Gadis Kahyangan di Jalan Pematang

Karya . Dikliping tanggal 8 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
ORANG-ORANG miskin seperti kami, seringkali kehilangan kata-kata kalau sedang menjumpai keanehan. Atau hal yang sangat jarang ditemui. Seperti hari ini. Ya, datang tiba-tiba seorang gagis, kalau aku boleh menyebutnya gadis, menuju gubuk peristirahatan di pinggir sawah. Gadis yang sangat indah. Berjalan anggun di atas pematang.
“Kang, ndak beli jajanan saya, Kang?” tawarnya sambil menaruh rinjing atau wadah terbuat dari anyaman bambu itu di depan kami.
Sejak awal memang kami berperan sebagai orang miskin yang kehilangan kata-katanya jika menemui keanehan. Maka, saat itu pula kami hanya diam. Antara terkejut dan kagum. Mata terbelalak seperti anjing yang dikurung melihat juragannya memeluk kucing. Tubuh kaku seperti batu. Darah terkesiap dan jantung rasanya berhenti detak.
Gadis itu tersenyum lembut. Lembut sekali. Meluluhkan bumi langit dan seisinya. Giginya putih berseri, dan tak lupa ada gingsulnya. Alisnya tebal hitam pekat legam. Kau tentunya perlu tahu juga bentuk tubuhnya. Ohoi, seperti labirin. Sungguh berliku. Dua buah apel di dadanya.

Ah ini terlalu serius!

