Hajjah Rupi’ah

Karya . Dikliping tanggal 5 Januari 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

NIANG menamainya Mak Lampir. Datu menyebutnya Nian Gateul. Dan Aniar menjulukinya Kalong Bikang. Setiap mereka memiliki alasan tersendiri terkait nama lain istri terbulat dari Ajengan Ontohod tersebut. Wajahnya bulat. Badannya bulat. Dan mulutnya pun bulat. “Menolak keinginanmu, ilmumu tak bermanfaat, dan kulaknat kau sakit perut sepanjang hidupmu!” Ah, aku tidak percaya.”

BAIKLAH, Niang itu perempuan berdarah Padang. Ayahnya pemilik RM “Bundo Kedua”, restoran padang yang memiliki cabang di tiap kabupaten di Indonesia. Kaya nian orangtuanya.
Cantk? Aku tidak bisa menjawabnya. Setiap kita punya cara pandnag tersendiri terhadap rupa. Dan, Niang memiliki rupa dan paras yang bisa menyempurnakan semua karya tuhan. Memanipulasi kenyataan dengan mimpi sementara yang bernama uang. Ya, Niang memiliki ‘pencipta’ rupa dan paras yang tak henti dituhankan jutaan umat manusia di muka bumi.
Aku mengenalnya saat ia mendaftarkan menjadi santri baru di Pesantren Ontohodiyyah. Ia tidak secantik Datu, yang akan kuceritakan nanti. Tapi, ia memiliki uang yang tampak lebih cantik dari rupa dan paras apa pun.
Waktu berlalu beriring tercurinya hatiku. Ia memesona di setiap jumpa. Aku jatuh hati padanya. Bagiku, ini peluang. Sekaligus ancaman. Cepat atau lambat, Niang harus kumiliki. Jika tidak, tak menutup kemungkinan ia akan emnjadi pintu untuk terbukanya petaka baru bagiku.
Kudekati Niang di setiap kesempatan. Perlahan kutawarkan dua pilihan, “Niang, mau kan?” tanyaku dengan suara paling lembut yang pernah kuucap. Menurut Niang? Ah, ia berbeda pendapat. Dan berujung pada perubahan sikap yangmenyakitkanku. Setiap jumpa, ia memalingkan muka–seolah aku hantu paling menakutkan baginya. Dari kesemuanya, Niang menjawab, “Caramu menghargai orang lain adalah caramu menghargai harga dirimu!”
Pada hari selanjutnya, ia pergi. Aku murka. Kusumpah ini. Niang benar-benar pergi, menjadi milik orang lain, dan terus menghantui hidupku.
**

SEPENINGGAL Niang, aku menemukan Datu. Ia anak petani malang yang sawahnya dibajak  saudaranya sendiri. Sengketa. Ruhud–ayahnya Datu, jatuh terjungkal di pengadilan. Ia tak bisa menerima keputusan hakim, yang menjadikan ladang penghidupannya hilang.

Dari pengadilan, Ruhud dilarikan ke rumah sakit terdekat. Jantung koroner. Ia tak butuh waktu lebih dari tiga jam untuk berpamit pulang. Datu pingsan, secepat kilat ayah tercintanya pergi. Baru saja minggu lalu, sang ayah menawarkan seorang santri– yang ditolaknya. Dan kini, ia sudah tak bergerak, membujur kaku di ruang ICU.
Melunasi penyesalan karena menolak permintaan ayahnya. Datu mendaftar masuk Pesantren Ontohodiyyah. Ia menanggalkan harapannya untuk melanjutkan sekolah, kuliah, untuk menjadi dokter. Ia berharap bertemu santri baik hati yang kelak akan melamar dan meleburkan rasa bersalahnya. “Jika tidak menjadi dokter, jadilah istri seorang kiai,” ucap mendiang ayahnya terngiang, sehari sebelum pergi.
Datu mendaftarkan diri ke Pesantren Ontohodiyyah, hari Sabtu akhir bulan Desember, pamungkas 2014. Sejak pertama melihatnya, aku berani bertaruh, ia pasti akan ditawari menjadi model, jika seorang agen menemukannya. Cantik rupawan. Bermata sipit dengan lengkung alis setajam ujung sabit. Lesung pipitnya mengapit hidung mancung khas mojang Pasundan, tidak terlalu menukik, juga tidak terlalu pesek seperti roti terinjak gajah. Pas, Simetrik.
Aku terpesona dan akhirnya percaya bahwa selalu ada hal baru di balik yang hilang. Niang pergi, Datu datang. Tidak ingin menjadi keledai yang jatuh pada dua kesalahan yang sama– seperti saat kehilangan Niang, aku mendekati Datu dengan cara yang berbeda.
Tak ada pertemuan yang dipaksakan. tak ada tawar-tawaran yang tergesa. Tak juga syarat apa pun yang terkesan memaksa. Selalu tentang cinta, kupilih cara sederhana: berharap tanpa meminta. Tidak terlalu agresif.
“Datu, mau, kan?” kalimat tanya di baris terakhir pesan singkatku.
Awalnya, aku yakin akan mendapatkan jawaban terbaik. Mengingat sikap Datu yang selalumemberiku ruang untuk “memperlihatkan” tawaran tanpa paksaan, dan syarat dalam isyarat yang kutunjukkan. Tapi entahlah musabab apa yang kemudian menyebabkan Datu memerah bara ketika berpapasan denganku. Ia berpaling. Hatiku remuk berkeping-keping.
Dari kesemuanya, Datu menjawab, “Caramu memperlakukan orang lain adalah caramu memperlakukan dirimu sendiri!”
Aku murka. Kusumpahi ia. Data benar-benar pergi. Menjadi milik orang lain. Menghantui hidupku.
**
BETUL, lebih baik patah tulang daripada patah hati. Aku merasakannya. Sebulan ini kuhabiskan di kamar. Menangis. Air mataku tawar dan hambar. Semangatku hilang. Niang pergi. Datu pergi. Kedua-duanya menjadi milik orang lain dan menghantui hidupku.
Kuputuskan untuk mengakhiri hidup malam ini. Seisi pesantren mulai berselimut. Hening. Kulihat jam di masjid, 00.30. Kini dengan hanya satu langkah, dapat memastikan tubuhku melayang dari lantai 4 asrama utama, Onohod al-bakekok. Dna bersimbah darah di parkiran yang berfungsi ganda sebagai lapangan badminton. Tubuhku akan seperti shuttlecock dalam smash tajam menghunjam. Kupejam mata. Dan, bruk! kudapati diriku tersungkur di bawah jemuran. Belum melayang. Masih di lantai 4. Samar kulihat seseorang menindihku. Ia menabrakku dari samping. Jangan bunuh diri, dosa, katanya sembari ngos-ngosan.

