Hikmah

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Sudah empat tahun Tarno bekerja sebagai guru tidak tetap di sebuah sekolah negeri. Selama itu juga pemuda tersebut hidup dengan gajinya yang kecil untuk melengkapi kebutuhan pokok keluarganya. Memang untuk urusan menikah, Tarno baru melaluinya selama dua tahun terakhir. Namun, ia sudah lelah hidup dalam kekurangan karena gajinya yang tak mencukupi. Bisa dibayangkan, selama sebulan, ia hanya digaji tiga ratus ribu rupiah dengan kebutuhan pokok yang banyak. Padahal, pekerjaannya sama beratnya seperti guru-guru lainnya yang sudah tetap di sekolah. Ia harus berangkat pagi, pulang sore, merekap nilai, dan merangkap menjadi guru bantu lembaga bimbingan belajar di luar sekolah.

Memang mau tidak mau Tarno harus bekerja tambahan di luar. Selain menjadi guru, Tarno juga bekerja sebagai pembimbing lembaga belajar. Dari pekerjaan itu, Tarno mendapatkan gaji yang lumayan untuk menutupi kebutuhan pokok. Tujuh ratus ribu setiap bulan. Sayangnya, gajinya itu belum cukup juga. Akhirnya ia dan istrinya membuka usaha kecil-kecilan, yaitu berjualan secara online. Hasil jualan secara online itu lumayan menambah penghasilannya. Namun, usaha jualan yang dilakukan Tarno dan istrinya ini tidak bisa dijagakan setiap bulannya karena tidak tetap. Makanya, jika kini Tarno tampak tua lebih lima tahun daripada usiannya, hal itu adalah wajar. Tarno sudah bekerja keras bagaikan kuda.

Hidup yang berliku dihadapi oleh Tarno sebagai guru honor dan pedagang serabutan di dunia maya. Rasanya, apabila mengingat semua itu, Tarno bosan dan ingin mengakhirinya. Sialnya, ia tidak tahu cara mengakhiri hidupnya yang begitu-begitu saja. Tarno hanya bisa menjalaninya dengan berharap kalau suatu saat hidupnya akan berubah. Begitulah. Dan, seakan apa yang diharapkan oleh Tarno didengar Tuhan, beberapa hari kemudian dirinya mendapati kabar kalau dalam dua hari lagi pemerintah akan membuka lowongan pegawai negeri sipil. Pemerintah memastikan pula akan menerima kuota pegawai yang banyak. Mendengar itu lekas membuat Tarno—dan beberapa rekan guru honor lainnya—bahagia.

“Ini bukan hoax kan?” Tanya Tarno. “Nanti hoax kayak yang sudah-sudah.”

“Tidak kok, ini benar! Saya dapat beritanya dari koran ini,” rekannya itu menunjukkan bukti berita di koran mengenai tes rekrutmen pegawai negeri. “Peluang ini harus kita manfaatkan. Aku bosan memiliki gaji rendah.”

Tarno melirik ke arah temannya yang mengeluh tersebut. Tarno juga di dalam hati mengamini apa yang dikatakan temannya. Tarno benar-benar sudah bosan menjadi buruh dengan bayaran kecil. Ia ingin mendapatkan jenjang karier dan gaji yang lebih baik. Ia ingin menjadi salah satu pegawai negeri tetap dengan bayaran tinggi. Tarno pun akhirnya ikut terobsesi dengan cita-cita hidup lebih baik sebagai pegawai negeri. Tarno menjadi sangat antusias saat menyambut pendaftaran tes pegawai negeri itu. Sampai-sampai, demi memotivasi diri, ia membawa pulang kliping koran itu dan menempelkannya di dinding rumahnya.

Istrinya yang melihat gelagat Tarno menjadi penasaran. Wanita itu mendekat ke arah suaminya yang baru pulang. Istrinya lekas sibuk membaca kliping koran tersebut. Hingga kemudian wanita itu sedikit terlonjak karena mendapatkan kabar baik itu.

“Kamu harus mencobanya, Mas!” Tandas istrinya. “Kamu harus diterima agar hidup kita berubah lebih baik.”

“Betul, Dek!” Jawab Tarno optimis. “Aku harus diterima. Aku sudah bosan miskin.”

