Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian (Bagian 2 -Habis)

Karya . Dikliping tanggal 10 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

“EH KAMU masih ingat Om David?”

Suara nyaring sahabatnya itu seperti membuka bilik kenangannya yang lain. Mungkin sahabatnya itu pikir, dengan mengalihkan percakapan tentang ayahnya ke topik terkait Om David, bisa membuatnya hijrah dari masa lalu yang barusan merangkulnya begitu erat. Sayang sekali, sahabatnya itu keliru.

Tiba-tiba bilik ingatan yang lain membuka pintunya sendiri.

Ketika tahun baru saja bernama baru, di tengah malam yang mulai riuh, ayahnya membawanya ke rumah-rumah tetangga yang memegang jabatan sebagai pemuka adat atau pendeta. Mereka bersalaman. Mengucapkan selamat tahun baru sekaligus mengirimkan doa untuk kebaikan masing-masing. Seseorang yang ia panggil Om David sering memberinya dodol durian yang sangat manis kepada anak-anak di malam itu. Ia selalu tidak ingin melewatkannya!

Walau tidak selalu, Om David juga gemar bercerita. Dari pria bermarga Tomatala itulah ia tahu kalau lekewa diamanahkan kepada keluarga Tomatala untuk dijaga dan dipelihara.

Dari laki-laki berperawakan keras dan berambut keriting itu juga ia akhirnya tahu kalau Negeri Kamarian yang didominasi pemeluk Kristen memiliki pela yang sama dengan Negeri Sepa yang muslim di Ambon. Informasi dari Om David itu menjadi penting baginya, paling tidak, berhasil membuatnya berhenti mengagumi Ahmad, cowok satu kelas yang jadi perbincangan cewek-cewek satu SMA-nya kala itu, karena akhirnya ia tahu kalau Ahmad berasal dari Sepa. Belakangan ia juga baru sadar kalau teman-teman SMA-nya yang perempuan tidak pernah serius menyukai Ahmad. Tebakannya … tentu karena pela yang sama.

Di sini, adat dan budaya begitu digdaya di hadapan cinta …

“Fulani dicambuk di lekewa dan disaksikan keluarganya di Kamarian sini,” lapor ibu ketika meneleponnya dua tahun lalu. Ia sempat bungkam beberapa saat. Wine yang baru ia tenggak hampir ia muntahkan saking mendadaknya perasaan terperenyak itu mendorongnya. Ia tak menyangka, adat itu masih mencengkeram kuat pemikiran orang-orang Kamarian dan Sepa. Apakah bumi tak berputar di sana, batinnya.

“Bagaimana dengan pacarnya, Bu?” Ia tahu, ada emosi dalam pertanyaannya. Sebagai perempuan berpendidikan yang menjunjung keadilan, ia tidak terima kalau laki-laki Sepa itu tidak dihukum. “Ia juga menerima akibatnya.” Ia sedikit lega karena tidak menemukan intonasi menutup-nutupi sesuatu dari suara ibunya. “Tapi bukan di sini. Di negerinya. Ia bahkan dikembalikan ke Sepa,” tandas ibunya. Oh baru tahulah ia kalau hukuman itu menimpa dua orang pelajar SMA. Tiba-tiba ia merasa beruntung sekali karena dulu tidak menindaklanjuti kekagumannya pada Ahmad.

Selain kepemilikan lekewa oleh dua negeri, gadis 29 tahun itu juga baru tahu tidak ada panaspela di antara Sepa dan Kamarian ketika Om David memberi tahunya suatu hari. “Kita mulanya adalah anak kembarnya Nunusaku. Buat apa perayaan bagi saudara kembar?” Ia masih ingat bagaimana laki-laki berkulit gelap itu menerangkannya dengan kedua mata yang hampir keluar saking bersemangatnya. Nunusaku? Ah tempat tanpa alamat itu telah lama menumbuhkan kebanggaan dirinya sebagai seseorang yang lahir di Nusa Ina.

Ia juga pernah mendengar, saking terikatnya Sepa-Kamarian, pernah ada peristiwa menggemparkan di kampung halamannya. Seseorang dari Sepa yang kehausan setelah melakukan perjalanan jauh meminta kelapa muda kepada salah seorang penduduk Kamarian yang menanam pohon itu di muka rumahnya. Entah karena sedang ada masalah atau karena tabiatnya yang tidak baik dan … tentu saja karena ia tak tahu kalau si peminta berasal dari Sepa, warga Kamarian itu menolak memberikan kelapa mudanya. Tak berselang lama, semua kelapa di Kamarian menua dan jatuh dari pohonnya.

Kekuatan pela di Negeri Raja-Raja ini juga pernah diuji oleh sebuah peristiwa di zaman modern ini: kerusuhan yang melanda Maluku Tengah pada tahun 2008. Seorang guru berdarah Amalohy (Kamarian) sedang mengajar ketika Negeri Kilosatu itu diserang orangorang Sepa yang mengenakan kain penutup kepala berwarna merah menyala. Menyadari kekacauan yang lebih besar akan pecah, guru itu bukannya bersembunyi, melainkan berlari keluar kelas dan meneriakkan kata “Amalohy!” dengan lantang. Ia dengan kepercayaan yang tinggi pada kekuatan pela merasa perlu menunjukkan identitasnya. Menyadari kalau ada pela mereka di negeri yang mereka serang, orang-orang Sepa menghentikan penyerangan itu. Refleks mereka meneriakkan “Silalouw” yang menunjukkan kalau mereka memang berasal dari pela yang sama.

“Eh iya, apa kabar Om David?” Gadis 29 cengengesan dan mengggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tahu kalau respons yang ia berikan telat.

“Kemarin ia sedang membongkar atap lekewa. Baris pertamanya banyak yang lapuk.”

