High Heels

Karya . Dikliping tanggal 9 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

MIKAILA keluar dari ruangan itu dengan wajah muram. Ini tidak seperti yang ia bayangkan. Bayangan-bayangan kehidupannya yang bebas sirna sudah. Mulai sekarang,ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya ditambah dengan ibunya. Mikaila berkerja sebagai karyawan disebuah bank swasta.

Bekerja dibank yang selalu mengedepankan penampilan membuat Mikaila harus mengeluarkan sedikit dari gajinya untuk membeli kebutuhan yang menunjang penampilannya. Apalagi high heels yang selalu ia gunakan harganya tidak main-main. Ditambah sekarang Mikaila harus membeli obat­- obatan dan jugaia harus segera mencari pekerja untuk membantu membereskan rumah dan mengurus ibunya.

NGOMONG-NGOMONG tentang ibunya, Mikaiia me­noleh ke samping, ke kursi yang ditempati untuk me nunggu giliran dipanggil oleh suster untuk diperiksa oleh dokter di Ru­mah Sakit ini. lbunya tidak ada di kursi itu, padahal Mikaila menyuruh ibunya untuk menunggu dia saat sedang berbicara de­ngan dokter.

Mikaila menghembuskan napasnya kasar. lbunya itu selalu menyusahkan dia. Mikaila berkeliling mencari ibunya di sekitar Rumah Sakit besar ini. Bahkan, ia menanyai setiap orang yang ia lihat untuk me­ nanyakan keberadaan ibunya dengan menyebutkan ciri-ciri ibunya.

Tempat terakhir dari Rumah Sakit ini yang belum didatangi oleh Mikaila adalah taman belakang Rumah Sakit. Mata Mikaila menjelajahi taman itu untuk mencari wanita yang sesuai dengan ciri-ciri ibunya. Saat matanya menangkap seorang wanita yang sedang berbincang dan tertawa bersama laki-laki muda yang umurnya kelihatan lebih muda dibanding dirinya. Mikaila segera menghampiri dua orang itu dengan perasaan kesal dan sudah siap menyemburkan kekesalan itu.

Mikaila berkacak pinggang “Mamah ke mana aja sih?! Mika capek cari-cari taunya malah asyik ngobrol di sini. Mika kan udah bilang tunggu Mika selesai jangan main kabur aja, Mah.” Mikaila menyemburkan kekesalannya pada ibunya yang sedang menunduk penuh penyesalan.

“Maaf kalau saya menyela, saya yang membawa ibu Anda pergi ke taman ini. Ta­di ibu Anda terlihat bosan saat menunggu di kursi tunggu. Jadi saya membawa ibu Anda kemari.” Laki-laki muda itu berdiri di hadapan Mikaila dengan wajah ramah dan senyum manisnya sambil mengulurkan tangannya. “Perkenalkan nama saya Stefano, Anda bisa memanggil saya Evan.”

Mikaila memindai penampilan laki-laki itu dari atas sampai bawah. Dia bilang seorang dokter magang tapi penampilannya tidak seperti seorang dokter. Terlalu muda untuk seorang dokter dan dia tidak me­ngenakan jas putih. Mikaila menarik tangan ibunya yang sedari tadi. Mikaila membawa ibunya keluar dari Rumah Sakit itu menuju parkiran di mana mobilnya diparkir. “Mika tangan mamah sakit, nak.” lbu Mikaila berhenti berjalan membuat Mikaila ikut berhenti juga. Mikaila melepaskan genggaman tangannya dari tangan ibunya. Berbalik melihat ibunya yang sedang me­ ngelus pergelangan tangannya yang tadi Mikaila tarik.

“Maaf, Mika kesal jadi Mika tidak sadar kalau Mika bikin tangan mamah sakit.” Mikaila kembali berjalan diikuti ibunya yang mengikuti dari belakang.

**

MIKAILA melihat ibunya yang sedang kebingungan mencari sesuatu. Peralatan masak di dapur berantakan karena ulah ibunya. Mikaila menghampiri ibunya.

“Mamah lagi nyari apaan? lni kenapa alat-alat masak pada berantakan gini?” ujar Mikaila membuat ibunya kaget lalu membalikkan badannya.

“Mamah lagi nyari spatula tapi dari tadi mamah nggak nemu. Mamah lupa nyimpen spatula itu di mana.”

Mikaila melihat ke arah rak di samping wastafel. Rak itu dipakai untuk menyimpan alat-alat masak yang beres dibersihkan. Spatula itu ada di sana. Mikaila mengambil spatula itu lalu menyerahkan kepada ibunya.

“Spatulanya ada di rak, Mah.”

Ibu Mikaila membalikkan badannya.

“Astagfirullah di situ ternyata.”

“Sana kamu mandi, udah beres mandi terus kita makan ya.”

Mikaila hanya menggangguk lalu kembali ke kamarnya untuk mandi.

Perut Mikaila yang memang sudah keroncongan segera mengambil nasi dan lauk pauknya ke dalam piring. lbu Mikaila yang melihat anaknya begitu semangat hanya tersenyum geli. Saat lbu Mikaila akan menyendokkan makanannya ke dalam mulut ia tersentak kaget karena bentakan Mikaila. Mikaila mengeluarkan kembali makanan yang tadi ia kunyah ke wastafel. la minum terburu-buru untuk menghilangkan rasa makanan yang telah ibunya buat.

