Gadis Itu Tak Suka Hari Minggu

Karya . Dikliping tanggal 12 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Setiap Minggu, Ana tak punya harapan apa pun di sudut kamar sempit itu. Melalui kaca jendela kotak-kotak, gadis kecil itu melihat teman-temannya asyik berlarian di tanah lapang seberang rumah.

Ada pula seorang teman sekelas ditemani sang ibu yang membawa semangkuk sup dan nasi. Sang ibu menyuapi anak itu. Tak ada yang menarik, sehingga Ana tak beranjak. Dia tetap menekuri buku Pinokio.

Teriakan dan gelak tawa dari tanah lapang terdengar cukup jelas, tetapi gadis kecil berumur sepuluh tahun itu bergeming. Sikap Ana membuat Ayah dan Ibu bersyukur.

Mereka bisa menyelesaikan pembuatan kue pesanan yang membeludak pada akhir pekan. Di dapur, Ibu sibuk mencampur bahan kue untuk kali ketiga. Adonan pertama saat subuh.

Sementara itu, Ayah membungkus kue-kue dengan plastik, lalu menata dalam kardus. Jadi pukul 09.30 kue siap Ibu bawa. “Ana sudah sarapan belum, Bu?” tanya Ayah seraya membungkusi kue.

“Ayah belum sarapan, dia sudah.” Pengaduk adonan kembali berdengung ketika Ibu melihat jam dinding. Pukul 08.00. “Kalau sudah selesai, taruh keranjang, Yah. Kue ini biar kuantar sore. Pengajian di Haji Bambang kan malam.”

Ayah mengiyakan. Usai memasukkan kue dalam plastik, ia segera membawa ke teras dan menata dalam keranjang di bagian depan sepeda jengki.

Dari dalam kamar, Ana melihat Ayah hatihati menata satu per satu kue lapis dan pia buah dalam keranjang. Ana menutup buku Pinokio yang telah puluhan kali dia baca.

Dia melihat beberapa kawan masih bermain di tanah lapang depan rumah. Bola mata bening Ana menatap lurus ke teras. Setiap Minggu, hanya pemandangan itulah yang ia sukai: Ayah menata kue pesanan.

Ana tersenyum lebar ketika Ayah menatap dari jauh, lalu mendekat, dan dari balik jendela tangan kurusnya mengetuk-ngetuk kaca jendela. “Cepat mandi. Kita harus siap-siap,” suara Ayah terdengar jenaka di telinga Ana.

Ana tertawa saat wajah Ayah menempel ke kaca jendela; wajah peot-peot. Ayah kembali menyuruh dia mandi. Suaranya tidak jelas. Namun itu justru membuat Ana tertawa.

“Ana, mandi!” teriak Ibu dari ruang tengah. Beberapa kali teriak, tak terdengaar sahutan. Ibu pun menyibak tirai kamar Ana. “Pakai gamis bunga-bunga ya, biar kembar dengan Ibu.” Ana mengangguk.

Ia berlari kecil ke kamar mandi. Di kamar mandi, ia bertanya-tanya: apa yang menarik pada hari Minggu? Mengapa hari Sabtu teman-teman selalu riang gembira dan berkata senang karena esok hari Minggu?

Di kamar mandi, setiap Minggu pagi, Ana selalu bertanya-tanya: apa yang menyenangkan pada hari Minggu, selain melihat Ayah menata kue di keranjang sepeda jengki di teras depan?

Ana selalu senang melihat Ayah menata kue. Ia sangat bangga memiliki Ayah, yang berbeda dari ayah teman-teman di sekolah.

Di kelas, ketika guru menugasi mereka bercerita tentang ayah, hampir semua teman bercerita tentang pekerjaan ayah mereka; polisi, tentara, dokter, pedagang, guru, dan pekerjaan yang menurut guru pekerjaan laki-laki umumnya.

