Hadiah yang Indah

Karya . Dikliping tanggal 7 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
LANGIT berjubah mendung. Tak lama kemudian awan-awan meneteskan butir-butir gerimis. Bumi Yogya bermandi air hujan di sore hari. Beruntung aku memawa payung, karena tadi pagi juga hujan. Usai mata kuliah PKn, semua anak KPI C berhambur ke luar kelas. Aku menuruni tangga dari lantai tiga. Di koridor bawah aku melihat Risa sedang duduk di bangku sendirian.
“Nunggu, siapa, Risa?” tanyaku pada wanita berjilbab biru muda itu.
“Nunggu hujan reda,” jawabnya santai.
Suaranya hampir tak terdengar,diredam gemuruh suara hujan.
“Jalan bareng, yuk! Aku bawa payung.” Tanganku membuka resleting tas, menjumput gagang payung, kemudian memekarkannya.
“Wah… kebetulan nih. Iya boleh, aku ikut nebeng,” sahutnya sumringah. Senyum merekah di bibirnya. Indah.
Risa kawan baruku. Anak IKS. Aku mengenalknya tig aminggu lalu saat diklat LPM Rhetor. Tiap pekan kita bertemu dalam diskusi redaksi. 
Kamu berdua berjalan sejajar. Bernaung di bawah payung hijau. Irama gerimis terdengar merdu. Kawan-kawanku yang lain juga ada yang membawa payung untuk pulang dari kampus. Beberapa mengenakan mantel untuk menerjang gerimis yang masih betah bersenandung.
“Fahri, kosmu di mana.” Risa bertanya.
“Di Jalan Suroto, dekat perpus kota.”
“Kalau aku di Lempuyangan, tinggal di rumah Budhe.”
Ia mengusap pipi putihnya yang terciprati rerintik air.
“Sa, apa kamu suka hujan?”
“Tentu. Hujan itu tamu yang baik. Saat hujan datang, doa manusia akan diijabah. Mungkin Tuhan tahu, kita ini terlalu sibuk dan jarang berdoa. Dia berbaik hati dengan memerintahkan miliaran butir-butir air untuk terjun ke bumi. Alasannya agar manusia tidak dulu banyak kesibukan, berteduh sejenak, atau rehat di rumah, merenung dan memanjatkan doa-doa yang baik,” urai Risa. Panjang lebar namun asyik disimak.
“Benar, katamu. Sayangnya ada saja yang tidak bermunajat malah ia berkeluh kesah dan jengkel pada hujan yang tak berdosa,” sahutku.
Kami terus berbincang sambil berjalan. Aku merasa nyaman dan senang bersamanya. Langkah kaki kami telah sampai di halte Trans Jogja. Risa keluar dari payungku dan mengucapan terima kasih.
“Aku duluan, ya!” tukasku padanya.
Ia mengangguk dan menguntai senyum. Manis sekali. Lalu aku menyeberang jalan. Melanjutkan gerak kaki untuk sampai di kos.
***
HARI Selasa hanya ada satu mata kuliah. Kini aku berada di perpustakaan kampus. Suasana nyaman dan sejuk. Banyak mahasiswa di sini khusyuk membaca. Beberapa yang lain berdiskusi mengerjakan tugas kelompok.
Di lantai dua, aku masuk ke ruang serial, mengambil surat kabar. Aku duduk di kursi empuk dan membaca rubrik kesukaanku. Kursi di sebaelah kiriku yang berjarak 50 senti berdecit pelan. Ada seseorang yang menarik punggung kursi, lalu ia duduk di pangkuannya. Kepalaku menoleh. Aih… aku tak asing wajahnya.
“Hai, Sa, sedang baca apa?”
“Ini, majalah sastra. Kau di sini rupanya?!”
Muka Risa menghadap ke mukaku. Kedua mataku bisa menangkap sempurna wajahnya yang berhias senyum. Lesung pipitnya terbit di kanan-kiri wajah ramahnya.
“Eh… iya.” Hampir 20 detik kata itu baru terucap.
