Hantu Kebun Karet

Karya . Dikliping tanggal 2 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
“KALAU sembilu hidup setangkai, biar mati beralas tikar tak akan aku katakan serumpun! Kalau tupai yang melubangi kemiri mengapa musang yang kena kurung?!” angkat Anwar, meluap. 
Sudah sekian kalinya ia dituduh memelihara “penjaga” lantaran di kebun karetnya banyak orang yang mati tanpa sebab. Mulai dari sepasang kekasih yang hendak main berahi di tengah kebun, tengkulak kayu gelondong, sampai bujang-bujang penyadap yang baru saja melihat pohon. Entah karena iseng saja, ingin menyepi, ataupun mencuri, mereka mati dengan nyawa setengah putus setengah hidup, mampus saat baru saja ingin mengatakan apa yang dilihatnya.
Tak tanggung-tanggung, kali ini Anwar dituduh membunuh orang tak dikenal untuk diambil darahnya agar dapat ditawan rohnya dan dijadikan penjaga, setelah sebelumnya dituduh memelihara ratusan ular uang menjelma manusia sebagai mata-mata, dan menanam tali pusar bayi untuk dijadikan jembalang tanah. Ah, meski puluhan sudah kambing disembelih, tetap saja tuduhan itu merajalela. Malah kian membuatnya seperti ikan piluk tertabrak tanah di dalam air.
“Di mana belida muncul pasti ada pohon terendam, War. Kami tak bisa mengusangkan apa yang kami sangkakan. Kalau kau punya bukti, kemari sodorkan pada kami.”
“Kalau kalian tak percaya, sudah! Aku sudah menyembah dianggap nungging, orang bakar hutan aku yang membersihkan. Kena lumpur aku keringkan, kena terjangan kuda yang tengah lari.”
Ya, hampir sepuluh tahun ia biarkan. Tuduhan itu kian membesar seperti gunung membuncah api. Orang-orang seperti sudah tersilap hati hingga tak mau karuan lagi, seolah memang ada yang tak benar di dalam kebun itu.
“Penunggu laknat itu harus dimusnahkan! Kita tak bisa tinggal diam. Semua penyadap dusun ini jadi takut berlaku salah pada pohon-pohon itu. Bisa saja mereka sebenarnya tak ingin merusak barang sebatang pun. Memerak daunnya pun tangan tak sampai,” ujar Mang Narih yang memang bertelinga lintah. Ia dijuluki Si Getah Basah oleh sesama kawan penyadap, bukan saja karena ia selalu tak sabaran kepingin beroleh uang, menjual getah yang baru saja disadap yang masih banyak airnya, tetapi juga karena ia pelit selangit dan tak ingin sepeser pun keluar duit sekalipun untuk kebutuhannya sendiri. Ia dikenal selalu mengkijangi(1) orang demi perut kenyang. Begitulah kemudian julukan itu digunakan orang yang bertabiat sama seperti dirinya.
Meski begitu, Mang Narih salah satu penyadap karet yang terbaik. Ia tak pernah membuang waktu sebagaimana upahnya ada. Tapi karena ia paman dari anak muda yang mati itu maka ia jadi hilang rasa hormat, tak memandang lagi Anwar sebagai sumber rezekinya. Sudah bersetia menyadap tapi keluarga tak dianggap, begitu celotehnya.
“Macam mana kalau petani-petani lainnya jadi korban. Penunggu itu memang tak kenal jasa orang. Walau ratusan juta nilai sebatang pohon tak dapat disamakan dengan nyawa seorang manusia.”
“Orang-orang itu hendak berbuat tak senonoh dan mencuri, Mang, bila bukan ingin merusak. Ini hukum alam, siapa yang merusak dia yang menanggung akibatnya,” tampik Anwar.
“Tak macam itu juga, War. Hukum alam tak bekerja pada saat itu juga. Bukan seperti semut yang terinjak karena menghadang jalan, melainkan seperti lubang dan lumpur yang hidup di tengah pelaluan.”
“Pokoknya aku tak ingin kebunku itu menjadi lubang arang bagi diriku sendiri, sedang aku tak pernah ingin mencelakai! Penunggu-penunggu yang kalian sangkakan padaku tak satu pun aku memilikinya.”
“Baiklah kalau begitu,” ujar Kriya menengahi, “Biar aku yang memutuskan jalan keluarnya. Satu-satunya cara yang harus kita tempuh adalah dengan tidak menginjakkan kaki di atas kebun itu lagi. Baik untuk menyadap maupun menebang kayu tuanya.”
“Kalau macam itu namanya dijuluk sepokok runtuh sepohon, Kriya. Getah tak keluar, sedusun tak makan.”
