Hikayat para Blandong – Lukisan

Karya . Dikliping tanggal 3 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Hikayat para Blandong 

humus gambut itu telah memahatkan
jejakjejak
telapak-telapak kaki telanjang para lelaki
pundak-pundaknya bertato hitam
berkulit merah semerah daun jati
memanggul kapak di bahu

legenda itu menyebutnya pewaris rama
parasu

siulnya melingkari malam merambahi sulur-
sulur
matanya bersekutu kunang-kunang menguak
pekatnya malam
sehitam letek kopi yang diteguknya saban
pagi
bergegas dari batas ke rimbun sembunyi dari
tatap mata burung
berebut sangkar di dahan atau ranting

engkau yang menjulang langit adalah
perempuanku, di perutmu kupahat jari-jari

konon mereka mewarisi kutukan sejak
kelahiran segala rimba
menetak batang demi batang tak terbatas
bilangan
tiap tetap terakhir membuat darah lelaki
menyungai luap-luap
giliran siapa kutebas penggal?

saat batang terakhir berkabarlah sang nasib:
“kejemuan itulah sang pemenangnya
mencampakkan engkau dalam liang kubur
waktu
di dalamnya tak ada siang dan malam, namun
membuat
matamu perih dan kabur!“

Lukisan (1) 

: pelukis susetya

garis itu rahasia hasrat yang meleleh-leleh
kau biarkan meluap menjadi beratus sugai
warna
kelenjar syahwat yang meletup-letup
mendesak waktu
gairah apa lagi ini, begitu penuh tenung
pesona?

hasrat itu masih juga meleleh-leleh
jadi tukang sihir memantrai malam

lukisan itu masih saja menyimpan birahi

Lukisan (2) 

dingin itu kau warnakan
di tubuh-tubuh pucat perempuan
berparfum bunga kenanga

atas nama: pesona
senja kau kabarkan
sebagai rambut perawan purba
menunggu dentang lonceng pernikahan

tubuh-tubuh pucat itu
lengkap air mata
tengadah pada ubur-ubur sunyi
jendela waktu yang lalai
rapuh di makan ngengat
pelan terbenam di muara utara


Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Bukunya yang telah terbit antara lain Sejarah yang Merambat di TembokTembok Sekolah (Buku Puisi, 2014), Mata Air di Karang Rindu (Buku Puisi, 2013), dan Masa Depan Sastra: Mozaik Telaah dan Pengajaran Sastra (2013). Ia mewakili Indonesia dalam Temu Sastrawan ASEAN/Nusantara di Kedah, Malaysia, 2008.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 3 April 2016