Gerhana di Bumiku – Dalam Cahaya – Pelangi Senja

Karya . Dikliping tanggal 20 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Gerhana di Bumiku

kupandangi jejak mentari pagi
pada cahaya yang terkunci
rembulan tanpa seri
siang menjadi malam
di sini, di bumi kita semakin tua
oleh rupa noda dan dosa
gerhana menjelma
mengisyaratkan cinta
pada makna dan tanda
pada kuasa-Nya
Beranda Masjid At-Taqwa 
Air Putih | 9 Maret 2016

Gerhana di Bumiku (2)

malam memecah sunyi
sayap-sayap matahari dibelai sejuk mimpi
sekebat ingin yang menjalar ke puncak langit
serupa fajar berlari-lari di tepi gerigi pagi
berharap cerah hari meniti indah warna
pelangi
ketika siang ketika asa lentik menyapa
tak ada yang lebih seri selain menabur bakti
bercahaya paling sinar
pada balutan subur abdi
kita hanya jendela dalam
rupa-rupa diri
terbuka dan terkunci
pada janji
Bilik Puisi | 2016

Dalam Cahaya

aku bukan mentari yang menyinari hari-
harimu. tapi aku hanya bintang di penggalan
kisah malam syahdu. bertutur rindu tentang
cahaya yang kau suguh menjadi permata,
pada langit pada bumi
Bengkalis | Maret 2016

Pelangi Senja

senja memerah
mentari rebah menyalami
malam kelam
memasung hari†memasung
janji†dalam tragedi
muram wajah†pelangi
ingin kucurah amarah
pilu
seperti bulir rintik hujan
tiba-tiba deru
di kolam haruku
aku tertangkup jua
iba
cahayanya yang dulu†rekah
kini terlukis nyeri
perih di ujung hari
mengapit sunyi
sendiri
Rumah Sastra | April 2016

Marzuli Ridwan Al-Bantany, Lahir di Bantan Air, Bengkalis, pada 16 September 1977. Buku kumpulan puisi tuggal perdananya berjudul Menakar Cahaya (FAM Publishing, 2016). Selain itu, sejumlah antologi bersama, antara lain Di Bawah Pohon Willow (Penerbit Genom, 2016); Ayah, di Bahumu Aku Bersandar (FAM Publish- ing, 2016); Darah Juang (SSAN dan Penerbit Rumah Kita, 2016), dan lain-lain.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marzuli Ridwan Al-Bantany
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 20 November 2016