Hitler dan Neraka yang Dibuatnya

Karya . Dikliping tanggal 2 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
Inilah
kematian paling indah yang terjadi pada peradaban manusia. Tangisan.
Kepala pecah diterjang peluru. Darah menyemburat seperti percik
petasan tahun baru di langit-langit kota. Bilik-bilik rumah kayu
tenggelam dalam abu kehancuran musim dingin di bulan Desember. Dan
kau terjebak sebagai seorang Wehrmacht1
dalam drama kematian ini. Tidak ada lagi doa yang pantas dijabarkan
untuk menyelamatkan semua kehancuran ini. Bahkan para serdadu
menganggap bahwa: Tuhan
sudah enggan ikut campur dalam pertempuran penghabisan di Stalingrad.

Peperangan
ini telah merenggut banyak nyawa. Mungkin juga kematian ini sudah
dituliskan di almanak waktu, dan musim dingin di Stalingrad, kota
Stalin, Volga, adalah saksi ketika kesedihan menggumpal; meresap,
menjadikannya serpihan-serpihan udara hingga gugur bersama salju.
Untuk membayangkannya kau tidak sanggup. 200 ribu lebih serdadu
terbaik Jerman bertempur sia-sia. Bahkan seperti boneka kau berjejal
bersama puluhan serdadu di gorong-gorong yang dibuat untuk menghalau
musuh di sepanjang sungai Don, di sisi utara Volga; sekaligus menjadi
pemakaman bagi tubuh-tubuh itu bila sewaktu-waktu ajal merenggut
nyawa. Di tengah gempuran peluru ratusan Red
Army
,2
Rusia, yang mengepung sisi lain sungai, kau melihat wajah-wajah
murung. 
Kananmu
misalnya: ia tidak berminat lagi menembakkan senapannya. Jiwanya
telah membeku. Pria itu memilih menulis surat kepada kekasihnya;
secarik pesan terakhir yang diharapkan mampu meredam rasa rindunya.
Pun yang terjadi dengan seorang pria paruh baya di samping kirimu: ia
lempar senjata jauh lantas memandang lelah foto keluarganya. Kata
pria itu kemudian: “Sudah habis riwayatku! Tiada makan malam
bersama kalian, sayang!”

Bahkan
di antara keputus-asaan itu ada seorang yang nekat menebak kepalanya
sendiri. “Kekuasaan telah membunuh jiwaku! Membusukkan
tulang-tulangku!”
Menangis
sudah tidak mungkin. Kau—kalian—hanya bisa mengumpat: Kekacauan
ini dimulai oleh ambisi satu orang hingga akhirnya menyeret banyak
jiwa.