“Mah kalo seenggaknya nggak bisa gak usah masak daripada buang-buang bahan masakan kaya gini! Mamah masak sup apa bikin teh manis sih?! Kenapa supnya malah kemanisan gitu.”

“Maaf Mika, mamah kira tadi ini garam bukan gula,” ucap lbu Mikaila penuh penyesalan.

Mikaila menghela napas kasar. “Udahlah kita pesen makanan aja. Dan ini terakhir kali mamah masak karena besok Mika mau nyari pekerjan yang buat bantu-bantu mamah.

Saat Mikaila akan memesan makanan, suara ketukan pintu kamamya terdengar. Mikaila membuka pintu kamamya dan melihat ibunya yang sedang memegang sebuah kotak.

“Mamah minta maaf Mika karena mamah tadi udah bikin kamu kesal. lni mamah punya hadiah buat kamu,” lbu Mikaila menyerahkan kotak itu kepada Mikaila. Mikaila mengambil kotak itu de­ngan mata yang berkaca-kaca. lbunya yang melihat Mikaila akan menangis segera memeluk Mikaila. Mikaila membalas pelukan ibunya lalu air mata yang tadi ia berusaha tahan keluar dengan derasnya.

“Mah Mika ngantuk mau tidur.” Mikaila melepas pelukan ibunya. “Makasih buat hadiahnya mah. Goodnight.

“Goodnigt too.” lbu Mikaila kembali ke kamarnya.

Mikaila menutup pintu kamarnya lalu membuka kotak hadiah pemberian ibunya. Sepasang high heels berwarna hitam. Mikaila hanya bisa tersenyum sedih lalu menyimpan kotak itu ditumpukkan kotak yang sama.

Ibunya sudah sering memberi hadiah yang sama kepada Mikaila. Dan ini sudah ke-21 ibunya meniberi hadiah yang sama. Mikaila membaringkan tubuhnya ke kasur, matanya fokus melihat kotak-kotak itu. Tidak lama air matanya keluar dan isakan kecil mulai keluar dari mulutnya. Mikaila ingat dengan ucapan dokter pada tadi siang.

“Itu gejala penyakit Alzheimer, lbu Mikaila .” Ucap Dokter Sean dengan hati­ hati memberi pengertian kepada Mikaila.

“Maksudnya?” tanya Mikaila.

“Seperti yang tadi lbu Mikaila bilang kalau lbu Anda selalu memberi hadiah yang sama kepada Anda dan itu terjadi berulang kali bahkan lbu Anda sendiri tidak ingat kalau telah memberikan hadiah itu pada Anda. ltu adalah gejala Alzheimer. Risiko pengidap Alzheimer meningkat seiring dengan pertambahan usia. Anda harus bersyukur karena beliau masih mengenali Anda sebagai anaknya. Karena yang mengidap penyakit Alzheimer akan melupakan nama orang orang terdekat mereka. Jadi selama beliau masih mengingat nama Anda, sebaiknya Anda terus berada di samping beliau.” Dokter Sean menyerahkan kertas resep kepada Mikaila. Setelah mengucapkan terima kasih Mikaila keluar dari ruangan Dokter Sean dengan perasaan campur aduk.

Mikaila terus menangis sampai ibunya datang ke kamamya karena mendengar suara tangisan Mikaila. lbu Mikaila duduk di pinggir ranjang Mikaila sambil mengusap kepala Mikaila. Mikaila yang merasakan usapan pada kepalanya lalu menoleh kepada ibunya dan segera memeluk ibunya.

Mikaila terus menangis sedangkan ibunya hanya bisa mengelus punggung Mikaila menenangkan Mikaila. Setelah tangisan Mikaila reda, ia segera melepas pelukan dari ibunya lalu mengusap pipinya yang basah karena air mata.

Mikaila berusaha tersenyum “Mika nggak papa mah. Mamah balik lagi aja ke kamar.”

“Bener nggak pa pa?”

Mikaila menggangguk.

“Mamah ke kamar kalau gitu. Jangan nangis lagi, nak.” Ibu Mikaila mencium ke­ ning Mikaila lalu keluar dari kamar.

Mamah kayak highheels yang selalu Mika pake. Selalu melengkapi penampilan Mika dan selalu Mika butuhkan, tapi sayang lama kelamaan pakai high heels bikin kaki. Walau­ pun Mika ingin ngelepasin terus ngelemparin highheels yang Mika pakai, tapi Mika nggak bisa karena highheels yang Mika punya berharga. Layaknya mamah yang selalu me­lengkapi kekosongan Mika dan selalu Mika butuhkan tapi sayang dengan adanya penyakit mamah, yang lama kelamaan bakalan lupain nama Mika bahkan kenangan kita, harus Mika tahan harus Mika hadapi. Waiau­pun Mika ingin menyalahkan mamah, membentak mamah karena penyakit yang mamah derita, bahkan meninggalkan mamah, tapi Mika nggak bakalan bisa karena mamah ter­lalu berharga buat Mika. Batin Mika saat melihat punggung ibunya yang mening- ga lkan kamarnya.***

[1] Disalin dari karya Sarah Nurhalizah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 8 Juli 2018