Gadis Pesisir

Karya . Dikliping tanggal 7 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina
Ia biarkan rambutnya tergerai. Lidah ombak menyentuh kakinya yang telanjang. Matahari pagi menyapu laut menimbulkan warna kuning keemasan. Berjalan di atas pasir putih yang ditumbuhi rindang cemara udang gadis itu menekuk wajahnya. Bendera yang  terpancang di atas perahu dikibarkan angin, meliuk-liuk seperti para penjual ikan di bibir laut. Gubuk-gubuk berdiri sepanjang pantai, tempat para nelayan berangkat atau sepulang melaut.
Memandangi laut. Gelisah gadis itu seperti hendak menenggelamkan wajahnya ke pasang laut. Angin bergerak pelan menebar amis ikan. Ia duduk di atas pasir putih. Menopang dagu. Sorot mata yang kosong menyisir laut. Hembusan napasnya terdengar berat. Digenggam pasir yang basah, dilemparkan dengan cara yang kasar pula ke palung laut.
Nur, begitu orang-orang menyebutnya. Gadis pesisir yang memiliki rambut hitam berjuntai di atas bahunya menemukan pencariannya pada laut, setelah gubuk tempat ia tinggal hanya mendulang derita. Ayahnya seorang nelayan. Legam hitam di wajahnya terpanggang matahari di laut. Laki-laki paruh baya tersebut selalu menampakkan perangai kasar. Murka kerap lekat pada raut mukanya yang kian menghitam.
Gadis itu menemukan ketenangan di bibir laut, sebagaimana ketenangan yang diberikan ibunya dulu sebelum perempuan tua itu meregang nyawa di malam yang sedikit bergerimis. Nur tidak menangisi kepergian ibunya. Tetapi dua bola matanya menyiratkan kehilangan. Jiwanya seperti ikut terbang bersama roh ibunya yang melayang ke langit.
“Jadilah anak yang baik. Patuhlah pada ayahmu,” pesan Ibunya menjelang wafat. Gumpalan air menguap dari sepasang matanya yang tenang.
Nur menggantikan posisi Ibunya, karena tak ada perempuan di rumah itu, kecuali dirinya seorang diri. Gadis itu kini berkutat dengan urusan dapur, mulai dari menanak nasi sampai menghidangkan secangkir kopi buat Ayahnya. Karena Ibunya sudah mewarisi pelajaran menanak dan semua hal yang berususan dengan dapur. Maka Nur lihai menggoreng ikan dengan cita rasa yang luar biasa.
Geliat gelombang menarik mata Nur untuk terus mengamatinya. Dari belakang terdengar keresak sandal yang melangkah kasar. Melewati rindang cemara udang. Ayah Nur gegas menyeret kakinya. Buru-buru Nur berdiri. Meradang wajah Ayahnya. Guratan di dahinya membentuk garis yang terombang-ambing. 
“Pulang! Tak baik anak gadis pagi-pagi berada di tepi laut,” tukas Ayahnya. Menunduk Nur. Hati-hati ia melangkah. Ayahnya berjalan di belakang. 
“Kau di rumah. Jangan kemana-mana. Ayah mau melaut,” laki-laki beruban itu mengenakan peci hitam. Sarung dililitkan di lehernya. Mengambil jaring yang tergantung di samping rumah. Tertegun Nur menyaksikan Ayahnya yang tengah berdiri di ambang pintu. Merapal mantra laki-laki itu. Berjalan dengan tingkah gagah mirip Sakera. Ia memanggul jaring, dan lekas kakinya bergerak.
Matahari menampakkan sinarnya melalui celah jendela. Dari jendela itu pula Nur sering merenung. Merenungkan cita-citanya yang kini entah tak tahu ujungnya. Nur paham bagaimana harus bersikap sebagai seorang anak perempuan yang harus membantu Ayahnya. Nur seperti tidak memiliki pilihan lain, kecuali mengurungkan niatnya belajar di perguruan tinggi. Ia harus menemani Ayahnya pada masa tua seperti ini.
“Kalau kau kuliah? Siapa yang bantu Ayah disini? Lagian tak perlu perempuan sekolah tinggi-tinggi. Sudah banyak sarjana menganggur. Disini kau lebih bermanfaat,” begitu Ayahnya selalu menukas kepada Nur setiap gadis pesisir itu mengutarakan niatnya.
