Frangipani

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina

“Mau ajari aku memotret?” tanya seorang perempuan di belakangku, saat aku sedang membungkuk, memotret kupu-kupu bersayap ungu yang hinggap di bunga soka.
Saat itu, langit biru dan matahari pagi bersinar cerah. Aku sedang berburu foto di sebuah taman yang besar. Kutegakkan tubuhku dan berbalik badan melihat siapa pemilik suara itu. Ternyata seorang perempuan muda. Kukira seusia anak perempuanku yang kini duduk di bangku kelas sebelas. Bergaun terusan selutut warna putih tanpa lengan. 
Kerah renda-renda melingkari lehernya yang jenjang. Bersepatu kets abu-abu. Berkulit kuning langsat. Bulu-bulu di sekujur lengannya berkilat-kilat keemasan tertimpa cahaya matahari. Rambutnya panjang agak bergelombang. Tangan kanannya menenteng sebuah kamera merek terkenal tipe terbaru. Anak orang kaya, pikirku. 
“Hmmm…. boleh,” jawabku. “Kamu mau motret apa?” tanyaku kemudian.
“Apa saja.”
“Tadi sudah memotret apa?”
“Ini,” jawabnya, sambil menunjukkan bagian belakang kamera yang terdapat layar untuk melihat hasil foto. Lalu jemarinya memencet tombol untuk memutar gambar. Kulihat di sana dia sudah memotret beberapa pemandangan taman besar ini. Bangku, lampu, batu-batu, dan sebuah jembatan melintang di sungai yang melintasi taman.
Suasana taman ini sepi. Maklum, ini hari kerja, tak banyak yang mengunjunginya. Tapi, kalau hari Minggu atau libur, tak ada bangku taman yang tersisa untuk tempat bersantai. Bahkan, di lapangan rumput yang luas pun bertebaran orang menggelar tikar, anak-anak bermain bola, bermain gelembung sabun dan kegiatan lainnya.  Di jalanan aspal pun banyak orang berlalu-lalang. Berombongan. 
Kami mendapatkan sebuah bangku taman terbuat dari besi tempa yang sandaran tangannya dibentuk seperti sulur-suluran meliuk-liuk. Sebuah bangku taman di bawah pohon callistemon yang rindang. Berdua kami duduk di sana.
“Namamu siapa ?” tanyaku.
“Frangipani.”
“Hmmm… nama yang cantik.”
Gadis itu tersenyum. Matanya yang bulat berbinar-binar.
“Aku memanggilmu apa ya?”
“Anggi saja.”
“Oh, oke. Baiklah. Coba lihat sini kameramu. Apa saja yang sudah kamu dapat.”
Kami pun lalu terlibat diskusi. Beberapa hasil karyanya di kamera kukomentari. Ada yang sudah baik dan ada pula yang menurutku perlu diperbaiki lagi. Baik secara teknis kamera maupun keindahan gambarnya. Menurutku Anggi punya bakat. Tinggal mengembangkannya saja. 
“Tadi motret apa, sih?”
“Ini, kupu-kupu.”
“Motret ini hobi aja atau pekerjaan?”
“Hobi sekaligus pekerjaan.”
“Wah, enak, ya.”
Selanjutnya kami pun berbicang-bincang hal yang lain. Kuketahui kemudian gadis ini ternyata sedang kuliah tingkat akhir. Berumah tak jauh dari taman ini. Dia menyebut namanya, sebuah kompleks perumahan orang berada. Dia baru saja menjalani hobi barunya yakni fotografi.
“Pernah motret bunga, enggak?”
“Pernah. Kenapa?”
“Frangipani?”
“Ha…ha…ha… itu namamu.”
“Ya. Bunga frangipani.”
“Ya. Pernah. Bunga yang indah.”
“Orang banyak menyebutnya bunga kemboja. Orang menghubungkannya dengan pohon bunga yang ada di kuburan. Kuburan-kuburan lama memang banyak bunga kemboja putih. Nama latinnya Plumeria alba. 
Frangipani juga banyak jenisnya. Dari yang berbunga kuning, merah muda, hingga merah tua. Kemboja yang dulu suka ditanam di kuburan berbunga putih saja dan putih dengan sedikit  warna kuning di pangkalnya. Tapi, kuburan sekarang pun ditanami frangipani warna-warni karena sudah beranggapan bahwa itu juga bunga kuburan.”
Aku terkesiap. Aku kagum akan pengetahuannuya. “Kamu tahu betul, ya, soal bunga itu?” tanyaku.
“Karena Ayah dan Ibu menamaiku   Frangipani, aku jadi penasaran. Itu nama apa. Lalu aku cari-cari informasinya di internet. Jadilah aku tahu banyak tentang bunga itu.”
“Eh, rumahmu dekat sini, berarti kamu sering ke taman ini, ya?”
“Pastinya. Apalagi setelah punya kamera ini. Gimana hasil fotoku?”
