Hari Kemenangan

Karya . Dikliping tanggal 13 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Tabloid Nova
GORDEN pintu kamar terbuka. Aisyah muncul memakai baju tunik kehijauan bermotif bunga-bunga pakis Kalimantan, celana panjang hijau tua serta jilbab hijau tosca yang dihiasi bos bermahkotakan batu blue saphire.
“Bagaimana, Bik?” Aisyah bergaya dan tersenyum malu-malu. “Inilah yang disebut go green, mencintai lingkungan,” Aisyah tertawa senang, merasa muda kembali.
Tulha yang sedang mengangkuti piring tertegun, “Subhanallah! Cantik, Bu. Seperti gadis-gadis kuliahan yang ngekos di seberang rumah.”
“Ah, bisa saja Bibik ini,” Aisyah tersenyum lebar mengambil taplak dari atas mesin jahit. “Piringnya simpan dulu di atas mesin jahit, Bik,” dia membuka lebar taplak meja bermotif bunga-bunga bordiran.
Aisyah membentangkan taplak di atas meja makan kayu jati. Tulha membantu memegangi kedua ujung taplak di sebelah timur. Dengan lembut taplak itu melayang jatuh menutupi seluruh permukaan meja.
Ilustrasi karya Aries Tanjung

Dengan riang Aisyah menyusun empat pirin, sendok-garpu , dan gelas. Tulha bergegas ke dapur. Aisyah menarik kursi dan duduk. Dia melihat ke jam dinding. Sudah pukul 16:00. Sejam lagi Firman akan tiba. Kemudian Ghifar. Dan ini yang teristimewa! Dia ingin memberi kejutan di hari terakhir puasa, yaitu mengenalkan kepada ayah baru bagi mereka.

“Bik, untuk Firman dan Ghifar jangan dikasih gula jus mangganya, ya. Mereka lebih senang rasa manis asli dari buahnya.”
“Iya, Bu. Tapi kalau untuk….?”

Aisyah tersenyum, karena di kursi itu akan duduk seseorang yang akan mengubah sisa hidupnya. Cukup sudah hidup sendiri selama lima tahun. Luka bernanah itu harus dienyahkan.

