Hadiah dari Ibu

Karya . Dikliping tanggal 22 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU sudah lama menginginkan sepatu sandal. Tapi ibu tak pernah membelikannya. Bahkan di hari ulang tahunku sekalipun.
Akhirnya waktu pergi ke sekolah, aku mempraktekkan sepatu sandal dalam pengertian sebenarnya. Sepatu di kaki kiri dan sandal jepit di kanannya. Lalu aku memakainya ke sekolah. Teman-teman sekelas jadi heran melihatku. Mereka mengira aku kemasukan setan penghuni sekolah.
“Kenapa pakaiannya begitu?” tanya pak guru ketika mengetahui bentuk alas kaki yang aku pakai berbeda. 
“Ini baru benar-benar sepatu sandal, Pak,” jawabku tak mau kalah.
“Maksudnya kan bukan begitu. Sepatu sandal itu sebutan jenis sandal tertentu,” jelas pak guru.
“Tapi, Pak….”
“Sudah cepat berdiri di luar kelas sampai pelajarans selesai!” kata pak guru marah, Dengan langkah gontai, aku berjalan keluar kelas. Lalu berdiri di lorong kelas,
Aku termenung. Hanya gara-gara beda pengertian sepatu sandal, aku dihukum berdiri di luar keras. Peristiwa yang tak bisa aku lupakan.
Ibu sengaja tak aku beritahu. Karena tak mau ibu jadi sedih mengetahui anaknya dihukum hanya gara-gara memakai alas kaki yang berbeda di kedua kaki.
Dan kini setiap kali, ibu membelikanku hadiah ulang tahu, aku hanya menurut saja. Tak pernah lagi mengharapkan sepatu sandal. Tapi tak aku sangka, ketika ulang tahunku ketujuh belas, ibu malah membelikan hadia sepatu sandal.
“Kenapa aku dibelikan sepatu sandal? Bukannya sandal jepitku masih bagus,” kataku tak senang. 
“Itu hadiah ulang tahunmu dari Ibu. Semoga kamu sehat dan sukses sekalu, Aamiin,” sahut ibu. 
“Iya, Bu. Tapi kenapa harus sepatu sandal? Apa tak ada sandal jepit atau sepatu?” tanyaku.
Ibu terdiam sejenak.
“Ibu cuma mau bahagiakan kamu. Apa Ibu salah?” jawab ibu.
“Kalau kamu tak mau terima pemberian Ibu, besok Ibu kembali sepatu sandalnya.”
“Tak apa, Bu. Sepatu sandalnya aku suka.”
Kulihat ibu sudah tak sedih lagi. Tapi sekarang aku yang harus berusaha melupakan traumaku dulu.
***
AKU memandangi sepasang sepatu sandal baru pemberian ibu yang sekarang ada di rak sepatu kamarku. Lalu kuambil satu pasang sebelah kanan. Dan memakainya.
“Tak ada beda jauh dengan sandal jepit. Sama-sama empuk,” gumamku.
Yang satu lagi sebelah kiri, aku ambil dan kupakai.
“Bentuknya saja yang beda.”
“Di sepatu sandal, jari kakinya kelihatan. Dan punya pelindung mirip sepatu di tempurung kaki,” batinku.
“Bagaimana dengan sepatu sandalnya, Wan? Enak dipakai kan?” tanya ibu tiba-tiba muncul di depan pintu kamarku.
“Enak kok, Bu,” jawabku.
Ibu tampak tersenyum lalu pergi berdagang.
***
“BU, boleh kupakai sepatu sandalnya?” tanyaku ketika bersiap hendak berangkat reuni SMP, sehari setelah ulang tahunku.
“Lho memangnya sepatu yang bisa kamu pakai ke mana?” Ibu malah balik bertanya.
“Tali sepatunya putus digigit tikus.”
Ibu terdiam sejenak. 
“Ya sudah, tapi jangan sampai hilang ya,” balas ibu.
Aku senang mendengarnya. Lalu memakai sepatu sandal baru ke acara reuni SMP.
Tak lama kemudian, aku sudah tiba di depan rumah teman, tempat reuni berlangsung. Tampak sudah banyak teman-temanku semasa SMP yang datang.
“Lama gak kelihatan, tambah ganteng saja,” kata salah satu temanku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“Wah, kamu pakai sandal baru hari ini ya,” ucap temanku yang lain ketika melihat alas kakiku.
“Ini bukan sandal tapi sepatu sandal namanya,” sahutku.
“Sama saja, tetap sandal juga,” kata temanku tak mau kalah. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Suara penghuni rumah meminta semua yang masih di teras untuk masuk ke dalam rumah. Aku segera masuk. Sandal baruku kulepaskan begitu saja. Aku segera berbaur dengan teman-teman semasam SMP dulu. Ngobrol-ngobrol seru dan menyenangkan bersama mereka. 
Tapi hari yang sudah semakin beranjak malam, membuatku ingin cepat-cepat pulang. Ada perasaan tak enak di hati. Entah apa, aku tak tahu. 
Di teras rumahnya, aku tertegun melihat sepatu sandalku sudah tak ada. Ternyata perasaan tak enak di hati tadi itu pertanda sepatu sandalku yang baru akan hilang.
Cukup lama, aku tertegun hingga seorang teman menepuk pundakku.
“Kok tertegun, ada apa?” katanya.
“Sepatu sandalku yang baru hilang,” jawabku. Temanku itu kaget lalu memberitahu yang lain. Membantu mencarikan sepatu sandalku yang hilang baru saja.
Sudah setengah jam pencarian sepatu sandalku yang hilang dilakukan. Tapi belum juga bisa ditemukan.
“Terima kasih semuanya, aku sudah ikhlas,” kataku sambil beranjak pergi.
“Tunggu, Wan. Aku pinjami sandalku ya,” sahut temanku. Aku menggeleng.
“Tak usah, terima kasih,” ujarku. Lalu berjalan pulang ke rumah tanpa memakai alas kaki.
Trauma sepatu sandal kembali aku rasakan. Mungkin aku tak pernah mau lagi memakai sepatu sandal kalau berpergian nanti.
Aku juga tak bisa membayangkan reaksi ibu ketika melihatku pulang tak bersama sepatu sandalku. Sedih itu sudah pasti dirasakannya. Karena aku tahu ibu sudah menabung cukup lama hanya untuk membelikan sepatu sandal sebagai hadian ulang tahunku.
❑  Yogyakarta, 2015
Herumawan Prasetyo Adhie. Pringgokusuman GT II/537 A RT 24/RW 06 Yogyakarta 55272
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan Prasetyo Adhie 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 20 Desember 2015