“Keren. Kamu punya bakat memotret.”
“Taman ini indah. Aku senang tinggal di sini. Eh, maksudku jalan-jalan ke sini. Apalagi pas sepi begini. Aku percaya, banyak orang terinspirasi oleh keberadaan taman ini. Taman ini seperti oase, pasti banyak orang yang butuh keteduhan yang diberikan oleh taman ini. Sangat mengurangi polusi kota yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor. Oya, Anda kelihatannya sudah berkeluarga, ya?”
Aku tersenyum. Pagi-pagi aku mendapat kuliah lingkungan hidup. Anggi begitu pintar menceramahiku tentang manfaat taman besar ini. Tapi dia benar. 
“Ya, aku sudah berkeluarga dan punya seorang anak perempuan.” 
“O… siapa namanya?”
“Sonia. Dia kelas satu.”
“Sonia. Pasti cantik, ya.”
“Begitulah.”
“Sekolah di mana?”
“Di Jakarta. Ikut  mamanya.”
“Lho… kok?”
“Hmmm…. aku sedang…,” aku terdiam dan kemudian berpikir, apakah kuceritakan kisah keluargaku sesungguhnya kepada gadis yang baru kukenal ini? Tentang proses perceraian yang sedang kuhadapi. Ah, aku bukan laki-laki cengeng yang dengan mudah mencurahkan isi hati ke sembarang orang. “Hmmm …..yaaa, dia ikut ibunya saja. Kebetulan aku sedang bekerja di kota ini. Seminggu sekali, atau dua minggu sekali aku pulang.”
“Oo… begitu. Anak perempuan harus dijaga, lho. Biar enggak kenapa-kenapa. Aku sok tahu, ya?”
Ya, sok tahu dan ceriwis, jawabku dalam hati. Tapi, aku tersenyum saja.
“Eh, soal bunga frangipani itu aku jadi ingin memotretnya.”
“Oo… oke.” 
“Bunga itu ada di sudut taman sebelah barat.”
“Iya. Mau ke sana?”
“Boleh.”
Sekitar lima ratus meter di sisi barat dari tempat kami duduk ini sekelompok pohon frangipani sengaja ditanam sebagai salah satu kelompok koleksi taman. Pohon-pohon itu sudah berbatang tua sehingga membentuk tekstur yang unik. Pada musim kemarau pohon-pohon itu secara bersamaan merontokkan daunnya. Batang dan rantingnya yang menjulang ke langit membentuk siluet yang dramatis. Ada musim yang unik ketika mereka tanpa dedaunan tapi berbunga dengan lebat. Mereka memunculkannya dengan serentak sehingga kelompok pepohonan itu menjadi berhias warna-warni bunga. 
Kami pun sampai di rimbunan pepohonan frangipani. Pepohonan itu sedang berdaun lebat dan berbunga di sana-sini. Di sudut taman besar ini hampir selalu sepi. Mungkin karena banyak orang mengidentikkannya dengan bunga kuburan. Jadi, pengunjung taman takut ke sini.
Lalu gadis itu mulai membidikkan lensa kameranya. Begitu juga aku. Aku mulai memasuki rimbunan pepohonan yang membentuk hutan kecil itu. Sesaat kemudian kulirik Anggi sudah tak ada di dekatku. Kupikir dia telah menjauh. Memburu foto-foto terbaiknya.
Sekitar lima belas menit memotret, aku berhenti dan mencari Anggi. Tapi, aku tak menemukan tanda-tanda keberadaan gadis itu. Kucoba mengitari bagian dalam di antara pepohonan. Menyusup di sela-sela batang-batang besar. Masih juga tak kulihat dia. 
“Gi… Anggi… Gi…,” kataku, setengah berteriak. Namun, tak ada jawaban. Hanya ada suara desau angin meniup pohon-pohon cemara yang tak jauh dari tempat itu. 
Tiba-tiba terdengar suara ranting patah. Atau seperti suara ranting yang terinjak dari arah belakangku. Kubalikkan badan. 
“Gi… kamu di mana?!” tanyaku kembali, setengah berteriak.
Juga tak ada jawaban. Sepi. Seolah tidak ada kegiatan manusia sejak tadi pagi.
Lalu kuputuskan keluar dari rimbunan pepohonan ini. Siapa tahu gadis itu sudah menungguku di luar. Tapi, di luar pun aku tak menjumpai siapa pun. Aku berjalan mundur menjauh dari hutan frangipani itu. 
“Gi… Anggi, kamu di mana?!” teriakku. 
Sekali lagi, hanya berjawab sepi dan suara deru angin di jajaran pohon cemara yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Aku bertolak pinggang. Sempat ada perasaan khawatir akan keselamatan gadis itu. Aku khawatir dia terjatuh, digigit ular atau binatang berbisa lainnya. Tapi, entah kenapa, ada dorongan kuat untuk meninggalkan tempat itu. Meninggalkan gadis misterius itu.(f)
Rujukan:
[1] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”