“Ibarat pancing timah bertali rambut, putus tak bisa, patah pun jangan,” katanya.
Anwar diam. Benar-benar bala besar. Ia masih tak percaya ada makhluk halus dan buas di kebunnya, makhluk yang diduga barang peliharaan, punya majikan, yang sengaja dipelihara sebagai penjaga abadi tanah. Ayah maupun kakeknya tak pernah sedikit pun menceritakan hal itu. Hanya tahu kalau kebun itu memang tanah lama yang sudah turun-temurun menjadi kebun karet semenjak kakek buyutnya bermukim di tengah belantara, membuat tanah tebasan untuk dijadikan ladang dan rumah. Tanah yang lambat laun menjadi kebun subur itu pernah ingin dirampas Belanda dan mengusir si buyut lantaran delik-delik pertanahan yang mengambil pajak dan hasil panen, tak mengakui rimba sekampung(2) dan tak boleh ada petani yang berlahan lebih dari setengah hektare saja. Dari itulah konon katanya si buyut menaruh “orang halus” untuk mengusir mereka.
“Sumpah dimakan demit aku sama sekali tak tahu urusan peliharaan buyutku. Tak pernah aku memberi sesajenan apa pun, yang seperti dikata orang, sekali punya jin maka seluruh keturunan akan diamanatkan untuk memeliharanya. Aku merasa ada orang yang bermain di balik ini. Aku akan membuktikannya sendiri dan menangkap manusianya. Jangan sebut namaku Anwar bin Buntar Abidin kalau aku tak paham dengan kebunku sendiri.”
Ia membayar beras seratus pikul kepada si tuan anak sebagai ganti pemecahan perkara.
Sebenarnya semua tahu itu tak menuntaskan akar masalahnya. Selama ihwal penyebab matinya orang-orang belum diketemukan, selama ketakutan masih menghantui para petani, maka tak bisa terus-terusan uang dan nyawa saling bertukar.
Harus bagaimana lagi, kepalang digenggam maka harus hijau. Walau seperti duduk di kampung duri, desa itu tetaplah kampung halamannya sendiri. Ia tak bisa membiarkan kebunnya membelukar, terbengkalai, menjadi hutan bersemak atau gelantungan bagi monyet-monyet liar. Ia harus mencari dalang di balik semua ini. Apa pun pelakunya ia harus tahu. Kalau bernasib seperti batu maka akan terendam, kalau bernasib seperti gabus maka akan terapung. Dipikir-pikir, terus-terusan menelan tuduhan tak terbuktikan dan memberi ganti rugi tak terelakkan tak juga benar.
Ia pun beringsut menengok mayat yang meregang nyawa di kebunnya itu, yang dicurigai hendak menyadap diam-diam. Pemuda itu sudah sering menyadap tanpa sepengetahuannya dan selalu berhasil membawa kiloan getah basah yang diselimutinya dengan dedaunan. Kali ini si pencuri yang tak lain tak bukan adalah anak dari anak kapak(3)-nya sendiri itu bernasib nahas. Saat hendak pulang dari menyadap di gelap malam buta, ada seseorang menarik dan mengikatnya di batang karet, lalu tangan dan kakinya disayat tipis melingkar seperti guratan mata pisau sadap yang menguliti pepagan. Cara bunuh seperti inilah yang membuat warga geram, setelah sebelumnya ada petani tertimpa pohon karet tua yang ditebang tak habis, seperti sengaja ingin mencelakai, juga penyadap wanita yang mati tergantung di pohon yang tercukil tulang kayunya. Wanita itu diduga terlalu dalam menyayat hingga pohon muda yang sedang banyak-banyaknya mengeluarkan getah itu mati.
***

DI tengah malam buta ia masuk diam-diam dengan sepucuk lampu duduk dan sepikul keranjang. Terikat tempurung tadah dan pisau sadap di pinggang. Sambil melihat sekeliling ia mencari salah satu pohon yang tidak mati kulit(4) dengan memilih kulit pohon yang tidak tebal namun berlingkar batang matang. Setelah mendapat pohon yang berdaun rindang dan suburnya sedang, ia lalu memasang tempurung tampung dengan melilitkan pada batang, menancapkan talang seng dari kaleng bekas di ujung aliran getah di atas tempurung itu. Dengan kehati-hatian penuh ia keluarkan pisau arit berujung datar dan mulai menyadap. Secara perlahan namun pasti, melingkar sebidang setengah putaran, ia sayat kulit batang sampai ke batas talang. Tidak dalam tidak juga dangkal. Getah kental pohon itu keluar seperti aliran deras darah putih yang menyembul dari urat nadi.

