Hidupku

Karya . Dikliping tanggal 29 November 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

SETELAH 10 tahun hidup yang tak jauh-jauh dari belajar berjam-jam di rumah yang amatlah besar ini, aku merasa bosan dengan hidup ini yang selalu diatur oleh kedua orangtua. Tapi aku tahu, mungkin mereka bermaksud baik untuk merencanakan kesuksesanku di masa depan.

NAMUN, sejak diriku berumur 8 tahun bahkan sebelumnya, orangtuaku memutuskan untuk aku bersekolah di rumah saja atau yang lebih dikenal dengan home schooling. Setiap pukul 7 pagi aku dipaksa untuk bangun dan segera mempersiapkan diri untuk makan bersama dengan orangtuaku. 
Pada saat makan pagi, jarang sekali ada perbincangan, dan kalau ada pun hanya sekitar mengenai pekerjaan orangtuaku, pendidikanku ataupun bagaimana aku akan melanjutkan bisnis mereka. Setelah kami semua selesai makan, orangtuaku segera pergi menuju kantor mereka dan aku harus menuju ruang belajarku.
Sebagian besar dalam hariku hanyalah belajar, dan yang diajarkan oleh guru-guruku ini bukan hanya satu pelajaran melainkan 11 pelajaran. Dari kesebelas pelajaran ini hanya ada sekitar 3 pelajaran yang aku sangat tertarik. Namun itu tak ada hubungannya dengan bisnis orangtuaku, sehingga kalau mereka tahu bahwa aku tidur malam hanya untuk memperdalam salah satu pelajaran itu, mereka tak akan senang.
Karena merasa tertekan aku sering bercerita kepada salah satu guruku ini, dia mengajar geografi. Selain menjadi guru ia menghabiskan waktunya untuk berpetualangan, pergi ke suatu tempat dan ke tempat lain, mencicip berbagai macam makanan dan juga mempelajari berbagai budaya. Belum lama ini, aku mempunyai suatu ide untuk kabur dari rumah dan pergi berpetualang, dan ide ini tak mungkin menjadi nyata bila guru geografiku tak membantuku.
Setelah merencanakannya berbulan-bulan akhirnya malam yang kutunggu-tunggu pun datang. Malam yang di mana kedua orangtuaku sedang pergi ke luar negeri untuk pekerjaan mereka. Saat jarum jam menunjuk angka 11 malam, aku dengan segera menuju jendela kamarku dan dengan mengendap-endap aku keluar dari rumahku itu. Tak lupa kutinggalkan secarik kertas mengatakan aku akan kembali setelah 1 bulan.
Lalu terlihat ada bayangan seseorang yang telah menunggu di bawah pohon besar di depan rumahku. Dengan tas punggung yang sangat besar aku segera berlari menuju orang itu. Orang itu adalah Radi, guru geografiku. Ia umurnya tak jauh dariku hanya berbeda sekitar 4 tahun dan ia adalah orang terpintar yang aku tahu.
Petualanganku baru saja mulai, kami menaiki mobil miliknya yang cukup besar ini menuju timur dan ternyata dalam petualangan kali ini ia mengajak teman dekatnya yang bernama Andri. Radi sering menceritakan tentang temannya ini, ia selalu mengatakan bahwa temannya ini sangat suka membuat video-video pengalaman hidupnya.
Karena masih malam rasa ngantuk tak tertahankan oleh mataku, aku pun tertidur lelap. Saat aku bangun, kami telah sampai di sebuah rumah kecil yang begitu berbeda dari tempatku tinggal. Dan ternyata Radi, Andri dan diriku akan tinggal di tempat ini untuk beberapa hari.
Tempat macam apa ini, mengapa begitu kecil dan bagaiamana cara orang tinggal di tempat seperti ini. Semua pertanyaan itu bermunculan di dalam otakku namun aku memutuskan untuk melupakan semua itu dan menjalani hidupku ini.
Radi membuat beberapa perjanjian kepada pemilik rumah ini agar kami diizinkan untuk menetap beberapa hari. Setelah ia menyetujui, kami segera mengambil barang bawaan yang begitu banyak ke dalam rumah itu.
Hari itu kami habiskan untuk menata barang-barang dan beristirahat. Keesokan paginya aku terbangun dari mimpiku oleh sentuhan orang di pundakku.
“Pukul berapa ini?” aku bertanya.
“Sekarang masih pukul 5 pagi.”
Aku pun bingung mengapa sudah dibangunkan, namun karena tidak enak hati aku segera mempersiapkan diri untuk pergi. Jadi pada pagi itu aku diajak oleh temanku menuju suatu tempat yang begitu ramai, di sana-sini banyak sekali orang, kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu, mereka menyerbu smeua penjual-penjual di tempat itu, ada yang menjual sayuran, buah, ayam, sampai juga ada yang menjual baju, sandal dan barang-barang ini. Dan pada saat itu Andri langsung asik dengan kameranya, mengabadikan setiap momen yang ia lewati ke dalam suatu foto.
