Hadiah Dari Surga

Karya . Dikliping tanggal 6 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
“SELAMAT pagi, hari yang cerah pagi ini.”
Sapaan pagi yang biasa kudengar telah muncul ketika aku baru berjalan beberapa meter dari rumah. Aku menoleh ke arah pemilik suara yang berada tepat di belakangku.
Pagi ini sudah mendapat suguhan pria malang menyebalkan. Apa yang bisa dikerjakan selain mengikuti ke kantor, kampus, bahkan jalan-jalan ke mal, sering kupergoki dia mengikutiku. Padahal kami berdua sama-sama tak punya kendaraan pribadi, hanya angkot. Tentu saja aku selalu bisa mengenalinya. Kami selalu satu angkot. Dan pergi dari tempat yang sama, sudah dapat dipastikan selalu bertemu.
Hal ini bermula dua tahun lalu. Aku ditolong olehnya dua kali. Pertama ketika pulang kantor diganggu beberapa pria mabuk di jalan. Dia mengusir mereka. Kedua, ketika tiba-tiba seorang preman dengan garang mau merampok tasku. Dia membelaku. Tidak sampai babak belur, karena aku sudah belajar melindungi diri sejak masih kanak-kanak. Aku belajar karate sejak kelas 4 SD. Bukan apa-apa, tapi bagi seorang perempuan yang ditinggal mati ayahnya, hal itu kuanggap sangat penting, di samping untuk melindungiku juga untuk melindungi ibuku. Awalnya keberadaannya kuanggap kebetulan. Tapi kebetulan yang selalu berulang jelas tidak mungkin kan?
Pernah sekali waktu aku mencoba menghilang saat pulang dari kampus. Maklum pekerja, tentu saja mengambil kuliah malam. Dia begitu panik mencariku, berlari ke sana ke mari. Kemudian dia menghilang di balik tingginya gedung-gedung bertingkat. Pencarian berbalik kepadaku, aku yang gantian melongok dan mencari-carinya. Sampai perjalanan pulang aku tak bisa menemukannya. Dan ajaibnya paginya dia sudah menungguku di pujung jalan dan emnyapaku seperti biasa.
“Selamat pagi. Hari yang cerah pagi ini.” Pernah sekali waktu aku bertanya padanya menanyakan alasan mengikutiku. Aku mencoba menjelaskan, aku bisa taekwondo dan dia tak perlu mengikutiku seperti itu. Jawabannya sungguh menyebalkan.
“Anggap saja aku bayanganmu, mengantarkanmu setiap pulang dan pergi dari rumah serta memastikan kamu tetap utuh, cukup adil kan?”
“Utuh?” Memang aku barang antik?” protesku padanya.
Sengaja kupasang tampang paling menyeramkan. Dia hanya merespons dengan senyuman. Ah sudahlah, memikirkan orang itu benar-benar membuatku kesal. Bagaimana tidak, setiap saat ada yang mengikuti selama dua tahun tanpa tahu alasannya, tanpa tahu namanya dan apa tujuan sebenarnya. Naik angkot pula. Apa bukan karena ada sesuatu?
***
HARI ini aku tak mendengar sapaan lagi yang biasa kudengar. K emana laki-laki itu? Aku mulai berpikir mungkin dia sudah capek mengikutiku selama dua tahun.
Hari ke empat baru sapaan ituterdengar.
“Itu kenapa?” aku menunjnuk lengan kirinya yang ditutup perban hingga siku.
“Sebuah kecelakaan kecil. Apa kau mencariku tiga hari ini?”
“Tidak.” Jawabku singkat.
“Aku berciuman dengan sepeda motor dan maaf aku tak mengantarkanmu selama tiga hari ini. Tapi kulihat kau sehat-sehat saja.”
Hari ini speertinya aku sedang tidak ingin berdebat dengannya. Kubiarkan saja dia mengikutiku hingga ke kantor, naik turun angkot. Dan ebnar, dia memulai tugasnya dnegan tuntas hingga aku pulang dari kampus pukul 20.00. Ajaib, dia bahkan sempat melambaikan tangan sambil mengucapkan selamat malam tepat di mulut gang depan rumahku.
***
HARI ini dua tahun lima dia telah mengikutiku. Aku mulai tidak sabar. Sengaja meminta izin cuti dari tempat kerjaku, bertekad menyelesaikan semuanya. Harus hari inikalau tidak aku akan terus bertanya-tanya alasan dia sebenarnya.
