Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian (Bagian 1)

Karya . Dikliping tanggal 3 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

MESKIPUN gelar doktor dari Universiteit Leiden hampir berada dalam genggamannya, gadis 29 tahun itu tetap harus putarkaki!

Ketika kecil dulu ia sering melihat calon mempelai perempuan yang melaksanakan tradisi itu. Yang terakhir adalah kakak perempuannya yang hendak dipersunting laki-laki yang tak lain tak bukan adalah tetangga mereka sendiri yang saat itu sudah menjadi pengusaha sukses di Jakarta. Kakaknya meletakkan kaki di atas ketiga permukaan tungku, satu-satu, lamat-lamat, penuh khidmat Dapat ia rasakan kegugupan melingkupi diri calon mempelai perempuan itu. Ketika kakinya sampai pada akhir prosesi itu, meletakkan telapak kakinya di abu perapian yang sudah dingin, ketegangan itu seperti terbang menembus langit rumah. Telah sah ia diterima menjadi bagian dari keluarga.

Ia juga ingat, bagaimana kakak iparnya harus menjadi salwir di perhelatan-perhelatan adat. Awalnya ia tentu menyangsikan suami kakak perempuannya yang terpandang itu akan benar-benar diperlakukan sebagai “pelayan” bagi ayah dan kakak laki-kakinya yang hanya seorang pekebun atau nelayan. Tapi, ketika dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bagaimana laki-laki itu menuangkan sopi ke gelas-gelas kosong di tangan anggota keluarganya, ia menghela napas beberapa kali.

Oh, di Negeri Kamarian tercintaku ini, siapa pun, apa pun, dari mana pun, ketika masuk ke lingkungan adat, harus menjunjung bumi tempat ia berpijak, batinnya. Termasuk seorang pengusaha ternama yang menjadi salwir alias pelayan bagi ayah dan kakak-kakak iparnya yang lain karena status malamait, menantu laki-laki dalam adat Amalohy!

Rindu dan gugup kini beradu-dentam di dalam dadanya. Tiba-tiba segala hal beraroma Kamarian seperti berebut mengisi sebuah ruang dalam dirinya yang selama ini jarang ia buka: kenangan.

Pada pukul 5 petang tiap akhir tahun, dengan mengenakan pakaian longgar berwama hitam dan syal putih yang panjang, tigatungku berkumpul di kediamannya. Tigatungku adalah sebutan untuk aparat pemerintahan, pemuka masyarakat, dan pendeta, yang menjadi tritunggal dalam khazanah adat di Kamarian. Karena ayahnya adalah seorang baparaja, kepala negeri yang biasanya juga membawahi beberapa dusun, rumahnya ramai kalau ada acara-acara adat. Tak terkecuali di akhir tahun.

Ya, tritunggal itu datang ke rurnahnya tidak hanya diwakili satu dua orang untuk tiap-tiap tungku, tapi bisa puluhan orang. Maka, ia pun biasanya akan ikut repot mempersiapkan segala hal terkait keramaian. Membentang tikar pandan, memungut daun kasbi, mengiris jantung pisang, atau membasuh rebung patong. Kadang ia berandai-andai, lebih enak menjadi rombongan aparat pemerintah dan guru-guru atau para pemuka adat atau para pendeta. Mereka tinggal datang, ngobrol dan tertawa, lalu menyantap hidangan yang dipersiapkan ibunya dan para sanak kerabat perempuan lainnya.

Tapi, sebenarnya mereka tidak sekadar datang, ngobrol, dan makan sore. Mereka datang membawa nazar, semacam sumbangan yang dimasukkan ke dalam kotak kayu yang ia letakkan sejak siang harinya di dekat pintu masuk. Mereka menyebutnya petinazar. Lagi pula, mereka tidak serta-merta melahap hidangan. Mereka akan mendengarkan arahan dari petinggi tigatungku terlebih dahulu, mesklpun biasanya yang bicara hanya baparaja alias ayahnya. Atau kalaupun ada lagi yang memberi pengarahan, ia adalah pendeta. Pemuka adat seperti selalu yakin kalau suaranya sudah terwakili oleh kedua tungku ini.