Ia bernama Aniar, santriwati baru, baru satu hari.
Dua hari berlalu, dan kuakui tak henti raut Aniar mengetuk-ngetuk ingatanku. Perlahan tapi pasti. Aku jatuh cinta lagi. Sekaligus takut ditinggalkan lagi. ya, Aniar tidak tampak sekaya Niang. Tidak pula secantik Datu. tapi lebih dari keduanya itu. Sempurna. Aniar memiliki banyak alasan untuk kembali kukejar. Takut? Ya, kuakui iya. Tapi, kali ini kupegang formulasi baru. Jika dapat, aku bahagia. Jika lepas, benar-benar akan kugali kuburanku sendiri. Fatalis.
Gagal dua kali, berarti ada mekanisme yang salah, yang harus ditinggalkan. ganti dengan cara baru. Ya, cinta harus diungkapkan tanpa ba-bi-bu terlebih dahulu. Kaget? Kupastikan Aniar akan kaget. Tapi aku yakin, kaget di kesempatan pertama, akan membuatnya berpikir di kesempatan selanjutnya.
“Aniar, mau kan?” ucapku mantap pada suatu malam yang sudah kujanjikan. Ingat, diriku, jangan tampak gugup (messkipun ini penentuan hidup dan mati). Benar, seperti kubayangkan sebelumnya. Aniar tergugu dan kikuk–efek kekagetan yang tak terkontrol.
“Kutunggu jawabannya, besok,” kataku tak memberinya kesempatan menjawab. Aku pergi. Pertemuan sederhana di lantai 4, tempat ia menganulir kematianku, berlangsung tak lebih dari dua menit. Aku turun. Aniar dirundung bingung.
Hujan menjenguk, aku tidur dengan bayangan kemungkinan yang terus menumpuk. Besok hari Aniar menerima tawaranku. Atau lantai 4 asrama Ontohod al-Bakekok menjadi pijakan terakhirku.
Pagi-pagi sekali, kulihat Hammer hitam mengkilat, terparkir di lapangan badminton. Dari jendela, kulihat Aniar menarik koper dengan muka tertunduk. Ia hendak pergi meninggalkan pertanyaanku semalam.
Kuhampiri ia sebelum pintu mobil tertutup sleuruhnya. Menatapku sesaat dan beralu. Dari matanya, ia seakan berkata, “Caramu mencintai seseorang adalah caramu mencintai dirimu sendiri!”
Aku murka. Kusumpahi ia. Aniar benar-benar pergi. Menjadi milik orang lain. Tak henti menghantui hidupku.
Orang lain yang kumaksud adalah suamiku! Detik itu pula, kusesali sepenuhnya, kenapa setahun lalu aku menolak lamaran Ajengan Sabrun. Kiai sederhana yang menghindari dunia politik agar terhindar uang haram. Dan melupakan poligami, untuk mengutuhkan hakikat pernikahan. Ittibaa’u as-syar’i–mengikuti syara’, bukan ittibaa’u as-syahwaat–menghamba pada syahwat. Namun, aku terjebak pada obsesi berbeda dan harus kutanggung akibatnya.
**
SEMUA belum berakhir. Sebulan lalu, seseorang menyelamatkanku lagi, aku gagal mati. Malam ini aku sendiri. Suamiku pergi ke rumah baru yang diisi Hajjah Niang. Ia mengecup keningku dan memastikan akan meniduriku kembali pada hari keempat. Karena besok giliran Hajjah Datu dan selanjutnya Hajjah Aniar (setelah dinikahi mereka diberangkatkan haji).
Rumah mereka tak jauh drai rumahku dan terus menjadi hantu. Membuat cinta suamiku terbagi, yang menjadikanku penikmat waktu sisa dan tersisihkan, “Papa capek, tugas kantor menumpuk,” ucapnya yang seakan memintaku memaklumi posisinya yang juga sebagai anggota dewan. Terlepas dari semua itu, dinikahinya Hajjah Niang, Hajjah Datu, dan Hajjah Aniar, mengancam posisiku.
