Hantu Perempuan dan Hotel Berarsitektur Kiri

Karya . Dikliping tanggal 17 November 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
SAMBIL melambaikan tangan, Tinuk bertanya padaku, “Apakah kau suka dengan tulisan-tulisan George Orwell?”
Yang membingungkanku, Tinuk menanyakan hal itu tepat setelah aku bertanya kepadanya apakah di kota ini ada gedung yang dibangun dengan arsitektur beraliran kiri.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku menimpali pertanyaannya dengan pertanyaan juga sebab aku memang bingung dituduh begitu.
Tinuk tertawa. Hal itu seolah membuat aku tampak begitu bodoh. Tapi aku benar-benar tidak paham apa hubungan pertanyaanku dengan pertanyaannya, atau lebih tepatnya apa hubungannya gedung berarsitektur kiri dengan George Orwell.
“Sudahlah jangan cemberut begitu. Kalau kau penggemar George Orwell tentu pernah membaca esainya yang berjudul “Dapatkah Orang-orang Sosialis Hidup Bahagia?”. Dalam esai itu dia menyebutkan salah satu yang bisa dianggap kesalahan dari paham yang dianggap Kiri itu adalah membangun gedung dengan AC tersentral dengan lampu-lampu berderet yang bersinar terang,” katanya dengan nada membujukku agar tidak bungung dan terlihat sedih karena kebodohanku.
Aku melongo. Sebab yang aku tahu Orwell hanya menulis novel Animal Farm dan 1984 saja. Ketika aku berkata bahwa aku hanya tahu novel-novel Orwell, Tinuk kembali tertawa.
“Orwell juga menulis puisi,” katanya.

Kali ini aku melihat wajahnya dengan sangat jelas. Beberapa hari sebelum hari ini, aku tak pernah mau untuk menatapnya karena takut. Tinuk adalah hantu perempuan yang kutemui di apartemen, tempat aku menginap selama mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di sebuah kota kecil di benua Eropa ini. Dia suka muncul dari kamar mandi secara tiba-tiba. Lalu, jika kamar tidurku terbuka, dia akan segera masuk dan duduk di atas meja kerjaku. Duduk di antara tumpukan buku-buku.