Ketika maju ke depan kelas, Ana menceritakan rutinitas Ayah pada hari Minggu: membantu Ibu. Ayah tukang kebun. Setiap sore hari Ayah pulang, lalu menyirami bunga-bunga di depan rumah. Beberapa teman tertawa.

Namun tak sedikit pula yang meminta Ana membawakan beberapa bunga ketika guru menugasi setiap anak membawa pot bunga saat Jumat Bersih di sekolah. “Ana! Jangan lama-lama! Keburu siang!”

Ucapan Ibu segera mengembalikan Ana dari lamunan tentang hari Minggu. Dari luar terdengar langkah panjang-panjang Ibu.

Lantai tegel di rumah membuat langkah Ibu terdengar begitu keras, seperti langkah monster. Ana juga mendengar suara sandal karet terseretseret.

Itulah langkah Ayah. “Sabrina telepon, Bu!” ucap Ayah setelah dering telepon berbunyi. “Nanti saja!” teriak Ibu dari ruang tengah. Di kamar mandi dekat dapur, Ana mendengar telepon terus berdering, dan sesaat berhenti setelah Ayah bicara. “Halo, Bina.”

Telinga Ana menempel ke daun pintu. Ia ingin melompat dan mengambil telepon dari genggaman Ayah. Namun ia masih telanjang bulat dan belum segayung pun air membasahi tubuh. “Sehat. Bina sehat? Ini mau berangkat.

Bina nggak berangkat? Oh, ikut yang malam. Haha… tidak apaapa. Ayah biasa sendiri. Ineke kan jarang pulang. Lagipula dia nggak mungkin ikut Ayah.

Ibu ada, sedang siap-siap. Ana sedang mandi. Iya, nanti malam saja.

Oh, ya sudah. Kalau nanti malam Bina pergi, besok bisa telepon lagi.” Ucapan Ayah membuat Ana kehilangan gairah menyambar telepon untuk berbicara dengan kakak sulungnya.

“Ana, mandi kok lama sekali. Hampir setengah sepuluh lo!” ucap Ayah. Ana membasahi tubuh. Air dingin itu bagai penyejuk di Padang Sahara.

Namun kesejukan itu justru membuat pikiran Ana mengembara. Ia sebenarnya masih kesal karena Ayah tak mau mengulur pembicaraan dengan Sabrina.

Gadis Itu Tak Suka Hari MingguAndai Ayah atau Ibu mau berlama-lama bertelepon, pasti Ana mandi lebih cepat agar bisa mengambil alih telepon dari tangan mereka.

Sudah hampir dua bulan Ana tak pernah berhubungan dengan Sabrina. Hanya Sabrina yang bisa meluangkan waktu untuk adik bungsu itu.

Pada kakak kedua, Ineke, dia merasa tak begitu akrab. Bahkan saat di telepon, hanya sekian menit bisa berbicara.

Pagi itu, Ana ingin bercerita tentang mimpi semalam. Hanya Sabrina yang mau mendengarkan dan merespons cerita Ana, meski ceritanya sering tak masuk akal seperti kata Ibu.

“Ana, tak usah sering-sering baca buku. Mimpimu jadi buruk,” ucap Ibu.

Ana mengatakan mimpinya sangat menyenangkan; bertemu peri-peri cantik di pulau aneka cake. “Tak ada peri. Yang ada malaikat,” tandas Ibu.

Ana bersikukuh telah bertemu peri-peri cantik di pulau aneka cake. Ia lalu bercerita pada Ayah yang sedang membaca koran lawas.

“Ayah, peri ada atau tidak sih?”

“Ada. Ini peri Ayah,” ujar Ayah sambil mencolek hidung Ana. Tawa Ana pecah.

“Aku ingin ke pulau aneka cake.” “Ayah jangan menambah daftar imajinasi di kepala Ana deh,” ucap Ibu dari ruang tengah, sambil menyeterika baju.

Mendengar ucapan Ibu malam itu, Ana kesal. Sebab, kini, Ayah jadi jarang mendongeng atau mendengarkan dongeng Ana.