Aku selalu heran kenapa saat aku kecul, aku tak pernah diajak ke tempat ini, pasar. Kami juga membeli sebungkus makanan untuk sarapan. Kami tak lupa juga membelikan makanan untuk si pemilik rumah. Setelah membeli sarapan, kami pun berjalan kaki ke rumah. Dan di rumah, kami makan sarapan bersama seperti keluarga yang penuh dengan obrolan, canda dan tawa. Dibandingkan dengan makan bersama keluargaku, ini lebih terasa seperti keluarga, karena begitu banyak interaksi antara satu dengan yang lain.
Selama tinggal di rumah ini, kegiatan teman-temanku dan diriku inii hanya mengelilingi Kota Jakarta ini. Dari pagi hari sampai malam, tak hanya bagian kota-kota yang indah, yang kumuh dan tak pernah terbayang olehku pun kami datangi. Dan juga sekarang aku sudah diajarkan cara menggunakan kamera.
Waktu begitu cepat lewat, sudah semingug kutinggalkan orangtuaku.
Andri dan radi pun memutuskan kalau mereka harus kembali ke kehidupan mereka, bekerja. Namun aku belum mau kembali pada hidupku yang membosankan itu.
Akhirnya kuputuskan aku akan berpetualang sendiri. Mendengar hal itu Radi dan Andri memutuskan untuk memberikanku sebuah kamera untuk mengabadikan setiap momen-momen yang kulewati.
Ini hari terakhirku bersama mereka berdua. Besok aku akan pergi ke Bali, dan mereka membantuku tentang bagaimana cara kubisa ke sana. Pagi pun tiba, aku segera bergegas mengambil semua barangku termasuk kamera pemberian temanku. Lalu aku berpamit dengan mereka dan langsung menuju terminal bus untuk menaiki bus yang akan  mengantarkanku ke pelabuhan.
Dalam beberapa jam itu, foto yang aku ambil sudah lebih dari 200 foto. Aku hanya menetap di Bali sekitar 4 hari. Bali mempunyai budaya yang cantik dan juga pemandangan alam. Di pulau ini, aku juga mencoba untuk “surfing” dan ternyata hal itu sangat sulit untuk dilakukan.
Setelah 4 hari di sana, aku pindah ke pulau lain yang tak jauh dari pulau Bali. Di sana, aku tinggal di rumah penduduk, dan ia bekerja sebagai seorang petani. Setiap hari aku membantunya, dan ia mengajarkanku sedikit bahasa daerah dan juga menceritakan berbagai dongeng yang berasal dari kampungnya. Tak lupa juga aku ambil foto di sana. Aku juga diantarkannya ke sebuah danau yang begitu indah. Anak-anak di kampung itu begitu ceria, mereka selalu bermain berbagai macam permainan.
Semua pengalaman ini tak pernah terbayang olehku, selama ini kukira dunia ini hanya dipenuhi dengan politik dan bisnis, tetapi ternyata masih banyak hal yang begitu menyenangkan di dunia ini.
Setelah seminggu di kampung ini aku memutuskan tempat terakhir yang akan aku kunjungi adalah Pulau Kalimantan, dan di sana aku akan pergi ke Taman Nasional Tanjung Puting. Tempat terakhir yang aku kunjungi ini tempat paling kusuka, di taman nasional. Aku dapat melihat orangutan hidup di habitat mereka tidak yang seperti di kebun binatang.
Di tempat ini, aku bisa banyak sekali mengambil foto. Sebulan pun telah terlewati sesuai apa yang kutuliskan untuk orangtuaku. Aku akan pulang kembali ke rumah. Aku tak tahu apa reaksi mereka setelah aku tinggalkan. Apakah mereka akan marah atau tidak. Walau sedikit cemas dengan reaksi apa yang akan diberikan oleh orang tuaku, janji tetaplah janji. Maka aku segera mencari tiket pulang ke kota Jakarta.
Setelah selama ini ku cari hobiku akhirnya kutemukan juga hobiku ini, yaitu memotret, Selama perjalanan ini aku terbayang-bayang oleh muka marah kedua orangtuaku dan larangan mewreka untukku keluar dari rumah lagi.
Setelah beberapa jam di dalam kapal dan juga di kereta, akhirnya aku sampai di rumah yang begitu megah ini. Saatku buka pintu masuk, kulihat adik laki-lakiku berlari ke arahku dan langsung memelukku. Ia sangat bersemangat untuk mendengar cerita pengalamanku selama satu bulan ini.
Ayah dan ibu juga segera turun dari kammar mereka dan memelukku erat-erat. Ternyata reaksi yang mereka berikan sangat berbeda dengan apa yanng aku pikirkan.
Aku pun mulai bercerita dan menunjukkan beberapa foto yang aku ambil.
“Jadilah orang yang kamu mau nak, Ibu tak akan memaksa kamu untuk melanjutkan bisnis keluarga kami.” Ucap ibuku di jeda kita mengobrol, “Lagi pula adikmu ini, dengan senang hati ia akan melanjutkan bisnis keluarga kita.” Sambung ayah dengan senyuman di mukanya.
“Iya kak, kan keren kalau punya kaka fotografer.”
Aku pun merasa lega akhirnya mereka sadar bahwa aku tidak ingin melanjutkan bisnis mereka.***
  
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lilian Feng
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 27 November 2016