“Buat apa sekolah? Perempuan itu tempatnya di dapur!” lanjut Ayahnya. Raut mukanya terlihat keruh. Nur menjatuhkan pandangan ke pangkuan bumi.
“Supaya Nur bisa meraih cita-cita. Supaya Nur bisa meraih impian yang selama ini aku impikan. Kalau aku hanya disini. Aku tak bakal jadi apa-apa. Aku hanya akan jadi gadis pesisir yang dungu,” jawab Nur. Tubuhnya bergetar. Dari sudut matanya jatuh buliran bening.
“Ilmu itu ada dimana-mana. Kau bisa belajar dari alam. Ayahmu ini tak pernah sekolah, tetapi Ayah tahu kapan waktu yang tepat untuk melaut, dan kapan ada bahaya di laut. Karena Ayahmu ini belajar pada alam. Ayah juga tak ada biaya. Bantu Ayah disini itu lebih bermanfaat!” telanjang dada Ayah Nur.  Suaranya nyaris keluar bersamaan dengan derai hujan yang luruh tiba-tiba.
Sedih hati Nur. Gadis pesisir itu mengerti betapa sebenarnya tak baik menuruti keinginannya sendiri, sementara sang Ayah tak kenal angin, tak kenal badai ia mengarungi laut, menerabas segala bahaya. Tujuannya cuma bertahan hidup bersama anak gadis yang dimilikinya. Bersamaan dengan air mata yang luruh Nur mengubur mimpinya. Bibirnya rekah, menakik senyum. Ayahnya membalas, menabur senyum, rapuh dan ragu-ragu.
“Masih ada jalan lain,” desis Nur sendirian sambil mengangsurkan sebilah kayu ke mulut tungku.  Dari balik jendela Nur melihat perahu-perahu mengarungi laut. Ayahnya berdiri di salah satu perahu itu. Gelombang bergoyang agak pelan. Nur melepas senyum tipis. Ditutup jendela yang terbuat dari kayu itu.
Nur menunggu Ayahnya. Membaca beberapa buku lapuk yang berderet di rak lemari. Ia menemukan dua judul buku Cara Mudah Membuat Ikan Kaleng, Melambungkan Harga Jual Ikan Laut. Dari dua judul buku tersebut Nur tertarik membaca keseluruhan buku-buku lapuk yang terlantar di rak lemarinya. Misalkan buku pertama yang mengupas bagaimana membuat ikan kaleng. Selama ini ikan-ikan hasil tangkapan Ayahnya dijual dibawah standart, tidak sesuai dengan jerih payah yang ia lakukan. Nur juga pernah menjumpai di sebuah toko makanan. Ia menemukan ikan yang dikemas ke dalam sebuah kaleng. Mata Nur tercengang begitu ia mengetahui harga sebuahnya setara dengan harga satu kilogram ikan mentah. Lebih tidak percaya lagi setelah ia tahu dalam satu kaleng berisi dua tiga potong ikan.
Buku kedua Melambungkan Harga Jual Ikan Laut memiliki pembahasan yang hampir sama. Dalam buku ini dijelaskan teori beserta tata cara bagaimana meningkatkan daya jual ikan laut. Kedua buku tersebut jika dipikirkan berkaitan satu sama lain. Keduanya berupaya meningkatkan perekonomian warga pesisir melalui mata pencaharian mereka. Nur berpikir alangkah lebih bermanfaat dirinya jika mampu mengangkat perekonomian orang-orang sekelilingnya.
Nur membolak-balik dua buku itu. Debu menempel di kedua buku lapuk itu, sampulnya sedikit buram dan beberapa bagian kertasnya mengelupas. Untung bagian-bagian penting yang ditulis si pengarang buku tersebut masih bisa dibaca dengan baik. Dua buku lapuk itu ditulis oleh pengarang yang sama bernama Madrusin, dan kalau dilihat biografinya ternyata penulis tersebut memang seorang lelaki yang dibesarkan di pesisir paling timur pulau Madura. 
Dan lagi, Nur berpikir jauh. Rambutnya yang tergerai ditiup angin dari utara. Laut membentuk gelombang, mendesis-desis menjilati pasir putih yang ditumbuhi rindang cemara udang. Ia berpikir keras, mendalam, menjangkau sesuatu yang rasa-rasanya hal ini tidak pernah dipikirkan oleh siapapun, kecuali oleh gadis pesisir ini. Nur memikirkan nasib para nelayan di desanya. Mereka bertarung habis-habisan. Tetapi harga ikan tangkapannya jika dibandingkan dengan ikan kaleng yang dijual di supermarket sangat tidak wajar.