Ia melanjutkan menyayat seperti penyadap amatiran yang mendadak mengaret lantaran tak punya duit rokok. Dihitung-hitung sejak punya penyakit getah bening, sudah tiga puluh tahun ia tidak menyadap lagi. Tangannya yang sudah kapalan memegang ulu pisau masih tampak gemetar. 
“Angin malam, sialan,” gumamnya.
Ia merasakan bulu kuduknya merinding. Pundaknya seperti ditimpuk beban panggul sebesar karung seakan ada seseorang yang sedang menyimaknya. Tak pernah seumur-umur ia menyadap sendirian, malam-malam pula. Namun melihat darah putih pohon itu kebanggaannya jadi tumbuh, membuatnya kian menyayangi tanaman itu meski tak mampu untuk tidak terus menyayatnya. Saking cintanya ia hampir saja menyayat tulang kayunya. Seketika ia ingat wanita yang mati tergantung itu!
Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin mengucur. Tak menyangka perkara getah karet bisa membuatnya setakut itu, padahal tak ada yang memuliakan karet lebih dari dirinya. Ia memupuk dengan aturan, menanam dengan jarak tanam, selalu mewaspadai hama dan penyakit mulai dari bibit sampai monopause menjelang, mulai dari akar, batang, pepagan, sampai daunnya. Pohon-pohon yang tak bergetah lagi dibuat kayu bakar untuk mengongseng kopi, bukan dibuang sana-sini. Ia tak pernah menjual getahnya selagi basah, selalu dalam keadaan kering dan bersih, dan selalu mewanti-wanti para pekerja agar menyadap dengan benar, jangan sampai banyak tatal(5) yang masuk ataupun pasri dan recahan kayu lain. Ia rela menunggu lama getahnya mengering asal tidak ada kotoran-kotoran itu. Kecuali jika musim penghujan, hujan tak henti turun dengan deras, merusak tadahan-tadahan getah yang sedang ditampung. Kalau sudah begitu, ia terpaksa memasukkan tatal  ke dalam tempurung daripada panen urung.
Sebagai penjual ia pun tak pernah curang. Ia tak ingin pelanggannya lari lantaran getah karetnya ada benda ini benda itu demi bobot berat  bertambah. Dan ia selalu memberi upah tinggi jika pekerjanya melakukan apa yang ia kehendaknya. Berusaha agar pohon karet tidak cacat dan diberi pupuk, dengan penyadapan hanya lima kali saja dalam seminggu. Bicara soal waktu sadap, ayah dari lelaki yang mati itu pernah dipergoki menyadap setiap hari, membuat darah putih itu jadi lebih banyak airnya ketimbang getahnya. 
“Selesai sudah.”
Ia duduk menunggu sampai tetesan-tetesan getah itu memenuhi tempurung. Di tingkat gelap malam ia menyenut sendirian, sampai akhirnya dingin merasuk tulang, menyergap tengkuknya. Untuk sesaat hening, tercium bau busuk getah kering yang lama dibiarkan. 
Seketika saja perasaannya campur aduk. Bau itu kian santer, seakan berada sangat dekat dengan dirinya. Ia memegang erat pisau sadapnya, melihat ke sekeliling. Tapi lalu entah kenapa tangannya bergerak menyayat sisi batang di sebelah sisi yang baru saja ia sadap.
“Astaga! Apa yang sudah kulakukan?”
Seluruh bidang kulit gundul. Di saat bersamaan ia melihat ada sebongkah obor dari kejauhan, melayang-layang mendekatinya seperti setan kepala api yang siap membakar. Buru-buru ia kencing berharap terhindar dari bala bahayanya. Bola api itu lenyap!
“Apa yang kau lakukan di sini?” seketika suara menusuk. Angin mati. Seorang Pak Tua dengan tubuh bungkuk berdiri di dekat pohon yang disadapnya.
“Kenapa kau mengaret malam-malam.” Ia kelu. Tercekat dengan sosok yang sama sekali tak ia kenal itu, membawa alat sadap di pundak dan pinggang dengan sebuah kopcah hitam.
“Ba…bapak… siapa?”
“Aku Min. Penyadap Nang Soleh bin Buntar Abidin.”
Seketika Anwar berdesir, darahnya mengalir turun ke tapak kaki. Mendengar nama itu ia jadi batu. Nama yang disebutnya tak lain tak bukan adalah kakek buyutnya sendiri. 
“Pak… Pak Min?”
“Kebun ini sudah berubah. Penyadap-penyadap itu tak seperti kami dulu. Mereka datang ramai kalau harga sedang tinggi dan menyadap hampir setiap hari. Lihat, kau merusak sebatang lagi.”
