Gadis Kecil Terbingkai Jendela – Tak Ada yang Istimewa – Tamu Tak Bermalu – Ujung Tunggu

Karya . Dikliping tanggal 28 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Gadis Kecil Terbingkai Jendela 

bersisian dengan rumpun asoka
yang bergoyang sejenak lalu diam
tirai yang terikat di dekat
jendela kamar yang terbuka
melambai sesaat lalu diam
terbingkai jendela, gadis kecil berdiri
poni di dahinya sebentar terangkat
lalu jatuh tanpa debam
di tengah dadanya, tersempil
liontin perak berbentuk telinga kancil
telinga logam yang luput mendengar
desir darah dalam tubuh mungil
saat menyaksikan angin sore menggerakkan 
segala hal di luar jendela, segala hal
yang baginya tak lagi sama:
semak asoka yang dulu rampak berbunga
kini memekarkan sejumlah rumpun saja
beberapa kuntum layu di bangku kayu:
dulu, singgasana ibu
tempatnya mati menenggak racun cemburu
sekarang, peraduan bapak
tempatnya memandang matahari pulang
sambil melingkarkan tangan di pinggang perempuan
yang dikawini sebelum nyawa istri meregang
segalanya, memang, tak akan pernah sama
tapi di mana gadis kecil itu meletakkan air mata
tak pernah berbeda: di tirai jendela
hanya tuhan yang tahu alasannya
2015

Tak Ada yang Istimewa 

tak ada yang istimewa, katanya
gigi anaknya tumbuh satu demi satu, rambut dia tanggal satu demi satu
ia ingin lebih dari itu
di koran, ada berita gadis terbunuh di kamar penginapan
di jalan, mungkin si pembunuh berkeliaran, mungkin nanti dia yang diselesaikan
katanya, tak ada yang istimewa
dia nyalakan televisi: ayam jantan mati dalam cengkraman elang
elang mampus diamuk sebutir peluru terbang
ia mau lebih dari itu
anaknya menangis dalam ayunan, tiba-tiba
dia pun ingin menangis tapi tak menemukan alasan
yang istimewa, katanya, tak ada
kaleng dan botol susu lompong, tumpukan piring kotor
sebaskom pakaian searoma film horor, gagal jadi teror
ia ingin lebih dari itu
angin menghembus selembar kalender yang termangu di dinding
meski ingat mesti membesuk suami di penjara ini hari, dia bergeming
tak ada yang istimewa, katanya
ia ingin lebih dari itu
2016

Tamu Tak Bermalu 

Meski selembut gerak asap rokok
Atau sekeras palu kuli bangunan menghancurkan tembok
Upaya mengusirnya serupa hasrat mengubah batang kelapa jadi tongkat musa
Tamu tak diundang dan tak bermalu ini akan pergi, hanya bila kita tak lagi berdenyut nadi.
2016

Ujung Tunggu

jam enam pagi, matahari seperti bayi. bayi kemerahan tanpa tangis
menggeliat di antara awan yang bergerombol bagai buih di lautan
berhalimun rindu, kami di rang tamu. ia terlentang di kursi panjang
aku duduk di sisi kiri tubuhnya, setengah telanjang.
jam enam lewat tiga puluh menit. matahari bak bayi bergigi satu
menyeringai, menampakkan gusi yang kastuba: merah luka
kami masih di ruang itu. pakaian dalam dan pakaian luar
terserak di lantai tebal debu. kuntum-kuntum anggrek plastik
rontok dari tangkai yang tertancap dalam vas di tepi meja kayu.
ia mendengkur. aku ke dapur
seekor cicak mengendus sebutir nasi yang tergeletak di meja makan
di lantai, empat kecoa mengangkat antena di atas mata
seperti empat orang berdiri sejajar, membentangkan tangan
menyambut kedatanganku di dapur dengan dengkul gemetar
tak ada yang dapat kumasak untuknya pagi itu. tak ada
di warung sayur, hutangku banyak. di tempat melacur, kelaminku koyak
di dapur, aku memegang pisau, memilih bagian tubuh yang paling layak 
untuk ditetak, untuk dimasak
“ibu!”
panggilan itu menggiringku kembali ke ruang tamu
ia berdiri, mematung di hadapan jendela berterali
mengalihkan tatapan ke arahku dengan mata
                   senyala matahari jam enam pagi
“bapak kembali,” kata-kata pecah di mulutnya
darahku emngalir dari liang telinga
kulihat yang tampak di luar jendela:
kau memasuki pagar, menuju pintu ruang tamu
aku tak tertarik membukakan pintu
semalas memikirkan dengan siapa, ke mana, atau bagaimana
kau lewati ratusan hari selama meninggalkan kami
seengan mendengar, kelak ketika ia lahir dan besar
manusia yang meringkuk dalam rahimku
akan memanggil anak lelaki kita bapak sekaligus kakak
jam berdentang tujuh kali di dinding
aku bergeming
pisau dalam genggaman
bertambah runcing
2015
Inggit Putria Marga, lahir dan menetap di Bandarlampung. Buku puisinya, Penyeret Babi (2010)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Inggit Putria Marga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” 27 & 28 Februari 2016