Dua hari kemudian setelah menempelkan kliping koran di dinding, pemerintah lekas mengabarkan rekrutmen pegawai negeri tersebut. Melalui perwakilannya—yang Tarno lihat di televisi—pemerintah membuka pendaftaran bagi ribuan pegawai untuk diangkat sebagai PNS. Tarno pun tanpa menunda waktu cepat mengumpulkan persyaratan dan mendaftar dengan semangat. Namun, ketika ia tahu ternyata saingannya begitu banyak—bahkan hingga ribuan—Tarno mulai ragu. Tarno pesimistis dengan peluang dirinya: Apakah bisa diterima sebagai pegawai atau tidak?

***

HikmahMalam harinya setelah mengetahui saingannya yang banyak, Tarno tidak bisa tidur. Siang harinya sepulang kerja pun ia mengalami kegelisahan yang sama. Istrinya sendiri sempat menanyakan: Mengapa ia menjadi pelamun dan tidak menghabiskan makanannya? Tarno menjawab dengan gelengan kepala dan senyum. Demikian pula kini, saat malam datang, ketika sebelum tidur tadi istrinya kembali mencoba membahas mengenai pendaftaran tes pe gawai negeri itu. Tarno pun kemudian menyentak sedikit ketus istrinya. Tarno melakukan itu—apabila bisa jujur terhadap istrinya—karena ingin menghindari pembicaraan mengenai tes CPNS tersebut. Tarno depresi.

“Bagaimana, Mas? Kamu sudah mendaftar untuk ujian CPNS?” Tanya istrinya kepada Tarno saat ingin berangkat tidur. “Semoga kamu bisa diterima ya, Mas?”

“Oh…” Tarno tergeregap karena lamunannya. “Iya, Dek, doakan aku ya.”

“Iya, Mas. Aku selalu mendoakanmu, Mas,” kata istrinya. “Dan anak kita ini…”

Tiba-tiba, istrinya tersenyum manis. Istrinya juga mengusap perutnya yang tampak datar seperti hari-hari biasa. Tarno mengernyitkan keningnya. Tarno mencoba mencari jawaban atas konteks antara ‘doa’ dan ‘anak’ yang dikatakan istrinya. Tarno melihat secara bolak-balik dan seksama antara perut dan senyum istrinya. Sementara istrinya masih tersenyum senang di samping Tarno. Memang, istrinya sangat bahagia saat pagi tadi mendapatkan jawaban atas mual-mual dan hilangnya selera makannya dua hari terakhir. Dari hasil uji klinis yang dilakukan menggu nakan tes kehamilan, wanita itu dinyatakan positif mengandung.

“Aku hamil, Mas,” lanjut istrinya. “Kau akan menjadi seorang ayah.”

Tarno tentu senang mendengarnya. Apalagi, Tarno dan istrinya sudah menunggu dua tahun kehamilan itu. Dan karena kehamilan istrinya ini, Tarno sejenak bisa melupakan masalahnya. Tarno pun lekas mencium kening dan perut istrinya. Sejalan itu juga Tarno menggumam di dalam hati kalau dirinya akan menjadi ayah. Hanya kebahagiaan itu mendadak hilang ketika istrinya kembali membuka pembicaraan mengenai tes CPNS tersebut.

“Semoga dengan hadirnya bayi ini, bisa menjadi berkah untuk kita, Mas,” ucap istrinya lembut.

Tarno termenung mendengarkan kalimat istrinya. Di dalam kepala Tarno sedang berkecamuk sesuatu. Hati Tarno gelisah. Terlebih lagi, saat melihat wajah istrinya yang sangat berharap ia bisa diterima sebagai pegawai.

“Kalau kamu nanti bisa diterima sebagai pegawai, biaya persalinan dan hidup anak kita pasti lebih mudah, Mas.”

Tarno hanya bisa menelan ludah getir mendengar semuanya.

