Folk – Pukul Sembilan Malam – Burung Enggang

Karya . Dikliping tanggal 24 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia
/Di atas kapal penyeberangan/
berjalan saat senja
dalam dingin awal tahun
segala terasa biasa
dan segala sekaligus berbeda
Kepala-kepala ini berisi pikiran masing-masing
hati-hati ini memeka apa saja yang kering
duduk tenang
menonton pertunjukan senja di sepanjang jalan
Ada titik-titik kecil mengangkasa
menuju ke arah segala
satu yang kutitip pada titik itu
adalah harapan-harapan lama, tentang rahasia
Di atas kapal kecil bergemerlap cahaya
bulan menggantung di langit muram
sendirian
apakah rembulan berbisik rindu pada bintang?
Baru saja menyadari
aku menjauh dari api abadi
di kota cinta
barangkali tandanya adalah lirih angin
akhirnya, aku hanya memandang
kerlip mesra dari rumah, gedung, dan menara
serta kapal yang terbang, mendekati bulan
yang menggantungkan, saat-saat indah kemarin
Januari, 2015

Pukul Sembilan Malam

Sesungguhnya, aku adalah sepotong hati
diabaikan hingga gerombolan anjing malam menyantapku dahaga.
aku menyepi dari ramai manusia-manusia
yang berpesta di tengah hidup nestapa.
Dosa apa yang diperbuat leluhurku di suatu ketika yang lampau?
atau memang hidup adalah permainan dadu dan mata panah saja?
aku masih bekerja memeras jantung sampai berdegup jeri.
Doa dari kekasihku menyusup dalam bayang-bayangku yang memudar sunyi.
Pada pukul berapa aku harus pulang, tanyaku pada halimun gagu.
tiada jawab; sebab, aku bekerja demi
seupah keringat.
Mei, 2015

Burung Enggang

pemuda berjalan di waktu siang
mencari bayang-bayang si enggang
mandaunya tajam dan sumpitnya panjang
di manakah ia, sang matahari bergoyang
ada seekor menari di langit
menadah hujan cahaya dari sela-sela daun
tenang bagai cinta yang telah pasti
tuan akan tahu, si enggang amat cantik, aduhai
apabila pemuda mendekat, enggang menatap lekat
dua pasang mata jernih saling beradu
juga hati dua makhluk itu
merebahkan diri di tanah agung
Mei, 2015

Agung Setiawan, kelahiran Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 7 Januari 1992. Sekarang, ia bergiat di Komunitas Menulis Karya Pena Aksara Banjarmasin. Karya fiksinya terhimpun dalam pusparagam Aruh Sastra Kalsel (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aung Setiawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 24 Mei 2015