Pukul 06.00, laki-laki itu terlihat berjalan menuju mulut gang rumahku. Dengan berakting kalau hari ini akan berangkat kerja, aku menenteng tas dan gantian menyapa.
“Selamat pagi.”
Dia menoleh dan etrsenyum padaku sambil memainkan MP3 player yang sedari tadi betengger manis di tangannya. Aku berjalan ke sebuah warung makan di pinggir jalan. Saking semangatnya menemuinya aku lupa sarapan pagi.
“Kamu ada waktu sebentar, kita sarapan dulu,” kataku padanya.
“Baik, tapi kamu yang traktir.”
“Tentu saja,” jawabku singkat.
Beberapa menit kemudian pesanan sudah terhidang rapi di atas meja. Segera kupersilakan dia sarapan pagi terlebih dahulu. Kulihat dia lama memandangiku, mungkin dia penasaran dengan yang kulakukan.
“Bisa aku tahu sesuatu, sudah lebih dari dua tahun ini kamu selalu mengikutiku sejak pertemuan kita dulu waktu aku diganggu preman. Aku butuh alasan tidak hanya sekadar jawaban klise yang sulit aku pahami.”
Laki-laki itu meletakkan sendok dan garpunya. Mulai membuka pembicaraan.
“Kalau kau ingin tahu sesuatu aku akan katakan alasanku sebenarnya, kau libur kan hari ini?” Aku tak menjawab dan hanya memandanginya yang masih lahap menyantap sarapannya.
Sejurus kemudian kami berdua telah menaiki angkot dengan kesunyian yang sama tanpa suara seperti biasa. Aku baru sadar ketika angkot itu membawa kami ke arah yang kukenal kalau aku akan menengok ayah di makam. Mulai timbul banyak pertanyaan dalam hatiku, ketika jalan yang kami lalui setelah turun drai angkot pun jalan yang sama. Dan semua pertanyaan itu kian menyeruak ketika kami mulai masuk areal pemakaman dan berhenti di sebuah makan dan itu makam ayahku.
“Ini alasanku.” Begitu katanya singkat sambil menunjuk makam ayah.
Aku menoleh ke arahnya, namun aku tak melihat dia ingin menyampaikan sesuatu kepadaku. Dia hanya berjongkok, mencabuti rumput dan kemudian berdoa mendoakan ayah. Aku menundukkan kepala, juga mendoakan ayah dengan khusyuk. Doaku terhenti ketika dia memulai membuka pembicaraan dan mulai bercerita tentang alasannya mengikutiku selama ini.
Ayahku yang petugas pemadam kebakaran telah menyelamatkannya 2,5 tahun lalu dari sebuah musibah yang menimpa keluarganya, karena rumah mereka terbakar. Kedua orangtuanya dan dia selamat, namun ayah meninggal karena terlalu banyak menghidrup gas CO2. Kebetulan dia diselamatkan paling belakang dan dalam keadaan tidak sadar. Dia begitu berterimakasih karena berkat ayah dia dan keluarganya selamat, namun dia juga menyesal karena kini aku kehilangan ayah. aku menarik napas panjang dan berusaha tetap tenang.
“Boleh aku tahu namamu?”
“Khairil Dhirga dan kau Diandra Kartika, perempuan 22 tahun, karateka sabuk hitam. Kini bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan tekstil selama satu tahun. Sebelumnya kau bekerja sebagai kasir di toko alat tulis dan sekarang sore hari kau kuliah di sebuah PTS mengambil jurusan manajemen,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Kau tahu itu juga!”
“Aku tahu. Yang benar saja, dua tahun aku mengikutimua tentu aku tahu banyak hal.”
Khairi Dhirga. Laki-laki itu benar-benar ajaib. Dua tahun mengikutiku dan menjagaku naik turun angkot hanya karena sebuah rasa terima kasih aats sebuah nyawa. Dia bahkan tak tega melihatku diganggu orang jahat. Padahal dia tahu aku mampu melindungi diri dnegan bekal sabuk hitamku.
Beberapa minggu kemudian baru aku tahu, perusahaan tempatku bekerja milik ayahnya. Tapi tenang saja, aku memang diterima di perusahaan ini karena Khairil yang memintanya. Menjadi supervisor bukan kareba rasa terimakasih itu. Itu karena prestasi dan hasil kerjaku yang baik. b
Siti Lestari, Joyonegarab MG II/903 Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Siti Lestari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 5 Juli 2015