Fragmen dalam Sebuah Cerita Bergambar

Karya . Dikliping tanggal 29 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
RASANYA aku pernah melihat anak kecil itu sebelumnya. Di dalam kepalaku.
Aku ingat, akulah yang merekanya. Waktu itu, aku baru saja menyelesaikan garis matanya ketika ia melontar protes.
“Aku ingin bingkai mata yang lebih tajam,” katanya. Lalu aku membiarkannya menghapus garis matanya yang baru saja kuselesaikan, kemudian digantinya dengan garis mata yang lain. Garis mata yang lebih runcing dan melengkung di ujungnya.
Sekarang aku tengah melihatnya lagi, dengan lebam di kedua belah matanya. Aku yang sengaja menambah lebam itu di sana. Aku berniat menyelesaikan ceritanya hari ini.
Ia sempat mendebat mengapa mesti ada lebam di kedua belah matanya yang susah-payah ia beri bingkai mata lebih runcing dan melengkung di ujungnya itu. Tapi, ia mengerti ketika aku mengatakan padanya kalau pembaca akan lebih suka mendapati lembam itu di matanya. Mereka menyukai sesuatu yang menggiriskan seperti itu. Menyentuh, menyayat-nyayat, meski mereka tak paham mengapa mereka lebih menyukai cerita semacam itu.
Tangan kekar menjenggut rambutnya yang ikal sebenarnya, waktu membuatnya, aku sendiri ragu rambut itu sengaja kubuat ikal atau memang aku tak bisa membuat sesuatu yang lurus. Kemudian tangan kekar tadi menyentakkan kepalanya dengan kasar ke belakang seperti menyetakkan tali kekang kuda, menahannya hingga membuat dagu anak kecil itu mendongak lebih tinggi dengan urat leher menegang dan bibir yang tambah gemetar. Anak kecil itu seperti ingin menumpahkan tangis dan jerit kesakitan, tapi aku memintanya untuk tak melakukan hal itu. Ia tanya mengapa.
“Aku tak punya cukup waktu untuk menggambarkan tangisan dan jerit kesakitan macam apa yang pantas untukmu.” Lagi pula, stok tangisan dan jerit kesakitan yang kupunya sudah habis. Dalam botol-botol yang diberi label “tangis terisak”, “tangis dengan suara tertahan”, “tangis dengan sedikit air mata”, “tangis dengan air mata berleleran”, “tangis tanpa air mata”, dan macam-macam tangis yang lain, yang kusimpan dalam lemari kaca kedap udara yang kumiliki pun hanya menyisa kosong. Begitu pun dengan botol berlabel jerit kesakitan. Aku tahu, sebenarnya ia sendiri sudah terbiasa dengan rasa sakit itu. Jadi tak perlu tangisan dan jerit kesakitan untuk menggambarkannya.
Dagunya terantuk meja. Keras sekali. Tangan kekar itu yang melakukannya.
Bibirnya berdarah. Salah, bukan, bukan bibirnya, tapi gusinya yang berdarah. Gusi depan. Darahnya keluar cukup banyak hingga terlihat seperti bibirnyalah yang berdarah. Hingga ia terpaksa menyesap rasa asin bercampur amis dari darah itu demi membuat pendarahan di gusinya terhenti. Ia meringis kesakitan. Begitu ngilu dan perih. Gigi-giginya terasa seperti tengah dicabuti satu per satu dengan gegep, rintihnya.
“Mengapa si tangan kekar melakukan ini padaku? Mengapa dia menyiksaku?”
Aku mendadak gagu. Aku tak punya jawaban. Aku memang masih mencari alasan mengapa si tangan kekar itu melakukan hal-hal yang tak sepatutnya ia lakukan pada anak kecil itu. Aku bahkan masih mengingat-ingat peran apa yang kusematkan untuk tangan si kekar itu di dalam ceritaku ketika aku mulai menggambarnya tempo hari.
Ragu-ragu kubuat si tangan kekar itu memamerkan makian dengan kaki yang sesekali menendang kesal anak kecil yang duduk meringkuk ketakutan di dekatnya. Ada kursi di sebelahnya. Di sisi meja bekas ia dengan kasar mengantukkan dagu anak kecil tadi, yang di atasnya terdapat sebungkus rokok yang sudah terbuka dan penyok di salah satu sisinya dan isinya tinggal beberapa batang. Kubuat ia duduk di sana, meraih sebatang rokok dari bungkusnya, menyulutnya dengan korek gas yang sudah lebih dulu kusiapkan di saku jaket belel yang dikenakannya. Kubuat si tangan kekar menghisap rokok yang tadi hingga pipi tirusnya terlihat begitu kempot. Kemudian mengembuskan kepulan asap rokok pertamanya ke arah langit-langit kamar tempat ia dan anak kecil itu berada.
ANAK kecil itu menatap mata si tangan kekar yang menyipit, mengamati dan mengikuti ke mana arah gulungan asap rokok pertamanya bergerak dan lenyap. Mata anak kecil itu ikut menyipit. Sebentar kemudian matanya membulat, lalu mengerjap-ngerjap, mengalihkan pandangannya ke arahku. Ia menyadari seuatu. Katanya, “Kenapa mata si tangan kekar itu sama pesis dengan mataku?”
