Hidangan di Meja Makan

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi

AKU mengamati hidangan yang terhantar di meja makan. Spaghetti bolognese, cheesecake, kroket kentang isi daging, orange juice. Semenjak aku menjadi istrinya, mulai saat itu aku membiasakan diri memakan semua masakannya. Baginya, memberikan makanan yang bermacam-macam kepadaku adalah sebuah kebahagiaan. Bagiku, menghabiskan semua masakannya adalah pengabdian.

“Makanlah yang banyak. Melihatmu lahap memakan masakanku, aku merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia,” ucapnya cerah sembari menghirup secangkir kopi hitam.

Aku hanya mengangguk. Kroket kentang isi daging buatannya selalu menjadi primadona untukku. Dua kroket berhasil aku telan setelah aku menghabiskan sepiring spaghetti bolognese sampai tandas. Wajahnya semakin cerah. Dengan cekatan dia menuang orange juice.

“Makanlah, Sayang. Makanlah yang banyak. Nanti sore aku masakkan yang lainnya,” sergahnya bersemangat.

Aku ingin berhenti, tapi mendengar semangatnya yang meluap-luap, tanganku meraih potongan cheesecake. Warnanya begitu memikat mata dengan lelehan saus stroberi di atasnya. Aku memotong sedikit ujung cheesecake dan menyuapkan ke mulut. Aku mencintai kue satu ini. Sungguh. Melihatku memakan sedikit demi sedikit cheesecake buatannya, wajah kekasihku berseri-seri. Entah bagaimana mulanya dari wajahnya yang berseri, selalu melahirkan kerakusan dalam diriku yang dulu tak pernah kukenal.

“Aku tahu, kau sangat menggemari cheesecake itu. Aku tahu….”

Aku hanya mengangguk perlahan. Tanganku seakan tak ingin berhenti. Potongan-potongan cheesecake aku telan dengan perlahan. Begitu teratur sampai potongan terakhir di atas piring kecil itu aku telan. Melihat cheesecake di atas piring kecil tandas tak bersisa, kekasihku itu bertepuk tangan.

“Aku bertambah menyayangimu. Aku sangat mencintaimu,” bisiknya dengan mesra di samping telingaku.

“Aku pun begitu. Sangat mencintaimu,” bisikku perlahan dengan napas tersengal. Pengap.

***

TAK berselang lama setelah menjadi istrinya, lemak di dalam tubuhku mulai menumpuk. Tubuhku tak ubahnya balon yang diisi helium. Menggelembung. Lemak-lemak membuat pahaku membengkak. Perut, pipi lengan, semuanya sarat dengan lemak. Aku tampak sangat berbeda dengan diriku yang dulu.

Beberapa kawan menganggap hubunganku dan kekasihku itu tak normal. Ada kesalahan di hubungan kami.

“Suamimu mungkin sakit. Seharusnya kau ajak dia berobat. Lihat apa yang dia lakukan kepadamu sekarang ini?” ucap seorang sahabat suatu hari.

“Berobat? Suamiku sehat-sehat saja. Untuk apa dia berobat?” Aku mengulum senyum.

“Ah, bukan kesehatannya yang sakit. Tapi mentalnya!”

Kali ini aku menatapnya dengan sungguh-sungguh. Mentalnya yag sakit?

“Apa menurutmu menjadikanku seperti ini sebuah kesalahan?”

“Tak ada yang salah dengan badan yang gemuk. Asal sehat. Nah, aku melihatmu tak seperti itu. Selama ini aku berpikir tentangmu dan suamimu. Memberikanmu makanan-makanan yang berlebihan bukan sekadar rasa cinta darinya. Tapi sebuah obsesi yang sakit.”

Mendengar ucapan sahabatku itu, aku tercenung. Untuk beberapa saat aku membenarkan apa yang dia ucapkan. Tapi bukankah memasak untukku itu kebahagiaan untuknya. Dan memakan masakannya adalah sebuah pengabdian dariku.

“Aku tak ingin menyakitinya dengan membawanya berobat dan menjadikan dirinya seolah kurang waras,” jawabku gugup.

“Begitulah cintamu kepadanya. Kau rela menderita seperti ini.”

Menderita. Mungkinkan aku menderita selama menjadi istrinya? Aku memang begitu berubahnya. Bukan saja bentuk tubuhku, melainkan dalam kerakusanku memakan semua hidangan yang saban hari terhidang di meja makan. Dia begitu mengubahku dalam soal makan. Apa saja yang dia masak, semuanya bisa aku telan dengan baik. Seolah lambungku sudah sedemikian melarnya.

Setiap hari dia masih memasak untukku. Setiap hari pula bobot tubuhku naik. Lemak-lemak semakin menumpuk. Berat tubuhku tak bisa lagi kukontrol. Banyak hal yang tak bisa lagi aku lakukan. Namun tampaknya dia tak begitu keberatan.

***

PERTAMA kali mengenalnya, aku tahu bahwa yang sangat dia takutkan adalah kelaparan. Di sebuah klinik kali pertama kami bersua. Aku menderita gastritis. Penyakit pencernaan itu membuatku tak lebih dari kerangka hidup. Kurus kering dan terlihat sangat layu. Dia datang mengantar kerabatnya saat itu.

“Sakit apa?” tanyanya saat kami duduk bersebelahan di ruang tunggu.

“Pencernaan,” jawabku perlahan.

“Oh, pasti pola makannya tidak teratur ya?”

“Kelihatannya begitu.”

Dia tersenyum. Perlahan dari tas punggung miliknya, dia mengeluarkan sebuah kotak makan kecil.