Selesai makan, mereka lalu berdoa bersama. Gadis 29 tahun itu dulu sempat menganggap ini seperti sebuah lelucon. Bukankah seharusnya berdoa dulu baru makan. Namun, seiring waktu dan kerapnya menyaksikan keramaian saban akhir tahun itu, ia pun paham. Doa bersama itu diperuntukkan bagi keberkahan perjalanan mereka menuju gereja, sedangkan sebelum makan biasanya tiap orang berdoa masing-masing. “Nak, bukan hanya makan sore. Sebelum memetik lemon china di belakang rumah pun, kau juga harus berdoa,” ujar ibunya dengan mata selembut air telaga.

Setelah lima belas menit berjalan kaki dari rumahnya, mereka biasanya sudah tiba di gereja pukul 7 malam. Ibunya membawa petinazar seperti anggota paskibraka yang membawa bendera pusaka. Ibu, pikirnya, bertahun-tahun kau membawa petinazar ke gereja, takkah membosankan?

Di gereja, seperti biasa, mereka beribadah dan berdoa bersama. Sebelum jemaat pulang, baparaja kembali memberikan arahan. Biasanya lebih banyak terkait situasi dan keadaan negeri tercinta Di matanya, sang ayah menjelma orang paling berwibawa bila sudah menjadi pusat perhatian seperti itu. Ingin sekali ia berteriak, “Baparaja itu ayahku!”

***

Gadis Kamarian, oh Gadis KamarianTiba-tiba ponselnya berdering. Ibu. Lekas ia menekan tombol OK. Rindunya memuncak. “Iya, Ibu, beta baru tiba di Bandara Pattimura. Ini langsung ke Hunimual. Mungkin beta akan berangkat dengan feri pukul 10 pagi.f Sebagaimana dirinya yang tiba-tiba kaku memanggil diri sendiri dengan panggilan “beta”, ibunya juga tidak pernah dan tidak terbiasa bilang rindu, meskipun getaran suara perempuan itu menabuh-nabuh gendang telinganya. Perempuan 60 tahun itu pasti mati-matian menahan agar air asin tidak merembes dari ekor matanya, batin gadis 29 tahun itu. Oh, prasangkanya jadi bumerang. Buru-buru ia lap pipinya yang basah dan memerah.

Baru saja gadis 29 tahun itu memasukkan ponsel di saku jins selutut yang ia kenakan, seorang sahabat lama sudah menjemputnya. “Ayo! Katong harus cepat kalau mau dapat jadwal berangkat lebih awal teriak temannya.

Katong? Ah, lama sekali ia tidak mendengar kosakata Maluku yang berarti “Kita” itu. Sesekali ia mendengarnya kalau sedang bicara dengan ibu di telepon. Itu pun karena rutinitas penelitiannya dua tahun belakangan ini hanya bisa terjadi sebulan dua kali. Ya, penelitian doktoralnya membuat ia harus tinggal di rimba yang dipenuhi pohon ek tua di perbatasan Belgia-Luxemburg.

“Malam pergantian tahun besok, kamu ikut masuk rombongan mana? Tetap ke lekewar?” Baru saja mobil melaju, sahabat lamanya sudah melemparkan pertanyaan.

Oh ia baru ingat kini.

Setelah berdoa di gereja dan jemaat pulang, beberapa orang perwakilan tigatungku tadi akan membagi rombongan menjadi enam. la dan beberapa anak yang lain biasanya tidak mau tinggal di rumah meskipun mata ibu mereka sudah memelotot. Ibu mereka memang tidak mungkin marah atau berteriak di dalam gereja. Dan ayah mereka, selalu menjadi figur penyayang dengan membolehkan mereka ikut. Ya, ia selalu masuk rombongan ayahnya ke baileo atau balai adat. Ia selalu suka berada di baileo. Bahkan, orang-orang Kamarian memiliki sebutan tersendiri untuk baileo mereka: leketua.

Lima kelompok lain tentu tidak akan ke lekewa. Serombongan pendeta tetap berada di gereja. Sementara empat kelompok lainnya akan tersebar di empat penjuru negeri. Ia ingat, sahabat lamanya yang saat ini berada di balik kemudi, sebagaimana dirinya, selalu menolak diajak ayahnya yang pemuka adat untuk bergabung. Ia selalu memilih bergabung dengannya ke ketua.”Tengah-tengah malam ke hutan, buat apa?” ujarnya ketika ayahnya menanyakan alasannya masuk rombongan ke lekewa. Meskipun berada di tempat yang berbeda, kecuali para pendeta di gereja, lima kelompok itu akan melakukan pasawari alias melakukan ritual memohon kebaikan dan keberkahan untuk setahun ke depan kepada arwah nenek moyang.