“A-a… Aku tak sengaja. Kupikir belum kusayat. Aku cicit buyut Nang. Aku pemilik kebun ini.”
“Cicit Nang?”
Sosok itu menatapnya lama.
“Aku tak menyangka Nang sudah punya cicit. Sudah lama aku tak bersua dengannya.” Ia lalu berjalan melewatinya. Tubuhnya yang bungkuk tertatih memikul keruntung tempurung yang penuh dengan getah kering.
“Hendak kemana engkau?”
“Tak hendak kemana-mana. Hanya ingin memupuk dan menyadap di bagian tenggara. Pohonnya sudah cukup umur.”
Anwar nyaris roboh. Tak ada pohon di bagian tenggara. Setahunya pohon-pohon di sana bahkan sudah tua dan siap tebang. Ia teringat dengan cerita sang ayah saat ia masih kanak, saat pertama kali diajak mengaret. Sambil bermain memungut biji buahnya, sang ayah bernama Minto yang hidup sebatang kara di kebun itu. Minto sangat menyayangi pohon karet sampai-sampai ia tahu betul mengapa tajuk mahkota rusak oleh angin, batang kerdil, getah kurang, dan penyakit-penyakit yang diidap sang pohon. Akar putih, akar merah, jamur upas, kanker bercak, kanker garis, busuk pangkal, embun tepung, sampai akar bulukan.
Ia lindungi setiap anak dari apa pun binatang, tikus, belalang, siput, uret tanah, rayap, kutu daun, tungau, rusa, kijang, tapir, monyet, tupai, sampai babi hutan. Meski pohon-pohon tua harus ditebangnya namun ia selalu berdoa laiknya seorang lelaki yang berkabung duka. Bila ada satu anak pohon yang sakit maka ia cepat-cepat merawat. Ia sudah menjadi petani sejak ia belum lagi menjadi lelaki. Setiap kali menyadap ia selalu menggunakan daun karet kering sebagai talangnyam, dan tak pernah sekalipun salah menyadap. Ia perlakukan anak-anak pohon yang belum matang tak ubahnya anak perempuan kecil yang turun dari kahyangan. Ya, karet baginya adalah pohon kahyangan, yang dikutuk untuk terus-menerus menyembuhkan luka demi memberi penghidupan bagi manusia. Pak Min, begitu panggilannya, selalu mengucap bismillah sebelum menyayat, mengelus batangnya laiknya hewan kurban yang hendak disembelih.
Ia berumah di kebun itu, di pojok barat lindung yang kini sudah ditebas menjadi lahan, dan menghabiskan sepanjang umur mengurus kebun. Syahdan cerita,ia meninggal saat sedang menyadap lantaran mengidap penyakit dalam yang disebabkan karena sudah terlalu lama mencium getah karet. 
Anwar terpaku melihat orang tua itu. Tak menyangka kalau Pak Min bukanlah sekadar cerita. Seperti kata pepatah, di mana periuk pecah di situ tembikar tinggal. ***
Catatan:
1. Kelakar-kelakar besar untuk menipu atau pun menjilat. Berasal dari kata kijang, lantaran hewan ini lincah dan tangkas jalannya.
2. Hutan bersama. Hutan yang dipanen bersama-sama untuk diambil segala isinya seperti tumbuhan mujarab, hewan liar, madu, buah, pohon, rempah-rempah, kayu, dll.
3. Pekerja kebun yang dibayar pemilik kebun untuk mengerjakan dari awal sampai akhir perkebunan, seperti mengolah tanah, memberi pupuk, menanam, sampai memanen dan menanam kembali.
4. Pohon karet yang terlalu subur sehingga kulitnya menjadi tebal dan tidak bergetah.
5. Kulit pohon karet yang terkelupas akibat disadap. Biasa digunakan untuk mempercepat keringnya getah cair. Dimasukkan ke dalam tempurung tadah seiring getah menetes.
DAHLIA RASYAD, lahir di Palembang 12 Oktober 1983. Pernah mendapatkan predikat sebagai Duta Bahasa untuk Sumatera Selatan 2007. memenangkan sejumlah lomba kepenulisan. Novel pertamanya Perempuan yang Memetik Mawar memenangkan Penghargaan Sastra dari Balah Bahasa Jogjakarta sebagai Karya Sastra Terbaik 2014. Sejak tahun 2010 menetap dan berkarya di Jogjakarta.
Rujukan:
Disalin dari karya Dahlia Rasyad
Tersiar di Surat Kabar “Koran tempo” pada 30 November 2014