Kulihat suamiku lenyap di gerbang pesantren. Para santri mulai terlelap. Ontohodiyyah berselimut senyap. Sungguh, masih kusesali, seandainya Niang, Datu, dan Aniar menerima dua tawaranku (kutawarkan saat itu, “Niang, datu, Aniar, mau kan?”) untuk kunikahkan dengan beberapa pejabat tajir atau dengan pengusaha kaya raya yang memerlukan servis istri muda, tentu keadaannya akan berbeda. Koleksi mobilku akna bertambah banyak karena merka menjanjikanku rupiah yang tak terhitung. Job ceramah ketika musim kampanye partai dan caleg akan aman. Pembangunan masjid akan selesai. Pesantren semakin megah. Rumahku beralaskan rupiah. Tentu, aku akan tetap menjadi satu-satunya istri Ajengan Ontohod, kiai kharismatik, pejabat terhormat, yang titahnya adalah doa dan murkanya adalah laknat.
Tapi, aku gagal. Mereka lepas dan masuk dalam perangkap pelet suamiku. Membenciku. Sampai-sampai –suatu saat aku tahu, sebelum pergi, ternyata mereka menyumpahiku di hadapan para santri yang lain.
Niang menamaiku Mak Lampir. Dadu menyebutku Nini gateul. Dan Aniar menjulukikukalong Bikang. Setiap mereka memiliki alasan tersendiri terkait diriku–istri dari Ajengan Ontohod–sebagai luapan kekecewaan aats tawaran terbaik yang kubungkus dengan cinta. Cinta lelaki. Cinta harta.
Mereka kata, wajahku bulat. Badanku bulat. Dan mulutku pun bulat, “Menolak keinginanku, ilmumu tak bermanfaat, dan kulaknat kau sakit perut sepanjang hidupmu!” ucapku mengumbar sumpah serapah–saat mereka menolak keinginanku, yang notabene adalah meminjam ucapan suamiku, ketika ia ingin menikahi setiap sanriwati cantik, di pesantren yang dibangun ayahnya dua puluh tahun lalu. Ah, aku sendiri tidak percaya laknat itu.
**
BEBERAPA hari kemudian, hantu yang kutakutkan datang. Di kantor pusat pesantren Ontohodiyyah, seorang perempuan lugu, secantik Jenifer Lawrence, sebahenol Beyonce, mengisi formulir pendaftaran. Dugaanku benar, ia pasti masuk dalam list pelet Ontohod–suamiku, selanjutnya.
Jika pada akhirnya santri baru bernama Siti Runyam itu dinikahinya, istri pertama akan ditalaknya. Stok istri sah hanya empat dan posisiku sebagai istri pertama benar-benar diujung tanduk–seperti yang dialami Hajjah Lelah, Hajjah Murah, Hajjah Salah, dan Hajjah Lumrah, empat istri yang tertalak karena diriku, Hajjah Niang, Hajjah Datu, dan hajjah Aniar. Dalam hal ini, suamiku seperti orang lain bagiku. Sakitnya, kami hanya menjadi penambal berahi saja.
“Itu hantu yang kumaksudkan, sayangku,” ucapku pada seorang santriwati yang menyelamatkanku dari kematian untuk kedua kali. Kukecup keningnya. Kutiduri ia. Saat Ontohod pergi untuk menafkahi istri yang lain, kami tidur bersama, satu ranjang, satu rasa.
Selanjutnya, bagiku, setiap detik seperti neraka. Membakar dan menyiksa. Getir kutunggu giliranku, mendapatkan vonis talak yang akan dijatuhkan Ontohod jika ia berhasrat kembali menikahi santriwati baru. Ini kemungkinan akan menjdai headline di berbagai media massa: Dimadu suami, Hajjah Rupi’ah Menjadi Lesbi. Atau mungkin: Ditalak Suami, Hajjah Rupi’ah Bunuh Diri.***
Kiki Musthafa, penikmat sastra, penggagas KOPI (Komunitas Penulis IAIC) Singaparna Tasikmalaya. Sembari membina MATAHATI (Forum Kepenulisan Mahasiswa Tasik) bersama rekan mahasiswa, ia sedang menggodok project “GERIMIS–Gerakan Intelektual Mahasiswa Menulis.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Musthafa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 3 Januari 2016