“Kang,” panggilnya sekali lagi.
Kami terperanjat.
“Mbak… Mbak jualan apa?” Kamid yang tidak terlalu miskin, artinya terkaya di antara kami, angkat bicara.
Gadis itu tersipu. Sekaligus rikuh mau berbuat apa. Yang jelas, aku sendiri menyayangkan pertanyaan bodoh itu. Bukankah jelas di dalam rinjingnya itu bakpia? Lalu di dalam termos itu es lilin rasa rujak.
“Bakpia, Kang.”
“O… bakpia.” Mulut Kamid komat-kamit. Matanya tak berkedip.
“Beli ya, Kang. Sebagai pelarisan. Ini dari tadi pagi cuma sedikit yang beli.” Gadis itu senyumnya getir. Ada apa? Sembari membungkus bakpia di dalam kresek hitam, ia menundukkan kepala. Rambut hitam panjangnya menjuntai-juntai. Kamid tanpa suara langsung menyodorkan uang dari sakunya. Entah berapa jumlahnya. Seakan-akan uang itu keluar tanpa disengaja. Ada yang tiba-tiba seperti ilusi. Menyekap kami semuanya. Sungguh diam seperti ini tidak diinginkan: diam tanpa kata. Dan memang diam identik dengan tanpa kata-kata. Diam yang membawa getar-getar di dada. Merindingkan bulu kuduk dan menggelapkan mata.
“Terima kasih, Kang. Kapan-kapan saya ke sini lagi.” Suaranya halus. Membuat kami cukup membalas hanya dengan anggukan kepala dan sedikit sunggingan kepala di bibir.
Tahu-tahu gadis itu hilang, seperti tertelan terangnya siang. Kami saling berpandangan. Dalam hatiku, ini jelas bukan biasa-biasanya seorang gadis.
“Aneh! Suaraku bergetar. Setelah ini tidak ada lagi pembicaraan.
***
SEJAK kehadiran gadis penjual bakpia kemarin, aku sering bermimpi bertemu dengannya. Kami saling berpandangan. Dalam semalam, ia datang di mimpiku lebih dari lima kali. Anehnya dengan warna baju yang berbeda-beda. Salah staunya memakai berwarna ungu.
“Kang Paimin,” panggilnya lirih.
“Dari mana kau tahu namaku?”
“Itu tidak penting dicari. Aku cuma ingin tanya, kenapa kamu begitu pendiam?”
“Menurut istriku, justru aku sangat cerewet.” Kau tak akan kuberi tahu kalau istriku telah tiada. Sebab tidak terlalu penting adanya. Kau tak kuberi selingkuhanku. Sebab itu bukan hakmu untuk tahu.
“Tidak, Kang. Kamu sungguh-sungguh pendiam. Bagaimana caraku merayu kalau kamu seperti itu?”
“Kamu siapa dan datang dari mana?” Tiba-tiba saja mulutku balik bertanya. Tapi, bukankah bertanya termasuk cara memperoleh pengetahuan?
“Panggil saja aku Pia, atau Mbak Pia,” katanya sembari memalingkan wajah. Sorot matanya lurus ke arah senja.
“Aku datang dari Negeri Senja, Datang dengan tanpa apa-apa kecuali kesedihan. Aku lahir dari rahim kehampaan. Dibesarkan sepi dibimbing kekosongan.”
Aku terkejut dan tak berselang lama jadi terharu. Gadis ini sungguh puitis kata-katanya. Atau mungkin saja ia belajar dari Sapardi? Kalau seperti ini aku jadi teringat kisah Elisa si gadis pendiam. Elisa yang malang menunggu kekasihnya tak datang-datang, Duduk di balik jendela sambil memandangi senja lama-lama. Sambil merangkai kata-kata penantian. 
“Kang,” panggilnya lagi.
Aku mengerlingkan mata. “Maukah kamu menemani aku kembali pulang?”
Sebenarnya jujur –di dalam hati– aku ingin sekali. Daripada hidup menduda sendirian di rumah. Sekaligus dalam lilitan kemiskinan. Belum lama aku berpikir, tiba-tiba tangan lembutnya menggandengku. Selendangnya ia rentangkan. Selendang ungu yang wangi itu seperti sayap. Terbang. Ia membawaku. Ia membawaku.
Dan tentu saja itu tidak terjadi. Karena hanya ada dalam dunia mimpi.
***
PADA suatu hari yang biasa. Ketika siang dengan mataharinya yang terik. Kami berkumpul kembali di gubuk setelah kepanasan kerja di sawah. Usut punya usut, kami bermimpi yang sama, atau paling tidak hampir sama. Janggal.
“Aku sudah berlatih bicara. Nanti kalau Mbak Pia datang, biar aku yang berbincang-bincang,” kata Muntar yang paling miskin di antara kami berapi-api. Seperti tidak menyadari kemiskinannya. Yang lain terdiam. Barangkali saja tengah merindukan, menantikan gadis itu.
Matahari kian membara di atas sana. Aku tak habis pikir. Kenapa ada seorang gadis yang nekat melewati gang kecil menuju persawahan. Gubuk ini pun nampaknya sudah tidak seperti tempat yang  bisa ditinggali. Dari kejauhan tampak atapnya yang terbuat dari jerami itu seperti tumpukan jerami saja yang hendak dijadikan pupuk. Dari mana ia tahu kalau di sini ada orang-orang yang sering beristirahat?
“Mbak Pia,” pekikku
Kali ini mulai bisa bicara pada situasi seperti ini. Ia datang tanpa keranjang, tapi di lehernya terkalung selendang. Senyumnya dari kejauhan sudah menggetarkan. Aku curiga itu bukan senyum biasa. Melainkan senyum yang menyimpan duka lara yang amat menggetirkan. 
“Keranjangku dirampok, aku ingin kembali ke kahyangan.”
Kami ternganga. Ia gadis benar-benar dari kahyangan. Dan aku menyadari mimpi tadi malam adalah kenyataan di dalam tidur.
“Kang Paimin, ayo temani aku kembali.” Aku salah tingkah. Kemudian terkejut memandangi semua teman-temanku tertidur pulas. Aku harus bersikap bagaimana.
“Kenapa aku? Kenapa harus aku?”
“Karena kau orang paling setia.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Itu tidak penting.”
Lagi-lagi ia bicara seperti itu. Lalu dengan cepat kemudian menggenggam tanganku. Ia kibarkan selendang warna ungu. Aku ikut terbang. Aku ikut terbang bersama gadis ayu. Kupandangi wajahnya, sungguh eksotis. Lama-lama sakit dileherku memandangi terus wajahnya.
***
“Min, Paimin.”
“Min, Paimin,” panggil mereka berkali-kali. Tak ada jawaban.
“Innalillahi wainna ilaihi raaji’un,” pekik salah satunya.
Tentu aku tak bisa membalasa apa-apa. Aku memandangi leherku tergantung selendang ungu yang ditalikan pada penyangga gubuk itu. Mataku berkaca-kaca membaca surat dari gadis kahyangan itu: orang munafik dan mata keranjang sepertimu, patut mati di tiang gantungan.

Gadis dari Kahyangan. Ia tersenyum sambil berjanji akan terus bergentayangan. (k)

[] Yogya, 28 Februari 2015

*Daruz Armedian: lahir di Tuban. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta, tinggal di Jalan Parangtritis Km 7,5 No 44 Cabeyan Sewon  Bantul Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 8 Maret 2015
Beri Nilai-Bintang!