Itulah mengapa Nur ingin merekalah yang membuat ikan kaleng dari ikan-ikan hasil tangkapannya sendiri. Bagi Nur ini akan lebih menguntungkan, setidaknya para nelayan tak lagi mengeluh soal harga. Nur bersikeras supaya mereka belajar cara membuat ikan kaleng. Sesekali matanya rebah di atas perahu. Tangannya masih menggenggam dua buku how to yang agak kocar-kacir kertasnya. Amis ikan diterbangkan angin, menebar aroma yang kurang sedap. 
Nur tersadar setelah Ayahnya datang membawa berekor ikan yang dijinjing di tangan kanannya.  Sementara tangan kirinya memegang jaring yang disanggulkan ke bahunya. Matahari berada tepat di atas kepala. Nur meletakkan kedua bukunya, kemudian menghampiri laki-laki berusia senja itu. Lelah wajah Ayahnya, matanya menyiratkan sesuatu yang sangat dalam, yang sulit diartikan oleh Nur sendiri.
“Kalau saja ikan-ikan ini kita kemas dengan menarik, harganya pasti jauh lebih mahal,” tukas Nur. Tangannya meletakkan ikan-ikan yang masih segar ke dalam keranjang. 
“Dikemas bagaimana?” Ayahnya baru menyandarkan tubuhnya. Ia melihat anak gadisnya setengah memicingkan matanya.
“Dikemas menjadi ikan kaleng, seperti yang ada di pasaran. Harga sekalengnya setara dengan harga satu kilogram ikan mentah yang kita jual. Padahal perkalengnya isinya hanya dua tiga ekor,” kata Nur. Dahi gadis itu berkerut, memikirkan cara menerapkan teori dari dua buku yang baru saja dibacanya. 
“Bagaimana kau menerapkannya?” tanya Ayahnya. Ia mencecap kopi buatan Nur. Laki-laki itu menyukai kopi hitam dengan sedikit gula, sehingga rasa kopinya tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit pula. 
“Ini juga sedang Nur pikirkan. Buku ini tidak begitu rinci menjelaskan teknik mengolahnya. Harus ada referensi lain, dan perlu banyak belajar lagi dari yang lain,” jawab Nur. Ia meniup-niup api dalam tungku supaya nyalanya membesar.
“Jadi kau harus kuliah begitu maksudmu?” suara Ayahnya yang sampai di telinga Nur terkesan tinggi nadanya.
“Nur tahu Ayah tidak bakal mengijinkan, dan Nur tahu juga itu karena kondisi ekonomi. Tapi Nur akan cari cara lain supaya bisa belajar dengan baik cara mengolah ikan kaleng. Nanti orang-orang disini akan kuajari caranya. Nur hanya tidak tega kalau harga ikan mereka di bawah standart,” Ayahnya tidak tahu kalau air mata sedang jatuh dari kelopak mata Nur. 
“Itu cita-cita mulia, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” kata Ayahnya. Ia berjalan masuk ke dalam kamar. Nur sendirian di dapur, bergumul dengan mulut tungku yang sedang menjulurkan api, melahap berbilah kayu yang diselipkannya.
Lidah api dari mulut tungku, menjilat-jilat seperti lidah mencecap bibir. Nur setengah jongkok di dekat tungku, menunggui ikan-ikan yang dimasaknya. Sesiang ini ia belum makan sama sekali, begitupun dengan Ayahnya. Terdengar ombak dari utara. Nur kini tak berharap lebih, kecuali tetap menjadi gadis pesisir yang bermimpi kelak bisa mengolah, dan membuat ikan kaleng sendiri bersama orang-orang pesisir. Dengan demikian, kata Nur tidak ada lagi keluh  para nelayan soal harga, karena dua tiga ekor bakal setara harganya dengan satu kilogram ikan mentah yang selama ini dijualnya.
Madura, April 2015
Zainul Muttaqin, lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Alumni Ponpes Annnuqayah Sumenep Madura.  Cerpen-cerpennya dimuat pelbagai media nasional dan lokal. Terkumpul dalam antologi bersama; Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013). Dari Jendela yang Terbuka (2013) Perempuan dan Bunga-bunga (2014). Tinggal di Madura. 
Rujukan:
[1] Dislain dari karya Zainul Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina” edisi 3-9 Oktober 2015