Aku katakan, “Tentu saja. Dia ayahmu.” Padahal ide itu baru saja terlintas di kepalaku ketika ia melontar tanya barusan. Ya, biar bagaimanapun, antara anak dan ayah mesti ada kemiripan. Hanya itu alasan yang dapat kutemukan dalam kepalaku saat ini. 
“Anggap apa yang kulakukan tadi sebagai balasan terhadap ibumu.” Si tangan kekar mulai bicara lagi setelah beberapa kali menikmati hisapan rokoknya.
“Lagi pula, anak pelacur sepertimu memang pantas mendapatkannya.” Si tangan kekar mengatakannya dengan suara dingin. “Jangan salahkan aku. Salahkan ibumu yang memilih mempertahankan dan melahirkanmu, anak yang dihasilkannya setelah tidur dengan lelaki yang kemudian membawanya lari dan meninggalkanmu di sini bersamaku.”
Si tangan kekar meludah. Mendengus. Ia mencium aroma pesing mengambang di udara. “Malang benar nasibmu,” oloknya begitu dirasanya ujung jempol kakinya menghangat karena menyentuh cairan yang perlahan mengalir ke arahnya, lalu mencari tahu asalnya, dan mendapati celana merah anak kecil itu basah. Sementara anak kecil yang meringkuk ketakutan di dekatnya masih memandangku dengan tatapan kasar dan bibir gemetar. Ia  meminta pertanggungjawabanku.
Baiklah, akan ak jelaskan. Kubuat ia menerti bahwa ibunya memanglah seorang pelacur. Kubuat ia mengerti bawa ibunya memang sengaja mempertahankan dan melahrkannya sebelum akhirnya ia ari bersama lelaki yang elah tidur dengannya, dan meninggalkannya bersama si tangan kekar. dan kubua ia mengerti bawa ibunya sengaja melakukan semua itu untuk membalas dendam. Melunaskan rasa sakit hatinya terhadap lelaki yang telah membuatnya terpaksa menjadi pelacur. lelaki yang kini berada di dekatnya, yang membuat sepasang matanya lebam, yang sesaat tadi menjenggut rambut ikalnya, membuatdagunya terantuk meja hingga ia mesti meringkuk ketakutan dengan celana basah, dengan rasa ngilu dan sakit di sekujur tubuhnya tanpa bisa menangis, tanpa bisa menjerit untuk melampiaskan kesakitannya.
“Berarti lelaki yang sedang merokok itu bukan ayahku?”
Aku menggeleng. 
“Lalu mengapa tadi kau bilang kalau dia ayahku?”
Aku tersenyum. “Secara biologis dia memang bukan ayahmu, tapi dia suami ibumu.”
“Lantas kenapa kau buat matanya menyerupai mataku?” Kali ini anak kecil itu menggeram.  Ia sepertinya ingin sekali menelanku. Aku katakan, bukan aku yang membuat mata si tangan kekar itu serupa dengan matanya. Rupanya ia lupa kalau di awal ketika aku menggambarnya, aku membuatkan sepasang mata yang jelas berbeda dengan mata si tangan kekar yang sekarang duduk dengan bahu melengkung ke depan dan tangan yang tenggelam di dada seperti tengah menahan sakit, tapi kemudian ia tak terima. Ia memprotesnya, lalu menghapus garis mata yang susah payah kubuat itu dan menggantinya dengan garis mata yang lebih runcing dan melengkung di ujungnya. Persis mata si tangan kekar yang barusan menyiksanya, yang kini terisak, entah karena apa. Mungkin seperti biasanya, ia menyesali perbuatannya terhadap anak kecil itu.
Si tangan kekar memang selalu begitu. Dengan gampang menyiksa anak kecil yang berada di dekatnya itu tiap kali teringat istri dan lelaki yang membawanya lari, kemudian menyesalinya, mengobati luka-luka yang dibuatnya, dan meminta maaf. Kemudian mengulanginya lagi di lain kesempatan.
Tapi, dari mana si tangan kekar mendapatkan tangis terisaknya?
Lekas kuperiksa kembali botol-botol berlabel macam-macam tangis yang kusimpan dalam lemari kaca kedap suara itu. Kosong. Setelahnya, aku baru sadar, aku telah kehilangan cerita bergambar yang tengah kuselesaikan. Aku berusaha mencarinya di laci lemari kedap udara, di kolong ranjang, di dapur, di kursi tamu, di dalam sepatu-sepatu, di kantong-kantong celana, di sudut-sudut gudang, di botol-botol berlabel macam-macam tangisan dan jeritan, bahkan di saku jaket belel tempat aku menyimpan korek gas yang digunakan si tangan kekar untuk menyulut rokoknya, tak juga kutemukan.
Yang belum kulakukan adalah mencarinya di sepasang mata berbingkai tajam penuh lebam milik anak kecil itu. Tapi, begitu aku hendak mencarinya di sana, yang kudapati hanyalah anak kecil tanpa mata dengan celana merahnya yang basah dan kemeja putihnya yang penuh keringat. Ia menyeringai ke arahku, lalu menghapusku. “Aku ingin penulis cerita bergambar yang lebih pandai,” katanya. 
Poetry Ann giat di Rumah Dunia di Serang, Banten. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Poetry Ann
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran tempo” Minggu 27 September 2015