Honeymoon untuk Stefany

Karya . Dikliping tanggal 21 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SEORANG gadis yang sangat cantik tergantung di seutas tali pada sebuah kamar yang wangi dengan kepala kulai dan sepasang kaki bersepatu Converse yang masih baru. Ia meregang nyawa beberapa jam sebelum kekasihnya yang bermata berlian itu datang untuk menjemputnya berjalan-jalan ke taman bunga kesukaannya di pagi hari yang basah oleh gerimis yang berjatuhan sejak kemarin sore.
Di sebelah kakinya yang tergantung, sebuah kursi kecil yang biasa diduduki lelaki bermata berlian itu bergelimang. Di dekat kursi yang ambruk itu, sebuah diary terbuka begitu saja, memampangkan sebuah tulisan besar, Yang Maha Cinta 1), tiada yang lebih sendu selain wanita yang menangis karena cinta. 2).   Tulisan yang masih segar itu menebarkan aroma tinta basah. Di atas kasur yang empuk, kasir mahal yang dibelikan mama yang sebulan lalu masih sangat rajin mengunjunginya di kota ini, yang kini tak pernah dilakukannya lagi sebab kata mamanya, “Mama sangat sibuk jadi pejabat,” tergeletak sebuah handphone yang di fitur logs-nya begitu banyak panggilan keluar untuk mama yang tak pernah diangkat.
“Mama telah membunuhnya dengan cintanya,” isak lelaki bermata berlian itu sambil memeluk pinggang dan kaki kekasihnya yang telah mati itu. Ia memeluknya dengan pelukan terbaik yang sanggup diberikannya, ditingkahi pecahan-pecahan air mata yang sebagiannya bertelangkai ke betis putih susu yang mulai dingin itu.
Dari jendela kamar yang setengah terkuak, sawah-sawah hijau menghampar subur. Angin sejuk berlarian dengan riang, sebagiannya singgah ke kamar itu. Beberapa petani mencangkuli sawah-sawahnya dengan kepala bercaping. Sesekali, sekilas-sekilas, saat menarik napas atau mengusap keringat, mata beberapa petani itu mengarah ke jendela kamar yang setengah terkuak itu.
Setelah menatap sekilas seonggok tubuh yang tergantung di langit-langit kamar yang tengah dipeluk oleh seorang lelaki yang tubuhnya terguncang-guncang itu, mereka kembali mencangkuli sawah-sawahnya. Beberapa waktu lagi, panen raya akan tiba.
***
Ilustrasi Oleh Joko Santoso
Namanya Stefany. Mamanya orang Jawa. Papa yang kata mama telah mati disambar petir saat berjalan cepat di bawah hujan di sebuah pedestrian yang bersebelahan dengan Menara Eiffel, asli berdarah Jerman. Kata mama lagi, papa selalu tiba-tiba gemetar dan berkeringat dingin setiap mendengar orang berkasak-kusuk tentang Hitler.
Semalam, sambil menikmati sandwich dan coffee latte bersama kekasihnya yang bermata berlian di sebuah kafe yang sepi lantaran gerimis tak kunjung lelah menciumi tanah sejak senja tadi, Stefany berkata bahwa ia sangat merindukan mama. Ya, mama, bukan kiriman uangnya saja.
“Sayang, kau selalu memilikiku,” bisik lelaki bermata berlian itu sambil menggenggam erat jemari Stefany, setelah mengecup keningnya yang agak beku.
“Iya, aku beruntung memilikimu, Akhiles,” sahutnya.
“Tetapi aku juga membutuhkan mama. Mama, bukan uang mama.”
“Sabar ya, Sayang, aku akan bicara pelan-pelan pada mama.”
Stefany mendesis, seketika menjadi ular. Urat-urat lehernya menegang. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya ditarik dari genggaman kekasihnya. “Pelan-pelan buat orang bisa menjadi terlambat buatku!” Ia lalu bangkit, meminta pulang, tanpa menyentuh lagi sandwich dan caffee latte-nya. Sepanjang jalan ia senyap serupa gerimis, begitu dalam, begitu kelam.
Di jalanan, beberapa pasang kekasih melintas di bawah gerimis sambil berpelukan. Pelukan yang tak pernah sanggup ditaklukkan gerimis yang kelam di mata Stefany.
***
“Mama, aku Akhiles, aku mohon doa restumu untuk menikahi Stefany di suatu tempat yang paling sepi. God bless you, Mama.”   Lelaki bermata berlian itu lalu mematikan handphone Stefany selamanya.
Di sebuah kaca jendela president suite Sepang Holiday Inn, wanita berkebaya itu menatap sirkuit Sepang dari arah gate A1 yang persis bersebelahan dengan paddock VR46, setelah sempat membuka handphone-nya.
“Haaa, anak muda sukanya menggertak,” senyumnya, kecil. Ia lalu menelepon resepsionis hotel bintang lima itu, memesan paket honeymoon. “I want the exclusive one, for Stefany and Akhiles,” ucapnya. [] -g
Catatan:
1) Diadaptasi dari puisi Mathori Al Elwa “Yang Maha Syghwat”
2) Penggalan narasi cerpen Seno Gumira Ajidarma ‘Sebuah Pertanyaan untuk Cinta’.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Edy AH Iyubenu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 21 Desember 2014