Gerutu Hamba Negeri – Pidana Tak Kasat Mata – Pada Tuhan Tinggal Percaya – Bukan Agar Negeri Ber-mandi-ri – Mungkin Azab Adalah Jawab

Karya . Dikliping tanggal 25 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Gerutu Hamba Negeri

Pada sebuah hampar bersebut negera kaya daya. Tersebutlah sebuah kisah penuh duri
berdarah. Lagu tanah raya berlatar air mata. Disembah-sembah tanah di sebalik selat. Tapi,
penghuninya melarat tak berangkat-angkat. Ini sudah tahun ke 65 setelah kita berkata
merdeka. Tapi jerebu jadi balas segala suara berlagu merdu. Tiada butuh janji sorai tak tahu
malu. Padahal bukti tak bertagih disalahkan pula penagih pamrih. Alamahk!
Bilik Rakyat, 10 Maret 2015 – 17.35 WIB

Pidana Tak Kasat Mata 

Yang bersalah jadi lupa salah dan dilucuti dari salah. Tapi yang tak berpenuh salah malah
habis-habisan disalah. Salah siapa yang salah? Rupiah telah bertukar fungsi; dapat membeli
hukum dan nurani. Dibungkam sebenar bungkam mulut-mulut pengungkap keadilan. Dijejali
iming-iming haram agar perut damaikan majikan. Tiada sesiapa dapat dipercaya lagi
mempercaya. Semuanya tinggal raga-raga pidana tak kasat mata ber-raya ria.
Kasus Penghianatan, 10 Maret 2015 – 17.45

Pada Tuhan Tinggal Percaya 

“Yang dipilih akan se-lini dengan pemilih” gubah Pemilih puisi
Berbukti sudah di nyata negara kita raya
Telah terpilih yang dipertuannkan
Telah berdiri tertinggi yang diagungkan
Suara bening terhanyut suara keruh me-memang sudah
Ikrar diucap tiada mungkin dibatal akan-kan
Laku laki pula mulai berwujud ingkar satu per-satu begitu
Janji yang paling jadi dipercayai tinggal ingkari
Pada Tuhan tinggal percaya
Di sana tiada kecewa
Kenyataan pada Indonesia Raya, 10 Maret 2015 – 17.55 WIB

Bukan Agar Negeri Ber-mandi-ri 

Wajib dibayar jadi tunda-tumpuk wajib berbayar
Salah fokus pada rasa rapuh yang difikir kaya
Bukan membuat negeri jadi mandiri
Malah menambahi hutang pada budi-budi
Angkuh-pongah pada puji-sanjung drai tanah berantah
Padahal mereka hanya membodohi bodoh yang rasa tiadalah
Sementara kontrak janji ter-tandatangani pena bertinta nadi
Sudah puas kami menasehati penasehat berbuaya 2 kepala
Wajah rupa rakyat, hati rupa pengkhianat
Kemana jiwa lagi bersahabat?
Jiwa berkecewa, 10 Maret 2014 – 17.45 WIB

Mungkin Azab Adalah Jawab

Kadang Tuhan habis cara menyapa
Lalu kirimkan sapa tak biasa
Jadilah cara bertuju pada sadar dan sabar
Harap-Nya hanya pada agar yang baik-baik
Hikmah Bencana, 10 Maret 2015 – 18.02 WIB


Elysa Rizka Armala, mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Riau
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Elysa Rizka Armala
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 25 Oktober 2015