Gerimis Menulis – Zeralda

Karya . Dikliping tanggal 3 Desember 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Gerimis Menulis

Gerimis baru saja menulis di reranting (di jalan-jalan yang buram
tak berhuruf). Rambu-rambu hilang sebagai isyarat arah
kota masih basah. Jam berkelonengan di ujung musim

kau masih bersidekap, mengekalkan masa silam sebagai catatan
yang diam-diam disimpan dalam kenangan, yang kembali pada
kalimat yang menyisakan air mata. Ke manakah bayanganmu?

tak ada yang bisa dibaca. Tak ada cinta yang sisa di malam ini
ketika waktu menyergap dalam gelap, dan kita tergagap mencari diri.

Februari 2018.

Huruf yang Menjadi Isyarat

Sampai berapa huruf akan menjadi isyarat, kita telah sampai
Pada masa silam yang lupa kita tulis di dalam bayang
Bayang yang sembunyi di dalam cermin, berkabut dan kusut

Berapa abjad yang telah kita rekonstruksi menjadi sunyi
Dari mimpi dan kenangan yang buram, yang kita
Biarkan melayang, melesap ke atas ketinggian langit
‘Tak ada makna lagi. Huruf-huruf berdiam dalam tafakur.’

Februari 2018.

Sebuah Patung yang Duduk di Bangku

siapakah yang menyihir? Diam-diam kau menjadi sebuah patung batu
sendiri bermenung di antara guguran salju. Sebuah gerimis atau musim
dari yang berpulang pada laut, dan ombak yang menghampir tak bersuara

“Kaukah yang terbenam di antara lalu lalang orang yang gigil dan terisak mencari sesuatu yang hilang dari masa silam yang memanggil”

Matahari dari arah utara, dan angin yang membawa gumpalan awan
bertemu dalam garis horison, pada sebuah titik yang membiaskan cahaya
memencar di balik layar dan palka kapal yang tertunda bersandar di dermaga

Siapakah yang menyihir? Tubuhmu kaku, dingin dan serupa patung batu
diam di dalam cuaca yang berputar, seperti ada yang kehilangan rindu.

Vollendam, Desember 2017.

Zeralda

Apa yang terpikir dalam diam-mu? Selain senyap
Waktu pun diam-diam lindap
Ruang-ruang menyimpan suara yang menyelinap
Ketika kekekalan menjadi gelisah tertangkap

Udara berubah cepat, cuaca tergantung pucat
Cahaya menyala, suara-suara tak sampai
Di antara kursi, meja dan tempat tidur yang berat
Menahan kantuk dan tubuh yang letih sangsai

Di luar malam, seseorang membawa gerimis air mata
Kepada siapa ia akan membawa-mu di balik warna
Gelap yang tak tergambar apa-apa, kaukah yang lupa?

Akan sampai juga suara jejak langkah kita
Di tanah yang basah, di antara dedaunan dan reranting rebah
Menghampir jarak perjalanan menuju sunyi marwah.

Oktober 2016.

Narasi di Koran

tak ada lagi kalimat yang bening. Huruf-huruf dan kata mengalir
dari lidah yang membusuk dan anyir. Helai-helai masa silam tanggal
dari dinding headline yang pucat dan berdarah

selalu ada ledakan dan bom. Dalam pikiran yang terluka dan lupa
untuk menjaga sebuah peradaban dari tubuh senyawa air mata
kita tak lagi membicarakan rumah dan anak-anak yang kehilangan makna

pada jejak langkah bapak dan ibu yang berbagi suara dan rindu
tak ada lagi kalimat yang sampai. Orang-orang diam dan tak bicara

menjadi patung yang tegak dan berkedip-kedip.

Takdir Daun

mengapa daun-daun harus luruh? Dan kau masih setia menunggu
waktu mencatat gugurannya di musim yang telah dirindu

seseorang yang memetik waktu sebelum cuaca jadi senyap
dan basah di dinding kota di antara taman dan jalan cahaya

selembar daun yang koyak, urat syarafnya terbukakaukah yang membawa suara? Menjadi gaung di denyut tubuh

: siapa yang meluruhkan daun-daun sebelum kau terkesiap
dan gemetar menatap bayang-bayang memintas gelap.

Desember 2017.

Nubuat Kerinduan

“Kautulis aku di dedaunan sebagai
embun waktu yang bening bercahaya
Menetes di urat syaraf reranting
merasakan kesenyapan napas musim”

# Pertemuan kita adalah antara cahaya dan gelap
Dalam cahaya ada lorong
yang mengalirkan air mata

Dalam gelap ada ruang
yang tak pernah berakhir dalam arah

Mencari jejak yang tak berbagi langkah
dalam gelisah tubuh senyap

Kita ada di kedalaman diam, menggigil
dan napas terus berzikir memanggil

#
Kita tak menghitung jarak, seberapa jauh denyut dan jantung
seberapa dekat napas dan embus

Kita membaca kata, seberapa dalam makna yang tertulis
antara kalimat dan suara-suara yang mengiris

Kita tak berbagi jarak: satu antara tiada dan cahaya.

Jakarta, 27 Agustus 2017.

Irawan Sandhya Wiraatmaja. Lahir di Jakarta. Buku puisinya, Giang Menulis Sungai, Kata-Kata Jadi Batu (2017) memenangi Anugerah Puisi Utama HPI 2017. 
Korrie Layun Rampan memasukkan penyair ini ke dalam Angkatan 2000. Karya-karyanya dimuat dalam beberapa media cetak di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Banjarmasin, Semarang, Riau, Lampung, dan Padang, serta beberapa antologi puisi bersama. 
Kumpulan puisi tunggalnya Anggur, Apel dan Pisau Itu (2016), Dan Kota-Kota Pun (2016), Giang Menulis Sungai, Kata-Kata Jadi Batu (2017), dan Air Mata Topeng (2017), serta Serpihan Esai Sastra dan Sosial Politik, Teror di antara Dua Ideologi (2016). Kumpulan puisinya yang terbaru, Ideologi Ibu dan Baju yang Koyak (2018). Sekarang sebagai Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).


[1] Disalin dari karya Irawan Sandhya Wiraatmaja
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 02 Desember 2018