Pertama kali aku bertemu dengannya, adalah ketika aku duduk menghadap ke arah pintu kamarku yang terbuka. Saat itu aku tengah membaca sebuah kumpulan sajak Rendra tepat pada sajak “Nyanyian Angsa”. Tiba-tiba aku mendengar suara gagang pintu kamar mandi seperti hendak dibuka. Aku berhenti membaca.
Kuperhatikan dengan seksama gagang pintu kamar mandi yang letaknya memang berhadapan dengan kamarku. Tidak. Gagang pintu itu tidak bergerak.
Belum lama aku pandangi gagang pintu itu dari jauh, tiba-tiba sesosok perempuan bergaun merah sudah berdiri di hadapanku.
Tentu aku tidak berpikir perempuan itu keluar dari buku Blues untuk Bonnie itu. Tapi lucunya aku sempat berpikir jangan-jangan dia bernama Maria Zaitun! Sebab dia tidak berperawakan orang Eropa, tetapi lebih mirip dengan orang dari Asia. Mungkin juga orang Indonesia.
Belum sempat aku melihat wajahnya yang tertutup rambut panjang hitam, aku melihat gaun merahnya semakin dekat dengan wajahku. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi. Hanya gelap belaka.
“Aku senang jika ada teman. Di sini, aku sangat kesepian. Kota ini dingin dan seolah tenggelam dalam sepi. Itu sebabnya aku menampakkan diri padamu.” Hantu perempuan itu bicara tanpa henti begitu aku membuka mata. Dia seolah tahu aku telah siuman. Suaranya terdengar seperti dari belakang punggungku.
Aku masih ketakutan dan tak berani menoleh atau memalingkan wajahku ke arahnya suaranya. Tapi hantu itu masih bicara. Kudengar lamat-lamat dia bercerita tentang seorang tentara yang mencintainya dan membawanya ke kota ini. Aku jadi tertarik untuk mendengar ceritanya lebih lanjut.
Dengan memberanikan diri, aku bangkit dan menghadapkan tubuhku ke arah suara hantu itu berada, tapi wajah kutundukkan ke lantai. Takut jika penampakannya memang menyeramkan seperti gambaran hantu-hantu dalam film Jepang atau Indonesia.
“Ah. Kau rupanya tertarik dengan cerita percintaanku ya?” godanya.
Dengan rasa ragu karena malu mendengar perkataannya dan tebersit keberanian untuk menganggap hantu itu seolah khayalanku saja, aku mencoba mengangkat wajahku.
“Bagaimana tadi ceritanya kau bisa meninggal di kota ini?”
“Kau rupanya lebih tertarik dengan cerita daripada berkenalan denganku. Pantas kau masih sendiri sampai saat ini.”
Dia, tanpa diminta, memperkenalkan dirinya. “Aie Thin Noe namaku. Aku lahir di Burma, atau Myanmar saat ini. Perang telah membuat keluargaku berantakan. Dan kau pasti tahu gadis sepertiku akan mudah jatuh ke tangan yang salah dalam kondisi seperti itu. Singkatnya, aku menjadi budak nafsu para tentara. Untunglah seorang tentara dari kota ini datang menyelamatkanku. Meski awalnya tetap sama saja, sebagai laki-laki yang jauh dari rumah, lalu bertemu dengan pelacur seperti aku, dia hanya menginginkan aku sebagai pemuas nafsu belaka. Tapi cinta lama-lama tumbuh di hatinya, dan sampailah aku di sini.”
Aku mencoba mencari tahu seperti apa wajahnya yang tersembunyi di balik helaian-helaian rambut hitam panjang. Dan seperti tahu maksudku, tangannya bergerak menyibak rambutnya. Aku gugup. Alih-alih melihat wajah yang kini terbuka, aku kembali menunduk.
“Namamu susah kusebut. Bagaimana jika aku panggil kau Tinuk?”
Dia tertawa. Berbeda dengan suara tawa kuntilanak yang cenderung mirip ringkik kuda, tawanya terdengar renyah seperti seorang gadis manja.
HARI-HARI selanjutnya, aku makin akrab dengan kehadiran Tinuk. Justru, Tinuk entah bagaimana caranya bisa membuatku merasa betah tinggal di kota ini. Tak jarang, dia ikut dalam perjalananku dari apartemen ke kampus. Dia juga sering mengejutkan dengan membisikkan judul buku yang bagus ketika aku berada di toko buku. Setelah aku membayar di kasir untuk satu seri buku 1Q84 karya Haruki Murakami, dia tiba-tiba menyeletuk.
“Kamu paling suka cerpen Murakami yang mana?” tanyanya.
Tentu pertanyaannya tak segera kujawab. Takut dikira orang aku mengalami gangguan jiwa. Tapi dia mengulangi kembali pertanyaannya. Dengan langkah cepat, aku keluar dari toko buku. Memotong jalur sepeda dan menuju sebuah jalan kecil yang mengarah ke taman kota. Tepat di pagar taman kota yang di sana terdapat sebatang pohon yang tengah berbunga, lagi-lagi dia bertanya hal yang sama.
“Kau aneh. Aku baru membeli novel, kau malah bertanya soal cerpen,” jawabku ketus karena merasa terganggu.
“Aku yakin kau mau menjawab pertanyaanku. Benar, bukan?” godanya lagi.
Kulemparkan pantatku di atas bangku yang tersedia di trotoar. Meletakkan novel baru itu. Dan sambil melihat matanya yang hitam seperti dalam lukisan Jeihan, aku berusaha mengingat beberapa judul cerpen Murakami.
“Aku suka ‘Second Bakery Attack’,” kataku setelah lama terdiam.
“Aku menduga kau punya otak kapitalis!” rutuknya.
Kapitalis? Apa hubungannya pilihanku akan cerpen Murakami dengan ideologi ekonomi itu? Aku jadi bertanya tanya, apa hantu itu memang punya kemampuan untuk menggabungkan beberapa hal dalam sebuah percakapan? Rasanya, aku tak mau bertanya atau menjawab pertanyaannya lagi.
“Berikan aku alasan mengapa kau beranggapan demikian?”
“Rasa lapar,” katanya, “dalam cerpen pilihanmu itu teramat menakjubkan bukan? Nah, aku hanya menghubungkan jika kau suka dengan cerpen itu tentunya kau juga beranggapan ada banyak hal yang bisa dieksplorasi menjadi cerita. Artinya, dalam hidupmu, kau pun akan menganggap begitu.”
“Ah. Kau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu,” sanggahku, “Aku justru seorang yang memimpikan semua orang dalam dunia ini hidup dalam harmoni. Boleh saja jika kau menganggapku seorang utopis.”
“Utopis?” selidiknya. Bola matanya yang hitam itu seakan-akan membesar memandangiku dengan lekat. “Semua orang yang dianggap pelopor suatu gerakan biasanya seorang yang utopis.”
Dia kemudian bercerita bahwa di masa pergerakan besar menentang kaum borjouis di kota ini, beberapa bangunan indahnya pernah beralih fungsi.
“Gedung di sebelah sana dulunya sebuah arena pertunjukan. Saat mereka berkuasa, gedung itu menjadi semacam laboratorium atau pusat pengkajian ilmiah. Dan gedung-gedung yang berderet di jalan utama itu, dulunya dibangun sebagai apartemen milik rakyat. Atau untuk rakyat yang mau dipimpin dengan ideologi mereka.” Ketika dia menjelaskan demikian, aku merasa sedang dibawa bertamasya dengan dipandu oleh seorang tour guide. Aku lantas teringat sebuah upaya pencarian jati diri bangsa melalui arsitektur bangunan yang sering disebut sebagai post-constructivism. Maka selesai dia bercerita, aku bertanya kepadanya apakah di kota ini ada gedung yang berarsitektur kiri kepadanya.
“Dalam hidup ini, semua itu dapat dihubung-hubungkan, termasuk pertanyaanmu itu dengan tulisan-tulisan George Orwell. Kau pasti belum tahu bahwa dia juga menulis puisi yang mirip dengan kisah hidupku, bukan?”
Kali ini aku tertarik dengan perkataannya. Aku menduga pasti puisi George Orwell yang dimaksud masuk dalam kategori puisi cinta, tetapi dia berkata puisi ini berjudul ‘Ironic Poem about Prostution’.’
Ah. Aku lupa bahwa latar belakang hidupnya adalah seorang pelacur. Tak berapa lama, dari bibirnya – atau setidaknya demikian – meluncurlah puisi tersebut.
When I was young and had