Menjelang pukul 12, semua penduduk akan berkumpul lagi di gereja. Mereka datang bukan untuk beribadah, melainkan berdoa bersama. Doa syukur. Lalu pulang lagi. Berdoa di rumah masing-masing. Sebelum tifa ditabuh (dulu memang gereja di tempatnya belum punya lonceng), rumah-rumah dipeluk kesunyian.

Ia pernah mengeluh terkait ini. “Kenapa kita harus bolak-balik gereja dan berdoa lagi di rumah sepulangnya, Bu?” Dan seperti biasa, dengan ketenangan yang masyuk, ibunya menjawab, “Inilah yang membuat malam pergantian tahun ini menjadi istimewa, Nak. Kalau sama saja seperti biasa, adakah kau akan mengingat semuanya? Nanti kau akan rindu kalau sudah jauh.” Ia ingat, kata-kata itu diutarakan ibunya ketika ia sudah tamat SMA dan sedang menunggu hari untuk menyeberang ke Ambon demi mengejar gelar sarjana di Universitas Pattimura.

Ibunya benar. Kini, tiap mengingat itu, ia merindukan aroma kursi panjang gereja yang terbuat dari kayu kelapa dan rambut ibunya yang menguar bau matahari, merindukan bermain di mangge-mangge di tepi laut yang hari ini separo pohonnya terendam air laut karena abrasi, merindukan berlarian di sepanjang pantai (kakaknya akan menjewer telinganya lalu menyeretnya pulang karena menemukan ia dan teman-temannya bermain jauh dari rumah-hingga pantai Hutasua atau Seriwawan), merindukan nasi kuning yang dibuat ibu untuk sarapan, merindukan teriakan ayahnya di meja makan sebab ia lupa menyiapkan tempatgaram, colo-colo, dan rujak hutan sebagai teman ikan bakar. Merindukan rumah. Merindukan ibu. Ayah?

Ah, ayah sudah di surga.

***

“Oh aku tidak seharusnya membuatmu ingat pada almarhum ayah …” Ada nada penyesalan dari kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya itu, sebelum kemudian ia meraih tangan kanan gadis 29 tahun itu dan menggenggamnya sejenak seperti hendak menguatkan lalu kembali memegang kemudi.

Gadis 29 tahun itu menoleh dan tersenyum, ia ingin bilang”tidak apa-apa” tapi lidahnya kelu.

(bersambung)

Piru, April—Lubuklinggau, November 2018

Benny Arnas. Lahir, besar. dan berdikari di Lubuklinggau. Karya mutakhirnya adalah buku puisi Hujan Turun dari Bawah (Grasindo. Juli 2018) 

Catatan:
1. Meski tidak persis sama, pengertian negeri di Maluku (termasuk di Pulau Seram) mirip dengan kampung atau desa. Negeri dapat saja memiliki wilayah sama dengan desa/ kampung. Namun, juga ada negeri yang terditi atas beberapa desa/kampung.
2. Penggunaan istilah baparaja untuk menunjukkan bahwa ia adalah pelaksana tugas sementara (Plt) raja untuk menunggu rancangan peraturan (daerah) tentang (pemihan/pengangkatan) raja-raja di tiap negeri disah-keluarkan.
3. Tigatungku di Maluku mirip dengan tritunggal adat di Minangkabau. Kalau Kamarian menyebutnya tigatungku, Minangkabau menamainya agak lebih panjang: tigatungku sejarangan.
4. Pela adalah suatu sistem hubungan sosial yang dikenal dalam masyarakat Maluku, berupa suatu perjanjian hubungan antara satu negeti (sebutan untuk kampung atau desa) dengan negeri lainnya, yang biasanya berada di pulau lain dan kadang juga menganut agama lain di Maluku.
5. Untuk menjaga kelestatian pelo. pada waktu-waktu tertentu diadakan upacara bersama yang disebut panaspela antara kedua negeri yang ber-pela. Upacara itu dilakukan dengan betkumpul selama satu minggu di salah satu negeri untuk merayakan hubungan dan kadang-kadang memperbaharui sumpahnya. Pada umumnya upacara atau gelaran panaspela diramaikan dengan pertunjukan menyanyi, dansa, dan tarian tradisional serta acara lain seperti makan patita/makan perdamaian.


[1] Disalin dari karya Benny Arnas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 2 Desember 2018