Kediktaktoran penguasa Jerman, Hitler, yang ingin menghancurkan ras
Yahudi dan ras-ras rendah Timur; serta permusuhan alami fasis Jerman
dengan Komunis Rusia telah meletakan kau dan kawan-kawanmu dalam
posisi yang demikian sulit. Tidak ketinggalan arogansi Hitler yang
ingin mendobrak sejarah sebagai satu-satunya penguasa yang berhasil
mengalahkan Rusia. Sesuatu yang gagal dilakukan Napoleon Bonaparte.
Maka pada musim panas 1941 lalu, diluncurkanlah Operasi Barbarossa.3
Ribuan
Wehrmacht
digiring menyisiri setiap lembah dan sungai untuk membunuh apa saja.
Sekitar lima korps angkatan darat, tiga belas infantri, tiga divisi
berpanser, tiga divisi bermotor, dan satu divisi anti-pesawat
dikerahkan menuju Volga, Stalin. Pasukan itu membentuk Angkatan
Bersenjata Jerman ke-6 yang dipimpin oleh Jenderal Federick Von
Paulus. Kesatuan terbesar yang diturunkan Nazi untuk menaklukan kota
Rusia.
Stalingrad
yang membentang sepanjang lebih dari 20 mil ke utara dan selatan
dengan sungai yang panjangnya lebih dari dua mil di sisi kota,
awalnya adalah perjalanan menarik. Biru langit mengiringmy pada awal
perjalan. Kau pun banyak melintasi desa; melihat pohon mapel di musim
semi dengan tupai melompat; musim gugur yang merontokan daun dan
bunga-bunga tulip di lembah. Dari semua diorama itu kau sering
menuliskan puisi yang akan kau bacakan kepada kekasihmu setelah
perang. Namun semuanya hanya angan-angan. Peperangan mengacaukan
segalanya.
Apalagi
berbekal kemenangan pada musim panas lalu atas negara-negara Barat
dengan serangan kilat yang disebut dengan: Blizkrige,4
pemimpin Nazi itu ingin melebarkan kekuasaanya. Penguasa berkepala
batu itu—Hitler—mengirimmu bersama ribuan serdadu ke
lembah-lembah di Timur. Para Wehrmacht
seolah membawa tugas berat untuk menguasai kota Stalin. Sesaat kau
pun termenung. Kau sadar betapa kekacaun ini begitu nyata. Gerammu
kemudian: “Perang telah merusak jiwaku! Mengoyak impianku!”
***
Tembakan
terdengar sepanjang hari. Pasukan divisi ke-6 menipis. Korban
berjatuhan. Pernah beberapa kali kalian mencoba mendesak Jenderal
Frederich untuk menyanggupi desakan dari Jenderal Zhukov, pemimpin
perang Red
Army
.
Namun Hitler menolaknya. Kau dan serdadu lainnya tidak diperbolehkan
menarik selangkah kaki dari divisi ke-6. Kau dan kawan-kawanmu
dipaksa bertahan, dan menyaksikan kota menjadi rata karena
kemalangan. Bahkan ketika kau menyisir kota, sering kau mendapati
banyak jiwa terenggut. Malang.
Sungguh
sial nasib ratusan mayat yang berserak itu. Tidak terhitung
jumlahnya: tubuh-tubuh itu koyak dengan isi perut terburai, wajah
berlumur darah tanpa sepasang bola mata atau telinga, bahkan sering
kau mendapati seorang serdadu yang mengerang setelah separuh tubuhnya
hancur terkena bom. Kau ingin menangis melihat itu semua. Namun air
mata sudah tidak lagi berharga. Air mata hanyalah sebuah kekalahan
lain.
Kau
memandang kota Volga. Di kejahuan tampak seorang Wehrmacht
yang menggeliat-geliat; meraung menahan sakit. Ia terkena serpihan
bom dari serombong pesawat yang dimaksudkan untuk membebaskan para
Wehrmacht.
Serangan Luftwaffe5
memang membuka sedikit jalan bagi pasukan Jerman. Namun
pesawat-pesawat yang dipimpin oleh Goering tidak hanya membunuh para
Red
Army
.
Serangan itu berhasil menumpas juga para Wehrmacht
di lapangan pertempuran.
Matamu
memanas. Kau mengerling pada senapanmu itu. Entah sudah berapa kali
moncong senapan itu menembus kepala pasukan Red
Army
;
membuat tanah tertutup putih salju itu menjadi merah. Tidak ada juga
sedikit pun rasa bangga telah menumpas orang-orang yang tidak
memiliki salah kepadamu itu. Malah rasa dosa yang menumpuk. Bahkan
kau ingat pernah menggunakan senjata ini untuk membunuh seorang
serdadu tak berdaya di Balka. Di sabana yang terletak 12 mil dari
kota dengan tebing curam. Di sanalah kau harus membunuh sahabat
terbaikmu.
Kau
ingat, setelah pengepungan segerombol pasukan Red
Army
,
tank dari divisi enam terkena bom. Bom itu berhasil meluluhlantakkan
kendaran baja tersebut. Kabut menyelimuti. Kau menyibaknya, lantas
mendapati Collin—sahabatmu—meregang dengan tubuh separuh
menggantung di badan tank. Kakinya matang terbakar. Separuh tubuhnya
koyak terkena serpihan bom. Namun, Tuhan masih memberinya nyawa. Pria
itu mengerang kesakitan.
“Ia
tidak akan bertahan,” kata seorang Wehrmacht
lain.
“Lekas bunuh dia!”
Kau
terperangah. Rasanya tak mungkin kau membunuh sahabatmu. Teman masa
kecilmu. Kau pun tidak tahu: Apa
yang kau katakan nanti kepada ibunya di rumah?

