Gatotkaca Gugur

Karya . Dikliping tanggal 4 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
LEBARAN tahun ini kampung kami punya pahlawan. Gatotkaca namanya. Sebagaimana gatotkaca di dunia pewayangan, Gatotkaca kami juga sakti mandraguna. Dia bisa terbang di awang-awang. Dia bisa menari di jalan-jalan. Awalnya orang kampung tak percaya. Tapi begitu Lik Supar, itu nama aslinya, menghancurkan batu Mani Gajah dengan sekali pukul barulah mereka percaya. Dan kepercayaan mereka makin bulat saat itu terbang dan memetik beberapa butir kelapa di kebun Mbok Tugirah.
Mereka baru saja memakamkannya siang tadi. Pahlawan dari Pringgondhani itu. Damailah di sisi-Nya, Lik. Tarikanlah Gatotkaca Gandrung di surga.

“Supar itu kualat. Sudah dibilang jangan main wayang di bulan puasa. Nekat!” Kata Mbah Wage.
“Kenapa gak dicegah, Mbah?” tanyaku. Sebenarnya aku sudah mendengar cerita Lik Supar dari banyak orang. Tapi Bayu memaksaku mendatangi rumah dalang tua itu.
“Telat. Dia masuk diam-diam mengambil pakaian Gatotkaca dari gudang. Dasar maling! Sekali maling ya maling!” Mbah Wage tampak gusar.
Aku dan Bayu hanya bisa saling pandang sambil menahan senyum. Kami tahu Mbah Wage bukan gusar karena Supar tidak mematuhi larangannya, melainkan gusar karena bukan dia yang jadi Gatotkaca. Kenapa Supar yang jadi pahlawan. Bukan dia? Kenapa Supar yang jadi buah bibir di kampung. Bukan dia? Mbah Wage terbatuk-batuk meski tenggorokannya baik-baik saja.
“Lho, memangnya Lik Supar mau manggung di mana to, Mbah? Bukannya kalau puasa spei tanggapan?” Bayu memancing-mancing lagi. Aku melirik ke wajahnya memberi isyarat supaya tidak melanjutkan percakapan.
“Nah, itu yang bikin kualatanya dobel-dobel!” Mbah Wage meradang. “Ndak ada tanggapan wayang! Sudah ndak ada lagi yang mau nanggap wayang. Puasa ndak puasa sama saja. Sepi!”
“Lha terus Lik Supar mau manggung di mana?” Bayu menyahhut dengan cepat tak mempedulikan kakinya yang kuinjak.
“Di perempatan jalan. Ngamen di Bangjo! Bener-bener ndak tahu diri anak itu. Bikin malu saja!”
Sebenarnya Lik Supar sudah sowan ke rumah Mbah Wage jauh hari sebelum kejadian nahas itu. Dengan baik-baik Lik Supar mengutarakan maksud dan tujuannya meminjam pakaian wayang Gatotkaca. Begitulah cerita yang kudengar dari para tetangga. Tapi Mbah Wage tak mengizinkannya sekalipun sudah bertahun-tahun seperangkat pakaian wayang itu nganggur dan mungkin telah berjamur di gudang. Sekalipun Lik Supar adalah kemenakannya sendiri dan sedang butuh uang.
“Itu pakaian tinggalan leluhur. Sudah ratusan tahun umurnya. Aku yang tanggung jawab menjaganya. Kalau sampai rusak bisa celaka kita semua.”
“Saya janji akan menjaganya, Mbah. Sudah ratusan kali saya menari tak pernah sekali pun saya merusak pakaian itu. Lagi pula ini buat sementara saja. Begitu duit sudah terkumpul saya akan beli kostum Gatotkaca sendiri. Saya akan pesan di kota. Banyak yang jual di sana.” Lik Supar mencoba membujuk Mbah Wage.
Ndak Par. Kualat kamu nanti. Pakaian wayang itu punya tempatnya sendiri. Punya dunianya sendiri. Mereka mesti dimainkan di tempat-tempat yang layak. Di pendapa. Di panggung. Bukan di jalan!”
“Iya Mbah, saya ngerti. Tapi ini kepepet. Kemarau panjang ndak abis-abis. Kalau saya ndak nari anak-istri saya mau makan apa? Apalagi bulan depan  sudah masuk puasa. Lalu Lebaran.”
“Ya sudah nari saja sana di jalan. Tapi jangan berani-beraninya kamu pakai pakaian wayang keramat itu. Sudah sana pulang. Sampai kapan pun aku ndak bakal emngizinkan.” Mbah Wage menutup percakapan. Lik Supar pun pulang.