“Roti lapis mau? Saya sendri yang membuat.” Dia menyodorkan kotak makan itu.

Aku mengamati isinya. Roti lapis yang terlihat begitu mengundang selera. Namun perutku seakan menolaknya.

“Tidak. Terima kasih.” Aku menolak dengan halus.

“Kenapa? Ini enak kok.”

Aku menggeleng. Dia terlihat begitu kecewa. Aku merasa berdosa saat melihat tatapannya yang nanar itu.

Selang beberapa hari kemudian kami bertemu kembali. Dia membawa kotak makan lagi. Kali ini aku tak menolak makanan darinya. Selanjutnya kami kerap bertemu. Saling jatuh cinta itu tak ubahnya takdir untuk kami berdua. Begitu mudahnya asmara itu tercipta. Sehari setelah kami mengikat janji untuk pertama kali, dia bercerita tentang dirinya. Tentang momok yang selalu menakuti dirinya. Kelaparan.

Dikisahkan usianya kala itu belum juga genap lima tahun, tatkala dia titipkan di sebuah panti asuhan miskin di pinggiran kota, selepas kedua orangtuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan Dia sebatang kara hidup di tempat asing yang begitu menyedihkan.

“Tiap hari di panti kami makan apa saja. Makanan yang sangat sederhana. Saat itu impian seorang anak ingin memiliki rumah bagus dan keluarga baru yang baik. Aku agak lain. Aku ingin makan enak. Hampir setiap hari aku melewati toko roti di depan panti. Tapi hanya mampu memandang, tak bisa mencicipi,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Apa di panti kau tak pernah sekalipun makan enak?”

“Jarang sekali. Setidaknya hanya sebulan sekali bisa makan enak. Dapat kue-kue yang manis dan nikmat, itu juga dengan porsi kecil yang terkadang masih mengundang rasa lapar. Tapi ketika aku diangkat anak oleh ibu angkatku, semuanya berubah. Aku bisa makan apa saja. Aku belajar memasak. Meski ketakutanku akan kelaparan tak pernah hilang.”

Aku tersenyum lirih mendengar cerita darinya. Kesukaran hidupnya melahirkan momok baru dalam hidupnya. Khawatir dan begitu ketakutan dengan kelaparan. Setelah tahu latar belakang dirinya, aku mencoba memahaminya, meski orang-orang tetap saja mengatakan bahwa dia menderita sakit mental. Memberiku makan berlebih bukanlah atas nama cinta semata, namun obsesi yang menakutkan. Obsesi lantaran ketakutannya akan kelaparan.

***

TUBUH yang terus menggemuk membuatku semakin tak berdaya. Aku mulai tak bisa beraktivitas. Bahkan untuk sekadar keluar ke ruang tamu atau halaman rumah, aku begitu kesulitan. Kerjaku hanya duduk di dalam kamar. Memandangi alam luar dari balik jendela kamar. Suamiku, kekasihku itu, tampak bahagia saja melihatku seperti itu. Dia masih memberiku makanan-makanan yang mengundang naiknya bobot tubuh.

Sampai satu hari aku tersadar. Aku bukanlah diriku yang kukenal. Aku telah berubah menjadi monster yang selalu rakus terhadap makanan. Melihat sisa makanan yang tercecer di ranjang. Melihat betapa banyaknya peralatan yang berserakan di sekelilingku.

Lewat pantulan cermin di kamar tidur itu aku tak menemukan diriku. Yang tepantul di sana hanyalah seonggok daging yang menggelembung. Layaknya sapi perah gemuk yang sarat lemak dan daging. Bahkan tanpa aku sadari, seringkali aku hanya bisa melenguh saat kelaparan. Benar-benar mirip seekor sapi. Tatkala lenguhanku didengarnya, dengan tergopoh-gopoh suamiku datang dengan baki berisi beraneka makanan. Selanjutnya seperti sebelum-sebelumnya, dia akan memandangiku dengan mata bercahaya. Dia bahagia. Di matanya kau tetaplah selalu sama, tak pernah berubah. Aku bukanlah sapi baginya, meski nyatanya aku telah berubah menjadi monster yang rakus. Monster rakus yang terlahir dari obsesinya tentang makanan dan kelaparan.

Aku tak tahu apa yang terjadi. Seingatku, aku tersedak kue bolu siang itu. Ketika mataku terbuka, aku sudah terkapar di rumah sakit. Entah bagaimana mereka membawaku sampai kemari. Alat-alat terpasang di tubuhku. Napasku terasa berat. Kekasihku itu menunggu di samping ranjang.

“Cepatlah sembuh. Nanti aku masakkan makanan kesukaanmu. Aku sangat mencintaimu,” ucapnya penuh haru.

Dalam hati aku membalas ucapannya.

“Aku mencintaimu juga. Dengan segenap lemak di dalam tubuhku. Mencintaimu dengan kolesterol dan kadar gula darah yang tinggi. Aku mencintaimu dengan segenap pengabdian, bahkan rela berubah menjadi monster rakus….”

Aku ingin mengucapkan semua itu lewat bibirku. Tapi tak mampu. Dadaku sangat sesak. Dan lengkingan alat elektrokardiogram menyudahi percakapan kami sore itu. (e)

 

Salatiga, Oktober 2017

Artie Ahmad (Sunarti): lahir di Salatiga, 21 November 1994. Tinggal di Jalan Residen Indarjo No 25 Kel Gendongan Tingkir Kota Salatiga

 

[1] Disalin dari karya Artie Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu 22 Juli 2018

Beri Nilai-Bintang!