no sense

In far-off Mandalay

I lost my heart to a Burmese

girl

As lovely as the day.



Her skin was gold, her hair

was jet,

Her teeth were ivory;

I said, “For twenty silver

pieces,

Maiden, sleep with me.”



She looked at me, so pure,

so sad,

The loveliest thing alive,

And in her lisping, virgin

voice,

Stood out for twenty-five.
SELESAI dia membaca puisi itu, giliran aku yang tertawa getir. Pelacur berkebangsaan Burma. Mirip sekali dengan kisah Tinuk. Lalu, ironi pada soal sikap sedih pelacur itu dengan permintaan naiknya harga penawaran sungguh terasa menyedihkan. Tawaku cepat berganti dengan diam begitu aku melihat dia seperti termenung.
“Kenapa?” Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.
“Tak apa. Aku hanya ingin menjawab pertanyaan tadi soal gedung berarsitektur kiri yang ingin kau ketahui di kota ini. Kau lihat gedung di sebelah sana? Tepat di perempatan di seberang taman ini. Yang warnanya kuning tua dengan atap seperti berpagar dan ada semacam tugu kecil di empat sudutnya itu?”
Aku melempar pandangan searah dengan tangannya menunjuk. Memang ada bangunan besar berwarna kuning dengan banyak jendela berbingkai putih. Gedung itu telah dibagi menjadi beberapa bagian. Lantai pertama dihiasi beberapa pintu besar yang melengkung seperti pintu gereja. Tiga lantai di atasnya berjendela dengan bentuk kotak sederhana. Menuju ke tiga lantai di atasnya, ada semacam balkon panjang. Dan jendela di lantai paling bawah – dari tiga lantai di atas balkon – dibentuk dengan bingkai melengkung, sedangkan dua lantai lagi sama seperti bentuk jendela tiga lantai pertama. Lalu setelah itu, ada satu lantai dengan jendela berukuran lebih besar dari semua jendela. Dan dua lantai terakhir dibangun agak menjorok ke dalam karena ada semacam selasar dengan tiang-tiang besar. Bangunan itu diakhiri dengan hal yang persis seperti dikatakan Tinuk; pagar dan tugu kecil di empat sudutnya.
“Apakah bangunan itu yang dibangun dengan arsitektur beraliran kiri? Aku kembali bertanya pada Tinuk.
“Aku tak tahu sebenarnya yang kau maksud dengan arsitektur beraliran kiri, tapi bangunan hotel itu mirip sekali dengan apartemen yang ada di Kutuzovsky Prospekt, Moskow. Di sanalah aku dibunuh suamiku sendiri yang mengira aku hendak berselingkuh dengan temanku. Padahal aku datang ke hotel itu untuk menghadiri pertemuan orang-orang Burma perantauan di kota ini.”
Setelah Tinuk mengatakan hal itu, aku tertegun cukup lama memandangi bangunan itu, sampai-sampai tak kusadari Tinuk sudah tidak ada lagi di sampingku. Tapi bukan karena Tinuk menghilang aku memungut novel Murakami di atas bangku dengan cepat, memasukkannya ke ransel, lalu bergegas menyeberang jalan. Aku melakukan itu semua karena desakan rasa lapar. Rasanya, siapa pun tahu jika rasa lapar menyerang, apalagi ditambah suhu udara yang di bawah 10 derajat Celcius, orang akan berjalan dengan sangat tergesa. Tidak terkecuali aku.
Jakarta, September 2014
Dedy Tri Riyadi, pekerja iklan. Lahir di Tegal, 16 Oktober 1974, kini bermukin di Jakarta. Bergiat pada Komunitas Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam). Novelnya Dan Segalanya Menghilang (2009). 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedy Tri Riyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 16 November 2014