DAN kejadian selanjutnya sudah diketahui semua orang. Lik Supar nekat mencongkel pintu gudang balai kampung di mana seperangkat pakaian wayang itu disimpan. Paginya ia, istrinya, dan dua anaknya yang masih kecil pergi emninggalkan kampung. Mengamen di jalan-jalan.
Para tetangga tak bis abegitu saja menyalahkan kenekatan Lik Supar mencuri pakaian wayang itu. Mereka tahu Lik Supar hanya ingin emminjamnya. Dan bila saatnya tiba ia akan mengembalikannya lagi. Beberapa orang tak peduli. Beberapa yang lain jatuh kasihan kepada Lik Supar begitu mendengar Mbah Wage tidak meluluskan permintaannya.
“Mbah Wage itu yang aneh. Ngerti Lik Supar butuh bantuan malah mbeguguk gak mau bantu. Malah marah-marah dan merendahkan Lik SUpar segala. Dulu aku setuju sama Mbah Wage ketika menolak usul Pakde Wiro yang pingin menjual pakaian-pakaian itu ke pasar loak. Meski gak pernah kepakai lagi. Meski kampung lagi butuh duit untuk bertahan dari kemarau panjang. Pakaian itu mesti kita jaga. Lha ini kan Lik Supar hanya pengen minjam sebentar. Buat nari pula.”
“Pakaian Gatotkaca itu sudah menyatu dengan tubuh Lik Supar. Puluhan kali aku melihat Lik Supar jadi Gatotkaca. Dia pasti akan menjaga pakaian itu baik-baik. Merawatnya dengan cermat.  Gak asal jatilI di jalan. Memang aneh rasanya kalau Mbah Wage tidak mengizinkan. Dulu kelompok wayang wong kampung kita ini kondang juga karena jogedan Lik Supar. Mbah Wage itu bisa apa? Suluk saja suaranya pelo. Dan dia selama ini yang paling diuntungkan kalau wayang wong kita pentas.”
Gerundelan semacam itu berlangsung di mana-mana malam itu. Malam di mana Mbah Wage meruntuhkan harapan Lik Supar. Tapi apa yang sesungguhnya terjadi aku tak pernah benar-benar tahu. Aku hanya mendengar kabar dari kejauhan. Dari kejauhan sebuah kabar kadang terdengar lebih besar dari yang seharusnya. Tapi yang terang Lik Supar dna keluarganya mengembara. Menari Gatotkaca di perempatan-perempatan jalan.
Dan masuk bulan puasa kejadian-kejadian aneh itu kudengar. Lik Supar katanya sesekali emnampakkan diri. Dan ia benar-benar menjadi Gatotkaca. Saktiu dan bisa terbang. Menolong para tetangga yang sedang kesusahan. Kampung mendadak geger.
KABAR Lik Supar menjelma Gatotkaca inilah yang memaksaku mudik lebih cepat dari biasanya. Seminggu sebelum Lebaran aku sudah sampai di rumah. Aku langsung mencari Bayu.
“Beneran, Yu?”
“Iya. Benar. Semua orang juga gak percaya awalnya. Lik Supar bisa terbang, Wan. Beneran terbang melayang-layang kayak elang. Badongnya memang tidak mengepak-ngepak seperti sayap burung. Tapi ia bisa terbang.”
“Kamu melihatnya sendiri?” Aku masih tak percaya. Bayu memang pintar membual sedari dulu.
“Kalau pas terbang memang aku belum lihat langsung dengan mataku. Tapi kalau dia selalu emmakai kostum Gatotkaca aku bisa pastikan. Aku sempat berpapasan di jalan.”
“Yah kalau cuma pakai kostum aku juga dulu sering lihat, Yu. Lihat Lik Supar menari gatotkaca Gandrung di atas panggung. Orang sekampung juga lihat!” Aku terus mencecarnya.
“Tapi beneran, Yu. Lik Supar bisa terbang. Dia metik kelapa banyak banget di kebun Mbok Tugirah. Mbok Tugirah sampai nangis nyembah-nyembah Lik Supar saking senengnya. Maklum setelah suaminya meninggal, Mbok Tugirah gak bisa bikin minyak lagi karena gak ada yang metik kelapa. Kalau gak percaya tanya Mbok Tugirah yuk!” Aku mengangguk.
Tapi Mbok Tugirah pun sebenarnya tak melihat si Gatotkaca terbang. Yang ia lihat hanyalah Lik Supar dengan pakaian Gatotkaca menenteng beberapa butir kelapa di muka pintu rumahnya. Dia terbang atau memanjat Mbok Tugirah tak tahu.
“Ya mesti terbang to, Le. Gatotkaca mosok manjat kayak kera. Lha badongnya itu buat apa kalau  bukan buat terbang.” Mbok Tugirah berusaha meyakinkanku. Ia lebih senang membayangkan Gatotkaca terbang daripada memanjat seperti monyet. “Anoman saja yang ndak punya badong bisa terbang kok!”
