajah kuyu dan kuyup oleh kecewa.
”Bagaimana hasilnya, Pak,” tanya Bu Amat sambil memijit punggung suaminya. Amat menjawab kesal.
”Sama saja. Cuma buang-buang waktu. Ramai seperti pasar. Semua rebutan bicara. Tapi bukan mencari solusi buat hunian kita. Walhasil buntutnya nol!”
”Bapak sempat ngomong?”
”Ngomong apa? Tidak ada fokus!”
”Kenapa tidak difokuskan?!”
”Habis tidak ada yang nanya!”
Bu Amat ketawa.
”Lho bagaimana sih Bapak! Kalau melongo saja ngapain ikut rapat!? Jangan tunggu sampai ada yang nanya! Asal sudah ketemu celah, langsung saja diembat! Pasti mereka akan ikut. Jadi pemimpin itu, begitu! Harus di depan mengambil inisiatif. Belok kanan, belok kiri, melompat, kalau perlu mundur atau balik arah! Pemimpin tidak boleh nunggu kesempatan! Justru harus bikin kesempatan!”
Amat tak menjawab. Karena terlalu ngantuk. Ia tergelincir tidur.
Tapi dalam pertemuan warga berikutnya (karena belum juga ada keputusan), Amat mempraktekkan usulan istrinya.
Sebelum sempat warga lain buka mulut, Amat langsung ngoceh. Suaranya lantang dan jernih.
”Saudara-saudara, jangan lupa, kita harus cari solusi untuk melindungi anak-anak remaja kita dari ancaman narkoba dan pornografi lewat internet, sebelum nasi jadi bubur!”
Tak ada yang menjawab. Dengan semangat berapi-api, Amat terus menembaki kerawanan moral masa kini, membentangkan teorinya sendiri, bagaimana caranya bilang ”tidak”. Tapi peserta rapat tidak ada yang peduli. Mereka mulai ngobrol dengan teman-teman di sebelahnya. Akhirnya Amat terpaksa menghentikan ceramahnya.
Hanya satu jam, pertemuan bubar. Tahun-tahun sebelumnya, pertemuan pernah baru berakhir subuh, itu pun juga belum tentu berhasil membuat keputusan.
Amat yang terakhir meninggalkan ruangan. Ia merasa, itulah hari yang paling menyebalkan, sepanjang sejarah rapat rutin warga yang sudah 5 tahun jalan itu. Singkat, menyebalkan dan kosong-melompong.
Di rumah, Bu Amat terpaksa lembur memijit lagi. Bukan hanya pundak, tapi seluruh tubuh Amat. Sembari mengantuk ia menghibur.
”Sudahlah, Pak, tak apa, kebesaran seorang pemimpin, tidak hanya ditentukan oleh sukses dan keberhasilannya. Tetapi juga oleh segala kekalahan, kegagalan dan kekecewaannya! Karena itu, pikir yang matang-matang. Mau jadi pemimpin atau rakyat biasa saja?!”
”Ya sudah, jadi rakyat jelata saja.”
Namun demikian, Amat tidak kapok. Ketika diundang rapat lagi, ia datang dengan bersemangat. Ia ikut rebutan buka mulut, dengan berbagai isyu panas dari tv dan media massa lain. Rapat jadi riuh dan galau. Tapi hangat, ceria dan berhasil menelorkan keputusan.
”Bagaimana, berhasil?” sambut Bu Amat menyapa suaminya yang pulang dengan wajah berseri-seri.
”Sip!”
”Apa keputusannya?”
”Terus menggelinding, mengalir seperti sungai.”
”Maksudnya?”
”Keputusannya singkat, padat dan tepat.”
”Apa?”
”Secara aklamasi rapat memutuskan: tidak perlu ada keputusan!”
PUTU WIJAYA
Lahir di Tabanan. Bali. Selain menulis cerpen, Putu juga menulis drama dan mendirikan teater Mandiri yang tetap produktif sampai sekarang. Karya-karya mengalir deras meski kini harus menulis menggunakan telepon seluler. Beberapa novelnya mendapat hadiah di berbagai sayembara.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Wijaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” 10 Mei 2015