***

Beban yang dirasakan Tarno semakin menumpuk. Kepalanya bahkan terasa berat memikir semuanya. Hari-hari yang Tarno lalui akhirnya dihabiskan untuk melamun. Memang selain melamun, Tarno juga berusaha mengerjakan latihan soal ujian masuk. Namun, Tarno tidak bisa memecahkan soal-soal itu. Bagi Tarno, soal-soal itu malah memberikan beban lain—berupa tekanan yang membuatnya semakin depresi. Tarno menyerah. Hanya, ketika mengingat istri dan anaknya, membuat Tarno tidak bisa begitu saja meninggalkan masalah ini. Sampai kemudian Tarno berpikir pendek untuk mendatangi orang pintar yang dipercayai memiliki ilmu gaib.

Karena tak bisa lagi mengharapkan pada kemampuannya sendiri, Tarno nekat mendatangi orang pintar. Lalu di sana ia disarankan untuk melakukan beberapa ritual khusus. Salah satunya adalah mengambil tali pengikat kafan miliki seorang mayat yang baru saja mati.

“Kau harus mengambil dengan mengeduk makamnya menggunakan tanganmu. Ambillah tali pengikatnya. Ambil juga sejumput tanahnya. Lalu, tanah itu tebarkan di depan rumahmu. Nanti akan ada yang datang memberikan jawaban atas masalahmu!”

“Apakah tidak ada syarat lainnya? Aku rasa itu terlalu sulit untukku,” Tarno mencoba.

“Tidak ada! Ini pilihanmu! Tapi ingat, kau harus melakukannya sebelum pagi. Kalau tidak, kau akan terkena kutukan.”

Orang pintar itu menjelaskan ada risiko dari apa yang diperbuatnya. Selain bisa dihajar habis-habisan oleh warga bila ketahuan, Tarno juga bisa mendapatkan kutukan kalau gagal menjalankan niatnya. Karena sebelum menjalankan ritual itu, ia harus membaca sebuah mantra khusus agar semua yang diperolehnya memiliki khasiat ajaib.

***

Selama seminggu Tarno menunggu kabar dari salah satu tetangganya yang me ninggal. Dan waktu pagi hari mendapatkan kabar duka itu—yang juga menjadi kabar keberuntungannya—malam harinya Tarno lekas mendatangi kuburan. Tarno pun—sekitar pukul 11.30 malam, lekas mengendap ke makam si mayat. Tarno cepat melakukan apa yang disyaratkan oleh orang pintar tersebut.

Tarno mulai menggali kuburan itu dengan kedua tanganya. Dengan cepat dan gesit Tarno bisa menggali tanah kuburan yang masih basah dan gembur tersebut. Sebelum tengah malam bahkan Tarno bisa mengambil salah satu tali pengikat kavannya. Namun, bukannya tidak ada masalah, ketika ingin menguburkan ulang mayat itu, datang segerombol anjing yang menyerang Tarno. Anjing-anjing itu berusaha merebut tali pengikat kafan. Dan sama seperti dalam sebuah kisah pendek berjudul Anjing-Anjing Menyerang Kuburan karya Kuntowijoyo, Tarno bertarung dengan anjing-anjing itu.

Tarno terus berusaha melindungi tali kavan itu. Ia tidak menyerah untuk melawan. Ia bahkan tak memedulikan tangannya yang koyak dan luka-luka karena gigitan anjing. Di dalam kepalanya, Tarno bertekad ingin mendapatkan kemudahan agar dapat lulus cpns.

***

Istrinya sempat curiga dengan luka-luka yang diderita oleh Tarno. Namun, Tarno selalu berkilah ketika ditanya mengenai luka itu. Tarno mengatakan kalau dirinya diserang hewan liar saat pulang sekolah. Istrinya percaya. Hanya apa yang diharapkan Tarno mengenai kemudahan dari jimat itu belum tampak juga. Bahkan, ketika harian ujian semakin dekat. Mimpi yang dijanjikan oleh orang pintar itu belum juga datang. Hingga akhirnya Tarno mendapatkan informasi dari berita kalau orang pintar itu ditangkap polisi. Orang pintar itu dianggap sudah penipu banyak orang. Dan Tarno yang menjadi salah satu dari korbannya hanya terpekur menyesali uang dua juta serta waktunya yang terbuang. Padahal ujian masuk tinggal menunggu jam lagi. ■

Risda Nur Widia. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015), Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016) dan Novel Igor: Sebuah Kisah Cinta. Cerpennya telah tersiar di berbagai media


[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 02 Desember 2018