Gara-gara 1 April

Karya . Dikliping tanggal 5 April 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
HAL yang tak pernah Sasa duga sebelumnya, tentang Feri teman kelasnya. Cowok berbadan atletis, muka oval dan gaya rambut sidang pinggir sedikit klimis. Meskipun begitu, untuk urusan tembak menembak cewek, feri bisa dikategorikan cowok parah. Makanya diumurnya yang ke-25 itu Feri ingin status jomblonya berubah minimal pacaran.
Ini kedua kalinya Sasa ikut andil dalam masalah ini. Dengan sedikit keraguan dan melihat pengalaman tahun-tahun lalu, Sasa tetap membantu Feri dari membuatkan surat cinta, puisi, acara nge-date dengan calon ceweknya.
Awalnya, sesi perkenalan sangat mulus, pertemuan kedua, ke tiga, hingga keempat. Tapi berubah kacau saat Feri mengungkapkan isi hatinya.
“Na… Na…” ucap feri gugup seraya menatap mata Nana dalam-dalam.
Sasa yang mendengarkan di balik pepohonan hanya terdiam serius mendengarkan percakapan mereka.
“Ada apa, Fer?”
Itu… emmm… anu.”
Yang dirasakan Sasa sekarang adalah ingin keluar dari balik pohon dan menampar Feri yang sejak tadi a-i-u saja. Siapa yang tidak geregetan mendengarnya?
“Na, aku ingin ngo… ngomong se… sesuatu sama kamu…”
“Ngomong apa?”
“Aku… aku… kebelet pipis.” Feri meninggalkan Nana sendiri dan tidak kembali.
Sasa yang smebari tadi di balik pohon langsung lemes ngakak melihat kelakuan temannya itu. Tidak bisa terbayang reaksi Nana melihat Feri.
Kali ini Sasa tidak mau menjodohkan Feri. Cukup pengalaman tahun lalu dengan Nana. Sasa menyurh Feri mencari sendiri. Seharusnya untuk urusan surat cinta, puisi, kado, atau hal-hal yang disukai cewek sudah emnjadi urusan Feri. Tapi sikapnya yang kaku dan tidak romantis, Sasa takut Feri menjomblo lagi.
Sasa penasaran siapa cewek yang ditaksir Feri. Dia tidak pernah jalan sama cewek lain selain Sasam Zahro dan Dian.
“Ya Tuhan, jangan-jangan cewek itu Zahro? Kalau bukan Zahro siapa lagi? Dian? Dian sudah punya cowok nggak mungkin Feri merebut cewek orang. Aku? Oh tidak. Impossible. Aku kan yang membantu dia,” tebak Sasa.
Malam ini malam Minggu. Feri mengajak Sasa jalan bareng. Awalnya biasa saja, namun Sasa sedikit berharap cewek yang disukai Feri, dirinya. Namun Sasa menepis kembali harapan itu. Kemudian ia bersiap menemui Feri. Ia pikir Feri ingin konsultasi tentang ceweknya itu.
Sasa melihat penampilannya sangat norak. Bibir merah, eye shadow, blash on, terlalu menor seperti cabe-sabean yang sering nongkrong di pojok alun-alun kota.
***
DORRR!!!

“Kodok hilang, hush!! Eh? Sialan kamu Fer? Jahil banget jadi orang?” dengus Sasa kesal.
“Habisnya aku takut kamu kesambet. Sudah lama ya menunggunya?”
Sasa sedikit bengong melihat tampilan Farhan yang kece badai itu.
“Woi! Yang ngaku kembarannya Nabila Shakieb tapi KW 8, ditanya malah bengong.”
“Eh? Lumayan lama sampai kenyang melihat cabe-cabean  dari tadi. Ada apa sih kamu ngajak aku ke sini, berdua lagi. Nggak ada tempat lain apa minimal tuh di tempat warung bakso Andi.”
“Warung baksonya ditunda dulu ya. Aku pingin ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong apa?”
“Anu… eee… Sa….”
Sasa curiga kalau feri ingin mengutarakan  perasaannya padanya. Mendengar gaya bicaranya yang gugup sama seperti waktu dulu ia ingin menembak Nana.
“Apa sih? Ngomong yang jelas dong!” desak Sasa penasaran.
“Aku suka sama kamu, Sa.”
Hening tidak ada jawaban. Sasa masih mencerna kata-kata Feri barusan.
“Sa?” Feri mendesak Sasa.
Perasaan Sasa semakin tidak karuan, namun di sisi lain Sasa mendengar suara cekikikan di balik pohon dan Sasa mengenalnya.
“Kalian nggak usah ngumpet deh!”
“Tarantam!!! April mop Sasa, dan selamat ulang tahun.” Suara Dian, Zahro, Allan, Binto, dan Inah.
Ternyata hanya lelucon. Ini hari ulang tahun Sasa. Sasa lupa, dan sialnya lagi bertepatan dengan 1 April, tanggal yang paling dibencinya.
“Cie… mukanya langsung syok banget,” timpal Zahro.
“Maaf ya Sa, bercandanya keterlaluan, semua ini idenya Dian tuh.”
“Nggap papa kok, terimakasih ya kalian bikin aku nyesek. Terus cewek yang kamu suka itu siapa Fer?”
Oh itu? Kamu nggak perlu ambil pusing. Aku sudah dijodohi sama Bapakku.”
Hati Sasa remuk, nyesek, mengetahui semua ini lelucon dan Feri sudah dijodohkan. Feri benar-benar tidak naksir Sasa.
Risa Pramita, Jemur Sidomukti RT 01/01 Kebumen 54311
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risa Pramita
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 3 April 2016