“Kenapa tidak meminta yang lain saja? Kasihan Om David sudah tua.”

“Lha memang siapa?” Sahabatnya itu bertanya cepat. “Apa kamu tidak tahu kalau atap dan tiang di baris pertama lekewa itu hanya bisa dibongkar oleh marga Tomatala, bukan marga yang lain! Kelamaan di Leiden, kamu lupa Kamarian!”

Perempuan itu diam saja. Ingin sekali ia menyela, “Memangnya tidak ada Tomatala yang lebih muda dari Om David?”, tapi urung. Ia khawatir itu malah memancing sahabatnya itu mengeluarkan semua perbendaharaan pengetahuannya tentang adat negeri. Ia tidak ingin terlihat bodoh terlalu sering.

Yang ia tahu, lekewa dibangun dari kayu gupasa, tanpa cat, tanpa paku, tanpa lampu. Ia juga ingat hikayat pohon gupasa di depan lekewa yang diceritakan Om David saat ia masih kecil. Kalau ranting besar gupasa itu patah dan jatuh, alamatnya akan ada orang dewasa Kamarian yang akan meninggal dalam waktu dekat. Apabila yang patah dan jatuh itu ranting yang kecil, seorang anak kecil Kamarian harus bersiap-siap dijemput-Nya tak lama lagi.

Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian

“Kamu ingat hikayat pohon gupasa yang tumbuh di depan lekewa?” Kali ini giliran perempuan 29 tahun itu bersiap-siap memamerkan pengetahuannya.

Sahabatnya itu tertawa kecil sebelum menyilakan ia membentang hikayat.

“Pohon gupasa di depan lekewa mulanya adalah sebatang tombak milik panglima perang Amalohy. Mulanya ada beberapa tombak panglima yang dibawa dua orang Sepa dan seorang Kamarian. Mereka diperintahkan panglima yang tinggal di gunung untuk mencari tempat tinggal dengan cara menandai tanah yang mereka pilih. Setelah menemukan dan menanam tombak, ketiga orang itu menghadap. Dengan bangga mereka melaporkan tugas yang baru saja ditunaikan. Panglima dan rombongan pun turun ke wilayah-wilayah yang dimaksud. Alangkah terkejutnya mereka ketika mendapati tombak-tombak yang ditanam prajurit dari Sepa berubah menjadi sebatang pohon mengku dan kemutu, sedangkan tombak yang dibawa prajurit dari Kamarian berubah menjadi pohon gupasa!”

Sahabatnya bertepuk tangan sertamerta. “Kamu masih gadis Kamarian, rupanya, ya?”

“Eh kamu sedang menyetir!” Gadis 29 tahun itu memberi peringatan.

Tawa mereka pun pecah. Gadis 29 tahun itu tertawa makin keras hingga berujung tangis yang tak terkendalikan.

Sahabatnya terus menyetir. Ia ingin bertanya dan meminta gadis 29 tahun itu berhenti tertawa, tapi tak jadi. Ia seperti baru sadar, apa saja yang mereka bicarakan barusan sudah menggiring gadis 29 tahun itu ke kubangan nostalgia yang sephia. Ia kini dapat membayangkan bagaimana perasaan calon doktor itu di ritual pergantian tahun besok malam ketika mendapati rumahnya tak lagi ramai sebab baparaja itu sudah tiada. Ia dan ibunya akan hanya berdoa di gereja sebelum kemudian berdiam di rumah menunggu lonceng dibunyikan Om David Tomatala (hari ini, tak ada lagi tifa!).

Ia mati-matian menahan dirinya untuk tidak bertanya, “Setelah putarkaki di rumah calon suamimu tanggal 4 Desember nanti kau akan menikah tak lama setelahnya. Kau akan menghabiskan waktu menemani ibumu di Kamarian atau kembali ke Leiden bersama suamimu?” (*/Habis)

Piru, April—Lubuklinggau, November 2018

Benny Arnas. Lahir, besar, dan berdikari di Lubuklinggau. Karya mutakhirnya adalah buku puisi Hujan Turun dari Bawah (Grasindo, Juli 2018).

Catatan:
1. Meski tidak persis sama, pengertian negeri di Maluku (termasuk di Pulau Seram) mirip dengan kampung atau desa. Negeri dapat saja memiliki wilayah sama dengan desa/kampung. Namun, juga ada negeri yang terdiri atas beberapa desa/kampung.

2. Penggunaan istilah baparaja untuk menunjukkan bahwa ia adalah pelaksana tugas sementara (Plt) raja untuk menunggu rancangan peraturan (daerah) tentang (pemilihan/pengangkatan) raja-raja di tiap negeri disah-keluarkan.

3. Tigatungku di Maluku mirip dengan tritunggal adat di Minangkabau. Kalau Kamarian menyebutnya tigatungku, Minangkabau menamainya agak lebih panjang: tigatungku sejarangan.

4. Pela adalah suatu sistem hubungan sosial yang dikenal dalam masyarakat Maluku, berupa suatu perjanjian hubungan antara satu negeri (sebutan untuk kampung atau desa) dengan negeri lainnya, yang biasanya berada di pulau lain dan kadang juga menganut agama lain di Maluku.

5. Untuk menjaga kelestarian pela, pada waktu-waktu tertentu diadakan upacara bersama yang disebut panaspela antara kedua negeri yang ber-pela. Upacara itu dilakukan dengan berkumpul selama satu minggu di salah satu negeri untuk merayakan hubungan dan kadang-kadang memperbaharui sumpahnya. Pada umumnya upacara atau gelaran panaspela diramaikan dengan pertunjukan menyanyi, dansa, dan tarian tradisional serta acara lain seperti makan patita/makan perdamaian.


[1] Disalin dari karya Benny Arnas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 9 Desember 2018