“Bu?”
“Ya?”
“Jus untuk….”
“Oh. Jus untuk Mas Ramdhan sedikit saja gulanya.”
“Punya Ibu”
“Sama seperti Mas Ramdhan,” nadanya penuh cinta.
“Baik, Bu.”
“Lima tahun ibu menunggu hari ini tiba, Bik….”
“Tapi, Firman dan Ghifari tahu, Bu?”
“Sengaja ibu nggak ngasih tahu.”
“Kalau mereka nggak setuju?”
“Nggak apa-apa. Mereka sudah pada gede. Nanti setelah mereka berkeluarga dan punya anak pasti akan mengerti, walaupun awalnya tidak setuju.”
“Bibik doakan semuanya lancar, Bu.”
“Amin. Terima kasih, Buk,” Aisyah membantu Tulha mengatur letak mangkok opor ayam, piring besar berisi ketupat, kentang goreng, semur daging dan acar di meja makan.
Ting tong, bunyi bel berbunyi.
“Assalamualaikum!”
Asiyah menatap jam di dinding. Mereka datang lebih cepat tiga puluh menit.
***
“Ibu cantik sekali!” Firman mengecup pipi Aisyah.
“Semoga hari ini Firman memberi kabar pernikahan dengan Siti Fatimah,” Aisyah tersenyum mengucek-ucek rambut si sulung.
“Nggak kayak lima puluh tahun, Bu!” Ghifar gantian memeluk dengan gembira.
“Kamu, Ghifar! Semoga ada kabar baik juga! Sudah ketemu bidadari surgamu?”
“Insya Allah, Bu!” Ghifar tertawa.
Tiba-tiba Firman dan Ghifar menatap kursi itu. Mereka saling pandang. Kegembiraan pun terhenti.
“Buat siapa kursi itu, Bu?” Firman langsung menyelidik.
“Buat siapa ayo?” Aisyah tersenyum penuh misteri sambil memain-mainkan sendok.
“Jangan-jangan Ibu sudah tahu kalai kami mengundan….”
“Ghifar!” Firman melotot.
“Oh, maksud Ghifar, jangan-jangan Ibu mengundang tamu istimewa sore ini,” Ghifar meralat. “Iya, Bu?”
“Siapa tamu istimewa itu, Bu?” Firman serius menatap ibunya. “Siapa yang akan duduk di kursi itu?”
Aisyah meletakkan sendok di samping garpu dan membetulkan letak duduknya. Dia memandangi Firman dan Ghifar, yang masih saja memandangi kursi kosong di depan mereka. “Firman, Ghifar. Dengarkan Ibu mau bicara,” suaranya bergetar. “Ayo duduk!”
Seperti kena sihir, Firman dan Ghifar menarik kursi dan duduk. Mereka bergantian memandangi sosok ibunya dan kursi kosong itu. Mereka mencoba menarik garis lurus. Mereka merasa ada gaya gravitasi di antara keduanya.
“Lima tahun yang lalu, Bapak meninggalkan kita. Itu semua gara-gara wanita muda itu. Ibu tidak mau dimadu dengan alasan apa pun. Ibu menolak dipoligami. Bapakmu manusia biasa, jadi tidak mungkin adil kepada Ibu. Itu bertepatan dengan kalian kuliah. Ibu banting tulang membesarkan bisnis kue kering, sehingga kalian bisa jadi sarjana. Kemudian kamu, Firman, kerja di Surabaya. Juga kamu, Ghifar, menyusul kerja di Semarang. Kalian tinggalkan Ibu kesepian di sini.”
“Ibu, semuanya akan kembali seperti dulu,” Firman memotong.
“Ibu bum selesai bicara!”
“Kita akan hidup bahagia seperti Firman dan Ghifar kecil, Bu.” Aisyah tertegun.
“Kak! Biarkan Ibu bicara bulu!” Ghifar serius kepada Firman. Firman gelisah.
Aisyah menarik napas; dia menguatkan hatinya. “Kursi kosong itu. Iya, betul. Ibu mengundang seseorang yang akan menjadi pendamping Ibu di sisa hidup Ibu. Jika Ibu meninggal, setidaknya ada yang mengurusi jenazah ibu.”
“Apa? Ibu mau nikah lagi?” Firman berdiri. “Ibu sudah lima puluh tahun! Harusnya Ibu memikirkan ibadah, bukan malah mengikuti hawa nafsu!”
“Kak! Pelankan nada suaranya! Tidak baik bicara dengan nada tinggi kepada Ibu!”
“Dengar, Ghifar! Usaha kita untuk menyatukan Bapak dan Ibu percuma saja. Ini bisa jadi perang Badar!”
“Ada apa ini?” Aisyah kaget.
“Kamu minta maaf, Bu. Hari ini kami juga mengundang Bapak,” suara Firman hati-hati dan pelan.
“Allah saja Maha Pengampun, Bu. Tiga tahun lalu, sejak kecelakaan mobil yang merenggut nyawa istri muda Bapak, apakah Ibu tidak merasa kasihan dengan Bapak? Setiap ada kesempatan, saya dan Ghifar secara bergantian menengok Bapak. Ribuan kali kami mendengar Bapak menyesali perbuatannya. Bapak tergoda. Bapak Khila, Bu. Kami membesarkan hati Bapak. Hidup dengan satu kaki itu tidak mudah, Bu. Apalagi sekarang Bapak hidup sendirian,” kedua mata Firman membentuk telaga.
“Itu hukuman setimpal dari Allah kepada orang-orang yang mengkhianati pernikahan. Untung Allah menghukum Bapak di dunia,” suara Aisyah bergetar.
Firman menyandarkan tubuhnya. Ghifar menatap kursi kosong itu. Aisyah berdiri; dia berjalan menuju meja TV. Dia menjumptu handphonenya dan meyentuh layarnya beberapa kali.
“Assalamualaikum Mas Ramdhan,” Aisyah berdiri di belakang kedua anaknya. “Insya Allah, pertemuan hari ini jadi,” Aisyah duduk di sofa depan TV. “Firman dan Ghifar sudah datang. Mas Ramdhan sudah sampai mana?” Aisyah menatap jam dinding; pukul 17:00.
Ting tong, bel berbunyi nyaring. Aisyah, Firman, dan Ghifar saling pandang. Tulha hanya mendengarkan dari balik tembok.
***
“Saya bahagia bisa hadir di sini, mengenal Firman, Ghifar, dan Mas Irfan. Saya ini duda tanpa anak. Istri saya meninggal terkena kanker. Saya menegnal Aisyah di pengajian. Kami merasa senasib, kesepian di hari tua. Kami ingin menghabiskan sisa umur dengan beribadah. Tapi, ketika melihat kondisi Mas Irfan, saya ikhlas. Ternyata Mas Irfan lebih membutuhkan Aisyah. Semoga Allah meridhoi niat baik kita. Semoga keluarga skainah, mawadah warohmah kembali terwujud di sini,” itulah kalimat yang keluar dari mulut ramdhan sebelum berpamitan.
Irfan berjalan tertatih-tatih dengan kruknya. Setelah lima tahun, Aisyah baru melihatnya lagi. Lelaki yang sangat memesonanya itu, kini bagai batang pohon rapuh. Wajahnya yang rupawan itu dihiasi jahitan yang melintang di pipi kirinya. Untuk berjalan menuju ke dalam taksi saja, Firman dan Ghifar harus memapahnya. Firman membantunya masuk ke dalam taksi. Sebelum pergi, Firman menatap Aisyah dengan sorot langit senja. Sedangkan Irfan memejamkan matanya, meratapi nasibnya. Ghifar memilih menemani Aisyah.
Suara takbir bertalu-talu di hati mereka.  Bendungan di kedua mata Aisyah tak tertahankan. Jebol membanjiri sajadah. Orang-orang sudah meninggalkan alun-alun masjid. Aisyah masih bersujud di sajadah. Keputusannya sudah bulat. Di hari kemenangan ini, dia memilih sendiri. Dia melepas kepergian Ramdhan agar kedua anaknya tidak tersakiti. Dan dia menolak kehadiran Irfan, agar Ramdhan tahu betapa cintanya hanya untuknya.(*)
Rumah Lebah, 22 Juni 2015
Terimaasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Teguh Afandi yang telah berkenan mengirimkan karya ini kepada klipingsastra. Salam
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gol A Gong
[2] Pernah tersiar di “Taloid Nova”