Aku emncibir ke Bayu dan mengajaknya segera berlalu.
“Dari dulu kan kamu tahu Lik Supar itu gak doyan pamer. Jadi meski bisa terbang pasti ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi.” Sepanjang jalan Bayu masih terus ngoceh mencari pembenaran.
“Sewaktu Lik Supar memukul batu Manis Gajah ada yang lihat?”
“Pakde Atmo yang lihat. Waktu itu kan Pakde Atmo lagi mau buat akik. Nah dia kesulitan mecah bongkahan batu itu. Datanglah Lik Supar Gatotkaca membantunya. Sekali pukul batu itu hancur.”
“Pakai tangan?”
“Pakai tangan dong. Kalau pakai palu tentu kabarnya gak bakal heboh. Batu mani gajah kan keras banget, Wan. Keras dan bertuah.”
“Halah sok tahu kamu. Mani gajah itu tingkat kekerasannya cuma 6,5 skala Mohs. Masih kalah jauh dibanding safir.”
“Tapi kan tetap batu, Wan. Keras. Buktinya bisa diasah jadi akik.”
“Iya. Mestinya tetap gak hancur kalau cuma dipukul pakai tangan sekali,” Meski tetap meragukan aku tetap mencoba menalarnya. “Berulangkali pun tak bakal hancur. Tapi benar itu manis gajah kan? Bukan gula batu?”
“Mani gajah, Wan. Asli. Mani gajah madu. Akiknya begitu jadi langsung laku. Pakde Atmo kaya mendadak. Lantai rumahnya langsung ditegel sebelum Lebaran.”
Lik Supar bisa terbang dan menghancurkan batu akik sejauh ini cuma dongengan. Setidaknya aku tak mendapatkan buktinya. Melulu cerita. Tapi sebagaimana Bayu, seluruh tetanggaku mempercayainya. Satu-satunya cara terakhir membuktikannya adalah dengan bertemu dengan Lik Supar. Tapi telah hampir seminggu aku di kampung, Lik Supar dan keluarganya belum muncul juga.
“Mereka belum pulang. Ngamennya jauh, Wan. Lik Supar tentu saja malu kalau ngamen di dekat-dekat sini. Takut ketemu dengan tetangga. Tapi lebaran pasti pulang.”
Kali ini Bayu benar. Lebaran hari kedua akhirnya Lik Supar pulang. Setelah menyalatkannya di masjid kami segera memakamkannya. Lik Supar mati tertabrak bus kota saat ia berusaha menyelamatkan anaknya yang tengah menyeberang jalan. Kata orang ia terbang melesat mendorong anaknya. Tapi arwah Kala Bendono telah mendorong bus itu melaju lebih cepat. Si Anak selamat. Gatotkaca gugur.
Yogyakarta, 2015


Catatan:
Gatotkaca Gandrung biasa ditarikan dalam resepsi perkawinan. Mengisahkan cinta Gatotkaca kepada Endang Pergiwa anak dari Arjuna dan Dwi Manuhara. Tarian ini melambangkan besarnya cinta mempelai lelaki. Pada akhir tarian Gatotkaca membopong Pergiwa dan membawanya terbang.
Kala Bendono adalah paman gatotkaca yang tanpa sengaja terbunuh di tangan Gatotkaca. Dalam perang Bharatayuda, arwah Kala Bendoro muncul kembali untuk menjemput kemenakan tercintanya. Ia mendorong senjata Kunta yang dilepaskan oleh Karna. Sebenarnya senjata itu tak akan sampai menembus perut ksatria dari Pringgondani tersebut, sebab Gatotkaca telah emnghindar sejauh mungkin. Ia bersembunyi di balik awan. Tapi karena daya dari Kala Bendono lah Kunto bisa melesat begitu jauh dan menembus perut Gatotkaca.
Gatotkaca Gugur merupakan salah satu episode yang emnarik dari Bharatayuda. Mengisahkan pengorbanan gatotkaca membela Pandawa. Tanpa pengorbanan Gatotkaca, Arjuna diyakini tak bakal mampu menghadapi Adipati Karna, senopati Kurawa. Gatotkaca etlah emmaksa Karna melepaskan senjata pamungkas yang hanya bisa sekali dilepas, yakni Kunta. Perang antara Karna dan Gatotkaca terjadi di malam menjelang pertarungan Karna dan Arjuna. Karena itulah maka lakon ini juga sering disebut sebagai Suluhan.
Rujukan:
[1] Disalin drai karya Gunawan Maryanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 2 Agustus 2015
Beri Nilai-Bintang!