Sekarang, satusatunya yang mau mendengar cerita Ana adalah Sabrina. Namun dua bulan sudah sang kakak pergi ke Jawa Timur untuk bekerja di toko mainan anak-anak.

“Ajak bicara Ineke,” ucap Sabrina saat di stasiun kereta api satu jam sebelum kereta Semarang-Surabaya yang dia tumpangi berangkat.

Ana memanyunkan bibir. Sabrina tertawa. Gadis 27 tahun itu paham, Ineke tak mungkin mau mendengarkan cerita Ana yang terlalu imajinatif.

“Kak Ineke tak suka cerita,” jawab Ana bernada protes. Apalagi Ineke juga tak pernah pulang hari Minggu.

Padahal, Minggu pabrik mukena tempat Ineke bekerja selalu libur. Karena itu, Ana menyimpulkan: Ineke sama seperti dia, tak suka hari Minggu.

“Apa yang menyenangkan pada hari Minggu?” tanya Ana di stasiun tiga puluh menit sebelum kereta berangkat.

“Semua orang suka hari Minggu karena rata-rata libur,” sahut Sabrina. Jawaban klise itu tak memuaskan Ana.

Sore hari, ia pergi ke rumah Karin, sahabatnya.

“Kamu suka hari Minggu?” “Ya.” “Kenapa?” “Hari Minggu Ayah selalu pulang.”

Ana tak puas atas jawaban Karin. Ia mencari orang lain untuk bertanya; pustakawan di perpustakaan swadaya dekat rumah.

“Kak, kenapa semua orang suka hari Minggu?”

“Karena Minggu hari libur. Orang-orang bebas melakukan apa saja. Orang-orang sibuk pun meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga.

Kenapa? Ana suka hari Minggu?” Ana tak menjawab.

Pertanyaan itu justru masuk ke dalam hati, lalu berputar-putar dalam otak. Muncul dan keluarlah pertanyaan yang ia tak bisa dia jawab sampai hari ini.

“Kenapa aku tak suka hari Minggu?”

Pertanyaan itu Ana bawa sampai Minggu- Minggu berikutnya. Sampai Minggu ini, saat Ayah dan Ibu keluar kamar dengan pakaian rapi.

Ayah berhem putih terbaik dan celana katun. Ibu bergamis merah jambu bunga-bunga dan jilbab polos berwarna senada.

“Ayo, Ana!” ucap Ibu kesal.

Di dalam kamar, Ana duduk membelakangi pintu tertutup. Dia menangis diam-diam. Panggilan kedua Ibu membuat Ana segera memakai gamis dan jilbab.

Persis sang ibu. “Ayo, Ana!” ucap Ayah. Di teras, dua sepeda jengki terparkir.

Setiap Minggu, Ana dan kedua orang tuanya berangkat bersama-sama dengan keranjang kue selalu terisi. Sepeda berderit-derit saat keluar dari gang.

Tangan Ana menempel erat ke pinggang Ibu. Di belakang, Ayah mengayuh dengan santai. Minggu itu, Ana ingin duduk di boncengan Ayah. Namun pasti Ibu melarang.

“Pamit dulu pada Ayah,” ucap Ibu seratus meter dari persimpangan. Ana menurut. Ia menoleh dan melambai-lambaikan tangan pada Ayah.

Ayah melambai-lambai juga. Dari persimpangan itulah, Ana bersama Ibu berbelok ke kiri, menuju Masjid Agung. Ayah berbelok ke kanan, menuju gereja.

Minggu itu Ana menemu jawaban kenapa tak menyukai hari Minggu. Sepeda terus berderit-derit. Tubuh Ana bergoyang-goyang, tetapi dia tak lagi menengok ke belakang. (28)

Umi Rahayu, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes). Cerpennya termuat dalam antologi, antara lain Nasionalisme Kemen.


[1] Disalin dari karya Umi Rahayu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 11 November 2018