Wanita tua yang kini hidup seorang diri karena sudah tidak memiliki
suami itu pasti sangat gelisah. Hancur pula hatinya saat dihadapakan
kenyatakan kalau satu-satunya orang yang ditunggunya mati.
“Kalau
kau tak sanggup, aku saja yang melakukannya,” serdadu itu
mengongkang senjata.
Kau
menariknya. “Biarkan aku yang melakukannya!”
Kau
melengos ke arah Collin. Wajahnya pucat. Sang ajal belum juga
merenggut nyawanya. Limbung kau menyimbak rambut emas jagungnya.
Mencium keningnya.
“Maafkan
aku,” katamu mengongkang senjata T-34s. Air matamu jatuh. “Adakan
sesuatu yang ingin kau sampaikan?”
Pria
itu menangis. “Tuliskan surat untuk ibuku. Katakan aku mati dengan
heroik!”
Kau
menembak kepalanya satu kali. Pun di antara desing tembakan, kau
mendengar ucapan terima kasihnya. Dan entah mengapa hingga kini terus
terbayang kalimat itu; detik-detik kematian tragis tersebut.
Berhari-hari setelahnya, kau terus menangis. Sampai akhirnya lesap
sudah air matamu. Dan kini kau sadar: Tiada
lagi yang dapat ditangisi di sini, karena para serdadu ini yang kelak
akan ditangisi.
Kau
lempar lagi tatapanmu ke arah seorang Wehrmacht
yang separuh tubuhnya remuk terkoyak bom itu. “Inilah nyanyian bagi
orang-orang yang kalah!” Katamu lirih membacakan larik puisi yang
baru saja kau tulis. Membidikkan senapanmu. “Seorang harus membaca
semua puisi yang ditulis di tengah kehancuran ini.”
Kau
menembaknya tepat di kepala. Satu kali. Pria itu terkapar. Tapuk
matamu pun disergap rasa perih ketika melihat kematian itu. Namun
tiada air mata yang merintik.
***
Salju
masih turun di tengah medan pertempuran. Belum ada tanda-tanda kalau
devisi pasukan ini ditarik. Setiap hari, lapar dan putus asa sering
datang. Kau pun merasa sudah lusinan kali memainkan drama kematian
ini, dengan dipaksa duduk di depan kursi beludru merah dan mengira
akting para perajurit yang meregang benar dan asli. Para Wehrmacht
seolah diharapkan mati dengan heroik, mengilhami, dan menyayat hati.
Namun kenyataannya tak ada seorang yang paham: Bagaimanakah
kematian sebenarnya di sini?
Seorang
pria paruh baya yang selama beberapa hari penyerangan hanya memandang
foto keluarganya berkata kepadamu: “Apakah kau sudah menikah,
kawan?”
Kau
menatap wajah putus asa itu. “Belum. Tetapi aku punya seorang
kekasih yang menungguku pulang.”
“Ahh,
aku memiliki seorang anak dan istri yang cantik,” ia menyorongkan
foto keluarganya itu ke arahmu. “Tapi mereka semua sudah mati!”
“Maksudmu?”
“Mereka
mati karena kekacauan ini,” ia diam sesaat. Murung. Kemudian
menatapmu. “Maukah kau menembak kepalaku agar aku bisa makan malam
bersama mereka di surga?”
Kau
tertegun: Apakah
ini cara terbaik serdadu mati dengan menembak kepalanya agar pecah
seluruh kenangannya, atau para serdadu lebih berharap mati daripada
melihat semua kekacauan ini?

Udara dingin menyengat kulit. Kembali terdengar desing bom terjatuh
di kota. Pesawat-pesawat tempur itu melintas lagi dengan suara
berisik di atas kepalamu. (*)
Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia  (2015). Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di media.  No Rek. 3587-01-013812-53-4 (BRI Simpedes).

Catatan:

1
Wehrmacht
merupakan sebuatan bagi angkatan darat Jerman.
2
Red
Army
,
Pasukan Merah, sebutan bagi angkatan darat Rusia.
4
Blitzkrieg
merupakan serangan kilat yang paling terkenal dilakukan oleh Hitler
ketika manaklukkan banyak negara Eropa Barat, seperti: Polandia,
Perancis, Belanda, Belgia, dan masih banyak lainnya. 
5
Luftwaffe
adalah istilah yang umum digunakan untuk merujuk kepada angkatan
udara

Jerman.
Selain itu, istilah ini juga sering digunakan untuk merujuk secara
spesifik kepada angkatan udara Jerman pada zaman Jerman
Nazi
.
Pada Perang
Dunia II
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 31 Juli 2016