“Sa, sastrawan yang kau sukai siapa?” lanjutku.
“Aku suka Ahmad Tohari,” jawabnya sambil membalik halaman majalah. “Oh iya, aku juga suka kamu.”
Aku senang mendengar kalimat itu. Kenapa jantungku berdebar? Perasaan macam apakah ini?
“… suka karyamu. Puisimu minggu lalu dimuat surat kabar, kan?”
“Iya” Suaraku pelan. Mukaku perlahan memerah. Di hati ada rasa sungkan, namun juga enang.
“Waktu SMA aku juga pernah baca puisimu yang dimuat majalah sastra ini. puisimu ringkas namun kaya makna, bahasa puitismu khas, indah.” Ia menunjukkan kaver majalah itu padaku.
Tuhan ternyata dulu Kau telah memertemukan aku dengannya lewat sajak yang sederhana. Terima kasih.
“Terima kasih atas apresiasinya, Risa.”
***
DI rantai ini, wajar bila aku harus mandiri. Aku telah dewasa, tak ingin orangtuaku mengirimi uang untuk biaya hidup dan kuliahku. Aku kerja paruh waktu di tempat foto kopian dekat kampus. Sekarang masih tanggal muda, baru kemarin aku terima gajian. Aku sudah membali buku baru: kumpulan cerpen Berjuta Rasanya. Buku ini akan kuhadiahkan buat Risa, meski tanggal sekarang tidak hari ulang tahunnya. Menurutku, memberi hadiah tak perlu menunggu setahun, atau mesti pada anggal dan bulan kelahirannya.
Aku telah mengirim SMS pada Risa, ketemuan di depan gedung Multy Purpose pukul 16.40. Pemandangan sore ini di kampus, mahasiswa berlintasan hendak pulang. Ada yang mengendarai motor sendirian, berboncengan dengan teman, dijemput orangtua. Ada yang bersepeda, menunggu bus, jalan kaki, termasuk aku. Dan ada yang masih duduk-duduk di bangku melingkar di bawah pohon beringin besar. Ada yang antre membeli es, siomay, batagor dan yang lain. 
Langkah kakiku berbeda dengan teman-teman lain, nampak tergesa dan gelisah. Apa pasal? Aku terlambat 15 menit atas jadwal bertemu Risa. Aku merasa tak enak hati membuatnya jadi menunggu.
“Maaf, Sa, baru bisa sampai sini,” ucapku sembari mengusappeluh di pipi kanan.
“Tak masalah,” sahutnya santai, mukanya tetap berseri, senyumnya terkulum.
Lalu aku duduk di sebalah Risa, di bangku bawah pohon beringin yang berangin segar. Aku mengatur napas, mendamaikan rusuh di hati dan menata diri.
“Sebenarnya aku mau memberimu sesuatu yang aku kira kau akan menyukainya. Tapi maaf, Sa, mungkin karena aku teledor, barang itu hilang. Tadi aku sempat mencarinya lama, namun tak kunjung ketemu,” jelasku. “Mungkin besok bisa kutemukan.”
Bibi Risa membentuk pelangi terbaik. Ajaib.
“Wah… terima kasih Fahri niat baikmu. Aku jadi terharu.” Dia tertawa kecil, mencairkan suasana. 
“Nampaknya senja sudah sampai di depan beranda rumah, Fahri. Sebentar lagi ia menutup pintu dan menyembunyikan cahayanya. Yuk, kita pulang!”
“Ayo…” jawabku bergairah.
Aku dan dia bangkit, berjalan bersampingan. Nyaman dan senang. Belum sukses aku memberi hadiah padanya namun Risa sudah memberiku hadiah indah. Hadiah yang tak berupa benda yang dpat dipegang kedua tanganku. Hadiah itu senyum manisnya, sikap anggun-ramahnya, kata-kata santun nan bermaknanya yang hanya bisa disentuh tangan-hati. ❑ 
Amin Sahri Mahasiswa KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Amin Sahri
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 4 September 2015